Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Potret Keluarga yang Bahagia


__ADS_3

Berbelok sejenak ke kisah Viona dan Anthony, usai Viona curhat untuk beberapa waktu dengan Indi, tampak Anthony mengamati mantan istrinya itu. Namun, setelahnya Anthony diam-diam memperhatikan bagaimana interaksi Indi dengan suami dan kedua anaknya. Di dalam hatinya, Anthony seolah menginginkan potret keluarga yang bahagia seperti keluarga Indi dan Satria.


"Teman kamu lagi kan?" tanya Anthony kepada Viona.


"Iya, sedangkan suaminya adalah temannya Karina," kata Viona.


Anthony menunduk ketika Viona kembali menyebut nama Karina. Sebab, nama itu adalah nama yang berusaha dihapus oleh Anthony dalam ingatannya. Namun, sekarang Viona justru menyebutnya lagi.


"Lupakan saja dia, Vio," kata Anthony.


"Ah, aku seketika ingat saja. Sorry," balas Viona.


Akan tetapi, untuk Viona sendiri nama Karina sukar untuk dilupakan. Ya, Karina menjadi sosok yang menghancurkan rumah tangganya. Hingga perceraian menjadi jalan yang diputuskan oleh Viona, walau Anthony sesungguhnya keberatan.


"Dalam waktu lebih dari setahun ini aku berusaha menghapus namanya," kata Anthony.


"Lalu, apakah bisa?" tanya Viona.


"Akan bisa, bisa."


Viona tersenyum saja mendengar ucapan mantan suaminya itu. Walau begitu niat dari Anthony tetap harus diapresiasi. Jika seseorang sungguh-sungguh berubah bukankah itu adalah hal yang baik?

__ADS_1


Setelahnya, Anthony kemudian berbicara lagi kepada Viona."Vi, bukankah keluarga temanmu itu memiliki potret yang indah? Suami, istri, dan dua anak. Keempatnya terlihat saling sayang dan juga memiliki hubungan yang dekat. Bukankah itu terlihat indah?"


Viona menoleh sejenak, dia mengamati keluarga Indi yang memang terlihat bahagia dan hangat. Bahkan Satria sekarang tampak menggendong kedua putranya bersama-sama. Itu adalah potret yang hangat.


"Jika pasangan suami dan istri bisa saling cinta, saling setia, dan berbagi dalam mengasuh anak-anak, pasti potretnya akan indah dan hangat seperti itu," kata Viona.


Anthony menganggukkan kepalanya. Apa yang baru saja disampaikan oleh Viona benar adanya. Anthony sungguh-sungguh merindukan memiliki sendiri potret keluarga yang hangat. Di mana suami, istri, dan anak bisa tumbuh bersama dan menyayangi satu sama lain.


"Aku ingin memiliki potret keluarga seindah itu bersamamu, Vio," kata Anthony sekarang.


Tidak ada keraguan di dalam hati Anthony karena dia memang sudah lama ingin rujuk dengan Viona. Bahkan setahun lebih juga Anthony menjaga hidupnya untuk tidak macam-macam. Tidak ada lagi yang namanya main wanita. Selain itu, sifilis yang pernah diidap Anthony juga sudah sembuh. Perlu waktu setidaknya pengobatan intens kurang lebih tiga bulan bagi Anthony untuk sembuh.


Viona kemudian menggelengkan kepalanya. Entah sudah berapa kali Anthony mengutarakan niatnya untuk rujuk kembali dengan Viona. Sayangnya, ada luka yang belum sembuh di dalam hati Viona. Bagi Viona, dia harus mendapatkan lagi seorang pria yang bisa dia pegang komitmennya. Seorang pria yang setia dan juga bertanggungjawab secara penuh. Viona tak mau hanya mengikuti perasaan yang sering kali bersifat semu. Lebih baik, sedikit lama dan terlambat, tapi setidaknya dia tidak terluka lagi.


"Walau demi Arbe?" tanya Anthony.


Viona mengamati Arbe yang duduk dan menikmati makananannya sembari melihat video anak-anak di tablet. Kemudian Viona menggelengkan kepalanya lagi.


"Semua ibu berharap anaknya bahagia. Memiliki orang tua yang utuh. Menurutku sekarang, Arbe sudah bahagia dengan hubungan kita seperti ini. Menjadi Co-Parenting tidak ada salahnya asalkan kasih sayang dan waktu untuk Arbe terpenuhi," balas Viona.


Menghela napas panjang, kemudian Anthony berbicara lagi."Kira-kira apa yang harus aku lakukan agar kamu mau menerimaku kembali, Vio?"

__ADS_1


"Entahlah, Thony. Aku merasa kita lebih cocok seperti ini. Menjadi rekan dan berbagi beban bersama. Ada kalanya memang tidak perlu memiliki perasaan yang saling bertaut bukan?"


Ya, Viona merasakan bahwa hubungannya dengan Anthony lebih baik seperti ini saja. Bisa akrab dan tidak perlu bersama dalam ikatan cinta. Yang pasti kebersamaannya murni untuk Arbella saja.


"Semakin banyak aku merefleksi diriku sendiri, aku semakin menyadari bahwa angan dan khayalan itu tak seindah kenyataan, Thony. Sama seperti dulu, kupikir hubungan kita kuat, rumah tangga yang kita bangun akan berlangsung begitu lama. Tidak akan terperdaya oleh pria atau wanita lain. Hidup dalam satu atap dan membesarkan anak-anak kita. Namun, setelah semua yang terjadi saat itu, aku takut dengan komitmen dalam pernikahan. Untuk apa berkomitmen dan berjanji sehidup semati kalau ujung-ujungnya hanya mencari penghangat ranjang di luar sana? Untuk apa berjanji setia sampai mata, kalau ujung-ujungnya hanya mengkhianati? Jadi, aku tak ingin kecewa dan terluka lagi. Jika memang pernikahan hanya memberi luka, aku tak ingin menikah lagi," balas Viona.


Itu yang Viona katakan sekarang. Mungkin luka yang Anthony goreskan di hatinya begitu dalam hingga Viona seolah tak memiliki keinginan untuk menikah lagi. Toh, menjanda selamanya juga tidak ada salahnya.


"Mama dengan Papa," kata Arbe.


"Arbe saja ingin Mama dengan Papanya," sahut Anthony.


"Ya, seperti ini aja, Thony. Tidak terjalin ikatan apa pun. Kadang komitmen yang tak terwujud itu menyakitkan, Thony. Aku pernah merasakannya."


"Kuharap dengan semakin berjalannya waktu, lukamu akan pulih, Vio. Aku akan membantu untuk menyembuhkan lukamu, karena akulah yang membuat luka itu. Sungguh, aku menginginkan untuk memiliki potret keluarga bahagia seperti temanmu itu. Dalam anganku, potret bahagia itu hanya ingin kumiliki denganmu dan Arbe."


Anthony mengutarakan niatan hatinya dengan sungguh-sungguh. Andai kembali memiliki potret yang bahagia, yang Anthony inginkan adalah bersama Arbe dan Viona. Selain itu, juga Anthony berkeinginan untuk menyembuhkan hati Viona. Sebab, Anthony juga sadar bahwa yang menyakiti hati Viona adalah dirinya.


"Semoga saja waktu akan menyembuhkan," balas Viona.


"Akan sembuh, Vio."

__ADS_1


Sembari menikmati seteko teh melati, rupanya banyak yang dibicarakan oleh Viona dan Anthony. Terlebih hati Anthony tergugah ketika melihat Satria dan Indi yang begitu kompak dan harmonis mengasuh anak-anaknya. Di dalam hatinya, Anthony pun juga menginginkan potret keluarga yang seperti itu adanya.


__ADS_2