
Menyelesaikan malam dingin, tapi penuh dengan kehangatan. Kali ini, handphone milik Satria berbunyi. Indi menilik sesaat siapa yang menghubungi handphone milik suaminya, rupanya adalah dari Rama Bima. Indi pun memberikan handphone itu kepada suaminya supaya bisa mengangkat panggilan telepon itu.
"Mas, Rama menelpon. Diangkat dulu," kata Indi.
Satria yang baru menyelesaikan mandinya pun, segera memakai kaos dan menerima telepon dari Ramanya. Pria itu mendekatkan handphone ke telinganya, walau begitu Satria tak ingin Indi menjauh, dia masih saja memeluk Indi.
"Assalamualaikum, Rama ...."
"Waalaikumsalam, Sat ... sudah tidur belum?" sapa Rama Bima di sana.
"Belum, Rama. Tumben menghubungi malam-malam, Rama?" tanya Satria.
"Benar, Sat. Lusa di pabrik jamu kita ada kunjungan dari pemerintah, kamu datang yah, Sat. Ajak Indi dan anak-anak juga. Katanya pabrik kita bukan sekadar menggerakkan ekonomi, tapi akan menjadi mitra UMKM pemerintah juga," kata Rama Bima.
Satria pun menganggukkan kepalanya. "Baik, Rama. Lusa, Satria akan mengajak istri dan anak-anak ke Solo. Terima kasih untuk undangannya, Rama."
Usai panggilan telepon dari Rama Bima selesai, Satria menaruh handphonenya. Dia masih memeluk Indi, beberapa kali pria itu mendaratkan kecupan di kening istrinya.
"Kenapa, Mas?" tanya Indi.
"Kita diminta ke Solo. Ada acara di pabriknya Rama. Kita ke Solo lagi yah?"
Indi kemudian menganggukkan kepalanya. "Boleh, Mas. Sekalian kita ajak Nakula dan Sadewa ke Solo Safari yah, Mas. Sama sekalian mengunjungi Bapak boleh?"
Pikir Indi mumpung berada di Solo, dia ingin mengunjungi Bapak Firhan sekalian. Supaya silaturahmi dengan Bapak Firhan juga tidak putus. Satria pun menganggukkan kepalanya, tentu dia mau untuk mengantarkan istrinya itu ke rumah Bapaknya.
"Masih mau pelukin kamu, Sayang," kata Satria sekarang.
"Abis mandi malahan kedinginan deh, Mas. Padahal tadi udah mandi dengan air hangat," balas Indi.
__ADS_1
Mungkin karena malam itu begitu dingin, sehingga usai mandi air hangat saja rasanya masih begitu dingin. Memang paling enak berpelukan dengan istrinya seperti ini. Satria kemudian menggandeng istrinya untuk kembali menaiki ranjang, mereka bergelung bersama dalam satu selimut.
"Ya sudah, bobok yuk. Besok minta tolong packing ya, Sayang. Lusanya kita berangkat ke Solo," kata Satria.
Indi kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, Papanya Nang-Nang ... udah lega kan Nakula dan Sadewa enggak kebangun waktu Papanya mengerjakan PR tadi."
Mendengarkan apa yang dikatakan Indi, Satria malahan tertawa. Suatu ketika, Satria masih ingat bagaimana ketika hasratnya sudah memuncak, Nakula dan Sadewa malahan terbangun. Itu membuat pusaka Satria sepenuhnya lemas. Sejak saat itu, Satria sebenarnya was-was. Namun, bagaimana lagi kalau waktu yang bisa mereka nikmati bersama adalah saat anak-anak sedang tidur saja.
"Lega, kalau baru masuk dan anak-anak tiba-tiba nangis langsung lemas, Sayangku. Pusing dan pening banget rasanya. Namun, bagaimana lagi. Siang jelas gak bisa karena aku bekerja. Terus malam bisanya ya nunggu anak-anak tidur. Kalau udah menjadi orang tua banyak pertimbangannya, Sayang."
Apa yang dikatakan Satria sepenuhnya benar bahwa memang mereka tidak bisa mengejar kesenangan semata. Waktu pun berusaha dimanfaatkan sebaik mungkin. Yang pasti prioritas utama adalah untuk anak.
...🍀🍀🍀...
Dua Hari Kemudian ....
Sekarang waktunya Satria mengajak Indi, Nakula dan Sadewa pergi ke Solo. Waktu seolah cepat sekali berlalu. Rasanya baru kemarin Satria mengajak dua putranya yang masih bayi ke Solo, ke rumah Eyang mereka. Sekarang, Nakula dan Sadewa sudah satu setengah tahun. Kian aktif dan tentunya kian menggemaskan rasanya.
"Iya, Papa. Mamanya Nang-Nang pengen lihat sawah nanti," balas Indi.
Satria tertawa mendengarnya. Ke Solo rupanya menjadi kegiatan yang menyenangkan untuk Indi. Sebab Indi sangat menyukai sawah yang ada dekat dengan rumah mertuanya.
"Boleh, Mama. Nanti Papa temenin jalan-jalan ke sawah," balas Satria.
Menempuh perjalanan hampir dua jam, akhirnya mereka sudah tiba di Solo. Di sana, sudah ada Rama Bima dan Bu Galuh yang menyambut keduanya.
"Kangen loh Eyang sama Nang-Nang," kata Bu Galuh dengan membuka tangannya hendak menggendong satu cucunya. Sementara satu yang lain digendong Rama Bima.
"Langsung ke pabrik dulu yah, Sat?" ajak Rama Bima.
__ADS_1
"Sekarang yah, Rama? Satria dan Indi benaran ikut tidak apa-apa?" tanyanya terlebih dahulu.
"Iya, ikut saja. Sitha tidak bisa ikut karena baru kuliah. Jadi ya sudah, yang sedang kuliah biar saja kuliah."
Tidak menunggu lama, mereka segera menuju ke pabrik. Di depan pabrik sudah didirikan tenda untuk menyambut pejabat kota yang hadir. Menunggu kurang lebih setengah jam pejabat kota yang dinantikan pun hadir.
Mulailah Rama Bima mengucapkan selamat datang dan menunjukkan jukkan proses produksi jamu itu kepada pejabat tersebut. Sungguh, pejabat daerah yang datang mengapresiasi produksi pabrik jamu Sido Mulyo.
"Saya rasa ini sudah sangat bagus. Dari sejarahnya yang panjang, bermula hanya berjualan jamu gendong, akhirnya menjadi pabrik dengan produk yang sudah dipasarkan hingga ke Mancanegara. Dua bulan lagi, saya undang mengikuti pameran UMKM Kota Solo di Seoul, Korea Selatan yah Pak Bima?"
Bahkan pejabat kota itu menawarkan untuk mengikuti pameran di Seoul, Korea Selatan. Rama Bima kemudian tertawa.
"Biar diwakilkan putra saya yah, Pak. Saya sudah tua. Kalau naik pesawat terlalu lama sudah sakit kepala," balas Rama Bima dengan bercanda.
"Tidak masalah, nanti ada pameran di KBRI Seoul. Sekaligus bisa merambah pasar internasional," balasnya.
Hampir dua jam semua rangkaian acara barulah selesai. Kemudian, Rama Bima berbicara kepada Satria dan Indi.
"Kalau bisa kalian saja yang datang ke Seoul dan menggantikan Rama di sana," kata Rama Bima.
Mendengar kata Seoul dan Korea Selatan tentu saja sangat menarik. Akan tetapi, yang Satria dan Indi pikirkan sekarang adalah Nakula dan Sadewa. Keduanya masih memiliki anak-anak kecil.
"Satria mana bisa, Rama? Setelah memiliki Nakula dan Sadewa rasanya tidak bisa jauh-jauh dari mereka berdua," balas Satria.
"Benar, Rama. Sejak melahirkan sampai sekarang tidak pernah meninggalkan Nakula dan Sadewa," balas Indi.
"Kita wisata bersama ke Seoul, Korea Selatan. Ambil waktu untuk bulan madu lagi. Siapa tahu nanti kalian memiliki bayi lagi."
Satria dan Indi sekarang saling pandang. Benar-benar tidak menyangka bahwa Rama Bima merencanakan hal seperti itu.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Mbak Indi. Nakula dan Sadewa sudah mau dua tahun. Kalau memiliki adik lagi gak apa-apa. Bayinya nanti made in Seoul," balas Bu Galuh.
Sekarang Indi dan Satria tersenyum. Keduanya belum mengiyakan. Akan tetapi, perlu dipikirkan matang-matang. Walau Seoul memang menjadi kota yang ingin Indi kunjungi.