Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Menemani Jalan Pagi


__ADS_3

Menyemangati sang istri yang hendak bersalin, Satria sendiri menunjukkan kesabarannya. Sama seperti sekarang, usai menunaikan sholat subuh bersama, Satria menemani istrinya untuk jalan-jalan. Memang tidak jauh, hanya di kompleks perumahan saja.


Masih begitu pagi, tapi Indi dan Satria sudah jalan-jalan pagi bersama. Lantaran perut yang kian membesar, ada kalanya Indi berjalan dengan memegangi perutnya. Sungguh, ada kalanya Satria menjadi kasihan dengan istrinya. Dengan perut sebesar itu pastilah beraktivitas juga banyak kendala. Akan tetapi, Indi sendiri tidak mau banyak mengeluh.


"Jalan-jalan dulu sama Bumil," kata Satria.


"Ditemenin Papanya dua baby boys," balas Indi.


Satria kemudian tertawa sendiri. Benar, dia sebentar lagi akan menjadi Papa untuk dua bayinya sekaligus. Rasanya sangat bahagia. Walau tentu kikuk juga karena belum memiliki pengalaman sebelumnya.


"Ajaib yah, Sayangku. Sekalinya menjadi Mama dan Papa langsung untuk dua bayinya," balas Satria.


"Iya, Mas. Berkahnya dari Allah. Doakan semuanya lancar nanti ya, Mas," balas Indi.


Satria pun menganggukkan kepalanya. Sembari berjalan dia menggandeng tangan istrinya. Satria bahkan menyamakan langkah kakinya. Bagaimana pun, istrinya itu tengah hamil, langkah kakinya juga tak begitu lebar. Sehingga Satria yang berusaha menyamakan langkah kakinya.


"Jalannya pelan-pelan aja, Sayang," kata Satria mengingatkan.


"Iya, perutnya ndut dan kadang terasa berat di dekat pusar," balas Indi.


"Dedek bayi diajak jalan-jalan dulu. Semoga nanti bisa lahiran normal. Papa akan temenin kalian bertiga," balas Satria.

__ADS_1


"Mas Satria enggak takut?" tanya Indi.


"Yah, takut sebenarnya, Yang. Bagaimana pun belum pengalaman sama sekali. Pria juga lemah, Sayang. Dia kadang memiliki ketakutan sendiri-sendiri. Cuma harus stay cool," balas Satria.


Mendengar pengakuan suaminya, Indi hanya tersenyum dan mengamati wajah suaminya itu. Akan tetapi, Indi juga percaya bahwa semua juga membutuhkan proses. Terlebih Satria juga belum berpengalaman sama sekali, sehingga memang ada ketakutan sendiri.


Terus berjalan bergandengan tangan berdua, sembari menghirup udara pagi yang masih segar dan juga merasakan sinar hangat matahari pagi. Jalan-jalan pagi seperti ini akan menjadi aktivitas baru untuk Indi dan Satria bersama. Keduanya juga tidak menyangka akan memiliki aktivitas baru seperti ini.


"Sambil beli sarapan enggak, Yang?" tanya Satri kepada istrinya.


Pikirnya sekalian jalan-jalan pagi ada beberapa penjualan makanan dan aneka jajanan di pagi hari. Dari bubur, pukis, serabi, dan berbagai jajanan lainnya. Selain itu, Satria juga tahu bahwa Indi belum sempat untuk membuat sarapan. Sebab, mereka memang memilih jalan-jalan lebih pagi.


"Aku nasi Gudeg saja, Yang," balas Satria dengan menunjuk sebuah warung tenda yang menjual Nasi Gudeg.


Indi kemudian menganggukkan kepalanya. Dia dan Satria berjalan kaki menuju warung tenda yang menjual Nasi Gudeg itu. Kemudian, Satria memesan Nasi Gudeg dibungkus untuk mereka berdua.


"Dibungkus dan kita makan di rumah saja yah?" tanya Satria.


"Iya, Mas ... makannya di rumah saja. Enak yah, pagi-pagi makannya Nasi Gudeg, lengkap dengan Sambal Goreng dan suwiran ayam," balasnya.


"Iya, enak ... nanti tinggal menyeduh Teh saja di rumah. Kamu tahu enggak, Gudeg itu memiliki filosofi loh." kata Satria sekarang.

__ADS_1


Dengan cepat Indi kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, tahu. Gudeg itu melambangkan kesabaran. Melihat proses memasak gudeg yang berjam-jam, dan sangat lama. Sehingga membutuhkan kesabaran. Begitu juga ketika ingin sesuatu selain berusaha, juga harus sabar," balas Indi.


Mendengar jawaban istrinya, Satria kemudian menganggukkan kepalanya. Benar yang dijelaskan oleh istrinya. Memasak gudeg adalah cerminan sempurna dari filosofi Jawa yang penuh nilai ketenangan, kesabaran dan ketelitian, tidak terburu-buru dan tidak boleh sembrono. Bukan hanya Gudeg, beberapa masakan, tarian, hingga busana untuk orang Jawa penuh dengan filosofi. Dipikirkan dan digali maknanya sampai dalam.


"Benar, Sayang. Kayak kita berdua ini. Kehamilan itu juga proses kesabaran kan? Menunggu dan melihat perkembangan bayi-bayi kita dari bulan pertama masih berbentuk embrio, perlahan berkembang, berkembang, dan akhirnya menjadi bayi yang sebentar lagi akan kita sambut bersama. Harus sabar, tidak boleh sembrono dalam artinya obatnya diminum, makannya dijaga, dan juga lebih berhati-hati," kata Satria.


Indi kemudian tersenyum lagi. "Nggih, Mas Satria ... kan aku juga berhati-hati kok. Aku juga nurut loh sama kamu. Kurang apa lagi coba?"


"Tidak ada kurangnya, Sayangku. Sudah pas, dan sempurna," balas Satria.


"Manusia tidak ada yang sempurna, Mas. Aku juga begitu, masih banyak kurang," balas Indi.


Cukup lama keduanya menunggu, akhirnya penjualnya sudah memberikan dua bungkusan Nasi Gudeg yang saat itu dibungkus dengan Daun Pisang. Satria pun segera mengeluarkan uang dan membayarnya.


"Mau beli apa lagi, Roro Ayu?" tanya Satria.


"Pengen Cakwe boleh, Mas?" tanya Indi.


"Boleh."


Akhirnya, dari sana mereka membeli Cakwe dan Pia-pia yang dijual oleh penjual di pinggir jalan itu. Terlebih area sekitaran perumahan Satria ketika pagi memang banyak penjual makanan sehingga banyak pilihan jajanan yang bisa dibeli. Sekali jalan-jalan untuk memperlancar persalinan, keduanya sekalian wisata kuiner pagi-pagi. Sehingga begitu pulang ke rumah, perut bisa langsung terisi dengan makanan.

__ADS_1


__ADS_2