Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Menginap di Rumah Ayah dan Bunda


__ADS_3

Tidak pernah berpisah sebelumnya, sehingga sekarang Bunda Ervita merasa begitu sedih. Begitu pula dengan Yayah Pandu. Akan tetapi, Yayah Pandu memilih bersabar. Toh, putrinya Irene ke Jakarta juga untuk KKN, sehingga Ayah Pandu sangat percaya bahwa Irene akan menyelesaikan KKN-nya dengan baik dan kembali lagi ke Jogjakarta.


"Jangan terlalu sedih, Sayang ... kasihan Bunda aja sedih banget. Kita anaknya jangan terlalu sedih. Harus menghibur Bunda," kata Satria kepada Indi.


Indi melirik Bundanya yang memang kelihatan begitu sedih. Usai itu, Indi berusaha menenangkan dirinya sendiri terlebih dahulu. Apa yang disampaikan Satria benar bahwa anak-anak harus lebih kuat untuk menguatkan dan menenangkan Bunda Ervita.


Usai itu, Indi mendekat ke Bundanya dan merangkul Bundanya itu. "Sudah Nda ... jangan nangis. Kan Irene pergi untuk KKN. Hanya sebulan, kalau dijalani sebulan itu cepat kok, Nda," kata Indi.


"Iya, Mbak Didi ... Bunda yang gak terbiasa," balas Bunda Ervita.


"Biar Nda dan Yayah enggak kesepian, malam ini Indi dan Mas Satria menginap di rumah yah," kata Indi.


Bunda Ervita pun tersenyum, dia menganggukkan kepalanya. Bersyukur dengan inisiatif putri sulungnya itu. Sementara Ayah Pandu juga merangkul Indi dan berbicara lirih kepada putrinya.


"Makasih ya, Mbak Didi ... Bunda pasti gak terlalu sedih nanti," kata Yayah Pandu.


"Iya, Yayah."


Terbilang sudah petang dan sekarang mereka meninggalkan Yogyakarta Internasional Airport dan menuju ke kediaman Yayah Pandu dan Bunda Ervita. Indi memilih pulang ke rumah orang tuanya. Selain itu, Satria juga tidak keberatan menginap di rumah mertuanya. Menemani mertua terlebih dahulu.


Menempuh perjalanan lebih dari satu jam, dan sekarang barulah mereka tiba di kediaman Hadinata. Indi dan Satria bergantian untuk mandi terlebih dahulu, mandi dulu. Setelahnya, mereka menemui Ayah Pandu dan Bunda Ervita yang duduk di pendhopo rumah.


"Belum tidur, Nda?" tanya Indi.


"Belum, beberapa malam ini Nda tidak bisa tidur, Mbak ... kepikiran Irene," balas Bunda Ervita.


"Jangan begitu dong, Nda. Kurang tidur tidak baik untuk kesehatan. Bunda harus sehat, jadi Irene yang KKN di Jakarta juga tidak kepikiran dan sedih," balas Indi.

__ADS_1


"Yang dikatakan Indi benar loh, Nda ... kalau sedih terus nanti Nda bisa jatuh sakit. Harus menjaga kesehatan, jangan sampai sakit," balas Ayah Pandu.


Bunda Ervita menganggukkan kepalanya sembari menghela napas panjang. Kemudian dia melirik Satria yang sejak tadi duduk diam di sisi Indi. Mau menangis malu dengan menantunya yang duduk di hadapannya.


"Maaf yah Mas Satria ... wanita sering mellow begini," kata Bunda Ervita.


"Tidak apa-apa kok, Bunda. Ibu dulu juga begitu. Satria sudah terbiasa melihat dan menenangkan wanita yang sedang mellow kok, Nda," balas Satria.


Ayah Pandu kemudian tersenyum. "Berarti bisa menenangkan putrinya Ayah juga dong?" tanyanya.


"Insyaallah bisa, Yah. Akan berusaha untuk selalu menjadi suami yang selalu ada untuk Indi," balasnya.


"Semoga Irene nantinya juga mendapatkan pria yang baik seperti Yayah dan Satria yah," kata Bunda Ervita dengan tiba-tiba.


"Iya, Nda. Kita orang tua harus selalu mendoakan anak-anak kita," balas Ayah Pandu.


"Mau Satria belikan wedang rondhe, Yah?" tawar Satria sekarang kepada Yayah Pandu.


"Boleh, Sat ... kalau untuk Bunda jangan memakai kacang yah," balas Ayah Pandu.


Akhirnya sekarang Satria dan Indi yang keluar rumah dan membeli Wedang Rondhe itu. Memesan empat mangkok kecil untuk mereka.


"Yang satu tidak memakai kacang ya Pak," kata Satria.


"Aku juga gak pake kacang, Mas," sahut Indi.


"Oh, dua, Pak ... yang tidak memakai kacang dua," kata Satria lagi.

__ADS_1


Bapak penjual Wedang Rondhe itu akhirnya menganggukkan kepalanya. Siap untuk membuatkan sesuai pesanan pembelinya. Setelah itu, penjualnya yang mengantarkan empat mangkok ke pendopo keluarga Hadinata.


Di saat bersamaan ada Budhe Pertiwi dan Pakdhe Damar yang lewat. Maka, Satria juga menawarkan Wedang Rondhe itu untuk Budhe dan Pakdhe.


"Wedang Rondhe, Pakdhe ...."


"Wah, enak ini hangat-hangat," balas Pakdhe Damar.


"Monggo, pinarak, Pakdhe dan Budhe. Itu ada Yayah dan Nda juga kok," kata Indi yang mempersilakan Pakdhe dan Budhenya turut menikmati Wedang Rondhe di pendopo.


Akhirnya Pakdhe Damar dan Budhe Pertiwi pun mampir dan menikmati Wedang Rondhe. Budhe Pertiwi menatap wajah adiknya yang sembab.


"Kamu nangis, Bulik?" tanyanya. "Kenapa sama Om Pandu?" tanya Budhe Pertiwi lagi.


"Bukan karena aku yoh, Mbak," balas Pandu.


"Bukan karena Mas Pandu kok, Budhe."


"Lalu karena apa?" tanya Budhe Pertiwi.


"Irene kan KKN ke Jakarta, Budhe. Baru saja mengantar Irene ke Bandara tadi. Biasa, jadi mellow," balas Bunda Ervita.


"Oalah ... kiranya marahan sama Om Pandu. Enggak apa-apa kan Irene KKN, bukan main-main di sana. Sebulan atau berapa lama?"


"Sebulan sih ...."


"Jangan nangis, besok aku temenin. Kan Irene sekolah untuk kepentingan kampus. Jangan sedih, Bulik."

__ADS_1


Bunda Ervita tersenyum, bersyukur di kala dia sedih ada keluarga yang menguatkannya. Sama seperti Kakak iparnya itu yang sejak dulu selalu baik kepadanya. Benar, sekarang Bunda Ervita bisa menenangkan dirinya sendiri. Semoga saja sebulan waktu berlalu dengan cepat dan bisa kembali bertemu dengan putri bungsunya, Irene.


Sementara Indi juga bersyukur semoga saja Bundanya tidak bersedih terlalu lama. Waktu sebulan jika dijalani rasanya juga tak begitu lama. Hanya empat pekan. Banyak berdoa saja semoga Irene di Jakarta selalu sehat dan bisa menjaga dirinya.


__ADS_2