Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Langkah Pertama


__ADS_3

Selang beberapa hari kemudian, kehidupan rumah tangga Satria dan Indi kembali berjalan normal. Walau begitu, keduanya tetap bersyukur dan selalu bersemangat untuk menjalani hari demi hari. Selain itu, Nakula dan Sadewa yang belum lama ini berusia satu tahun rupanya sudah belajar berdiri dan mulai menjejakkan kakinya.


Indi sampai heran dengan perkembangan milestone anak-anaknya yang luar biasa. "Nang, Hati-hati loh, Nang. Apa kakinya sudah benar-benar kuat?" tanya Indi.


Huh ... aaa ... dehhh


Suara-suara yang lucu terdengar dari mulut Nakula dan Sadewa. Keduanya seolah bersahut-sahutan satu sama lain. Indi sampai gemas rasanya.


"Kalau kakinya belum kuat, duduk saja. Santai saja, Nang," kata Indi kepada kedua putranya.


Sementara Nakula dan Sadewa sudah tak menghiraukan lagi. Berdiri dengan memegangi tembok, kaki-kaki itu berjejak, berusaha menapak, dan berusaha berjalan. Indi yang mengawasi keduanya pun juga merasa was-was karenanya.


Dalam hatinya Indi bertanya-tanya apakah memang sudah saatnya bagi kedua putranya mulai berjalan. Padahal kedua putranya baru juga berusia satu tahun, kalaupun lebih hanya beberapa minggu saja. Kalau anak-anak sudah belajar berjalan seperti ini biasanya mereka akan lebih aktif, sehingga Indi memilih anak-anaknya untuk bermain di lantai bawah saja.


"Yuk, kita turun ke bawah saja yuk. Mainan di kamar bermain yang ada di bawah," ajak Indi.


Akhirnya Indi mengajak Nakula dan Sadewa turun ke bawah. Baru selesai menuruni anak tangga, Nakula dan Sadewa sudah maunya turun ke lantai, ingin merangkak dan belajar berjalan.


"Sebentar Nang ... jangan di sini, nanti Nang-Nang bisa ke dapur. Berbahaya," kata Indi.


Akhirnya Indi tetap mempertahankan Nakula dan Sadewa dalam gendongannya terlebih dahulu. Mengajaknya menuju kamar bermain, barulah Indi menurunkan Nakula dan Sadewa dari gendongannya. Mama muda itu sampai terengah-engah usai menurunkan Nakula dan Sadewa.


"Kalian semakin aktif, gendong kalian berdua aja napasnya Mama sampai kayak gini loh," kata Indi lagi.


Namun, Nakula dan Sadewa sudah asyik bermain. Keduanya mengeluarkan suara-suara lucu yang memang belum jelas. Juga merangkak dengan begitu cepatnya. Sembari memperhatikan anak-anaknya, Indi menguncir dulu rambutnya. Sebab, kalau rambut panjangnya terurai yang ada justru ditarik oleh anak-anaknya. Sebenarnya Indi juga ingin minum, tapi khawatir kalau meninggalkan Nakula dan Sadewa, karena putranya itu kini menjadi sangat aktif.


"Mama sebenarnya haus, tapi kalau Bunda ke dapur sebentar kalian ke mana-mana enggak yah?"

__ADS_1


Indi menjadi galau sendiri. Memang menjadi fulltime mom seperti ini. Ada saat di mana dia seolah galau meninggalkan anaknya. Sekadar mengambil minum atau saat buang urine ke kamar mandi saja rasanya tidak tenang. Terlebih ketika anak sudah aktif-aktifnya, rasanya was-was.


Akhirnya Indi memilih mengurungkan niatnya, menunggu Nakula dan Sadewa terlebih dahulu. Walau tenggorokannya kering, tapi lebih baik menahan. Dia kembali bermain-main dengan Nakula dan Sadewa.


"Bolanya ada dua loh, kok berebut sih. Nakula yang biru, Sadewa yang hijau yah. Duh, kalian kecil-kecil kok sudah bisa rebutan sih," kata Indi.


Sebab sekarang Nakula dan Sadewa tampak berebut bola. Sementara Sadewa sudah menangis kencang karena dia menginginkan bola yang berwarna biru, tapi bola berwarna biru itu dipegang oleh kembarannya. Sehingga Indi memangku putranya itu terlebih dahulu, menenangkannya.


Sementara Nakula terdiam dan tidak begitu aktif ketika kembarannya menangis. Anak berusia satu tahun itu pelan-pelan mendekat ke Mamanya.


"Sadewa nangis ini. Berbagi yuk, Nang ... tukeran bolanya. Nanti tukeran lagi."


Dalam hatinya Indi juga tertawa, mereka yang kembar saja kadang bisa berantem seperti ini. Namun, ketika Sadewa menangis, pastilah Nakula seperti menghentikan aktivitasnya dan juga seperti mengerti kalau kembarannya sedang menangis.


Akhirnya Nakula kecil memberikan bola berwarna biru itu kepada Sadewa. Barulah tangisan Sadewa reda. Lalu, Indi memangku Nakula dan mengusapi kepalanya.


Akhirnya Nakula mendekat dan menyandarkan tubuhnya di dada Mamanya. Begitulah cara manjanya Nakula yang masih kecil. Usai iru, Sadewa turun dari pangkuan Mamanya dan kembali bermain. Nakula pun kembali aktif dan menyusul Sadewa bermain bersama. Entah apa yang dikatakan yang pasti ruang bermain menjadi berisik, kedua bayi itu mengoceh dan tertawa-tawa sendiri. Indi sampai gemas. Walau capek, tapi melihat putra-putranya aktif dan menggemaskan seperti ini membuat hati pun bahagia.


...🍀🍀🍀...


Beberapa Hari Kemudian ....


Di hari libur ini, Satria mengajak Nakula dan Sadewa bermain di taman yang ada di samping rumahnya. Memang ada sisa tanah yang Satria manfaatkan dengan membuat taman kecil, dengan rumput seperti di lapangan sepak bola. Kali ini, Nakula dan Sadewa bermain di sana. Namun, ada rasa geli ketika kaki-kaki kecil itu turun dan menginjak rumput.


Bahkan dengan kompaknya keduanya menangis. Satria menjadi tertawa sendiri melihat ekspresi menangis anak-anaknya itu.


"Ini rumput, Nang. Geli yah di kaki?" tanya Satria.

__ADS_1


"Papa, belum terbiasa Nang-Nang, Pa. Kenalan dulu. Jangan dipaksa, Pa," kata Indi.


Satria menganggukkan kepalanya. Dia memilih membantu anak-anaknya berkenalan dulu dengan tekstur rumput yang memang membuat geli di kaki itu. Lebih dari sepuluh menit berlalu, barulah keduanya bisa beradaptasi dengan rumput itu.


"Rumputnya harusnya Zoysia Japonica, Papa. Biar standar FIFA gitu. Jangan hanya rumput sintetis," kata Indi dengan tertawa.


Walau setiap hari mengasuh anak-anaknya, tapi Indi ternyata mengikuti pemberitaan yang viral belakangan. Salah satunya mengenai jenis rumput yang digunakan di salah satu stadion di Jakarta. Satria pun tertawa. "Wah, Mama Indi tahu juga loh. Nang, nanti kalau udah besar, main futsal sama Papa yah," balas Satria.


"Tahu lah, Pa. Juga mendengar berita, biar enggak ketinggalan berita terkini," balas Indi.


Usai itu, Satria menurunkan Nakula dan Sadewa. Rupanya kedua putranya itu berjongkok di rumput. Tangan-tangan kecil mereka meraba rumput hijau yang pasti teksturnya berbeda itu.


Yee ... Hi ... Hi ....


Suara Nakula dan Sadewa terdengar mungkin keduanya geli atau bagaimana sehingga berkata, "Hi". Sementara Indi dan Satria tertawa saja.


Setelahnya, keduanya usai berjongkok, berusaha berdiri sendiri dengan kedua kakinya tanpa berpegangan apa pun. Berdiri pun terlihat belum kuat.


"Ya, berdiri Nang ... ayo, jalan!"


Satria membuka kedua tangannya seakan mengatakan kepada putranya untuk tidak takut. Ada dirinya yang akan menjaga keduanya. Sadewa yang baru saja ikutan berdiri, tiba-tiba dia melangkah kakinya dan juga berjalan.


"Ya, Nang. Begitu ... kanan-kiri-kanan-kiri."


Satria dan Indi menjadi senang melihat putranya itu. Tidak berselang lama giliran Nakula yang mencoba, seolah mengikuti apa yang dilakukan Sadewa. Nakula juga mencoba, tapi langkahnya tidak banyak.


"Yuk, Nakula yuk. Kanan-kiri-kanang-lagi."

__ADS_1


Hanya empat langkah dan Nakula sudah terjatuh. Indi dan Satria senang sekali dengan perkembangan anak-anaknya yang sudah berhasil memulai langkah pertamanya. Semoga setelah ini, kedua putranya akan semakin lancar berjalannya, juga diikuti dengan kemampuan untuk berbicara. Walau jatuh bangun, tapi Nakula dan Sadewa mencoba berjalan. Sementara Indi dan Satria tetap berada di sana dan selalu membantu Nakula dan Sadewa.


__ADS_2