Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Tidak Ingin Bertanggung Jawab


__ADS_3

Beralih Sejenak ke Solo ....


Waktu sepekan yang diberikan oleh Papa Atmaja akhirnya sudah berakhir. Dalam sepekan ini rupanya Papa Atmaja tidak mengizinkan Karina untuk keluar rumah. Walau Karina merengek pun tidak meluluhkan hati Papa Atmaja.


"Pa, Karin ingin menemui Anthony, Pa. Tolong biarkan Karin pergi. Satu jam saja, Pa," pinta Karina dengan merengek kepada Papanya.


"Tidak Karina. Berhentilah bersikap murahan!"


Papa Atmaja berbicara dengan tegas bahwa dia menginginkan Karina yang lebih memberi nilai pada dirinya sendiri. Berhenti menjadi wanita murahan. Paras cantik, kedudukan baik, dan berlimpah harta, nyatanya membuat Karina justru haus dengan belaian. Hal ini benar-benar membuat Papa Atmaja benar-benar geram dengan putrinya itu.


"Ucapan Papa kejam sekali sama Karina. Mana ada seorang Papa yang berkata seperti itu?"


Karina menangis. Baginya ucapan sang Papa itu layaknya tamparan yang sangat keras di wajahnya. Seumur hidup baru kali ini Papa Atmaja mengatakan bahwa putrinya sendiri begitu murahan. Sementara Papa Atmaja yang sudah begitu emosi, akhirnya juga tidak bisa menahan ucapannya.


"Sebab kamu sudah bertindak keterlaluan, Karin. Seharusnya kamu tahu bahwa Anthony adalah pria yang sudah beristri dan memiliki anak. Dalam satu tahun, kamu melakukan hal yang bodoh," balas Papa Atmaja.


Dulu, kala booming video Karina sekian detik, Papa Atmaja sudah meminta Karina menjauhi Anthony. Bahkan Papa Atmaja mengurung anaknya itu di rumah. Akan tetapi, Karina mencari celah. Setiap kali Papanya melakukan perjalanan bisnis, Karina akan menemui Anthony lagi dan tidur dengan Anthony lagi.


Karina dan Anthony sendiri mulanya sama-sama menikmati simbiosis di antara keduanya. Tanpa ikatan pernikahan, tapi bisa membuat keduanya sama-sama bisa melengkuh kenikmatan. Selain itu, hasrat Anthony yang menggebu-gebu membuat Karina yakin bahwa Anthony selalu puas dengan dirinya.


Selain itu, Karina sendiri juga berada pada titik bahwa Anthony begitu jago dan pandai untuk memuaskannya. Sehingga perlahan-lahan hubungan yang terjalin kian liar. Tak ada malu, yang ada justru kian menggebu.


"Waktu satu minggu sudah berlalu. Ayo, kita ke rumah pria itu. Papa akan menuntut pertanggungjawaban atasnya," kata Papa Atmaja.


Akhirnya Papa Atmaja, Karina, dan beberapa pengawalnya menuju ke kediaman Anthony. Seolah Papa Atmaja datang untuk menagih janji. Waktu yang dia berikan selama satu minggu sudah berlalu. Sehingga, sekarang waktunya untuk mempertegas semuanya.

__ADS_1


Begitu sudah tiba di rumah milik Anthony, pengawal lah yang mengetuk pintu. Tidak berselang lama Anthony sendiri yang membukakan pintu untuk tamu yang baru saja tiba. Anthony terkejut, dia tidak menyangka bahwa yang datang adalah Papa Atmaja, Karina, dan tentunya bersama beberapa pengawal.


"Pak Atmaja," sapa Anthony dengan lirih.


Belum disuruh masuk, tapi mereka semua sudah memasuki rumah Anthony. Bahkan Papa Atmaja sudah duduk di sofa yang berada di ruang tamu. Sementara Anthony barulah menyusul, pria itu duduk di hadapan Papa Atmajaya dengan menundukkan wajahnya.


"Sudah satu minggu, Thony," kata Papa Atmajaya.


Anthony sangat tahu bahwa durasi waktu yang diberikan oleh Pak Atmajaya hanya satu minggu. Akan terapi, Anthony juga merasa tidak ingin didesak. Walau nanti harus menerima bogem mentah lagi dari pria paruh baya itu, Anthony merasa tidak takut.


"Saya datang meminta pertanggungjawaban darimu. Walau selama ini diam, kalian adalah pasangan yang tidak benar. Hanya mengejar kesenangan semata. Putuskan sekarang, Thony. Kapan kamu akan menikahi Karina!"


Ada desakan yang diberikan Papa Atmajaya supaya Anthony mau menikahi Karina. Bahkan, Papa Atmajaya juga mengatakan dengan to the point. Menginginkan kepastian supaya Anthony menikahi Karina.


"Saya ... tidak mau menikahi Karina."


Karina membulatkan matanya, dia benar-benar tidak menyangka bahwa Anthony tak mau menikahinya. Pria yang selama satu tahun menikmati tubuhnya, nyatanya tak mau untuk bertanggung jawab. Menolak untuk menikah, padahal yang mereka lakukan adalah hubungan badan layaknya suami istri.


Sementara Papa Atmajaya mengepalkan kedua tangannya. Dia sendiri merasa heran dan terkejut, ketika Anthony mengelak dan tidak mau menikahi Karina. Padahal Papa Atmajaya juga tahu sendiri bahwa keduanya melakukan sesuatu yang di luar batas.


"Babe ...."


Karina bersuara dengan lirih. Akan tetapi, Papa Atmajaya segera memotonv ucapan Karina.


"Sialan kamu! Dasar pria berengsek. Kamu menikmati tubuh anakku, tapi tidak mau bertanggung jawab. Pukul dia!"

__ADS_1


Dua pengawal maju dan memukul Anthony tanpa ampun. Pukulan dijatuhkan di sisi wajah, dada, hingga perut. Hingga kaki sang pengawal menendang Anthony, membuat Anthony tersungkur di jatuh. Pria itu merasa kesakitan. Sungguh sakit menerima pukulan seperti itu.


Papa Atmajaya mengangkat telapak tangannya sebagai isyarat untuk menghentikan pukulan itu sementara waktu.


"Hentikan dulu."


Usai itu Papa Atmajaya menatap Anthony yang mendesis kesakitan. "Bagus tindakanmu. Pria yang tidak bisa menjaga komitmen dan akhirnya menikmati hubungan gelap dengan anakku," katanya.


"Bukan saya yang pertama untuk anak Anda. Kalau saya yang pertama, saya akan bertanggung jawab. Itu semua karena anak Anda saja yang murahan. Tanyain saja, bukan hanya saya yang memasuki dia!"


Anthony menjawab dan membuka semua kartu AS Karina. Tanpa Karina ketahui bahwa Anthony diam-diam tahu bahwa Karina bukan wanita yang baik-baik. Karina sering dibawa beberapa pria dan melakukan cek in di hotel. Entah sudah berapa banyak pistol yang menembakkan peluru panas kepadanya.


"Anthony!"


Karina berteriak. Dia sangat kesal dengan partner ranjangnya itu. Benar-benar tak mengira Anthony bisa mengatakan itu di hadapan Papanya sendiri.


"Apa Karin? Mau mengelak apa lagi? aku memang b*jingan yang menyakiti istri dan anakku sendiri. Namun, kamu juga murahan. Sangat murah ... bahkan pernah kamu bermain bertiga. Menjijikkan Karin!"


Seolah mengumbar semua aib, Anthony memilih melakukan itu karena dia benar-benar tidak ingin menikahi Karina. Dia memang brengsek, tapi untuk menikah lagi dan bertanggung jawab, Anthony juga tidak ingin menikahi wanita seperti Karina.


"Tutup mulutmu, Anthony!" bentak Papa Atmajaya.


"Kenapa, Pak? Anda baru tahu kan tindakan putri Bapak? Bapak yang salah mendidiknya. Merasakan senjata pria asing, membuat dia tidak pernah puas. Didikan apa yang menjadikan anaknya sendiri seperti ini?"


Anthony mempertanyakan bagaimana cara Papa Atmajaya mendidik anaknya. Sampai-sampai Karina menjadi wanita yang seperti ini. Seketika Papa Atmajaya terdiam.

__ADS_1


"Kalau Bapak mau membunuh saya, bunuh saja! pria brengsek dan b*jingan seperti saya juga memilih-milih untuk menikahi seorang wanita. Tidak akan mau menikahi wanita yang sudah dipakai banyak pria!"


Karina benar-benar menangis. Dia merasa malu ketika semua aibnya dibuka oleh Anthony. Terlebih aib itu didengar Papanya dan ada pengawal di sana. Hancur sudah wajah Karina karena Anthony nyatanya mengeluarkan semua kartu AS yang dia miliki.


__ADS_2