Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Terbang Tak Terhempas


__ADS_3

Banyak keresahan yang diceritakan Indi dan Satria. Memang pernikahan mereka tidak seperti pasangan lain di mana banyak kebahagiaan. Seolah-olah satu bulan pertama pernikahan itu penuh dengan madu. Namun, hal itu tidak terjadi dengan Satria dan Indi, walau sudah bersama, tapi hubungan mereka masih terhalang dengan restu dari Rama Bima Negara. Selain itu, ada Karina juga yang seolah terus-menerus mencibir Indi.


Akan tetapi, memang begitulah hubungan. Ada kalanya memang cinta harus melewati lembah yang berkelok-kelok. Sekarang, perjalanan cinta Satria dan Indi sedang melewati lembah yang berkelok-kelok itu. Oleh karena itu, keduanya akan mempererat genggaman tangan untuk melewati tanjakan dan turunan.


"Ya sudah, Mas ... bersih-bersih dulu. Mas duluan yang mandi atau aku dulu?" tanya Indi.


"Kenapa harus gantian?" tanya Satria.


"Iya dong ... kan memang begitu," jawab Indi.


"Kenapa enggak barengan saja?" tanya Satria sekarang.


Indi tersenyum, dia masih merasa malu. Hingga Indi menggeleng perlahan. "Giliran saja, Mas. Salah satu dulu. Duh, takut ... kalau barengan malahan enggak mandi nanti," balas Indi dengan wajahnya yang sudah memerah.


"Ya, gak apa-apa. Yuk, barengan saja. Biar lebih harmonis, Sayangku. Pikiran juga penuh, enaknya dapat yang enak dong," balas Satria.


Sebenarnya memang tidak dipungkiri, banyak cibiran dan tekanan kadang membuat pikiran menjadi penuh. Seolah banyak benang kusut yang bersarang di dalam kepala. Oleh karena itu, sedikit relaksasi pastilah sangat menenangkan keduanya.


"Mas Satria enggak capek?" tanya Indi lagi.


"Enggak, tambah semangat kok," balas Satria.


Sekarang, Satria sudah berdiri. Dia mengulurkan tangannya kepada Indi. Menikmati sore dengan melakukan kegiatan yang bisa mempererat keharmonisan bagi pasangan pengantin baru. Setidaknya, kepala juga tidak pening. Sebab, esok hari di tempat kerja, pasti banyak masalah dan tekanan dari Rama dan Karina.


"Mas, aku malu ...."


Satria terkekeh malahan melihat Indi. "Sudah dua kali, masih malu, Sayang?" tanyanya.


"Iya," jawab Indi singkat.


"Sudah, yuk ... relaksasi dulu. Peningku pasti langsung hilang nanti," balas Satria.

__ADS_1


Tidak mau menunggu lama, Satria menuntun Indi masuk ke dalam kamar mandi. Pria itu mengisi bath up terlebih dahulu dengan air hangat dan mencampurkan bath bomb sehingga busanya menjadi melimpah. Setelahnya, dia mempersilakan Indi untuk gosok gigi dan mencuci muka terlebih dahulu.


Indi pun berdiri di depan kaca dan wasstafel, usai menggosok gigi, dia mencuci mukanya terlebih dahulu. Usai itu, Indi mencepol rambutnya yang sangat panjang. Bingung juga, jujur Indi masih merasa begitu malu. Satria pun mendekap Indi dari belakang. Cara Satria mendekap Indi, terlihat di kaca besar yang ada di depan wastafel. Terlihat jelas wajah Indi yang merona-rona.


"Kamu gugup?" tanya Satria.


"Iya, belum terbiasa," balas Indi.


"Santai saja, Sayang ... kan aku suamimu. Pemilik seluruhnya atas apa yang kamu milikki. Begitu juga sebaliknya, kamu pemilik hati dan hidupku," kata Satria.


Ada anggukan samar dari kepala Indi. Di saat bersamaan, Satria membuat Indi berhadap-hadapan dengannya. Membawa tangan Indi tepat di kemeja.


"Lepasin kancing kemejaku yah," pinta Satria.


Astaga, Indi benar-benar menghela napas panjang. Apa yang diinginkan suaminya itu, kenapa harus dia melepaskan kancing demi kancing kemeja suaminya. Padahal, dua kali bercinta, Satria yang melepas sendiri kaosnya.


Belum Indi melakukan apa yang Satria mau, pria itu sudah menarik dagu Indi dan mulai mendaratkan kecupan demi kecupan di bibir Indi. Jika, sebelumnya Satria mencium Indi dengan lembut, sekarang Satria mencium dengan napas yang memburu. Tangan Satria pun meraba tengkuk hingga paha istrinya. Benar-benar menciptakan atmosfer panas yang membuat Indi seketika terengah-engah jadinya.


Namun, urung suara itu mendapat jawaban, Satria kembali merenggut bibir Indi. Renggutan yang menelan suara Indi ketika sang istri kembali menyebut namanya. Bibir Satria bergerak melu-mat bibir Indi. Lantaran ciuman itu, mata Indi perlahan-lahan meredep. Sungguh, itu adalah lu-matan yang melenakan, tapi di saat bersama membuat Indi merasa tegang. Terlebih ketika Satria memiring kepalanya dan sedikit mengubah posisi, dengan serta merta ciuman itu pun makin dalam. Lidah Satria pun menerobos masuk dan mampu menggapai titik tersudut dengan kehangatannya.


Sungguh, ketika dua bibir bersua, itu adalah tempat yang hangat dan penuh dengan kelembaban sensual. Kehangatan yang bisa memuaskan dahaga dua jiwa. Ciuman itu pun kian dalam dan juga semakin menghasilkan decakan yang tidak mampu lagi tertahan.


Tangan Indi yang berada di dada Satria pun bergerak perlahan, Berpindah di helai-helai rambut Satria yang terasa halus dan lembut di antara jari-jari tangannya. Indi memberikan remasan di sana. Hingga tangan Indi refleks turun dan melepaskan kancing demi kancing di kemeja Satria. Inilah yang Satria inginkan. Dari ciuman, akhirnya Satria mendapatkan apa yang dia mau.


Kemeja terlepas, di saat bersamaan, Satria menarik ke atas kaos dalam yang dia kenakan. Pria itu tampil shirtless sekarang. Indi menundukkan wajahnya, malu dengan cahaya yang terang dan cermin besar di depannya.


Di saat yang sama, Satria melepaskan kemeja yang dikenakan Indi. Busana demi busana dia lucuti sedemikian rupa. Dengan sedikit senyuman nakal yang di sudut bibir Satria. Mata Indi kembali terpejam, mana kali bibir Satria melakukan penjelajahan di lehernya. Ya, Indi sampai mengangkat wajahnya, dia benar-benar memberikan akses tanpa batas. Dalam bentuk kecupan, hisapan yang datang silih berganti. Dikombinasikan dengan godaan ujung lidah yang membuat jejak merah di sembulan dada istrinya. Satria mengurai wajahnya, tangannya bergerak dan mengusap perlahan jejak merah itu.


Ketika semua sudah terlepas, Satria mengajak Indi untuk memasuki bath up. Pria itu masuk terlebih dahulu, kemudian dia mengulurkan tangannya kepada Indi untuk mengikutinya masuk ke dalam bath up. Bukan sendiri, tapi Satria memimpin Indi untuk duduk di dalam pangkuannya.


Mata yang saling bertatap dengan mata, ada sorot menggoda di sana. Hingga tangan Satria yang basah mengusap perlahan area dada Indi, meremasnya dan dia membawa satu bulatan indah itu bersarang dalam mulutnya.

__ADS_1


"Mas ... Sa ... tria."


Suara Indi terdengar besat, kepalanya pun terasa pening. Berkali-kali Indi menghela napas melihat bagaimana Satria menenggelamkan bulatan indahnya dalam mulurnya. Itu bukan hanya sekadar sentuhan. Sebab, Satria benar-benar membuka mulutnya, melenyapkan puncaknya ke dalam kehangatan yang dia miliki. Membungkusnya dalam ******* yang membuat Indi menggeliat dan memejamkan matanya.


Satria terus melu-mat dan memagut dengan mulutnya. Satria tak abai pada bulatan indah yang lain, dia sentuh dan pilin perlahan puncaknya. Tangannya bergerak dan menangkup bulatan indah itu, meremas, dan memilin puncaknya. Ujung jarinya mengusap perlahan puncak bulatan indah itu, dan Indi semakin gelisah karenanya.


Di saat bersamaan, Satria membawa satu tangan Indi untuk menyentuh pusakanya. Biarkan atmosfer semakin panas. Suasana yang membuat keduanya terombang-ambing dalam gairah yang semakin membutakan.


Hingga kedua tangan Satria turun dan mendarat di lekuk pinggang istrinya yang ramping. Dia mengangkat Indi perlahan, dan menyatukan dirinya dengan Indi yang berada di pangkuannya.


Astaga, Indi memekik. Tak pernah sebelumnya Indi membayangkan akan bercinta dengan suaminya sendiri di dalam bath up dan syarat dengan air yang memberikan kehangatan dan basah. Tangan Indi mengalung indah di leher suaminya itu.


"Gerakkan pinggulmu, Sayang."


Satria memberikan instruksi yang disambut dengan gerakan Indi perlahan-lahan. Oh, sangat indah. Itu adalah nuansa hangat yang melingkupi keduanya. Nuansa yang membungkus dalam kepenuhan sempurna. Ada dorongan, seolah Satria sendiri berpacu. Luar biasa.


"Sayang ... Sayang!"


Sungguh indah, suara Satria yang terdengar bergetar dan terengah-engah mengalun di indera pendengaran Indi. Pun Satria yang menghujam perlahan. Sungguh, itu adalah hujaman yang membuat candu. Hingga Satria tidak ingin menahan. Kenikmatan itu membungkus pusaka Satria untuk terus meluncur dalam sensasi hangat dan basah. Dalam cengkeraman yang begitu erat yang membuat Satria menggertakkan rahangnya.


Tangan Satria menahan pundah Indi. Di ceruk leher istrinya, Satria kembali menggeram. Dia mendesak dengan amat sangat kuat. Menusuk dengan amat dalam. Gerakan yang semakin cepat dari detik demi detik. Sungguh, Satria terpuaskan. Hasratnya meluap di dada. Satria meledak, di detik berikutnya dia hancur, pecah berkeping-keping, dan luluh lantak.


"I Love U, Sayang," kata Satria.


"I Love U too, Mas Satria."


Terbang.


Melayang.


Namun, tak terhempas!

__ADS_1


__ADS_2