Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Semua Orang Memiliki Masa Lalu


__ADS_3

Sepeninggal Bu Karti barulah Indi berbicara dengan suaminya itu. Rasanya Indi begitu iba dan terenyuh dengan nasib Bu Karti. Terlebih dengan sikap Yudha yang terang-terangan seolah malu dengan ibu kandungnya sendiri. Entah itu, malu karena profesi ibunya yang dulunya pembantu atau sekarang ibunya yang hanya bertani. Sedangkan ayah kandungnya diceritakan Bu Karti adalah putra sang majikan, sehingga tentu saja dari latar belakang yang berada.


"Kamu pasti langsung kepikiran yah?" tanya Satria.


"Iya, Mas. Kasihan Ibunya. Mana Yudha kayaknya gak mau mengakui Ibunya. Padahal kasih ibu itu sepanjang masa. Di balik semua kisah kita di masa lalu, tapi seharusnya anak tetap menerima orang tuanya. Jangan malu dengan orang tua kita sendiri," kata Indi.


Sebenarnya apa yang Indi katakan sangat benar. Anak-anak zaman sekarang sering kali malu dengan orang tuanya yang tak berada dan juga tidak memiliki derajat dan kekayaan berlimpah. Diantar orang tua dengan sepeda motor butut, atau penampilan orang tua yang lusuh membuat anak merasa malu.


"Penerimaan setiap anak itu masing-masing, Sayang," balas Satria.


"Aku tidak pernah malu. Aku dikatain orang anak tanpa nasab, anak penjual batik, atau anak liyan, semua kata-kata itu pernah masuk ke telingaku. Namun, aku tidak malu. Sedih? Tentu saja, tapi kalau malu sih tidak," balas Indi.


Memang dari kecil tidak ada yang mencibir Indi sebagai anak tanpa nasab. Sejak kecil tetangga sekitarnya tahunya memang Indi adalah putrinya Bunda Ervita dan Ayah Pandu. Hanya saja di sekolah, kadang teman-temannya mengatainya sebagai anak tukang batik. Ibunya bekerja di pasar, dan sebagainya. Setelah status kenasabannya terkuak barulah segelincir orang mengatainya sebagai anak tanpa nasab. Konotasi yang sering dikatakan bahwa dia adalah anak hasil zinah.


"Sedih ya, Yang," kata Satria perlahan.


"Awalnya sedih, tapi kenapa Farel anaknya Bapak Firhan mengungkap bahwa aku adalah anaknya Bapak yang tanpa nasab ya Mas? Padahal selama ini aku gak pernah punya masalah sama Farel. Bertemu juga jarang banget," kata Indi.


Seakan Indi terusik dengan ucapan Yudha perihal Farel. Bertemu dengan Farel saja bisa dihitung dengan jari, tapi bisa-bisanya Farel mengatakan hal seperti itu tentang Indi.


"Mau menanyai Bapak untuk itu?" tanya Satria.

__ADS_1


"Lain kali kalau ke Solo saja, Mas. Kalau bertanya melalui handphone kok rasanya enggak sopan deh. Gak apa-apa kok, aku gak akan kepikiran," balas Indi.


Satria kemudian menganggukkan kepalanya. "Janji loh yah. Gak boleh kepikiran. Nanti tiba-tiba malamnya gak bisa tidur karena kepikiran terus. Aku sangat mengenal kamu, Sayang."


Satria mengungkapkan semuanya dengan jujur bahwa dia sangat mengenal Indi. Istrinya itu jika sedang kepikiran dengan sesuatu pastilah terus tidak bisa tidur. Hanya mengubah posisinya di tempat tidur, tapi matanya enggan untuk terpejam.


"Si paling ngertiin aku banget sih," balas Indi.


"Kamu kan sigaring nyawaku. Separuh aku ya kamu, Sayang. Jadi ya sudah tahu ta. Apa pun itu ya sudah tahu," balas Satria.


Indi kemudian tersenyum tipis. Dimengerti oleh suami sendiri rasanya sangat bahagia. Namun, sesaat kemudian dia kepikiran lagi dengan Bu Karti.


"Dulu Mas Satria diasuh Bu Karti lama yah?" tanya Indi.


"Ish, Den Satria ... jadi pengen tahu masa kecil kamu dulu," balas Indi.


"Apaan sih, Yang. Kan masa kecilku bisa kamu lihat di sosok Nakula dan Sadewa. Mirip kok," balas Satria.


"Bu Karti baik, Mas?" tanya Indi lagi.


"Baik. Dulu aku ingat sering banget gendongin Sitha. Kan Sitha waktu kecil sering tantrum. Cengeng gitu anaknya, jadi sering tuh digendong Bu Karti memakai jarik gendong," cerita Satria.

__ADS_1


"Kalau aku membayangkan kok sedih yah, Mas. Bu Karti terpisah jauh dari anak kandungnya, terus mengasuh anak majikannya apa enggak sedih yah hatinya. Keingat terus pastinya sama anak kandungnya sendiri," balas Indi.


"Mungkin yah, Sayang. Waktu itu aku masih terlalu kecil, jadi gak paham banyak hal. Sekarang setelah dewasa ya aku jadi tahu pastinya sedih yah. Mencoba menyalurkan kasih sayangnya untuk anak majikannya yah. Padahal hatinya setiap hari rindu kepada anak kandungnya sendiri," balas Satria.


"Berarti kalau begitu kisahku dan Yudha hampir sama. Walau Bapak biologisnya akhirnya bertanggungjawab, tetap saja di akte kelahiran yang tercantum hanya nama Ibu saja. Tidak ada nama Bapak di sana," balas Indi.


"Kalau keluarga kaya raya itu mengajukan pemutihan dokumen bisa saja, Sayang. Mungkin seperti itu kan aib," balas Satria.


Indi menganggukkan kepalanya. Benar yang Satria katakan bahwa bisa saja mengajukan pemutihan dokumen. Mencoba mengubah sesuatu dengan uang. Di kemudian hari supaya si anak tidak malu dengan asal-usulnya yang tanpa nasab.


"Bisa saja sih. Namun, kalau memang benar adanya awalnya ada rasa malu dan kecewa sih, Mas. Aku sudah pernah merasakannya," balas Indi.


Ya, kalau keluarga suaminya dulu datang dan membatalkan rencana pernikahan dan mempertanyakan siapa Bapak biologisnya karena yang tercetak di akte kelahiran hanya nama bundanya itu sempat membuat Indi sedih dan kecewa. Sedih karena sesayang dia dengan ayahnya, rupanya dia bukan anak kandung ayahnya. Kedua, kecewa karena Bundanya tak pernah menceritakan masa lalu itu. Hanya menyimpannya sendiri. Sampai suatu saat Indi yang tahu sendiri kebenarannya. Kian kecewa karena ada bayang-bayang tidak akan bersatu dengan pria yang juga dicintainya.


"Namun, responsmu positif, Sayang. Kecewa dan marah di kali pertama saja, setelah itu bisa menerima semuanya," kata Satria.


"Ya, kalau aku tidak memaafkan Bapak dan sebagainya juga tidak ada gunanya, Mas. Masa lalu tidak pernah bisa diubah. Yang ada ketika terjerat dalam masa lalu, aku tidak akan pernah bisa maju, melangkahkan kakiku ke depan. Hm, begitulah."


"Semua orang memiliki masa lalu. Begitu juga semua orang memiliki respons sendiri-sendiri terhadap masa lalunya. Yang jelas jangan menyalahkan masa lalu. Sebab, dari masa lalu kita belajar untuk memetakan masa depan. Tidak apa-apa. Hidup manusia berjuta warna, dan semua atas izin Allah," kata Satria.


"Iya, semoga Yudha bisa mengakui ibunya. Kasihan Bu Karti ...."

__ADS_1


"Benar, semoga saja. Ya sudah, sehabis ini kita pulang yah. Sudah hampir sore, waktunya untuk memandikan Nakula dan Sadewa. Baru kali ini kita nitip agak lama," balas Satria.


Indi menganggukkan kepalanya. Senang setiap kali bisa berbicara dengan suaminya. Lalu, merefleksikannya untuk diri sendiri. Sebab, hidup ini adalah tentang belajar merespons dan Indi selalu belajar untuk melakukannya. ❤️


__ADS_2