
Dalam perjalanan udara, ada kalanya memang Nakula dan Sadewa menangis. Indi sangat tahu bahwa suara mesin pesawat yang sebenarnya membuat Nakula dan Sadewa tidak nyaman. Untung saja Indi dan Satria bisa sama-sama menenangkan putranya itu.
"Sini, gantian Eyang yang gendong Nakula dan Sadewa, Sat," kata Rama Bima kepada Satria.
"Nanti saja, Rama. Sudah mau bobok Nakula dan Sadewa," balas Satria.
Rama Bima menganggukkan kepalanya. Memang Nakula dan Sadewa seperti hendak tidur. Indi memangku Sadewa, sementara Nakula dipangku Satria. Baik Indi dan Satria sekarang sama-sama mengusapi kening hingga telinga putranya, kebiasaan dari kecil putranya kala tertidur. Harus diusapi kepala, kening, hingga daun telinganya. Begitu Nakula dan Sadewa sudah tertidur, Satria tersenyum lega.
"Syukurlah, Nang-Nang mau tidur, Sayang. Kamu mau makan atau apa? Kita bisa pesan?" tanya Satria.
"Kan kita di VIP Class, nanti dapat makan, Mas. Ditunggu dulu saja," balas Indi.
Akhirnya mereka menunggu dan benar, Pramugari mulai menyajikan makanan untuk penumpang di VIP Class. Indi sekaligus meminta tolong kepada Pramugari untuk membukakan meja lipat di depannya, tangannya terbatas karena memangku Sadewa layaknya Koala sekarang.
Setelah semua menu makanan disajikan, Satria bertanya lagi kepada istrinya. "Bisa makan tangan satu?" tanyanya.
"Iya, bisa dong. Setelah memiliki Nakula dan Sadewa, aku jadi multitasking kok, Mas. Menjadi serba bisa," balasnya.
Satria tersenyum. Namun, apa yang dikatakan oleh Indi benar adanya bahwa para ibu akan menjadi serba bisa kala memiliki bayi. Entah itu menggendong bayi sambil menjemur pakaian, atau memberikan ASI sambil melakukan hal yang lain.
"Luar biasa istriku ini. Nanti tiba di Amsterdam mungkin masih pagi di sana. Bisa istirahat dulu dan acaranya masih lusa," balas Satria.
__ADS_1
Indi menganggukkan kepalanya. Dia tentu akan mengikuti acara yang dilakukan dengan baik. Walau sudah pasti terselip sessi jalan-jalan bersama keluarga.
...🍀🍀🍀...
Beberapa Belas Jam Kemudian ....
Sekarang keluarga Negara sudah tiba di Amsterdam, Belanda. Tepat seperti tebakan Satria sebelumnya bahwa mereka tiba di sana sewaktu pagi. Masih ada waktu untuk istirahat sejenak. Sehingga, begitu tiba di Amsterdam, mereka memilih tidur dulu.
Pagi yang masih begitu redup di kota Amsterdam membuat Indi dan Satria pun cepat terlelap, terlebih setelah beberapa belas jam duduk di dalam pesawat. Walau di pesawat mereka bisa tidur juga, tapi sekarang rasanya begitu nyenyak ketika bisa terkena kasur yang empuk dan ruangan hotel yang ber-AC.
Beberapa jam kemudian keluarga Indi dan Satria sudah terbangun, ketika matahari sudah meninggi. Untung saja Nakula dan Sadewa tidak tantrum. Dua bocah kembar yang hampir berusia 2 tahun itu malahan begitu senang duduk di ranjang dengan bed covernya yang putih itu. Dengan kedua tangannya menepuk-nepuk bagian ranjang itu.
Aa ... ya ... yahhh ....
"Habis ini mandi yah, Nang-Nang," kata Indi.
"Oh, iya ... mandinya gimana yah Yang? Kamu bisa enggak?" tanya Satria.
"Kan ada bath up, kita mandiin di bath up aja, airnya jangan banyak-banyak. Setelah mandiin Nang-Nang, satu berjaga, satunya mandi. Giliran, Mas ...."
Satria menganggukkan kepalanya, kemudian dia segera ke kamar mandi menyiapkan bath up dengan air hangat. Menginap dengan membawa toddler memang tidak mudah, terlebih dua anak kecil. Akan tetapi, keduanya juga berusaha beradaptasi dan memanfaatkan fasilitas yang ada di dalam kamar hotel untuk memandikan Nakula dan Sadewa.
__ADS_1
"Sudah siap, Mama," kata Satria.
Akhirnya sekarang Indi dan Satria sama-sama memandikan Nakula dan Sadewa di dalam bath up dengan air yang tidak terlalu banyak. Menyabuni dan mencuci rambut Nakula dan Sadewa. Semua dilakukan berdua. Sehingga, selesai pun berdua.
Wajah menggemaskan Nakula dan Sadewa terlihat happy karena bermain air di bath up itu. Bahkan keduanya berteriak heboh di dalam kamar mandi. Hingga akhirnya, Indi dan Satria menyudahi mandi kedua putranya. Menggunakan handuk untuk mengeringkan tubuh keduanya. Begitu tubuh sudah kering, kedua bayi itu mengenakan diapers, minyak telon, dan pakaiannya.
"Udah cakep nih Nang-Nang Mama dan Papa," kata Indi dengan mencium pipi Nakula dan Sadewa bergantian.
Aaa ... ya ... huh ....
Nakula dan Sadewa malahan heboh dengan melakukan babbling hingga bibirnya maju beberapa centimeter. Indi sangat bersyukur rasanya, di luar negeri, anak-anaknya tidak rewel. Paling nanti Indi tinggal menyesuaikan untuk menu makan kedua bayinya. Walau begitu, Indi juga membawa slow cooker berukuran kecil dari rumah, supaya asupan makan Nakula dan Sadewa tetap terjamin. Memang beginilah ketika Staycation dengan bayi, barang dibawa lebih banyak.
"Papa Satria mandi dulu aja, Pa. Biar aku yang jaga Nang-Nang," kata Indi.
"Wah, padahal ada bath up, kapan bisa berendam sama kamu, Sayang?" tanya Satria.
Indi terkekeh mendengar pertanyaan suaminya itu. Mana mungkin bisa berendam berdua. Terlebih ketika Nakula dan Sadewa bangun seperti ini. Meninggalkan bayinya sendiri juga berbahaya karena Nakula dan Sadewa begitu aktif, sudah bisa berjalan dan mengeksplor ruangan.
"Kayaknya gak bisa, Mas. Maaf, bukan maksud menolak, tapi gak ada yang jagain Nakula dan Sadewa," balas Indi.
Satria kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya-iya, aku tahu kok. Aku juga cuma bercanda. Kita memanfaatkan waktu di sela-sela waktu tidurnya Nang-Nang aja. Sayang sekali kalau momen seperti ini tidak dimanfaatkan," kata Satria.
__ADS_1
"Iya Maskuw. Kalau Nang-Nang bobok aja kita curi-curi waktu. Maaf yah, Mas," balas Indi.
Sungguh Indi tak bermaksud menolak. Hanya saja memang harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Lagipula semua orang tua dengan anak-anak yang masih kecil pastilah juga akan pandai-pandai mencuri-curi waktu untuk membangun quality time berdua.