Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Suami Trauma


__ADS_3

Selang tiga pekan kemudian, kehidupan rumah tangga Indi dan Satria bisa dikatakan harmonis. Terlibat pertengkaran atau cek-cok juga sangat jarang bagi keduanya. Selain itu, sebagai pasangan orang tua baru juga keduanya berusaha beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan baru.


"Nidurin Nakula dan Sadewa dulu yah, Mas," kata Indi kepada suaminya.


Sekarang tampak Indi menimang Sadewa, sementara Satria menimang Nakula. Tentu kalau Sadewa ditimang dan sambil mendapatkan ASI, sementara Nakula tidak. Hanya beberapa menit saja Sadewa sudah terlelap. Sekarang, begitu Sadewa sudah terlelap, Indi membaringkan putranya itu ke dalam box bayi. Kemudian gantian Nakula yang ditimang Mama Indi sembari mendapatkan ASI tentunya.


"Nakula juga buruan bobok yah. Sudah malam. Besok main lagi sama Mama dan Papa yah," kata Indi dengan mengusap perlahan kening putranya.


Satria tersenyum malahan melihat istrinya yang tengah menimang dan sounding dengan Nakula. Di mata Satria, istrinya itu adalah seorang mama yang penuh kasih. Mengurus Nakula dan Sadewa pun, Indi terlihat telaten dan penuh kasih sayang.


"Dengerin kata-katanya Mama, Nakula. Besok main-main lagi yah. Minggu depan kita ke Solo. Tante Sitha kelulusan SMA," kata Satria menambahkan.


"Oh, iya ... sampai lupa kalau minggu depan ke Solo. Menginap kan Mas?" tanya Indi.


"Kalau menginap dua malam begitu bagaimana?"


Indi kemudian menganggukkan kepalanya. "Boleh, Mas. Berangkat jumat sore saja, Mas. Minggu siang pulang. Bagaimana?"


"Iya, begitu saja. Uji coba yah, perjalanan jauh dengan Nakula dan Sadewa. Semoga sih enggak rewel," balas Satria.


Indi menganggukkan kepalanya lagi. Memang minggu depan akan menjadi perjalanan jauh pertama bagi Nakula dan Sadewa. Sekaligus menjadi pengalaman pertama Nakula dan Sadewa ke rumah Eyang Rama dan Eyang Ibu yang berada di Solo. Indi juga berharap bahwa nanti kedua bayinya tidak akan rewel dalam sepanjang perjalanan.


Nakula yang ditimang Mamanya, sekarang sudah tidur. Indi tersenyum, kalau anak-anak sudah tidur, dia bisa bersantai sejenak sebelum nanti tidur. Maklum, fulltime Mom hanya memiliki waktu santai di saat anak-anak sedang tidur saja.


"Met tidur Putra-Putranya Mama. Mimpi yang indah yah. Mama dan Papa sayang kalian," kata Indi.

__ADS_1


Keduanya tersenyum melihat bayi mereka sudah tidur. Lampu mulai diredupkan dan mulai mengalun lembut lagu Lulaby untuk membuat bayi terlelap selain itu juga menstimulasi otak bayi ketika tidur.


"Sudah pada bobok. Pas jam delapan malam udah pada bobok," kata Satria.


"Iya, bobok saja jamnya selalu rutin. Tidak jauh-jauh dari jam delapan malam. Mamanya Nakula dan Sadewa bisa nyantai sedikit," balas Indi dengan mengibaskan tangannya perlahan. Maklum, rasanya sedikit kesemutan usai menidurkan dua bayi.


"Mau minum sesuatu? Aku buatin," tawar Satria.


"Es cokelat mau dong, Mas. Esnya sedikit saja."


Rupanya Indi sudah request kepada suaminya. Untung saja suaminya baik dan penyayang, sekadar membuatkan es cokelat saja tidak masalah sama sekali untuk Satria. Satria pun segera turun ke dapur, sementara Indi memilih untuk melakukan pumping terlebih dahulu karena sumber ASI nya sudah penuh.


Satria yang baru saja masuk ke kamar, dia bingung melihat istrinya yang tengah melakukan pumping.


"Iya, Mas. Sudah penuh lagi. Daripada nanti bengkak kalau ASI-nya enggak di keluarkan," balas Indi.


"Duh, kamu buka-bukaan, Yang. Pusing aku jadinya," kata Satria.


Indi menatap suaminya itu dan menilik ekspresi apa yang ditunjukkan suaminya sekarang. Walau begitu, Indi terus mencari kain dan menutupi area dadanya.


"Maaf, Mas. Ku pikir di kamar hanya berdua saja jadinya aku langsung pumping," balas Indi.


"Gak perlu minta maaf kok, Sayang. Gak apa-apa. Aku aja yang pusing. Maklum sudah dua bulan," balas Satria.


Sekarang barulah Indi konek dengan apa yang disampaikan suaminya, rupanya terkait dengan kebutuhan batiniah yang belum bisa diberikan dalam waktu kurang lebih dua bulan ini. Indi menjadi bersalah jadinya kepada suaminya itu. Ketika Satria terus menjadi figur suami terbaik, tapi Indi belum bisa memberikan hak yang seharusnya didapat oleh suaminya.

__ADS_1


"Mas Satria udah pengen yah?" tanya Indi lagi.


"Enggak, Yang. Besok-besok aja. Lain kali aja. Aku trauma," kata Satria sekarang.


Indi terdiam, dia berpikir lagi apa yang membuat suaminya itu menjadi trauma. Ketika Indi hendak bertanya, Satria kemudian berdiri menuju ke dalam box bayi Nakula dan Sadewa. Pria itu menatap dan memperhatikan kedua putranya yang tertidur.


Sementara Indi menyelesaikan pumping, menyimpan ASIP di dalam kantong ASIP, dan juga hendak mencuci alat pumping miliknya. Akan tetapi, Satria menahan.


"Sini, biar aku aja yang cuciin, Sayang."


Satria sudah mengambil alat pumping itu dan kemudian Indi terduduk di sofa yang berada di dalam kamarnya. Dia meminum es cokelat yang sebelumnya dibuatkan oleh suaminya. Walau begitu, Indi masih kepikiran apa yang membuat suaminya itu trauma. Sebab, jika memang suaminya memiliki trauma tentu saja Indi siap mendengarkan suaminya dan juga menyembuhkan trauma itu.


"Sudah aku cuci, Sayang," kata Satria masuk ke dalam kamar lagi dengan membawa botol ASIP untuk pumping nanti.


"Makasih banget yah, Mas. Padahal, aku aja yang cuci tidak apa-apa," kata Indi.


"Ya gak apa-apa. Kan mencuci alat pumping itu tidak berat."


Indi benar-benar bersyukur rasanya karena suaminya itu sangat baik. Suami yang mau berbagi tugas rumah tangga dengannya. Sangat beruntung rasanya mendapatkan Satria.


"Kamu trauma apa sih Mas?" tanya Indi.


Satria menggelengkan kepalanya. "Enggak kok. Udah enggak usah dipikirkan. Jangan menambah pikiran kamu. Yang pasti aku tidak kenapa-napa kok," balas Satria.


Mendengar ucapan suaminya, Indi terdiam. Masak iya, dia harus mencari tahu jawabannya sendiri? Kalau suaminya tidak bercerita, darimana dia tahu semuanya.

__ADS_1


__ADS_2