Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Bale Raos


__ADS_3

Keesokan harinya untuk merayakan kebahagiaan karena hendak mendapatkan cucu lagi, Rama Bima mengajak keluarga Satria dan keluarga besannya yaitu Ayah Pandu dan Bunda Ervita untuk makan siang bersama di Restoran otentik yang berada di kawasan Keraton Jogjakarta. Restoran itu bernama Bale Raos.


Bukan sekadar sebuah nama, tapi tempat ini kaya akan filosofi. Ya, filosofi tempat dan makanan yang disajikan. Bale Raos, terdiri dari dua kata dalam bahasa Jawa. Bale yang berarti adalah tempat atau rumah. Raos yang berarti rasa. Jadi, dari dua kata itu menunjukkan sebuah tempat untuk merasakan sesuatu rasa, dalam konteks ini adalah cita rasa setiap makanan yang lezat dan nikmat. Bukan sembarang masakan, tapi semua menu yang disajikan di sini adalah menu khas raja-raja Keraton Jogjakarta. Bahkan ada catatan masakan yang ditulis langsung oleh Raja. Mulai dari Sultan Hamengkubuwono VI hingga Sultan Hamengkubuwono X yang masih jumeneng (bertahta) hingga sekarang ini.


"Kalau Pak Negara dan Bu Galuh ke Jogjakarta, ada aja yah agendanya? Pasti kami diikutsertakan," kata Ayah Pandu kepada besannya itu.


"Tidak apa-apa Pak Pandu. Besan itu sebenarnya keluarga dan saudara. Dulu kan orang yang jauh, tidak saling kenal. Sekarang menjadi keluarga. Biar semakin rekat, dan akrab. Seharusnya kan begitu," balas Rama Bima.


Konsep pernikahan dalam budaya Nusantara, tidak hanya Jawa sebenarnya pernikahan itu adalah menyatukan dua keluarga. Pihak keluarga perempuan dan pria. Yang dulunya adalah orang yang jauh dan tidak saling mengenal akhirnya menjadi keluarga. Oleh karena itu, hubungan antar besan juga seharusnya hubungan layaknya keluarga. Ada kedekatan yang dibangun karena anak-anak yang menikah.


"Benar sekali, Pak Bima. Saya setuju. Semoga nanti kalau adiknya Indi menikah, dapat besan yang baik juga," balas Ayah Pandu.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Ayah Pandu, Rama Bima kemudian tertawa. "Apa sudah ada jodohnya Pak Pandu? Undangannya ke Solo jangan lupa," tanyanya.


"Belum ada jodohnya kok, Pak Bima. Hanya angan kami saja. Kalau besan rasa keluarga kan enak. Membuat hati teduh dan tenang. Selain itu juga lebih dekat," balas Ayah Pandu.


"Benar juga ya Pak Pandu. Saya berdoanya juga nanti Sitha kalau sudah dekat dengan jodohnya juga mendapatkan mertua yang baik. Mertua yang menerima Sitha bukan sebagai menantu, tapi seperti anak sendiri."


Agaknya bukan hanya Rama Bima, semua orang tua juga berharap anak-anak perempuannya ketika mendapatkan mertua adalah yang mau menerima dan menyayangi layaknya orang tua sendiri. Sementara Ayah Pandu dan Bunda Ervita sudah bersyukur karena Indi benar-benar disayang oleh keluarga Negara. Walau awalnya Indi tidak diterima, tapi ketika terjadi titik balik, Indi benar-benar disayang oleh keluarga Negara. Diperlakukan seperti anak kandung sendiri.


Di Bale Raos, Rama Bima memesan aneka sajian untuk Fine Dining dengan anak, menantu, dan besannya. Menikmati kekayaan kuliner khas raja Kasultanan Jogjakarta yang kaya cita rasa.

__ADS_1


"Konsepnya fine dining, Pak Pandu ..., tapi kita menikmati makanan Nusantara, Jawa khususnya," kata Rama Bima.


"Saya ngikut saja, Pak Bima."


"Ini Bir, Pak Pandu. Bukan minuman bir beralkohol, tapi Bir yang dibuat dari jahe. Minuman ini dulunya dibuat ketika Kolonialisme menjajah negeri ini. Para raja dan bangsawan tidak meminum minuman beralkohol, jadi sebagai gantinya membuat Bir Jawa atau biasa disebut Bir Plethog," cerita Rama Bima.


Ayah Pandu kemudian tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kalau yang mengajak itu Ningrat, tahu banget sejarahnya. Saya sekaligus belajar loh, Pak Bima."


Rama Bima tertawa. Banyak cerita dan kisah yang dia ceritakan terkait aneka makanan di Bale Raos. Hanya sebatas berbagi saja apa yang dia ketahui.


"Jangan begitu Pak Pandu, saya dulu juga belajar. Sama Eyangnya istri ini dulu dijelaskan semua hidangan akulturasi Jawa dan Belanda," balas Rama Bima.


Bunda Ervita yang semula diam, akhirnya turut berbicara juga. "Di Solo juga ada Pak Bima. Sebenarnya Selat Solo itu juga akulturasi dari Jawa dan Belanda. Kala itu orang Belanda menginginkan daging, sementara orang Surakarta lebih suka sayuran. Oleh karena itu, dihasilkan Selat Solo bukan sekadar daging, tapi dicampur dengan sayuran dan kuahnya dari rempah khas Nusantara. Tetap ada warisan kuliner yang merupakan pertemuan dua budaya," cerita Bunda Ervita.


"Konon Serabi itu juga Pancake khas Jawa, khas Surakarta, Bu Galuh. Kalau Pancake dari gandum, sementara dari Surakarta dari kelapa," cerita Bunda Ervita.


"Wah, iya. Benar sekali. Senang yah bisa banyak bercerita seperti ini. Tidak hanya menceritakan anak, cucu, dan menantu. Akan tetapi, semua hal bisa dibahas. Klop," balas Bu Galuh.


Indi dan Satria yang sedari tadi mendengarkan juga tertawa. Keduanya justru senang ketika kedua orang tuanya selalu nyambung saat berbicara. Semua topik bahasan bisa dibicarakan bersama-sama. Mulai dari keluarga, hingga aneka kuliner. Benar-benar klop dan semua pembicaraan nyambung.


"Kita akan memiliki dua cucu lagi loh, Bu," kata Bu Galuh.

__ADS_1


"Leres, Bu. Satria ini kok pinter banget. Setiap kali kok jadinya sepasang. Satrianya yang pinter atau memang Indi yang selalu memiliki ovum untuk dibuahi," kata Ayah Pandu dengan geleng-geleng sendiri.


"Saya juga bingung Pak Pandu. Jadinya sepasang lagi. Pinter nggih Pak Pandu?" tanya Rama Bima.


"Iya, pinter banget."


Satria tertawa lagi. Dia juga tidak tahu. Itu hanya semacam kebetulan atau bagaimana.


"Satria sendiri juga bingung. Sekali mengandung dan melahirkan lahirnya sepasang. Kalau Satria berpikirnya memang sudah anugerah dari Allah sih Ayah dan Rama. Kami juga bingung, tapi memilih lapang dan ikhlas," kata Satria.


"Sehabis ini memasang kontrasepsi aja Mbak Indi. Kalau hamil lagi ketiga dan jadi kembar, wah anaknya bisa setengah lusin," kata Bu Galuh.


"Kelihatannya Indi memang sudah deh, Ibu. Empat saja, sudah banyak," balas Indi.


"Benar Mbak Indi. Sudah saja. Kalau Satria nakal lagi awas aja. Nanti biar Ibu yang jewer, Satria."


Satria kemudian menggelengkan kepalanya. "Satria udah dewasa, sudah memiliki anak kok masih dijewer loh, Bu."


"Makanya sehabis ini lebih hati-hati. Mengantisipasi jauh lebih baik, Sat. Tinggal membesarkan dan menyekolahkan anak. Biar menjadi orang yang bermanfaat. Rama dan Ibu tidak mengharuskan menjadi apa atau apa. Yang penting bermanfaat untuk sesama," kata Bu Galuh.


"Setuju, Sat. Sebaik-baiknya orang adalah mereka yang bermanfaat untuk sesamanya. Apa pun profesinya. Kalau menjadi Dokter ya yang baik dan profesional. Kalau menjadi pengusaha juga pengusaha yang baik. Selalu memberi manfaat untuk orang lain," kata Rama Bima.

__ADS_1


Sungguh itu adalah nasihat yang baik. Nasihat dari orang tua kepada anak-anaknya. Sungguh, sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bisa memberikan manfaat bagi sesamanya. ❤❤


__ADS_2