Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Aqiqahan Nakula dan Sadewa


__ADS_3

Selang beberapa hari kemudian di kediaman Ayah Pandu kembali menggelar acara Aqiqahan. Kali ini, Ayah Pandu kembali mengundang keluarga Besan, keluarga dari Solo, dan beberapa kenalan lainnya. Lantaran kedua keluarga baru yang baru lahir berjenis kelamin laki-laki, sehinggga Satria sendiri sudah membeli empat kambing. Tentu itu adalah jumlah yang besar.


Oleh karena itu, jumlah hewan yang dipotong terhitung banyak. Sehingga ada beberapa bagian yang diserahkan pihak keluarga ke salah satu Panti Asuhan untuk Yatim dan Duafa. Lantaran acara Aqiqahan dilaksanakan di rumah Ayah Pandu, sehingga sekarang Satria memboyong keluarga kecilnya ke rumah mertuanya.


Dalam iman Islam memang terdapat suatu perintah bahwa, "Sunnahnya dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya) dan disedekahkan pada hari ketujuh."


Akan tetapi, Aqiqahan Nakula dan Sadewa baru bisa dilakukan pada hari kesepuluh setelah keduanya dilahirkan. Mengikuti tata cara dan pelaksanaan Aqiqah sesuai Sunnah, maka hari ini juga rambut si Kembar akan dicukur dan namanya akan diumumkan kepada keluarga besar dan semua undangan yang hadir hari ini.


Beberapa masakan daging juga dibagi-bagikan untuk karyawan Batik Hadinata, kantor konsultan milik Ayah Pandu, Oemah Jamu milik Rama Bima di Jogjakarta, dan lainnya. Empat ekor kambing terbilang banyak, sehingga bisa dibagikan untuk banyak orang. Sementara untuk di rumah, tidak begitu banyak karena hanya keluarga dan tetangga yang datang.


Siang itu, Rama Bima dan juga keluarga Negara sudah tiba di keluarga Ayah Pandu. Selain itu, ada keluarga Bapak Firhan yang juga diundang oleh Indi. Sehingga, keluarga Bapak Firhan dan keluarga Bunda Ervita dari Solo semuanya datang siang ini.


"Selamat Mbak Indi dan Mas Satria ... terima kasih, Bapak dan keluarga sudah diundang ke Jogjakarta. Bapak bisa bertemu dengan cucu-cucunya Bapak," kata Bapak Firhan.


"Terima kasih sudah datang, Bapak," balas Indi dengan memberi salam takzim kepada Bapak Firhan.


Tidak dengan tangan kosong, banyak hadiah yang Bapak bawa dari Solo dan berikan untuk cucunya. Dari pakaian hingga mainan untuk Nakula dan Sadewa. Lantaran cucunya dua, masing-masing hadiah dari Bapak Firhan berjumlah dua.


"Hadiahnya untuk Nakula dan Sadewa banyak sekali loh, Bapak. Indi mengucapkan terima kasih banyak," kata Indi.


"Tidak apa-apa, Mbak. Untuk cucu sendiri, dari Mbah Kakung di Solo," kata Bapak Firhan.

__ADS_1


Setelah itu, diadakan kajian dan banyak doa yang dipanjatkan yang dipimpin oleh seorang Ustadz untuk Nakula dan Sadewa. Semua yang hadir pun mengikuti Kajian dengan khusyuk. Setelahnya dilanjutkan dengan makan bersama dengan menu serba kambing.


"Monggo, silakan Pak Firhan," kata Rama Bima yang juga mempersilakan Pak Firhan untuk makan.


"Nggih, Pak Negara ... terima kasih."


Bapak Firhan membaur dengan keluarga Negara dan Hadinata. Awalnya sungkan, tapi lama-kelamaan semua perbincangan bisa berjalan dengan baik. Begitu juga dengan suasana kekeluargaan yang terasa. Bapak Firhan merasa diterima baik oleh keluarga Hadinata dan keluarga Negara. Diundang saja dan bisa mengunjungi cucu-cucu di Jogjakarta sudah membahagiakan Bapak Firhan. Ternyata putrinya tidak ingkar janji, ya Bapak Firhan datang karena undangan langsung dari Indi.


Di sela-sela makan bersama itu, Nakula dan Sadewa sekarang akan dipotong rambutnya, di-gundul. Tidak perlu memanggil tukang potong rambut, karena Ayah Pandu sendiri yang siap menggunduli cucu-cucunya.


"Digunduli Eyang Kakung yah," kata Ayah Pandu. Ayah Pandu melihat Nakula dan Sadewa begitu gemas, sementara menunjukkan kepada diri sendiri bahwa sekarang Ayah Pandu memiliki panggil baru sebagai Eyang Kakung, sudah bercucu.


Usianya memang belum begitu tua, rambutnya masih hitam, tapi Ayah Pandu sudah menjadi Eyang Kakung. Katanya memang ketika memiliki anak perempuan, seorang ayah akan lebih cepat dipanggil Kakung. Sebab biasanya anak perempuan itu lebih cepat dilamar, dan akhirnya dinikahi pria pilihannya. Sama seperti Indi yang sudah menikah. Bahkan dia menjadi cucu Hadinata pertama yang menikah. Sepupunya saja yang lebih tua, yaitu Lintang masih belum menikah.


"Eyang Rama mau mencoba?" tanya Ayah Pandu. Ya, Ayah Pandu menawarkan kepada besannya. Siapa tahu besannya itu berani juga untuk turut mencukur Nakula dan Sadewa.


"Tidak, Pak Pandu ... saya tidak berani," balas Rama Bima.


"Kakung Firhan mau mencoba enggak?" tanya Ayah Pandu sekarang kepada Pak Firhan. Sekarang Ayah Pandu menawarkan kepada Bapak Firhan, menyadari bahwa bagaimana pun Nakula dan Sadewa juga adalah cucunya Pak Firhan. Tidak melupakan hubungan yang ada di antara mereka.


Dengan cepat Bapak Firhan juga menggelengkan kepalanya. "Tidak, sama ... tidak berani," jawab Pak Firhan.

__ADS_1


"Satria mau mencoba ya Yah ... diajarin," kata Satria sekarang.


Ayah Pandu menganggukkan kepalanya. "Sini, Sat ... Ayah ajarin. Jangan takut. Siapa tahu nanti kamu bisa potong rambut Kembar sendiri, tidak perlu ke Barber Shop," balas Ayah Pandu.


Akhirnya, Satria belajar untuk turut mencukur rambut putranya. Walau takut juga jika sampai melukai bayinya, tapi Satria berusaha hati-hati. Rambut Nakula dan Sadewa juga dikumpulkan menjadi satu, tidak dibuang sembarangan.


"Sudah selesai," kata Ayah Pandu.


Setelahnya, Indi dan Bu Galuh yang memandikan Si Kembar lagi. Sekarang, Nakula dan Sadewa sama-sama gundul, tidak memiliki rambut. Indi melihat wajah anak-anaknya yang berbeda, terlihat kasihan melihat.


"Tidak usah menangis Mbak Indi ... rambutnya nanti juga tumbuh lagi. Semua bayi juga harus dicukur rambutnya. Membuang sisa-sisa yang kotor," kata Bu Galuh.


"Iya, Bu ... cuma kasihan saja lihat anak sekecil itu gundul," balas Indi.


Bunda Ervita malahan tersenyum ketika putri sulungnya itu menangis. "Tidak apa-apa. Kamu dulu juga digundulin kok. Eyang Hadinata yang mencukur kamu. Kala itu Eyang masih menjadi juragannya Ibu, lalu dua tahun kemudian Eyang menjadi Eyangnya kamu," cerita Bunda Ervita.


Indi menyadari, kisah masa lalu Bundanya. Bersyukur karena dulu, walau susah dan seakan tidak memiliki keluarga, Bunda Ervita dan Indi kecil masih dikelilingi orang baik.


"Setelah tumbuh rambutnya jadi lebih cantik yah, Bu?" tanya Bu Galuh kepada Bunda Ervita.


"Iya, Bu ... jadi ayu," balas Bunda Ervita.

__ADS_1


"Nanti Nakula dan Sadewa juga tambah cakep. Secakep Papa Satria," balas Bu Galuh.


Di sela-sela air matanya yang masih mengalir, Indi tersenyum. Suaminya itu memang cakep, tampan. Selain itu sikap dan karakternya begitu baik. Putra Solo idaman untuk Indi. Semoga nanti Nakula dan Sadewa mewarisi semua yang baik dari suaminya.


__ADS_2