Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Pertama Kali ke Rumah Mertua


__ADS_3

Berganti hari, Satria mengajak Indi untuk cek out dari hotel yang sudah dua malam ini mereka tempati. Mumpung berada di Solo, Satria tentu ingin mengajak Indi untuk mengunjungi rumah keluarganya yang ada di Solo.


"Ke rumah Rama dan Ibu yah," ajak Satria.


"Iya, Mas. Ajarin nanti yah, Mas. Aku takut kalau berbuat salah," balas Indi.


Hal yang wajar, karena sejak menikah dengan Satria baru kali ini, Indi akan mengunjungi rumah mertuanya. Perjalanan dari hotel menuju ke rumah mertuanya kurang lebih setengah jam, itu juga karena ada beberapa titik kemacetan di kota Solo.


"Daerah Solo Timur yah, Mas?" tanya Indi.


"Iya, kok kamu tahu, Sayang? Sudah perbatasan dengan Karang Anyar," balas Satria.


Menuju ke arah Timur, kala melewati Sebelas Maret, satu-satunya kampus negeri di Kota Bengawan, Indi pun berbicara kepada suaminya.


"Mas, ini kalau lewat sini menuju ke rumahnya Eyangku. Rumah aslinya, kelahirannya Bunda Ervita di sini," kata Indi.


"Dekat yah, Sayang. Rumahku ke Timur lagi. Yah, perbatasan kota Solo dan Kabupaten Karang Anyar sih. Rumahnya Rama lebih tepatnya," balas Satria.


Indi menganggukkan kepalanya. Dia melihat mobil suaminya yang menuju terus ke arah Timur, sampai melewati Solo Safari. Setelah itu, melewati Jembatan Sungai Bengawan Solo. Hingga, sampailah ke rumah besar dengan joglo di depannya. Rumah dengan halaman yang sangat luas dan juga ada beberapa rempah-rempah yang dijemur di sana.

__ADS_1


"Ini rumahnya Rama dan Ibu, Sayang," kata Satria.


Kemudian keduanya turun dari mobil bersama-sama. Satria juga menunjukkan sekilas beberapa rempah yang dijemur di sana. Juga, ada mushola yang berdiri di samping rumah.


"Ini mushola, dulu aku sering sholat di sini, Sayang. Barengan sama beberapa pekerja di pabrik jamu," cerita Satria lagi.


Setelah itu, Satria dan Indi mengucapkan salam untuk memasuki rumah.


"Assalamualaikum," sapa Satria dan Indi.


"Waalaikumsalam," balas Rama Bima dan Bu Galuh.


Kemudian Indi memberikan salam takzim kepada kedua mertuanya. Indi diterima dan disambut dengan baik. Bu Galuh pun, mengajak Indi untuk masuk ke dalam rumah.


"Rumah kita, rumah kamu juga Mbak Indi," sahut Rama Bima.


Indi pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia mengamati rumah yang memang bernuansa Jawa dan memiliki aroma jamu dan rempah-rempah yang begitu kuat. Namanya juga pengusaha jamu, sehingga aroma rempah-rempah sangat kuat.


"Ibu kira kalian masih ingin santai-santai di hotel dulu. Kan masih pengantin baru," kata Bu Galuh.

__ADS_1


"Sudah cukup, Bu. Kan kami sudah menikah sebulan lebih juga," balas Indi.


"Ya, tidak apa-apa. Sebulan lebih namanya juga masih pengantin baru," sahut Rama Bima.


Usai itu, Indi menanyakan keberadaan Sitha, adik kandung suaminya itu. "Sitha di mana Bu?" tanyanya.


"Masih sekolah Mbak Indi. Kan sampai sore sekolahnya," balas Bu Galuh.


Duduk sejenak kemudian Bu Galuh dan Rama Bima mengajak Indi melihat-lihat keberadaan rumah besar itu. Ada beberapa ruangan yang ditunjukkan kepada Indi. Juga beberapa foto zaman dulu yang sangat bersejarah.


"Ini Eyang Negara, generasi awal yang memulai usaha jamu, Mbak Indi," kata Rama Bima.


Indi mengamati foto hitam putih itu. Beberapa diabadikan dengan cara pembuatan jamu yang masih tradisional. Kala itu, Rama Bima juga menceritakan bagaimana keluarga Negara bisa menjadi pengusaha jamu dari generasi ke generasi.


"Awalnya Simbah (kata ganti Eyang, dalam bahasa Jawa) jualan jamu gendong Mbak Indi. Kok katanya pembeli itu, jamunya enak. Dari jamu gendong akhirnya membuka kedai kecil di emperan toko. Lama kelamaan bisa berkembang dan menjadi pengusaha jamu. Walau semua produksi dengan mesin, tapi kualitasnya tetap dipertahankan," kata Rama Bima.


Sungguh, Indi sangat senang mendengarkan semua cerita dari Rama Bima. Dia merasa semua foto hitam putih itu seakan bercerita sendiri. Penuh makna dan kaya akan sejarah.


"Luar biasa, Rama. Bisnis jamu yang memiliki rentang waktu yang sangat panjang. Bahkan sekarang ingat jamu, pasti ingat jamu ini," kata Indi.

__ADS_1


Rama Bima kemudian menganggukkan kepalanya. "Melestarikan tradisi, Mbak Indi. Ini adalah usaha yang sudah dimulai Eyang-Eyang zaman dulu. Maka dari itu, keturunan Rama juga berharap nantinya bisa mengembangkan dan memegang tongkat estafet ini. Termasuk kamu dan Satria," kata Rama Bima.


Untuk bisnis keluarga seperti ini memang selain diwariskan, juga berharap bahwa generasi selanjutnya yang akan terus mengerjakannya. Ini bukan sekadar bisnis sama seperti yang Rama Bima sampaikan, tapi juga adalah bagian dari melestarikan tradisi. Ketika dulu orang minum jamu harus membeli jamu gendong, sekarang sudah ada berbagai jamu kemasan instan hanya tinggal diseduh dan bisa dinikmati.


__ADS_2