Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Pergi Berdua Pasca Lahiran


__ADS_3

Setelah beberapa hari berlalu, sekarang adalah waktunya Indi untuk kembali ke Rumah Sakit. Sudah dijadwalkan oleh Dokter Arsy sebelumnya bahwa Indi harus melakukan kontrol jahitan pasca persalinan. Sehingga, kali ini Indi meminta tolong kepada Bunda Ervita dan Ayah Pandu untuk menitipkan Nakula dan Sadewa. Untung saja kedua orang tuanya Indi adalah sosok yang baik dan siap diandalkan.


"Nitip ya Bunda dan Ayah. Sebenarnya juga berat ninggalin Nakula dan Sadewa, tapi sekarang waktunya kontrol," kata Indi.


"Tidak apa-apa. Kan kamu pergi bukan main-main, tapi untuk periksa juga. Semoga menjadi jauh lebih baik yah," kata Bunda Ervita.


Akhirnya Indi dan Satria berpamitan. Sebelumnya Indi mencium pipi dan kening kedua jagoannya. Sembari berharap nanti tidak akan menunggu terlalu lama, sehingga durasi perginya juga tak terlalu lama.


"Berangkat sekarang yuk, Sayang. Biar nanti malam pulangnya tidak kemalaman," ajak Satria.


Keduanya bergegas menuju ke Rumah Sakit. Dalam perjalanan, Indi tampak gelisah. Hatinya merasa berbeda, dan pergi kali ini berbeda. Sebelum dan sesudah punya anak rasanya sangat berbeda.


"Diam aja Mamanya Nakula dan Sadewa?" tanya Satria dengan melirik istrinya yang sejak tadi irit berbicara itu.


"Hehehe, kepikiran Nakula dan Sadewa, Mas. Keingat wajahnya," balas Indi.


Mendengarkan balasan Indi, Satria justru tersenyum. "Waduh, Papanya kembar udah kegeser nih. Kalah saing sama Nakula dan Sadewa. Soalnya yang diingat Mama Indira malahan Nakula dan Sadewa," balasnya.


"Enggak lah. Papa Satria tetap nomor satu kok. Cuma, Mama baru jatuh hati banget sama replikanya Papa, Nakula dan Sadewa," balas Indi.


"Replika kita berdua, Sayangku."


Akhirnya terjadi obrolan di antara keduanya. Hingga akhirnya tiba di rumah sakit. Kemudian, Satria dan Indi segera menuju ke Poli Kandungan. Di sana, Satria seperti biasa mendaftarkan Indi, dia meminta Indi untuk duduk dan menunggu saja.


"Masih menunggu dulu, Yang," kata Satria.


"Iya, tidak apa-apa, Mas. Semoga saja menunggunya gak terlalu lama aja," balas Indi.


Menunggu sembari melihat beberapa ibu hamil yang juga mengantri untuk memeriksakan kandungannya seolah membuat Indi teringat dengan dirinya sendiri. Rasanya baru beberapa saat yang lalu, perutnya begitu buncit dengan dua baby boy di dalam rahimnya. Akan tetapi, sekarang dua jagoannya sudah lahir, perutnya juga sudah tidak membuncit lagi.

__ADS_1


"Rasanya kayak baru kemarin perutku membuncit, sekarang Nakula dan Sadewa sudah bisa kita timang-timang," kata Indi.


Lagi-lagi Satria tersenyum. "Sudah bisa ditatap wajahnya, berbicara dan menyanyikan lagu untuk Nakula dan Sadewa. Tinggal nunggu Mamanya pulih dan sehat. Kalau menanti sembilan bulan rasanya begitu lama, tapi karena kita menikmatinya sembilan bulan itu sama sekali enggak terasa ya, Sayang."


Mendengar apa yang dikatakan suaminya, Indi sangat setuju. Dulu mengira sembilan bulan itu terasa sangat lama. Akan tetapi, ketika semuanya dijalani dan disyukuri semua berjalan dengan begitu cepat. Lebih dari setengah jam berlalu, barulah nama Indi dipanggil.


"Mom Indira."


Seperti biasa, Indi akan ditimbang terlebih dahulu berat badannya dan diukur tekanan darahnya.


"Sudah turun tujuh kilogram yah, Mom," kata perawat di sana.


"Iya, tapi belum banyak. Soalnya naik sembilan belas kilogram," balas Indi.


Perawat itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Tidak apa-apa, nanti bertahap ya Mom. Yang penting sehat."


Setelah itu, Indi dan Satria masuk untuk berkonsultasi dengan Dokter Arsy. "Selamat malam, Dokter," sapa Indi dan Satria bersama-sama.


"Malam Mom ... wah, dari Bumil sekarang sudah menjadi Busui. Harus lebih bersemangat yah, Mom. Apalagi jagoannya sudah di depan mata sekarang," kata Dokter Arsy.


"Tetap semangat kok, Dokter."


Setelah itu, Indi dipersilakan untuk menaiki brankar dan kemudian Dokter Arsy memeriksa Indi. Pertama pemeriksaan dengan USG untuk memastikan rahim sudah bersih, tidak ada sisa plasenta yang tertinggal di dalam rahim.


"Ini rahimnya yah, Mom. Belum kembali ke bentuk semula. Biasanya nanti terasa seperti kontraksi, Mom. Itu tandanya rahim sedang mengecil. Lalu, ini adalah darah, nanti akan semakin berkurang seiring dengan berakhirnya masa nifas," jelas Dokter Arsy dengan menunjukkan bagian-bagian yang terlihat melalui USG.


"Baik, Dokter," balas Indi.


Setelah itu, Dokter Arsy juga menutup tirai terlebih dahulu dan mengecek bagian yang sebelumnya mendapatkan jahitan.

__ADS_1


"Waktu pup sakit enggak, Mom?" tanya Dokter Arsy.


"Sejauh ini tidak, Dokter. Saya makannya juga yang berkuah, mungkin berpengaruh," balas Indi.


Dokter Arsy menganggukkan kepalanya. "Bagus, Mom. Semuanya boleh dimakan. Tidak ada pantangan. Perbanyakan buah dan sayur. Juga, banyak minum air putih. Jahitannya juga rapi, Mom. Menjelang kering. Semoga tidak ada keloid yah," jelas Dokter Arsy.


Setelahnya pemeriksaan berakhir. Ada perawat yang membantu Indi beberes, sementara Dokter Arsy melepas sarung tangan medis dengan membuangnya dan mencuci tangan terlebih dahulu.


"Ada keluhan enggak Mom? ASI lancar?" tanya Dokter Arsy.


"Tidak ada keluhan sih, Dokter. Ya, perlahan-lahan nanti akan sembuh. Butuh proses," balas Indi.


"Benar, Mom. Nanti saya resepkan ASI Booster dan Vitamin C yah, Mom. Untuk membentuk jaringan kulit baru," kata Dokter Arsy.


"Baik Dokter. Saya dan Mas Satria mengucapkan terima kasih sudah didampingi selama sembilan bulan sampai persalinan," kata Indi.


"Sama-sama, Mom. Saya juga berterima kasih. Malahan merepotkan diberi hadiah. Nanti kalau memasang kontrasepsi kembali ke sini yah Mom. Sehat selalu dan sampai jumpa lagi, Mom," kata Dokter Arsy.


Indi dan Satria menyelesaikan pemeriksaan dengan tersenyum. Semua sudah dilalui, tinggal menunggu masa nifas berakhir. Satria juga yang menyelesaikan membayar administrasi untuk pemeriksaan dan vitamin istrinya.


"Sudah?" tanya Satria.


"Sudah, Mas. Terima kasih sudah mendampingi selama ini. Kita pulang yuk, Mas. Sudah kangen dengan Nakula dan Sadewa," kata Indi.


"Tuh, kangen sama Nak Ganteng lagi. Papanya kalah deh," balas Satria dengan bercanda.


"Ya ampun, Mas. Kalau sama kamu ya setiap hari kangen dan cinta. Tidak perlu dibuktikan lagi loh," balas Indi.


"Iya-iya Mamanya Nak Ganteng. Percaya. Jadi enggak mampir kemana-mana?" tanya Satria.

__ADS_1


"Enggak pulang saja."


Satria mengangguk perlahan. Dia akan mengajak Indi untuk kembali pulang. Sudah ada Nak Ganteng Nakula dan Sadewa yang menunggu di rumah. Satu jam berapa di luar rumah saja rasanya sudah begitu kangen dengan Nakula dan Sadewa. Orang tua baru memang begitu, seakan tidak bisa jauh-jauh dari anaknya yang baru lahir. Kebayang wajah bayi-bayi mereka yang berada di rumah. Itu juga yang dialami Indi dan Satria sekarang ini.


__ADS_2