Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Ingin Suami Seperti Yayah


__ADS_3

Usai dari Hutan Pinus Mangunan, sekarang Ayah Pandu dan Bunda Ervita mengajak keluarganya makan bersama di sebuah restoran yang tak jauh dari daerah Bantul, Jogjakarta. Restoran outdoor yang teduh dan penuh semilir angin. Selain itu, terdengar suara gamelan yang diputar. Orang Jawa berkata tempat ini begitu 'nglaras', cocok untuk bersantai.


"Ayo-ayo pesan. Makan dulu," kata Ayah Pandu.


"Ayah dan Bunda duluan dong," balas Satria.


"Anak-anak dulu juga tidak apa-apa, Sat. Setelah memiliki anak itu, Ayah dan Bundamu ini pengennya selalu memprioritaskan anak-anak dulu, baru yang lainnya," kata Ayah Pandu.


Memang begitulah Ayah Pandu. Begitu sudah memiliki anak, yang diprioritaskan adalah anak-anaknya terlebih dahulu. Makan belakangan, mandi belakangan, asal anak terurus dulu. Apalagi kala Indi dan Irene masih kecil-kecil dulu, Ayah Pandu dan Bunda Ervita akan bahu-membahu untuk memprioritaskan anak-anak terlebih dahulu.


"Benar, Ayah. Ibarat kata sedikit telat makan tidak apa-apa asalkan Nakula dan Sadewa makan dan kenyang dulu. Satria dan Indi sekarang sudah mengalaminya," balas Satria.


Memang begitulah ketika sudah menjadi orang tua. Ibarat kata dulu kala perut terasa lapar, segera makan untuk kembali mengenyangkan perut. Akan tetapi, begitu sudah memiliki anak yang akan diprioritaskan adalah anak-anaknya terlebih dahulu.


"Nanti Irene kalau menikah, pengennya punya suami yang kayak Yayah," kata Irene.


Ayah Pandu tersenyum. Sementara Bunda Ervita dan Indi sama-sama tersenyum. Indi teringat dengan dirinya dulu sewaktu belum menikah. Dia menginginkan sosok seperti Yayahnya. Seorang pria yang baik hati, berhati besar, tanggung jawab, tulus, dan semua karakter yang baik dimiliki oleh Ayah Pandu. Syukurlah, Indi juga memiliki suami yang memiliki akhlak yang baik. Satria juga adalah pria yang baik, pria yang mau terlibat dalam setiap pengasuhan Si Kembar dan selalu membantunya.


"Anak-anak ini penggemarnya Yayah deh ... Bunda enggak punya anak cowok sih, kalau punya anak cowok pasti dia ingin istri yang kayak Bunda," balas Bunda Ervita dengan tertawa.


"Iya, soalnya kita tidak mempunyai anak cowok," kata Ayah Pandu.

__ADS_1


"Sebagai gantinya, kita memiliki cucu-cucu cowok, Yah," balas Bunda Ervita.


Satria yang melihat keharmonisan keluarga istrinya ini sangat senang. Dulu, keluarga Negara sendiri dingin, sangat terkurung dengan beberapa pakem. Namun, perlahan-lahan berubah. Ada kelonggaran dan juga hubungan Rama, Ibu, Satria, dan lainnya menjadi lebih akrab dan hangat. Perubahan ini tentunya adalah sebuah perubahan yang baik.


"Nanti ditambah cucu cewek, Bunda," kata Satria dengan tertawa.


"Kapan, Mas?" tanya Irene dengan excited.


"Enggak sekarang. Kalau Nakula dan Sadewa sudah dua tahun, baru berpikir nambah lagi," balas Indi.


Satria menganggukkan kepalanya. Satria sendiri juga ingin memberikan waktu untuk Indi. Tidak hanya membenamkan diri untuk mengasuh dan mengurus anak-anak. Sebab, dalam rumah tangga ada beberapa hal yang memang adalah keputusan bersama.


Keluarga Hadinata pun tertawa. Nakula dan Sadewa masih kecil. Perlu pendampingan Mama dan Papanya untuk mencapai setiap milestone tumbuh kembangnya. Selain itu, Indi memang ingin mengatur jarak kehamilan juga.


"Kamu menikah dulu, Dek ... kenalkan kepada Mbak yah kalau udah ada yang pasti," balas Indi.


"Masih lama, Mbak ... kalau ada yang seperti Yayah, baru deh Irene mau," balas Irene lagi.


Lagi-lagi Ayah Pandu tersenyum. Tidak memungkiri diidolakan oleh anak sendiri membuat Ayah Pandu senang. Setiap ayah adalah cinta pertama untuk putrinya. Begitu pula agaknya ayah Pandu berhasil menjadi cinta pertama untuk putrinya. Hingga putrinya juga menginginkan pendamping hidup seperti ayahnya.


"Kalau beneran seperti Yayah sih, Bunda juga setuju," balas Bunda Ervita.

__ADS_1


"Kelihatannya sudah ada yang dekat ini ... cuma belum terbuka aja," sahut Satria sembari tertawa mengejek adik iparnya saja.


Irene kemudian tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Belum ada Mas ... serius. Yang dekat ada, tapi yang serius enggak ada. Kalau mau sih langsung seriusan aja. Pacaran takut membuat dosa. Takut," balas Irene.


"Kalau pacarannya positif tidak apa-apa, Dek," balas Indi.


"Iya, kan kenalan dulu, pahami karakternya dulu," imbuh Satria.


"Penting tidak macam-macam, Rene. Sebagai gadis yang kita miliki hanya mahkota. Ketika mahkota itu sudah terenggut, tidak ada lagi yang kita miliki," kata Bunda Ervita.


Tidak serta-merta menolak pacaran. Akan tetapi, gaya pacaran anak zaman sekarang harus diawasi. Diberi kepercayaan, tapi juga diberi rambu-rambu khusus untuk ditaati. Bunda Ervita hanya tidak ingin anak-anaknya jatuh ke lubang yang sama seperti dirinya. Biarlah Bunda Ervita saja yang pernah gagal di masa lalu, merasakan jatuh bangun lantaran berpacaran dengan tidak bisa menjaga diri.


"Siap, Nda," balas Irene dengan menganggukkan kepalanya.


"Misal cowoknya pernah gagal bagaimana Yayah dan Nda?"


Sekarang Irene bertanya dengan menundukkan wajahnya. Hanya bertanya saja. Sebab, tidak dipungkiri bahwa bisa saja pria yang baik itu pernah gagal di masa lalu. Bagaimana respons Ayah Pandu dan Bunda Ervita terhadap pertanyaan Irene itu.


"Apa itu artinya ada cowok yang sudah dekat denganmu, hanya saja cowok itu pernah gagal?" tanya Bunda Ervita.


Irene terdiam. Indi dan Satria juga tidak berani berkomentar. Sebab, pembicaraan kali ini tentunya menjadi lebih serius. Memberi kesempatan untuk Bunda Ervita dan Ayah Pandu untuk memberikan jawaban terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2