
Akhir pekan pun tiba, hari ini Satria, Indi, Rama Bima, dan Bu Galuh menuju ke Cilacap. Nakula dan Sadewa pun dititipkan kepada Bunda Ervita dan Ayah Pandu. Sehingga memang Satria dan Indi seperti memiliki waktu luang.
Kali ini Satrialah yang mengemudikan mobil milik Ramanya. Menuju perjalanan yang pemandangannya di dominasi oleh sawah-sawah dan juga ladang. Mobil yang dikemudikan Satria pun melaju dengan kecepatan sedang.
"Sudah tahu rumahnya belum, Sat?" tanya Rama Bima.
"Sudah tahu, Rama. Alamat lengkapnya Satria sudah tahu kok," balasnya.
Rama Bima menganggukkan kepalanya. Perjalanan yang ditempuh Satria pun terbilang panjang. Tiga jam perjalanan dari Jogjakarta. Akan tetapi, mereka tampak menikmati perjalanan itu sembari membahas beberapa hal seperti pabrik jamu, stand UMKM selanjutnya, dan topik pembicaraan yang lain.
Hingga akhirnya mobil yang dikemudikan Satria memasuki kawasan perkampungan dengan lahan sawah yang begitu luas. Mengikuti peta digital di handphonenya, hingga akhirnya mobil yang dikemudikan Satria berhenti di rumah yang sepenuhnya masih berupa batu bata merah saja. Letaknya begitu dekat dengan sawah.
"Ini rumahnya?" tanya Bu Galuh.
"Kalau sesuai alamat dan mengikuti map, memang ini rumahnya, Ibu," balas Satria.
"Ya sudah, ayo kita turun," kata Rama Bima.
Akhirnya mereka berempat turun dari mobil. Dengan Satria yang berjalan lebih dahulu dan mengucapkan salam.
"Assalamualaikum, kula nuwun," kata Satria mengucapkan salam.
Dari dalam rumah ada perempuan paruh baya yang kala itu hanya mengenakan daster saja. Kaget melihat Satria dan keluarganya sekarang tiba di rumahnya.
"Waalaikumsalam, ya Allah ... ternyata Den Satria dan Ndoro," sambutnya dengan menangis. Benar-benar tak menyangka majikan atau atasannya sekarang benar-benar datang ke rumahnya yang begitu jauh di pedesaan di Cilacap.
"Bagaimana kabarnya Mbok Karti?" tanya Bu Galuh yang langsung memeluk Bu Karti di sana.
Di pelukan Bu Galuh, Bu Karti menangis. Setelah belasan tahun akhirnya bisa bertemu lagi dengan mantan majikannya dulu. Bahkan majikannya yang datang ke gubuknya yang berada di desa.
"Monggo, pinarak," kata Bu Karti mempersilakan masuk Satria dan keluarganya. "Maaf, rumah di desa hanya seperti ini. Gubuk ini namanya," kata Bu Karti lagi.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Mbok. Sama saja. Bagaimana Mbok Karti sehat? Satria kemarin itu menceritakan tentang Simbok, kami jadi kepikiran ke sini," kata Rama Bima sekarang.
Bu Karti dan menganggukkan kepalanya. Wanita itu masih berlinang air mata, bahagia sampai membuatnya terharu.
"Matur sembah nuwun, Ndoro. Sudah dikunjungi ke mari," katanya.
"Kita sudah bukan majikan dan bawahan. Tidak usah menyebut Ndoro lagi, Mbok," kata Rama Bima.
"Sudah kebiasaan," balas Bu Karti.
"Panggil yang lain saja, Mbok. Kami jadi sungkan," kata Bu Galuh.
Di sana Bu Karti menceritakan lagi kehidupannya setelah tidak bekerja di rumah kediaman Negara. Selain itu, Bu Karti menunjukkan foto-foto Yudha sewaktu masih kecil.
"Ini Den Satria, foto masa kecilnya Yudha. Memang sangat berbeda dengan Ibu. Dia putih, cakep, memang mirip Bapaknya yang putih dan tampan. Sementara Ibu hanya gadis desa dan tidak berpendidikan. Ini foto sewaktu Ibu nikah hanya akad saja."
Setidaknya semua foto-foto lama itu memang menjadi bukti bahwa Yudha adalah anaknya Bu Karti, walau secara genetik lebih mirip dengan Bapak biologisnya. Berbeda jauh dengan Bu Karti yang adalah Ibunya.
"Nggih, mirip BapakE," balas Bu Karti.
"Mbok Karti sudah pernah ketemu sama anaknya?" tanya Rama Bima.
"Sudah, Yudha ada di Jogjakarta. Keluarganya sekarang tinggal di Jogja. Pengusaha di sana. Sayangnya dia gak mau mengakui ibunya, malu karena ibunya jelek dan orang desa," Bu Karti menceritakan itu dengan menangis lagi.
"Sudah, Mbok. Jangan dimasukkan hati. Jangan mendoakan yang jelek juga, doa seorang ibu itu didengar Allah. Didoakan yang baik, Didoakan sewaktu-waktu akan mengerti kebenaran yang sesungguhnya. Bisa menerima ibunya," kata Bu Galuh.
Biasanya ketika anak berlaku tidak benar atau jahat, orang tua akan mendoakan yang buruk. Sehingga doa yang dijabah Allah juga adalah doa yang buruk-buruk, yang terjadi pun hanya malapetaka dan malabahaya. Namun, Bu Galuh mengingatkan bagaimana pun anak menyakiti hati ibunya, jangan mendoakan yang jelek. Harus Didoakan yang baik dan berharap Allah yang menyadarkannya.
"Saya sudah ikhlas. Kalau memang Yudha tak mau mengakui ibunya gak apa-apa. Allah sangat baik, digantikan dengan Mas Satria dan istrinya yang sangat baik. Alhamdulillah, Bu. Lebih baik ikhlas," kata Bu Galuh.
"Mbok Karti di sini tinggal sama siapa?" tanya Rama Bima.
__ADS_1
"Orang tua sudah meninggal, Ndoro. Saya mengasuh anaknya Mbakyu. Masih SMA sekarang. Mbakyu dulu itu jadi pekerja kontrak di Suriname. Banyak tetangga di sini yang dulunya dibawa Belanda ke Suriname, Ndoro. Anaknya ini, saya asuh. Mbakyu sudah sepuh tidak tahu juga apakah bisa pulang ke Indonesia atau tidak," cerita Bu Karti.
Bu Galuh menganggukkan kepalanya."Diasuh seperti anak sendiri, Mbok. Kalau bukan darah dagingnya kalau kasih sayang tulus, sayangnya juga tulus. Melebihi kasih sayang anak ke orang tua kandungnya," kata Bu Galuh.
"Insyaallah, Ndoro. Kalau tulus pastilah tulus. Saya sudah mengasuhnya sejak bayi. Sampai sekarang. Kalau Mboknya yang di Suriname gak bisa kirim ya sudah, saya yang menyekolahkan juga. Tidak apa-apa, Ndoro."
"Itu malahan jauh lebih bagus, Mbok. Mbok tinggal ada temannya dan juga seolah punya anak," kata Rama Bima.
Mengobrol lebih dari satu jam, kemudian Satria menurunkan oleh-oleh dan buah tangan yang dia bawa dari Jogjakarta. Khusus untuk Bu Karti.
"Ini sedikit buat, Bu Karti," kata Satria.
Ada oleh-oleh khas Jogjakarta, ada juga beberapa kemeja batik dan daster batik dari Bunda Ervita yang dititipkan kepada Indi dan Satria, semua itu juga diberikan ke Bu Karti.
"Repot-repot loh Den Satria dan istrinya ini," kata Bu Karti.
"Tidak repot sama sekali kok, Bu," balas Indi.
"Mbok, saya beri foto kita dulu. Foto lama sewaktu Mbok masih mengasuh Satria dan Sitha sewaktu kecil. Untuk kenangan-kenangan yah, Mbok," kata Bu Galuh.
Bu Karti menganggukkan kepalanya. Menangis malahan melihat foto lawas yang kisahnya luar biasa. Majikan yang baik, di mana sering kali diperlakukan bukan sebagai batur atau pembantu, tapi dianggap bagian dari keluarga. Kalau saat itu Bu Karti meneteskan air matanya, semua adalah air mata bahagia.
"Main ke Solo, Mbok," kata Rama Bima.
"Lain waktu nggih ..., sekarang Neng Sitha sudah sebesar apa?" tanyanya.
"Sudah kuliah, Mbok. Sudah semester dua," balas Bu Galuh.
"Dulu masih kecil, sekarang sudah jadi mahasiswa."
Kunjungan di Cilacap walau sebentar, tapi sangat berkesan. Bu Karti juga bahagia karena dikunjungi orang-orang yang dianggapnya seperti keluarga. Selain itu, Bu Karti dan Bu Galuh bertukar nomor handphone juga, mereka berjanji akan saling menghubungi. Menyambung lagi tali silaturahmi.
__ADS_1