
Satria mengulurkan tangannya, kini dia menggenggam tangan istrinya dan mengajaknya untuk beristirahat di dalam kamarnya. Satria juga berpikiran mengenakan kebaya dan kain jarik lama-lama tidakkah merasa sesak? Terlebih sekarang Indi juga tengah hamil. Walau Satria sendiri mengakui istrinya itu sangat cantik berkebaya dan kain jarik. Kecantikan khas Putri Solo yang memang terkenal ayu dan lembut.
"Sesak di perut enggak, Sayang? Duh, lihat kamu berkebaya gini jadi pengennya manggil kamu Dinda," balas Satria.
Mengikuti langkah kaki suaminya sampai memasuki kamar, Indi hanya tersenyum sendiri. Jujur saja, dia merasa geli rasanya, tapi juga sungkan karena seluruh keluarga masih berada di Pendopo.
"Janganlah, itu panggilan sayang dari Yayahku untuk Nda-ku," balas Indi.
"Cantik banget kamu, Sayang," kata Satria.
"Masak? Biasanya kalau hamil anak laki-laki, Ibunya gak begitu cantik loh, Mas. Gak secantik kalau hamil anak perempuan," balas Indi.
Satria terkekeh perlahan. "Itu hanya mitos saja, Sayang. Di mataku sih, kamu selalu cantik," balas Satria.
"Kalau bicaranya manis-manis takut modus deh," balas Indi.
Satria kemudian tertawa lagi. Padahal dirinya sedang tidak modus sama sekali. Akan tetapi, istrinya justru mengira bahwa dia tengah modus sekarang.
"Gak modus. Udah lama juga enggak modusin kamu. Walau Dokter berkata boleh, aku sendiri masih takut," balas Satria.
Indi tahu benar bagaimana suaminya itu menahan diri. Dokter juga sebenarnya sudah memberikan rambu-rambu bagaimana berhubungan yang aman untuk Ibu Hamil. Selain itu, janin mereka juga sehat, sehingga diperbolehkan berhubungan suami istri. Akan tetapi, Satria sendiri yang masih takut. Dia memikirkan takut menyakiti dua buah hatinya.
Begitu sudah sampai di kamar, Satria kemudian mulai menutup pintunya. Dari bawah terdengar Langgam, lagu berbahasa Jawa yang masih diputar para orang tua. Lagu yang sekarang berkumandang adalah Nyidam Sari. Lagu berbahasa Jawa populer yang dibawakan oleh Almh. Manthos. Mendengar lagu itu, rupanya sayup-sayup Satria juga turut mengumandangkannya.
Umpama sliramu sekar melati
aku kumbang nyidam Sari
Umpama sliramu margi wong manis
Pun kakang bakal ngliwati
Sineksen lintange luku semono
Janji prasetianing ati
__ADS_1
Tansah kumatil ning netro resono
Keroso rasaning driyo
Yah, Satria turut menyanyikannya hingga dua bait. Pria itu seketika diam, ketika Indi mengamatinya. Satria pun segera memeluk istrinya itu, mungkin dia juga merasa malu. Satria adalah pria yang tidak percaya diri dengan suaranya sendiri. Dia merasa bahwa suaranya tak begitu merdu. Oleh karena itu, Satria jarang sekali menyanyi.
"Suara kamu bagus deh, Mas," kata Indi.
"Apanya. Jelek yow. Nadanya gak tepat," balas Satria.
Usai itu Satria mengurai sejenak pelukannya. "Mau aku bantuin lepasin sanggulmu?" tanyanya.
"Boleh, sambil nyanyiin itu yah. Itu lagu kesukaannya Yayah loh," balas Indi.
"Masak?"
"Iya, Yayah suka banget. Sering kok di rumah memutar langgam Jawa itu. Yayah aja hafal," balas Indi.
Satria tersenyum mendengar cerita istrinya itu. Dia juga tidak menyangka bahwa Yayah mertuanya juga menyukai Langgam Berbahasa Jawa itu.
"Emang iya?" tanya Indi.
"Iya, itu lagu romantis banget, Sayang. Rama juga pernah bercerita kalau itu lagu cinta, tembang cinta gitu. Isinya romantis banget," balas Satria.
Indi menunggu bagaimana suaminya itu bercerita selanjutnya. Sekarang di depan meja rias, Satria sendiri yang melepaskan sanggulan Indi. Di sanalah, Satria kembali berbicara.
Jika kamu adalah bunga melati
Aku akan menjadi kumbang yang mempesona
Jika kamu adalah sebuah jalan yang bagus dan ku senangi
Aku akan melihat selalu di sana
Sebuah bintang waluku yang menjadi saksi sumpah
__ADS_1
Kita dari hari yang paling dalam masing-masing
Aku selalu mengingat tersebut dan menyesak sampai
Lubuk hati yang terdalam
"Lintang Luku itu adalah rasi bintang Waluku, atau Orion, Sayang. Rasi bintang yang paling terkenal di angkasa. Bayangkan Sastrawan Jawa bisa menciptakan lagu sembari mengamati Lintang Luku atau Rasi Orion di langit loh. Bagaimana tidak romantis, berkumandang dan menyatakan cinta melalui keindahan alam semesta yang dia lihat," kata Satria.
"Iya ya, Mas? Romantis dong yah. Bayangkan dengar lagu itu, duduk di padang dan mata yang sama-sama menatap ke angkasa melihat Rasi bintang Orion itu. Romantis yah," balas Indi.
"Iya, makanya aku bilang romantis banget."
"Kamu juga romantis kok," balas Indi tiba-tiba.
"Aku? Kelihatannya enggak deh, Sayang. Aku monoton kok orangnya. Gini-gini aja. Membosankan enggak sih?" tanya Satria.
"Romantis itu bukan selalu mengatakan kata-kata cinta yang puitis kok, Mas. Kamu sayang dan perhatian ke aku aja udah romantis. Lagian kan bahasa cinta kan banyak, tidak melulu dengan ucapan. Siapa lagi, suami yang mau melepas sanggul istrinya malam-malam begini?"
" Demi cinta, Sayang. Semuanya juga Kangmas lakukan untuk kamu," balas Satria.
Sekarang keduanya sama-sama tertawa. Ada rasa bahagia, geli, dan juga hangat. Akan tetapi, Indi sangat tahu suaminya itu memang orang yang romantis yang tidak melulu berbicara manis, Satria lebih banyak mengekspresikannya dengan tindakannya. Lagipula bahasa cinta atau Love Language itu memang bermacam-macam jenisnya.
"Sudah selesai melepas sanggulnya. Mau dilepasin apa lagi?" tanya Satria dengan mengedipkan matanya.
"Jangan nakal, Papa. Banyak keluarga di sini, malu."
Satria kemudian menganggukkan kepalanya. "Kan cuma bantu lepasin aja. Enggak yang lain-lain. Takut nyakitin Dedek Babies," balas Satria.
Indi tersenyum. Kala dia masih duduk di meja rias dan Satria berdiri di sampingnya, Indi memeluk suaminya itu. Wajah Indi kini berada di dekat perut suaminya.
"Makasih Mas Satria, sama kamu, aku menjadi Nyidam Sari Asmara setiap hari. Dalam pernikahan tidak hanya dibutuhkan satu kali jatuh cinta, melainkan berkali-kali jatuh cinta dan pada orang yang sama yaitu pasangan kita sendiri. Walau tak disaksikan Lintang Luku di langit, ku harap kamu tahu perasaanku," kata Indi.
Reaksi yang Satria tunjukkan sekarang dengan mengusap helai demi helai rambut istrinya itu. Lantas Satria menunduk dan menjatuhkan sebuah kecupan di puncak kepala sang istri.
"Sama, Sayangku. Aku juga nyidam sari asmara setiap hari sama kamu. Cinta yang kuat ini menjadi bekal kita mengasuh anak-anak kita yah. Biar mereka tumbuh dan merasakan besarnya cinta Mama dan Papanya untuk mereka berdua. Mereka hadir karena cinta kita yang besar. Aku tresna sliramu."
__ADS_1
Indi tersenyum, dia mengeratkan pelukannya kepada suaminya. Bahagia sekali bisa mencintai dan dicintai. Indi percaya bahwa anak-anak memang hadir dari cinta mereka yang begitu besar. Buah cinta keduanya yang beberapa bulan lagi akan memenuhi kebahagiaan kehidupan pernikahan mereka.