
Selang beberapa pekan kemudian, Satria mengajak Indi untuk menghadiri sebuah acara di kampus mereka dulu. Layaknya ada festival yang bisa dihadiri oleh para alumni. Kedatangan Satria kali ini bukan hanya sekadar menonton, tapi dia sudah menghubungi panitia penyelenggara untuk membuka booth mengenai produksi Jamu Sido Mulyo.
Sehingga kala itu, Satria dan Indi kompak mengenakan polo shirt dari Pabrik Sido Mulyo, ada brosur mengenai jamu dan lowongan pekerjaan juga bagi mereka yang tertarik untuk masuk dalam industri jamu. Lantaran Indi dan Satria sepanjang hari ini akan sibuk, sehingga Nakula dan Sadewa dititipkan terlebih dahulu kepada Eyang Nda dan Eyang Pandu.
"Malu enggak, Yang? Kan kita berada di stand jamu," tanya Satria kepada istrinya itu.
"Enggak, enggak malu sama sekali kok. Harus bangga dengan produk-produk Indonesia, Mas. Udah jarang juga sekarang industri jamu seperti ini."
Itu adalah pendapat Indi. Dia benar-benar tidak malu. Justru, Indi bangga bisa menjadi bagian dari industri jamu yang sudah malang melintang di pasar Nusantara. Selain itu, penjualan jamu ini sudah sampai sampai Asia dan Eropa.
"Kirain malu. Cantik-cantik jualan jamu," balas Satria.
"Kamu bisa aja sih, Mas. Aku gak malu sama sekali."
Usai itu, ada beberapa mahasiswa yang mendapatkan brosur dan sampel gratis dari jamu tersebut. Termasuk Indi dan Satria yang menjelaskan open rekrutmen untuk mereka yang berniat untuk mendaftar. Termasuk ada beberapa video yang sudah disiapkan Satria bagaimana proses jamu dilakukannya dan uji badan pengawasan makanan dan obat.
"Banyak yang mampir, Mas. Malahan rasanya kayak ada job fair di kampus yah? Dulu pernah ikut Job Fair enggak, Mas?" tanya Indi kepada suaminya.
Satria menggelengkan kepalanya. "Waktu itu aku enggak ikut sih, Yang. Mikirnya kan usai lulus akan pulang ke Solo dan membantu usaha jamu milik Rama. Jadi, mikirnya ya sudah pasti bekerja nanti. Padahal kayak gitu ya enggak bagus yah. Harusnya aku dulu ikutan, supaya tahu peluang di luar sana bagaimana. Kamu ikut saat itu?"
"Ikut, cuma melihat perusahaan atau konsultan apa saja yang dibutuhkan. Peluang desainer interior gitu. Ya, walaupun setelah lulus juga bekerja di kantornya Yayah sih," balas Indi.
__ADS_1
Di sela-sela acara siang yang cukup terik itu. Ada seorang pria yang sengaja singgah ke stand milik Satria karena melihat ada Indi di sana. Pria yang dulunya pernah memiliki masa lalu dengan Indi itu.
"Ketemu lagi, setelah dulu aku diusir dari kantor konsultan desain," kata pria itu dengan menunjukkan wajahnya yang angkuh.
Pria itu adalah Yudha, mantan pacar Indi dulu. Pria yang pernah berusaha melecehkan Indi. Untung saja Indi berhasil kabur dan ada Satria yang menolongnya. Bertemu dengan Yudha lagi membuat Indi merasa tak nyaman. Apalagi sekarang adalah acara umum.
"Kenapa, Yud? Mau membuat masalah lagi?" tanya Satria.
"Diem aja, Sat. Bagiku, kamu tetaplah pria cemen. Kenapa sih, Indi mau-mau saja sama cowok yang di masa kuliahnya culun kayak loe."
Satria mengernyitkan keningnya. Sebenarnya di masa kuliah dulu Satria ya mahasiswa biasa saja. Tidak terlalu mencolok. Selain itu, Satria juga tidak banyak bergaul dengan teman-temannya yang cowok.
"Walau cemen dan culun, gue tahu caranya memperlakukan wanita dengan baik," balas Satria.
"Tuhan baik yah, Yud. Dia jauhin aku dari cowok monster kayak kamu. Tahu enggak, Yud ... satu hal yang aku syukuri adalah putus dari kamu saat itu. Hm, sekarang kalau memang kamu gak suka sama kita berdua. Silakan pergi saja, Yud. Jangan mengusik kami yang sudah bahagia," kata Indi.
Mendengar ucapan Indi, Yudha lantas menatap tajam kepada Indi. Kesal mendengar mendengar ucapan Indi. Setelah itu, Yudha berbicara lirih.
"In, sungguh ... aku baru tahu akhir-akhir ini. Kamu ternyata anak tanpa nasab yah? Wow, ayah kamu saja enggak mengakuimu. Kamu sok baik, padahal identitasmu itu seperti itu."
Ucapan Yudha membuat telinga Indi dan Satria benar-benar panas. Satria sudah emosi dibuatkan. Kedua tangannya mengepal dan siap menghadiahkan kepalan ke wajah Yudha.
__ADS_1
"Tahu Farel kan? Dia kerja sama gue. Adik loe yah? Apa namanya ... satu Bapak Biologis? Ck, menantu keluarga terhormat ternyata bibit, bobot, dan bebetnya gak jelas."
Ketika nama Farel disebut, dia teringat dengan anak kandung Bapak Firhan dan Tante Wati yang memang bernama Farel. Kalau dihitung memang Indi adalah satu kakak tunggal bapak dengan Farel. Indi juga tidak tahu kenapa Farel mengatakan hal seperti ini? Bukankah sama saja membongkar aib di masa lalu.
"Keberadaan manusia di mata Allah sama, Yud. Aku anak tanpa nasab atau tidak, bukan urusanmu. Sudah tidak zaman menjelekkan orang lain dari latar belakang dan asal keturunannya. Kalau kamu pria yang baik, kamu justru malu dengan semua perkataanmu. Jangan sampai, Yud ... hari ini kamu merendahkan aku dan kenasabanku, dan di lain waktu kamu menikahi gadis tanpa nasab atau bahkan lebih rendah derajatnya."
Indi mengatakan semuanya itu. Tidak ada rasa takut di dalam hatinya. Walau di dalam hatinya kesal ketika ada orang datang dan mengungkit lagi perihal kenasabannya.
"Sudah Sayang, biarkan anjing menggonggong," balas Satria.
"Sialan loe, Sat!"
Yudha seolah tak terima dengan ucapan Satria barusan. Di tempat itu nyaris terjadi batu hantam, hingga akhirnya ada wanita paruh baya yang datang ke sana untuk mencari Yudha.
"Yudha, Ibu mencarimu," katanya.
Jika Yudha memang tampan dan berpenampilan Oke punya. Sedangkan Ibunya sangat-sangat sederhana. Di wajahnya tercetak kerutan yang menandakan bahwa dia sudah tidak muda lagi.
"Ibu Karti?" sapa Satria lirih.
Satria seolah mengenali wanita paruh baya yang baru saja memanggil Yudha itu. Sebab, wajahnya sangat tidak asing. Sosok wanita yang kemungkinan pernah Satria kenali waktu kecil. Sementara didatangi wanita paruh baya itu membuat wajah Yudha berubah. Dia kesal, dengan mata yang memincing dan alis mata yang mengerut perlahan.
__ADS_1
"Ibu Karti? Kok Mas Satria kenal?" tanya Indi.
Satria kemudian menatap Bu Karti dan Yudha bergantian. Hubungan apakah yang dimiliki Bu Karti dan Yudha? Lantas kenapa Satria bisa mengenal sosok bernama Bu Karti itu?