Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Kebahagiaan Para Eyang


__ADS_3

Selama lima jam selanjutnya ....


Sekarang di kamar perawatan Indi, berkumpul Ayah Pandu dan Bunda Ervita, serta Rama Bima dan Bu Galuh. Kedua pasangan orang tua itu merasa sangat senang karena sekarang Indi juga sudah berangsur membaik. Tidak ada kondisi kritis atau pun pendarahan serviks usai persalinan. Satria juga merasa lega, walau begitu Satria masih menunggu dua jagoannya yang masih diobservasi.


Tadi usai Si Kembar dibawa ke ruangan inkubator untuk bayi, dan Indi dipindahkan ke kamar rawat inap, Indi merasa sangat mengantuk. Kelopak matanya terasa sangat berat. Namun, Satria berusaha membuat istrinya terjaga dan tidak tidur.


"Minum yah, Mbak Indi," kata Bu Galuh menawarkan menantunya itu untuk minum.


"Boleh, Ibu," kata Indi.


Satria kemudian mengatur brankar yang ditempati oleh Indi supaya lebih tinggi. Kemudian, Bunda Ervita memberikan tumbler berisi Teh panas yang dia bawa ke rumah. Bu Galuh yang membantu meminumkannya, dan Indi tersenyum, dia merasa malu ketika dilayani seperti ini.


"Terima kasih, Ibu," katanya.


"Sama-sama, Mbak ... sekarang mananya yang sakit?" tanya Bu Galuh.


"Bekas jahitannya baru kerasa sekarang, Bu ... tadi rasanya gak sakit. Sekarang, baru terasa nyerinya. Ngilu," balas Indi.


Bu Galuh dan Bunda Ervita tertawa malahan mendengarkan jawaban jujur dari Indi. Ada kalanya memang rasa nyeri dan ngilu pasca jahitan itu baru terasa beberapa jam usai bersalin. Sampai dua atau tiga hari, rasa nyeri di pangkal paha masih terasa.


"Kita keluar cari makan dulu yuk ... belikan Satria makan malam sekalian," ajak Rama Bima.


Akhirnya, para orang tua berpamitan untuk membeli makan dulu di luar Rumah Sakit. Nanti mereka akan kembali lagi dan sekaligus membawakan makan malam untuk Satria.


Begitu di kamar hanya berdua saja, Satria kemudian bertanya kepada Indi. "Nyeri dan ngilu bagaimana, Sayang?" tanyanya.


"Hm, rasanya seperti waktu malam pertama dulu," balas Indi. Entah, sekarang rasa nyeri dan ngilu di pangkal paha seperti ini rasanya seperti usai menuntaskan malam pertama dulu.


Mendengarkan jawaban Indi, Satria justru senyam-senyum sendiri. Tidak mengira nyeri dan ngilu itu seperti malam pertama, walau Satria yakin bahwa sekarang lebih sakit. Jarum jahit kan tajam, bukan tumpul. Hanya mirip saja.


"Berarti dulu sesakit itu yah?" tanya Satria.

__ADS_1


"Iya, sakit banget juga. Ya, ini jauh lebih, lebih, dan lebih sakitnya. Luar biasa banget deh," balas Indi.


Satria kemudian tersenyum. Sakit itu memang sangat bertubi-tubi. Namun, ajaibnya wanita memang diberikan Allah karunia untuk menahan rasa sakit. Hingga persalinan pun bisa berjalan dengan lancar.


...🍀🍀🍀...


Keesokan Harinya ....


Sekarang Baby Nakula dan Sadewa sudah ditempatkan di kamar yang sama dengan Indi. Selain itu, Indi juga siang nanti sudah diperbolehkan pulang. Pemulihan di rumah, dan sepekan kemudian akan kontrol jahitan lagi. Sehingga sekarang, kedua orang tua berkumpul di Rumah Sakit, sembari menunggu waktu Indi untuk boleh pulang.


"Satria nitip Indi dulu yah, mau menyelesaikan administrasi dan mengambil obat untuk Indi dulu," pamitnya.


"Sama Rama yuk, Sat ... biar Rama nanti," kata Rama Bima.


Ada inisiatif dari Rama Bima untuk membayari biaya persalinan menantunya. Anak memang tidak meminta, tapi sebagai orang tua, Rama sendiri yang ingin memberikan untuk anaknya. Akan tetapi, Satria menggelengkan kepalanya.


"Tidak usah, Rama ... biar Satria saja. Sudah kewajiban Satria sebagai seorang suami."


Sekarang, Satria sudah meninggalkan kamar perawatan Indi. Lalu, ada perawat yang mengantarkan Nakula dan Sadewa. Kedua bayi itu usai dimandikan dan diantar di kamar Indi.


"Permisi, Mom Indira ... ini kedua baby boy sudah dimandikan yah," kata perawat di sana.


"Terima kasih banyak," balas Indi.


Di dalam box bayi terdapat Nakula dan Sadewa dengan pakaian bayi dan kain bedong. Keduanya begitu lucu dan menggemaskan. Rama Bima dan Ayah Pandu tampak mengamati dua makhluk kecil itu.


"Lucunya, cucu-cucunya Eyang," kata Rama Bima.


"Lebih lucu karena walau kembar, wajahnya berbeda," kata Ayah Pandu.


Rama Bima tertawa kecil dan menganggukkan kepalanya. "Benar. Kok bisa yah, kembar loh, wajahnya berbeda begini. Berat badannya sama tidak Mbak Indi? Yang memakai warna biru navy keliatan lebih besar," tanya Rama Bima.

__ADS_1


Walau kembar, tapi Indi sengaja memberikan pakaian dan kain bedong dengan motif sama, hanya berbeda warna. Kepada Nakula, dikenakan warna biru langit, sementara untuk Sadewa dikenakan warna biru navy. Sekaligus menjadi pertanda untuk keluarga, mana Nakula dan mana Sadewa.


"Yang memakai warna Navy namanya Sadewa, Eyang. Kalau yang biru laut namanya Nakula. Nama pilihan Mas Satria. Memang Sadewa lebih ndut, Rama. Beratnya 2,8 kilogram, sementara Nakula yang lahir lebih dulu hanya 2,5 kilogram. Beda di pipi nggih Rama," jawab Indi.


"Wah, namanya bagus. Semoga kelak berjiwa kesatria juga ya, Cah Bagus," kata Rama Bima.


"Benar, turuti teladan yang baik. Menjaga derajat orang tuamu," balas Ayah Pandu menambahkan.


"Boleh digendong enggak, Mbak Indi?" tanya Bu Galuh.


"Boleh saja, Ibu. Satu-satu yah, Eyangnya dari Solo dan Jogja tidak perlu berebut," balas Indi terkekeh pelan.


Akhirnya Bu Galuh menggendong Sadewa, sedangkan Bunda Ervita menggendong Nakula. Senang sekali menggendong cucu-cucunya. Dua bayi laki-laki yang berparas tampan dan terlihat sangat menggemaskan itu.


"Kayak baru kemarin melahirkan Satria, sekarang sudah menggendong Satria kecil," kata Bu Galuh dengan menitikkan air mata.


Bu Galuh merasa terharu. Rasanya seperti baru kemarin melahirkan Satria, sekarang justru sudah sudah menggendong putranya Satria. Seolah terbayang, dulu Satria juga sekecil ini waktu dilahirkan.


"Dulu Mas Satria lahir beratnya berapa, Bu?" tanya Bunda Ervita.


"Satria itu terhitung besar, Bu. Waktu lahir beratnya 3,6 kilogram, sudah kelihatan besar gitu. Waktu kecil pipinya bulat, setelah remaja itu mulai tirus. Mungkin karena kebanyakan kegiatan OSIS dan Paskibra jadi tirus," jawab Bu Galuh.


"Gede juga yah, bayi lahir sampai 3,6 kilogram. Untuk bayi kembar Nakula dan Sadewa juga terhitung besar, Bu. Satu perut ditempati bersama," balas Bunda Ervita.


"Dari dalam rahim sudah bersama, semoga rukun sampai kalian berdua besar nanti yah Kula dan Dewa," kata Bu Galuh.


"Aamiin. Saling rukun sampai dewasa, saling memperhatikan satu sama lain. Seumur-umur, baru sekarang menggendong bayi baru lahir dengan jenis kelamin laki-laki," kata Bunda Ervita. Itu semua karena kedua anaknya Bunda Ervita berjenis kelamin perempuan. Baru cucunya yang laki-laki.


"Punya jagoan yah, Nda," kata Ayah Pandu.


"Benar, Yah. Alhamdulillah, semuanya berkah dari Allah juga," balas Bunda Ervita.

__ADS_1


Kedua pasangan orang tua itu merasa sangat bahagia. Hadirnya Nakula dan Sadewa membawa kebahagiaan untuk keluarga besar. Anak-anak yang menjadi penyejuk hati dan juga penerus untuk keluarga besar Hadinata dan Negara tentunya.


__ADS_2