
Malam harinya, Indi dan Satria menikmati waktu berkualitas berdua. Tadi waktu di Mall, Indi mampir ke sebuah toko buku dan membeli buku serba-serbi kehamilan. Sekarang, Indi menikmati malam dengan bersandar di dada suaminya itu sembari membaca buku.
Hal ini Indi lakukan karena merasa kurang ilmu dan pengalaman, dengan membaca siapa tahu Indi bisa mendapatkan informasi tentang kehamilan. Memperkaya wawasan dengan buku yang sekarang dia baca.
"Baca buku yah, Bumil?" kata Satria.
Kebiasaan Satria adalah memakai jarinya memainkan rambut istrinya. Bukan sekadar mengusapi, tapi kadang diacak-acak, kadang juga dikepang-kepang. Sementara Indi nyaman-nyaman saja dengan suaminya itu.
"Baru setengah jam membaca buku ini, kehamilan itu luar biasa yah Mas. Dari jutaan sel sper-ma hanya satu yang bisa dibuahi. Kita lebih bersyukur ada dua yang berhasil dibuahi. Kalau bukan karena kuasa Tuhan, gak akan mungkin, Mas," kata Indi.
"Benar, Sayang. Banyak bersyukur yah. Semoga sembilan bulan ini bisa dilalui dengan baik, gak sabar pengen gendong bayi-bayi kita yang lucu," balas Satria.
"Sabar. Masih lama, Mas. Ini aja baru sepuluh minggu. Masih tiga puluh minggu lagi. Dulu, adik bayi masih sebesar kecambah, sekarang udah seberapa yah. Membayangkan pasti imut dan lucu yah, Mas," balas Indi.
Lantaran juga kehamilan pertama, banyak hal yang mereka bayangkan berdua. Banyak kisah terangkai dan bayangan nantinya ketika menjadi suami dan istri. Satria juga sangat senang dan seakan tak sabar ingin menggendong bayi-bayinya nanti.
"Sama kamu harus selalu sehat, Sayangku. Jangan sampai sakit. Mau ngidam apa pun, selagi aku bisa pasti aku beliin, tapi jangan sakit yah," pinta Satria.
Mendengarkan permintaan dari suaminya, Indi lantas menganggukkan kepalanya. "Doakan ya Mas. Doanya suaminya yang tulus pasti didengarkan Allah juga kok."
"Pasti, tiap kali aku bersujud di atas sajadah, aku selalu mendoakan kamu dan buah hati kita Sayang," balas Satria.
Bukan sekadar berbicara, tapi memang Satria setiap kali melakukan sholat, dia menyisipkan doa untuk istri dan dua janin yang sekarang berada di dalam rahim istrinya. Satria selalu berharap bahwa Indi dan dua bayinya selalu sehat, tumbuh lengkap dan sempurna, serta persalinan nanti juga akan normal.
"Makasih, Mas. Allah pasti menjaga dua bayi kita," balas Indi.
"Aamiin ... semoga saja, Sayang."
Usai mengobrol, terdengar beberapa pesan masuk ke dalam handphone milik Satria. Bukan hanya dari grup SMA miliknya, tapi juga dari Sitha yang mengirimkan beberapa screenshot yang sudah di-blur sebelumnya kepada Satria.
"Sebentar yah, Sayang," kata Satria.
__ADS_1
"Kenapa emangnya, Mas?" tanya Indi.
"Di grupku SMA dulu baru heboh ini. Sitha juga baru kirim whatsapp ke aku," balas Satria.
Akhirnya Indi memilih menunggu karena suaminya itu terlihat serius sekarang. Tidak berselang lama, Satria kemudian kembali duduk di samping Indi. Tanpa menunggu Indi bertanya, Satria sudah menunjukkan handphone.
"Ada pemberitaan viral, Sayang," kata Satria.
"Hm, siapa?" tanya Indi.
"Yang tadi ketemu kita supermarket," balas Satria.
Rupanya yang menjadi pemberitaan dan cukup menggemparkan sekarang adalah Karina. Indi sampai mengernyitkan keningnya. Baru tadi bertemu dengan Karina dan sekarang sudah ada pemberitaan layaknya gosip mengenai wanita itu.
"Pemberitaan apa sih, Mas?" tanya Indi.
"Nih, beredar videonya baru main sama cowok. Mana cowoknya gak diperlihatkan wajahnya. Kalau kayak gini kan gak bisa tahu pemeran cowoknya siapa," balas Satria.
"Sama pengusaha itu bukan yah? Kasihan, mana istrinya baru saja usai melahirkan. Justru, suaminya kalau terseret skandal kayak gini," balas Indi.
"Cowoknya cuma begini ya gak kelihatan wajahnya, Sayang. Katanya sih videonya bocor. Baru tadi siang diingetin untuk tobat, sekarang malahan beredar kayak gini," balas Satria.
"Ya kita tidak tahu, Mas. Musibah kan tidak pernah ada orang yang tahu. Semoga ini menjadi jalan kalau Karina bisa tobat," balas Indi.
Ada kalanya satu peristiwa menjadi pemicu untuk menuju pintu tobat. Begitu juga yang Indi harapkan dari Karina, semoga dia segera menyadari dosanya. Memperbaiki diri dengan lebih baik lagi.
...🍀🍀🍀...
Sementara itu di Solo ....
Beredarnya video kali ini menjadi tamparan keras untuk keluarga Atmaja. Terkhusus untuk Pak Atmaja sendiri yang tidak habis pikir dengan kelakuan anaknya. Pak Atmaja pikir Karina bisa menjadi nama baik keluarga, menjaga trah mereka yang masih berdarah biru. Akan tetapi, sekarang Karina justru tersandung masalah ini.
__ADS_1
Pak Atmaja tampak mengambil handphone dan menghubungi Karina untuk bisa pulang ke rumahnya.
"Papa minta pulang sekarang!"
Bukan sekadar berbicara, tapi ada bentakan dalam suara pria paruh baya itu. Hanya satu kalimat saja yang Pak Atmaja sampaikan dan panggilan telepon itu pun ditutup.
Karina sendiri bergidik ngeri mendengar suara Papanya. Sudah pasti, Papanya akan mengamuk dan marah sekarang. Menghadapi Papanya sendiri seolah membutuhkan keberanian lebih.
Di kediaman Atmaja, terlihat Pak Atmaja yang memijat pelipisnya berkali-kali. Rasanya begitu kesal dengan Karina. Sebab, video tersebut memang Karina. Sebagai seorang Papa, tentu Pak Atmaja bisa mengenal putrinya sendiri.
Selang satu jam kemudian, barulah Karina tiba di kediaman orang tuanya. Biasanya wanita itu penuh kepercayaan diri, tapi sekarang Karina tampak takut. Yah, Karina sangat takut menghadapi Papanya sendiri.
"Papa," sapa Karina begitu memasuki rumah.
"Duduk!"
Suara penuh amarah sudah terdengar sekarang. Karina merasa sangat takut tiap kali Papanya itu marah. Papanya memang orang yang jarang marah, tapi begitu marah rasanya sangat menakutkan.
"Kamu benar-benar, Karina! Selama ini Papa memberikan kepercayaan kepadamu. Papa menyekolahkan kamu sampai ke luar negeri, tapi inilah yang kamu lakukan? Ha!"
Ada tangan yang menggebrak meja kayu. Itu membuat Karina benar-benar ketakutan. Walau belum mengatakan semua, pastilah semua karena video yang bocor atau memang sengaja dibocorkan itu.
"Maaf, Pa ... Karin tidak tahu," balas Karina dengan menundukkan wajahnya.
"Katakan, siapa pria itu?"
"Karina tidak ingat."
"Apa? Tidak ingat? Kamu main dengan berapa pria sebenarnya sampai tidak ingat!"
Papa Atmaja benar-benar geram sekarang. Dia mempercayai Karina selama ini. Akan tetapi, jawaban yang Karina berikan adalah sebuah jawaban yang membuat Papa Atmaja semakin marah. Jawaban bahwa Karina sendiri tidak ingat seolah menjelaskan atau mengisyaratkan bahwa Karina bermain kuda bukan hanya dengan seorang pria, melainkan dengan beberapa pria. Itu membuat Papa Atmaja semakin marah. Selain itu, Papa Atmaja merasa gagal mendidik Karina untuk menjadi gadis modern yang berbudaya. Semua hancur ketika video dengan durasi sekian detik itu tersebar di dunia maya.
__ADS_1