Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Nakula dan Sadewa sudah Sembuh


__ADS_3

Setelah semalam sempat demam dan sudah diketahui bahwa penyebab demamnya Nakula dan Sadewa adalah karena tumbuh gigi, Indi dan Satria sedikit lebih lega. Bukan karena infeksi bakteri atau virus Influenza, tapi memang kedua putranya itu sedang tumbuh giginya. Bahkan usai meminum obat dari Dokter, Nakula dan Sadewa bisa tidur.


Siang itu, akhirnya setelah semalam begadang, Indi dan Satria turut tidur dengan Nakula dan Sadewa. Rasa kantuk sudah tak tertahan. Memilih tidur dan mengistirahatkan badannya.


Lebih dari satu jam mereka bisa tidur siang, itu jauh lebih baik. Indi yang bangun terlebih dahulu segera turun ke bawah, dia meminum jamu Beras Kencur yang diberikan oleh Bu Galuh. Tinggal meminumnya saja. Beras kencur dingin, sensasi kencur membuat hangat di tenggorokan.


"Minum sendiri, Yang," kata Satria yang tiba-tiba sudah menyusul istrinya itu ke dapur.


"Eh, Mas. Bukannya tadi Mas masih bobok yah? Kok tiba-tiba ada di sini," tanya Indi dengan bingung.


"Kalau kamu turun dari ranjang itu membuatku gak bisa tidur, Sayang. Langsung bangun deh aku. Ada yang kurang aja," balas Satria.


Indi tersenyum kecil. Bisa-bisanya suaminya itu. Padahal, mereka juga sudah menikah lama, hampir tiga tahun. Akan tetapi, sikap Satria sering kali manis dan itu membuat Indi senang dan malu-malu sendiri.


"Mas Satria mau minum jamu? Aku bikinkan," kata Indi.


"Boleh, Yang. Dingin yah. Gerah banget. Kenapa cuacanya sepanas ini yah?"


Menurut Satria cuaca di Jogjakarta sekarang menjadi begitu terik, sangat panas. Terkadang langit mendung, tapi bukan berarti turun hujan. Sangat gerah dan membuat berkeringat.


"Kan El Nino ini, Mas," balas Indi.


"Iya, dampaknya kekeringan di sejumlah wilayah yah? Untung negeri kita usai panen raya sehingga tidak gagal panen yah. Kasihan para petani kalau gagal panen karena sumber mata air mengering," kata Satria.


Memang dampak yang paling bisa dirasakan dari El Nino adalah mengeringnya sumber-sumber mata air yang sebelumnya dipergunakan untuk menyuplai irigasi pertanian. Padahal satu setengah bulan sebelumnya negeri ini sedang menikmati panen raya sehingga beruntung saja tidak gagal panen.


"Kalau petani rempah gimana, Mas?" tanya Indi.

__ADS_1


"Mereka juga butuh air sih, Yang. Cuma kan gak sebanyak sawah yang ditanami beras. Selain itu, ada kebun di kaki pegunungan itu yang dulu kita datangi. Airnya itu langsung dari gunung, katanya sih enggak pernah kering. Yah, semoga petani rempah atau Empon-Empon tidak terkena dampaknya."


Dalam istilah Jawa sendiri rempah sering disebut dengan Empon-Empon. Jahe, Kunyit, Serei, Kencur, dan berbagai jenis tanaman herbal disebut Empon-Empon. Para petani Empon-Empon juga membutuhkan air, walau memang tak sebanyak petani beras.


"Syukurlah, semoga saja tidak terdampak El Nino panjang ini," balas Indi.


Usai itu Indi membuatkan es Beras Kencur untuk suaminya. Berharap es ini tak hanya melegakan dahaga, tapi baik untuk daya tahan tubuh dan kesehatan.


"Diminum Papa. Mungkin Nakula dan Sadewa masih bobok. Mau makan? Aku ambilin," kata Indi.


"Belum lapar kok, Sayang. Tadi sudah berbagi mie instan sama kamu. Masih kenyang," balas Satria.


Akhirnya siang itu keduanya sedikit menikmati waktu siang berdua dengan menunggu Nakula dan Sadewa yang masih tidur. Kurang lebih dua puluh menit kemudian, Nakula dan Sadewa kompak bangun. Indi pun memberikan ASI terlebih dahulu untuk Nakula dan Sadewa.


"Udah sembuh lecetnya, Yang?" tanya Satria.


"Benar, Nang ... jangan digigit kasihan Mama kesakitan. Lagipula, Papa masih butuh itu loh," kata Satria dengan absurd.


Indi tertawa malahan. Bisa-bisanya suaminya itu berbicara demikian. "Papa puasa dulu yah. Hak miliknya menjadi milik Nang-Nang dulu," balas Indi.


"Iya-iya, Papanya Nang-Nang puasa dulu. Nang-Nang sehat dulu. Sampai lepas ASI yah," balas Satria.


Puas mendapatkan ASI, Nakula dan Sadewa yang sudah berkurang merengeknya mengajak Papanya bermain-main. Dua bayi kembar itu sudah bisa tertawa-tawa bersama. Hampir setengah jam berlalu, akhirnya Indi menyuapi kedua putranya itu.


"Maem dulu yuk, Nang," ajak Indi.


Akhirnya Satria mendudukkan Nakula dan Sadewa di baby chair dan Indi menyuapi kedua putranya itu. Kemarin Nakula dan Sadewa drama tidak mau makan, bahkan makanan urung dikunyah sudah dikeluarkan lagi. Sekarang, keduanya sudah mau makan dengan lebih lahap. Rasanya Indi banyak bersyukur dan berharap tidak ada demam tumbuh gigi lagi.

__ADS_1


"Sudah mau makan dibandingkan kemarin, Yang," kata Satria.


"Bener, Mas. Ini juga lebih lahap makannya," balas Indi.


"Semoga saja sehat ya, Yang. Kalau melihat anak-anak sakit itu, kita orang tuanya menjadi lebih sedih. Kan Nakula dan Sadewa kalau sakit belum bisa ngerasain yang sakit bagian mana, cuma bisa nangis. Itu malahan lebih membuat kasihan kan ke anak-anak. Berbeda mungkin nanti kalau mereka sudah jauh lebih besar dan bisa bilang yang sakit di mana, orang tuanya juga mulai tahu kan penanggulangannya," balas Satria.


"Benar, Mas ... setuju. Kalau gitu, punya baby lagi kalau Nakula dan Sadewa agak besar aja, Mas. Kalau mereka empat tahun gitu baru hamil lagi," balas Indi.


"Empat tahun?" tanya Satria.


"Hm, setidaknya Nakula dan Sadewa sudah bisa ngomong jelas. Kayak yang Mas sampaikan tadi setidaknya kalau sakit atau apa gitu kan Nakula dan Sadewa bisa mengatakan bagian mana yang sakit, bagaimana rasanya. Gitu sih. Setidaknya aku butuh waktu juga. Gimana?"


"Oke boleh saja kok, Yang. Aku tidak pernah menuntut. Ini badan kamu, Sayang. Wanita berhak dengan badannya. Hamil atau tidak itu adalah keinginan wanita. Yang pasti, sebagai suami aku akan selalu support."


"Makasih, Mas. Kamu sih selalu support aku terus. Nih, ampe habis makannya," balas Indi.


Tanpa disuruh Satria sudah mengambil tempat minum Nakula dan Sadewa berupa cangkir dengan pegangan di kanan dan kirinya, memberikannya satu per satu kepada Nakula dan Sadewa.


"Habis makan, minum air putih dulu yah," kata Satria.


Mulailah dua bayi itu heboh dan mau minum. Terlihat sangat excited memegangi pegangan layaknya telinga di bagian kanan dan kiri gelas plastik itu. Bibirnya pun maju-maju dengan lucu.


"Pelan-pelan minumnya, Nang. Jangan cepat-cepat. Mama dan Papa enggak minta kok."


"Sudah sehat, Ma. Keduanya sudah makan lahap dan mau minum air putih. Semoga gak demam lagi. Sakitnya udahan ya Nang. Sehat-sehat selalu. Papa sih berharapnya bahwa kamu selalu sehat. Tumbuh dengan baik Putranya Papa dan Mama."


Memang ini keinginan Satria dan Indi. Ketika anak sakit, keduanya sangat cemas. Namun, melihat anak kembali mau makan lahap, aktif, dan ceria, orang tua pun menjadi bahagia.

__ADS_1


__ADS_2