Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Cinta Mengubah Tatanan


__ADS_3

Pagi harinya, Indi terbangun lebih pagi tujuannya adalah tentu untuk membantu Ibu mertuanya di dapur. Sementara Satria terbangun karena hendak sholat subuh di Mushola, orang dan pekerja di rumahnya biasa menyebut Mushola dengan kata ganti Langgar. Sehingga, pagi itu memang semua sudah memulai aktivitasnya.


"Aku ke langgar dulu ya, Sayang," pamit Satria.


"Iya, Mas Satria ... hati-hati yah," balas Indi.


Ketika Satria turun, Indi memilih untuk menunaikan sholat sendiri di dalam kamarnya. Memulai pagi dengan bersujud kepada Sang Khalik. Setelahnya, Indi menguncir rambut panjangnya dan kemudian segera turun ke dapur. Tujuannya tentu untuk membantu Ibu mertuanya yang mulai menyiapkan sarapan.


"Pagi, Ibu," sapa Indi begitu sudah di dapur.


"Pagi, Mbak Indi. Kok bangunnya pagi banget. Enggak ikut Satria ke Langgar?" tanya Bu Galuh.


Indi menggelengkan kepalanya. "Tidak, Bu. Katanya kebanyakan yang sholat subuh di masjid kaum pria, Indi malu. Jadi tadi, Indi sholat sendiri di rumah," balasnya.


Bu Galuh menganggukkan kepalanya. Itu juga terjadi karena banyaknya pegawai laki-laki di pabriknya. Sehingga di Langgar itu memang banyak kaum pria yang menunaikan ibadah sholat.


"Mau memasak apa, Ibu? Biar Indi bantu," tanyanya.


"Mau memasak Tumpang, nanti memakai Daun Adas," balas Bu Galuh.


Indi tampak mengernyitkan keningnya. Baru sekarang Indi tahu ada Daun Adas. Sebab, biasanya di keluarganya kalau memasak Tumpang akan diberi sayur berupa Bayam yang direbus saja dan sedikit kecambah. Akan tetapi, di sini justru memakai Daun Adas.


"Kok, baunya kayak Mint yah, Bu?" tanya Indi lagi.


"Benar, Mbak ... ada rempah namanya Adas Pulowaras, untuk jamu. Nah, ini daunnya. Daun ini kaya serat dan bisa menurunkan risiko penyakit jantung. Enak kok. Mbak Indi bantuin merebus daun ini yah," kata Bu Galuh.


Akhirnya Indi membantu merebus Daun Adas itu. Setelah itu, dia membantu menggoreng tempe. Tempe yang dibeli Ibu Galuh pun adalah tempe yang dibungkus dengan daun Jati atau daun Pisang.

__ADS_1


"Mbak, tidak usah membantu," kata Bibi Nini yang sudah lama membantu sebagai ART di kediaman Negara.


"Tidak apa-apa, Bi. Sudah terbiasa kok kalau di rumah bantuin Bunda," balasnya.


Bibi Nini tersenyum, di dalam hatinya senang karena Mas Satria mendapatkan istrinya yang tidak hanya cantik dan lembut, tapi juga mau terjun di dapur. Indi seperti Bu Galuh kala muda dulu, sudah cantik, lembut, dan turun ke dapur.


Setelah itu, Indi melihat bagaimana Bu Galuh merebus jahe, kunyit, dan gula batu untuk membuat minuman jamu sendiri.


"Buat jamu, Bu?" tanyanya.


"Hanya Jahe dan Kunyit, biar selalu sehat, Mbak. Biar bugar," balas Bu Galuh.


Indi tersenyum saja mendengar ucapan Ibu mertuanya itu. Dia lebih memilih fokus menyelesaikan untuk membantu Ibunya. Sementara, Satria dan Rama Bima memilih untuk membeli beberapa rempah yang sudah dibawa beberapa petani di sana. Nantinya semua rempah akan diolah menjadi bahan baku jamu.


Hingga menjelang sarapan barulah Satria dan Rama Bima masuk ke dalam rumah. Aroma Tumpang dengan Daun Adas sudah menyapa indera penciuman mereka. Indi dan Bu Galuh pun melayani suaminya, dengan mengisi piring kosong mereka terlebih dahulu. Ada senyuman cerah di wajah Satria.


"Iya, Mas ... hanya bantuin dikit-dikit," balas Indi.


Tidak berselang lama sudah turun seorang gadis mengenakan seragam putih abu-abu yang turun duduk di meja makan itu. Siapa lagi kalau bukan Sitha, adiknya Satria.


"Pagi semuanya," sapa Sitha.


"Pagi," jawab semua yang ada di meja makan kepada Sitha.


"Wah, Sitha seneng banget ... di rumah ada Mas Satria dan Mbak Indi. Jadi rame. Bayangkan Mbak ... biasanya hanya ada Rama, Ibu, dan Sitha," ceritanya.


Tidak menampik suasana yang seakan sepi. Sebab, itu juga yang sering kali Irene ceritakan kepada Indi. Merasa sepi kala berada di rumah. Akan tetapi, bagaimana lagi karena Indi sudah tinggal bersama dengan suaminya. Di kediaman Ayah dan Bundanya juga hanya ada Ayah Pandu, Bunda Ervita, dan Irene.

__ADS_1


"Di rumah Ayahku juga, Dik ... hanya ada Ayah, Bunda, dan Adikku saja. Katanya sepi," balas Indi.


"Nanti kalau kamu sudah dinikahi pria, rumah ini akan bertambah sepi, Tha ... hanya ada Rama dan Ibu saja," balas Bu Galuh.


"Gak keburu menikah, Ibu. Sitha nanti kuliah di Solo saja, biar bisa menemani Ibu," balas Sitha.


Kepolosan dan kepribadian Sitha sedikit banyak mengingatkan Indi dengan dirinya sendiri dulu. Indi memilih kuliah di Jogjakarta supaya bisa dekat dengan Ayah dan Bundanya. Merasakan kehangat dalam lindungan orang tua. Barulah Indi benar-benar keluar, ketika Satria memboyongnya ke rumah. Untung saja, Satria tinggal di Jogja.


"Rama, apa pria yang boleh meminang Sitha besok juga harus dari kalangan Ningrat?" tanya Sitha.


Sebenarnya Sitha merasa takut untuk bertanya. Namun, agaknya jika harus dijodohkan dengan pria berdarah biru dan dari keturunan Ningrat, Sitha enggan. Kalau bisa berbicara jujur, Sitha memilih menemukan cintanya sendiri secara alamiah seperti anak-anak seusianya.


Rama yang tampak menikmati sarapannya kemudian mengangkat wajahnya perlahan. Suasana keakraban di meja makan pun berubah hening. Indi juga merasa tidak enak dengan jawaban yang hendak diberikan Rama. Seakan Indi menjadi sadar diri bahwa dirinya bukan dari kalangan Ningrat.


"Tidak harus, Sitha. Dapatkan pria baik-baik. Satu iman, memiliki akhlak yang baik, memiliki pekerjaan yang tetap," jawab Rama Bima.


Bu Galuh tersenyum, Sitha juga tersenyum, sementara Satria dan Indi merespons dengan menganggukkan kepalanya. Keluarga itu merasa senang karena Rama tidak lagi mematok bahwa anaknya tidak harus mendapatkan jodoh dari kalangan Ningrat. Syarat yang diberikan Rama pun terdengar lebih realistis.


"Matur nuwun, Rama," balas Sitha dengan tersenyum cerah.


"Sekolah dulu, Sitha. Gak usah buru-buru. Ingat langkahmu masih panjang," balas Rama Bima.


"Siap, Rama ... Sitha cuma bertanya kok. Alhamdulillah, senangnya Sitha," kata Sitha sekarang.


Rama Bima menaruh sendok dan garpu sebentar di piring, setelah itu dia berbicara kepada keluarganya. "Tatanan sudah berubah. Rama ingin belajar dari kesalahan di masa lalu. Kalau anak-anak bahagia dengan pilihannya mengapa tidak. Cinta ada kalanya bisa merubah tatanan bukan? Jadi, Rama berusaha belajar, membuka wawasan dan juga memperbaiki diri."


Bu Galuh tersenyum, sebagai istri dia merasa perubahan suaminya ini adalah hal yang baik. Pria yang semula keras, terkesan kaku, dan sekarang mau merubah dirinya. Bu Galuh yakin semua ini adalah proses, tidak perubahan sesaat sehingga Bu Galuh menerima baik perubahan suaminya itu. Kendati demikian Bu Galuh merasa sangat senang dengan perubahan suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2