Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Sikap Tak Terpuji Yudha


__ADS_3

Selang tiga pekan kemudian ....


Satria mendapatkan undangan untuk menghadiri pertemuan para pengusaha muda di Jogjakarta. Satria sebenarnya belum menjadi pengusaha. Akan tetapi, Rama Bima meminta kepada Satria untuk bisa menghadiri acara itu. Sebab, produksi di pabrik jamu begitu banyak, selain itu karena acaranya berada di Jogjakarta, Rama Bima meminta tolong kepada Satria untuk datang atas namanya.


"Sayang, lusa temani aku yah?" pinta Satria kepada istrinya itu.


"Ke mana emangnya, Mas?"


"Menghadiri forum pengusaha di tempat ini. Mewakili Rama sih. Katanya mumpung acaranya di Jogjakarta, kita saja yang datang. Bagaimana, bisa enggak? Aku kalau sendirian saja rasanya gak enak, Yang. Gak bisa jauh dari kamu."


Mendengarkan apa yang dikatakan oleh suaminya, Indi tersenyum. Padahal Satria pergi sendiri. Namun, di berbagai waktu dan kesempatan, Satria justru nyaman kalau Indi turut menyertainya. Daripada pergi sendiri, dan Indi tak menyertainya, Satria lebih memilih tidak hadir.


"Konsepnya gala dinner atau apa Mas? Cewek kan butuh banyak waktu untuk persiapan. Kalau dadakan enggak bisa loh," kata Indi.


"Mungkin hanya makan malam, dan sedikit sambutan. Kayak forum pengusaha itu saja, Sayang."


"Mas Satria gak malu ngajak aku?" tanya Indi.


Dengan cepat Satria menggelengkan kepalanya. "Enggak, enggak malu sama sekali. Kenapa juga aku harus malu? Justru aku selalu bangga memiliki istri seperti kamu, Sayang. Pinter, baik, lemah lembut, keibuan banget. Kurang apa lagi coba," puji Satria.


"Kamu ini, bisa saja. Ya sudah, aku telepon Bunda dulu, Mas. Harus menitipkan Nakula dan Sadewa lagi. Tidak mungkin kan, di acara formal seperti ini membawa Nang-Nang?"


Satria kemudian menganggukkan kepalanya. Dia setuju dengan apa yang Indi katakan. Forum pengusaha ini adalah acara resmi, jadi memang lebih baik ketika Nakula dan Sadewa dititipkan kepada Eyang Nda terlebih dahulu.

__ADS_1


...☘️☘️☘️...


Dua Hari Kemudian ....


Hari ini justru Nakula dan Sadewa akan menginap saja di kediaman Ayah Pandu dan Bunda Ervita. Menurut Bunda Ervita, sesekali biarkan saja Nakula dan Sadewa menginap sendiri tanpa orang tuanya di rumah Eyangnya. Walau sebenarnya Bunda Ervita memiliki harapan lain, dia berharap putrinya itu memiliki waktu lebih dekat dengan suaminya. Siapa tahu, waktunya bisa dimanfaatkan berdua dan akan ada anggota keluarga baru nantinya.


Sekarang, Satria dan Indi bersiap ke salah satu hotel tempat diselenggarakannya forum pengusaha itu. Satria tampan keren dan rapi dengan blacksuit, sementara Indi mengenakan gaun panjang.


"Kayak mau ke mana aja deh kita berdua ini," kata Indi dengan terkekeh perlahan.


"Kayak acara penghargaan artis yah, Yang," balas Satria.


"Iya, Mas. Padahal kalau menghadiri pernikahan teman, kerabat, atau tetangga cuma berkebaya atau mengenakan batik. Sekarang harus memakai gaun seperti ini. Cocok enggak, Mas?" tanya Indi lagi.


Satria mengamati penampilan istrinya itu. Kemudian Satria menganggukkan kepalanya."Cocok, cantik banget Bu Satria ini," balas Satria.


Sayangnya, di acara itu Satria dan Indi justru bertemu dengan Yudha. Pria itu tampak tersenyum menyeringai waktu melihat Indi dan Satria hadir di sana. Lantas, dia berdiri di hadapan Indi dan Satria dengan menggelengkan kepalanya.


"Wah, wah, wah ... ketemu lagi dengan pasangan hits di sini," kata Yudha.


Satria menghela napas panjang. Rasanya Yudha tak pernah jemu untuk membuat masalah dengannya. Jujur, sikap Yudha yang seperti ini mengganggu Satria.


"Tidak usah mencibir, Yud," balas Satria.

__ADS_1


"Tidak ada yang mencibirmu. Lagian untuk apa aku mencibir kalau wanita yang berdiri di sampingmu itu hanya anak haram. Ups, salah ... tanpa nasab, tanpa memiliki bapak kandung."


Ucapan dan sikap Yudha ini sangat tak terpuji. Dia hanya memandang rendah seseorang berdasarkan status sosialnya. Menghakimi bahwa Indi sejatinya adalah anak haram.


"Kalau anak yang tanpa nasab itu haram? Bagaimana dengan dia yang lahir di luar nikah? Yang ketika dewasa justru menolak ibu kandungnya sendiri? Andai ada ibu layaknya ibu yang suka mengutuk, kamu sudah menjadi Malin Kundang, Yud," balas Satria dengan tegas.


"Sialan kamu, Sat! Bicaramu benar-benar kasar. Brengsek!"


Yudha sudah mengumpat Satria dengan kasar. Seketika Yudha menjadi emosi dengan apa yang dikatakan oleh Satria. Tanpa basa-basi, Yudha mendorong Satria dan memukul Satria dengan kepalan tangannya. Tak ingin kalah, Satria pun melakukan hal yang sama. Tentu saja baku hantam di sana memicu atensi dari para undangan yang hadir. Hingga akhirnya ada seorang pengusaha properti dari Jakarta melerai keduanya.


"Stop, hentikan. Kalian berdua Kekanak-kanakan sekali!"


Indi sendiri sudah berkaca-kaca melihat suaminya yang kena pukul Yudha. Indi segera membantu Satria dan menggenggam erat tangan suaminya itu.


"Sudah, Mas ... biarin aja," kata Indi.


"Dia menghina dan merendahkan kamu. Dia tak bercermin sebenarnya dia itu siapa," balas Satria.


Akhirnya pengusaha properti itu memediasi keduanya. Mendamaikan keduanya, sekaligus mendengarkan sudut pandang keduanya. Di batas itu saja Yudha masih terus-menerus menjelekkan Indi dengan status dirinya yang tanpa nasab. Mencibir bahwa Indi ssma sekali tidak layak menjadi menantu keluarga Ningrat yang terhormat. Sungguh, ucapan Yudha sangat menyakiti hati Indi.


"Sudah, Yudha. Jangan merendahkan orang lain. Jangan membuka aibnya. Allah saja menutupi aib seseorang, masak hambanya justru membuka aib sesamanya," kata Pengusaha properti dari Jakarta itu.


"Dia gak layak, Pak... murahan sekali" sahut Yudha dengan menunjuk-nunjuk Indi.

__ADS_1


"Jangan begitu. Hari ini kamu merendahkan orang lain dengan membuka aibnya, jangan sampai suatu hari nanti ada orang lain yang merendahkan kamu."


Satria berusaha membesarkan hati dan kepercayaannya Indi. Jangan merendahkan orang lain. Daripada terkena batunya di lain hari.


__ADS_2