Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Berbagi Cerita


__ADS_3

Selang beberapa menit kemudian barulah Indi keluar dari Oemah Jamu itu. Satria melangkahkan kakinya dan lebih mendekat ke istrinya. Dia sangat senang kala sore tiba dan bisa kembali bertemu dengan Indi.


"Aku tungguin sejak tadi," kata Satria.


"Iya, ada beberapa pekerjaan yang aku selesaikan dulu. Tinggal tiga pekan lagi, Oemah Jamu ini akan dibuka dan pekerjaanku selesai," kata Indi.


"Ya sudah, pulang yuk ...."


"Iya, MasE ...."


Baik Indi dan Satria tersenyum geli, terlebih Indi yang turut bahasa teman-temannya yang memanggil Satria dengan sebutan MasE. Sementara Satria menahan tawa, dia membukakan pintu mobil untuk istrinya terlebih dahulu. Setelahnya barulah Satria mengitari mobil dan duduk di balik stir kemudi.


"Sekarang panggilnya MasE?" tanya Satria.


Indi tertawa dengan menutupi mulutnya. "Enggak, tadi anak-anak bilang kalau kamu itu MasE. Mungkin karena belum kenal nama kamu aja," balas Indi.


"Bisa saja," balas Satria. "Mau mampir enggak, Sayang? Biar sekalian."


Indi menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin mampir kemana-mana. Toh, juga usai bekerja inginnya bisa langsung pulang. Nyantai dan rebahan di rumah sebentar.


"Pulang aja, Mas. Aku capek," balas Indi.


Satria menganggukkan kepalanya. Dia tahu seharian bekerja memang capek. Maka dari itu, Satria segera melajukan mobilnya untuk menuju ke rumahnya. Lebih cepat tiba di rumah lebih baik karena keduanya bisa sama-sama istirahat.


Hampir dua puluh menit karena lalu lintas yang padat dan juga ketika waktu orang pulang bekerja, jalanan di Jogja bisa macet. Sehingga, keduanya baru tiba di rumah. Satria memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Sedangkan Indi masih menunggu di depan pintu rumah.


"Gak masuk aja duluan?" tanya Satria.


"Enggak, aku nungguin Mas kok," jawabnya.


Pria itu lagi-lagi tersenyum. Sekadar memasuki rumah saja, Indi memilih untuk menunggunya. Padahal, tidak masalah jika Indi masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.


"Yuk, masuk," ajak Satria dengan menautkan tangannya menggenggam tangan Indi.


Gayung bersambut, Indi juga menautkan tangannya. Sama-sama melangkahkan kaki memasuki rumah suaminya itu. Baru memasuki rumah dan menutup pintu, Satria sudah menghadang Indi. Tanpa permisi pria itu mencium pipi Indi. Sampai beberapa kali kecupan.

__ADS_1


Cup. Cup. Cup.


Membuat Indi menjadi geli jadinya. "Udah Mas, ya ampun," kata Indi dengan menatap suaminya itu.


"Kangen kamu," balas Satria.


Sedikit merapatkan diri, Satria kemudian memeluk Indi dengan begitu erat. Masih nuansa pengantin baru, sehingga berpisah kala bekerja saja rasanya sudah begitu kangen. Waktu bertemu pengennya seperti Satria, langsung mencium dan memeluk istrinya begitu saja.


"Tumben," balas Indi.


"Tumben apa? Aku setiap hari kangen kamu, tahu."


"Udah, ayo. Bersih-bersih dulu, baru saja masuk pintu loh," balas Indi.


Satria tersenyum nakal, "Pengenku bisa melakukan semuanya di rumah ini, Sayang. Mumpung di rumah cuma berdua. Halal juga melakukan di mana-mana," balas Satria.


Indi memanyunkan bibirnya. Ada-ada saja suaminya itu. Namun, Indi tidak protes. Indi bisa memaklumi suaminya itu.


"Udah, ayo. Malu loh, Mas," kata Indi.


Memasuki kamar, Indi menaruh tasnya, kemudian mencuci tangan dan kakinya. Setelah itu, Indi duduk bersandar di sofa. Sembari menggeleng-gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri perlahan.


"Capek banget?" tanya Satria yang dengan cepat duduk di samping Indi.


"Lumayan, Mas. Besok tinggal memasak panel kayu untuk bagian depan. Akan lebih capek besok," balas Indi.


"Kamu kerja keras banget, Sayang. Mau aku pijat?"


"Enggak, aku gak pernah pijat kok. Peluk aku sebentar dong, Mas," pinta Indi sekarang.


Satria tanpa bersuara memeluk Indi. Pelukan hangat bisa menghapus lelah sepanjang hari. Indi memejamkan matanya ketika Satria merengkuh tubuhnya, hangat sekali rasanya. Selain itu, pelukan Satria memberikan kenyamanan terbaik untuk Indi.


"Seharian ngapain?" tanya Satria.


"Ya, bekerja. Cuma capek harus meladeni adu argumentasi," balas Indi.

__ADS_1


"Sama Karina yah?"


"Rama juga," sahut Indi.


Mendengar nama Ramanya disebut, Satria kemudian mengurai pelukannya. Dia ingin tahu apakah Ramanya juga mengusik Indi.


"Rama ngapain kamu?" tanya Satria.


"Yah, biasa saja, Mas. Dia dengar percakapan aku dan Karina, katanya cinta kita berbeda kasta. Aku hanya rakyat jelata, menggapai seorang putra ningrat. Ibarat kata seperti Pungguk Merindukan Bulan yah? Bermimpi dan menggapai sesuatu yang terlalu tinggi," cerita Indi.


Satria menggelengkan kepalanya."Negara kita sudah menghapus sistem kasta, Sayang. Ungkapan itu gak berlaku. Sabar yah, pasti bekerja di sana membuat kamu sedih."


"Aku melawannya kok, Mas. Aku tidak mau direndahkan. Toh, aku bangga malahan menjadi putri pedagang batik. Aku bangga dengan profesi orang tuaku. Tidak apa-apa," cerita Indi lagi.


"Hebat kamu, Sayang. Lawan aja, kalau kamu gak bisa melawan, biar aku yang melawannya," balas Satria.


Indi lantas menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, Mas Satria saja sudah pusing dengan urusannya. Aku bisa melawan kok. Selama aku benar, tapi kalau aku salah, yah aku akan meminta maaf. Begitu. Tenang saja, Mas," balas Indi.


"Kita masih harus berjuang membuktikan kita bisa ya, Sayang. Mandiri bersama. Yah, walau aku sekarang cuma pekerja biasa."


"Yang penting bekerja, Mas. Kan itu sudah tanggung jawab suami untuk bekerja. Tidak masalah," balas Indi.


"Nah, cinta kayak gini yang aku butuhkan Sayang. Cinta yang mendorongku untuk terus melakukan yang terbaik. Cinta yang membuatku berharga untuk orang yang paling aku cintai."


Satria sedikit beringsut dan membelai sisi wajah Indi. "Terus dampingi aku yah," katanya.


"Iya, aku akan selalu mendampingi kamu. Kita akan selalu bersama dalam suka dan duka," balas Indi.


Satria tersenyum. Keberadaan Indi benar-benar melengkapinya. Memenuhinya dan membuat Satria terus berani melangkah.


"Biasanya awal menikah isinya yang manis-manis, kita sudah harus bergelut dengan masalah, terutama dari Rama. Maaf yah, Sayang. Tak seindah pernikahan di luar sana," kata Satria.


"Tidak masalah, Mas. Jika disampingmu saja adalah hal yang cukup, aku bahagia kok. Bisa mendampingi dan berjuang bersama, aku sudah sangat bahagia," kata Indi.


"Makasih, aku akan selalu berusaha membahagiakan kamu. Siapa tahu sekarang kita bergelut dengan banyak hal, nanti kita akan mengecap kebaikan demi kebaikan dalam kehidupan kita berumahtangga."

__ADS_1


Satria mengharapkan demikian. Memang biasanya, usai pernikahan pasangan suami istri seolah-olah terus merasakan kebahagiaan. Namun, berbeda dengannya yang harus bergelut dengan masalah, menghadapi tekanan dari Ramanya sendiri. Akan tetapi, Satria percaya semuanya tidak akan berlangsung lama, ada masa di mana mereka berdua akan mengecap kebaikan demi kebaikan dalam kehidupan berumahtangga. Amin.


__ADS_2