Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Sudah Lebih Baik


__ADS_3

Pagi harinya, Indi bangun lebih dulu. Tujuannya tentunya adalah untuk membantu Bundanya menyiapkan sarapan. Sementara Satria sudah bangun lebih dahulu dan mengikuti Ayah Pandu ke Masjid yang tak jauh dari rumah mertuanya.


"Pagi, Nda," sapa Indi begitu sudah di dapur.


"Pagi, Mbak Didi. Kamu kok bangunnya pagi banget?" tanya Bunda Ervita.


Indi pun tersenyum. "Kan udah selalu dididik Bunda kalau wanita itu bangunnya pagi. Indi kan mengikuti didikan dan ajarannya, Nda."


"Kan kamu hamil, Mbak. Banyak istirahat aja gak apa-apa," balas Bunda Ervita.


"Indi sangat sehat dan bisa beraktivitas kok, Nda. Cuma membantu memasak tidak masalah. Di rumah dengan Mas Satria, Indi juga selalu bangun pagi kok," balas Indi.


Bunda Ervita akhirnya mengangguk saja. Ketika ada Indi seperti ini jadi teringat bagaimana dulu putrinya waktu masih gadis selalu membantunya hampir setiap pagi di dapur. Kenangan itu kembali hadir.


"Dulu kamu selalu bantuin Nda. Selalu excited tanya masakan ini dan itu, bumbunya apa, masaknya gimana. Sekarang kamu udah menjadi istrinya Satria. Tak lama lagi kamu bahkan juga menjadi seorang Ibu. Kalau dipikir waktu begitu cepat berlalu, tapi Bunda tak menyesali, Bunda yakin banyak ajaran, didikan, yang Bunda dan Yayah tabur setiap hati mulai bernas di dalam kamu."


"Aamiin, Nda. Indi bisa seperti ini karena pengasuhan Yayah dan Nda juga kok," balas Indi.


Sekarang semua sarapan sudah tersedia. Pagi itu Bunda Ervita membuat Terik Ayam serta Tahu Tempe. Ada bubur nasi juga yang dibuat Bunda. Semua itu karena Bunda Ervita teringat bahwa semasa kecil dulu Indi selalu suka bubur Terik, atau orang Jawa menyebutnya Jenang Terik.


"Wah, sarapan kesukaannya Cah Ayu ini," kata Yayah Pandu.


Bunda Ervita mengangguk. "Iya, kesukaan Putri Kecilnya Yayah yang sekarang udah mau menjadi Ibu," kata Bunda Ervita.


"Kesukaan kamu yah Sayang?" tanya Satria.


"Iya, Mas. Waktu kecil dulu, aku suka Jenang Terik cuma memakai Tahu Kulit dan Telurnya aja. Maklum Mas, kan masih anak-anak," balas Indi.

__ADS_1


"Sama dong. Aku dulu juga sukanya Jenang Terik. Sering banget dari Budhe penjual jenang di dekat rumah," balas Satria.


"Kompak yah, Nda," sahut Yayah Pandu.


Bunda Ervita tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya, pasangan suami istri memang harus kompak, Yah. Oh, iya, kemarin Irene landing di Jakarta jam berapa ya Yah?" tanya Bunda Ervita.


"Jam delapan malam sudah landing di Soekarno - Hatta, Nda. Pesawatnya delay setengah jam semalam. Tadi pagi Yayah juga mengirimkan pesan ke Irene, mengingatkan Irene untuk tinggal melupakan sholat," kata Ayah Pandu.


"Makasih, Yah. Walau anak jauh, Yayah selalu mengingat anak-anak untuk tidak meninggalkan ibadah. Semoga di Jakarta, Irene sehat selalu dan menyelesaikan KKN dengan baik," balas Bunda Ervita.


Indi yang melihat Bundanya, perlahan menyentuh tangan sang Bunda dan mengusap punggung tangannya sesaat."Jangan sedih lagi ya, Nda. Irene pasti baik-baik aja kok."


"Iya, Mbak Didi. Bunda jauh lebih baik kok sekarang. Tidak apa-apa. Makasih yah, sudah berada di sini menemani Bunda," balasnya.


"Sama-sama, Nda. Inilah keluarga saling menguatkan satu sama lain. Saling menghibur satu sama lain. Dengan bersama, kita bisa melewati semuanya. Ya kan, Yayah?"


Ayah Pandu menganggukkan kepalanya. "Benar, Mbak. Kamu selalu menjadi sosok yang dewasa. Terima kasih," balas Yayah Pandu.


"Sekarang, biar Indi yang mengisi piringnya Nda yah. Nda harus makan yang banyak. Jangan sampai sakit," kata Indi.


Bunda terkekeh perlahan. Sejak kecil rasanya memang selalu saja memiliki cara untuk menenangkan Bundanya. Memperbaiki mood dan suasana hati Bundanya.


"Mau nasi putih atau Jenang, Nda?" tawar Indi.


"Jenang saja. Kamu tidak mengiri piring suamimu terlebih dahulu, justru mengisi piringnya Nda," balas Bunda Ervita.


"Mas Satria orangnya penyabar seperti Yayah kok, Nda. Habis ini, Indi yang mengisi piringnya Mas Satria."

__ADS_1


Belum Satria menjawab, Ayah Pandu sudah mengangkat piringnya terlebih dahulu. "Isikan piringnya Yayahmu juga dong, Mbak," kata Yayah Pandu.


Indi tertawa dan menganggukkan kepalanya. Dia tak segan untuk mengisi piring Yayahnya juga. Indi merasa senang ketika Yayah dan Bundanya bahagia.


"Boleh kan, Sat?" tanya Ayah Pandu.


"Silakan, Yah. Satria sabar kok," balas Satria dengan tersenyum.


Usai mengisi piring Yayahnya, barulah Indi mengisi piring suaminya. Terakhir, barulah Indi mengisi piringnya sendiri. Untuk membahagiakan hati orang tua, Indi berusaha agar Ayah dan Bundanya tidak begitu bersedih. Terlebih ketika sebulan ini suasana rumah akan berubah karena Irene ke Jakarta. Untungnya semalam Indi dan Satria sudah berdiskusi bersama bahwa dalam sebulan ini mereka akan lebih sering menginap di rumah orang tuanya dulu.


"Satria makan yang banyak, katanya ini kesukaan kamu. Nambah loh yah," kata Bunda Ervita.


"Iya, Nda. Nanti Satria nambah lagi. Ketan yang memakai juruh Gula Jawa ith Satria juga suka, Nda," kata Satria.


"Kamu palingan modus, Mas. Biar dibuatin Nda ketan gula jawa kan?" tanya Indi.


"Gak apa-apa, nanti Bunda buatin. Bunda senang membuatkan makanan untuk keluarga sendiri. Yayah saja memiliki kebiasaan yang tak berubah selama 25 tahun. Yayah selalu request mau dimasakin Bunda. Terlebih anak-anak sudah besar, waktu yang Bunda miliki untuk memasak kan jadi lebih banyak. Bunda senang berada di dapur mengisi perut keluarga dengan makanan yang lezat dan sehat," balas Bunda Ervita.


"Sama seperti Ibu, Nda. Di rumah Solo Ibu yang selalu bikin makanan, terutama jajanan tradisional seperti Klepon, Naga Sari, dan makanan lainnya, Nda," cerita Satria.


"Ibunya keren, Mas Satria bisa masak begitu. Lebih susah bikin jajanan tradisional begitu loh," balas Bunda Ervita.


"Bunda juga keren kok. Masakannya enak-enak. Pantas saja, Indi masakannya juga senang, pasti karena berguru sama, Nda," balas Satria.


Indi tersenyum saja mendengarkan suara suaminya. Walau begitu Indi juga bersyukur di rumah apa pun yang dia masak selalu dimakan suaminya. Tidak pernah Satria berkata bahwa masakannya tidak enak. Senang ketika memiliki suami yang menghargai apa pun yang dimasak oleh istri dan tidak banyak berkomentar.


"Percaya Ayah, Sat. Kalau mensyukuri masakan istri, apa pun itu kita lebih sehat dan lebih makmur. Ayah sudah merasakannya, menyerahkan perut Ayah ke Bundamu, Ayah lebih makmur dan sehat," kata Ayah Pandu.

__ADS_1


"Benar, Yah. Sejak menikah saja, Satria sudah naik berat badannya hampir lima kilogram. Selain itu punya istri, hati lebih bahagia."


Kaum pria yang berada di sana sama-sama tertawa. Ungkapan yang jujur, usai menikah pria akan menjadi lebih makmur. Tak jarang para pria mengalami lonjakan berat badan usai menikah. Selain itu hati pun lebih tenang dan bahagia, sekarang sudah ada istri yang mengurusi dan melayani. 😍


__ADS_2