Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Berhasil Menyapih


__ADS_3

Setelah hampir sepekan berlalu, akhirnya Indi dan Satria berhasil juga untuk menyapih Nakula dan Sadewa. Kedua anak kembar itu tidak lagi menangis setiap kali diberikan Susu formula. Walau hari bekerja, di mana Satria tentunya juga bekerja, tapi Indi bisa melewati dengan tenang dan tetap bersabar.


Untung saja ada Bunda Ervita yang datang ke rumah Indi dan membantu mengasuh Nakula dan Sadewa.


"Berhasil akhirnya, Mbak Indi?" tanya Bunda Ervita.


"Akhirnya Bunda. Hampir sepekan ini, Indi sebenarnya banyak gak teganya. Untungnya Mas Satria yang teguh banget hatinya. Yang menguatkan Indi banget, Nda."


Indi menceritakan perasaannya kepada Bunda. Untuk Indi sendiri, Bundanya itu juga adalah sahabatnya. Sosok yang Indi percayai untuk bisa menceritakan apa pun.


"Itulah fungsinya pasangan. Ketika yang satu lemah, maka yang lain harus lebih kuat supaya bisa menolong. Kamu juga tahu bagaimana Ayah dan Bunda selama ini. Bergantian, kamu menopang satu sama lain. Kami menguatkan, menghibur, dan mengisi satu sama lain. Nda berharap kamu dan Satria juga bisa melakukan yang sama."


Mendengar ucapan Bunda Ervita, Indi menganggukkan kepalanya. Potret keluarga yang dia lihat memang dari Yayah dan Bundanya. Sebab, seumur hidupnya Indi melihat sendiri bagaimana kedua orang tua selalu solid bahkan pernikahan keduanya sudah berlangsung lebih dari 25 tahun.


Silver Wedding bukan berbicara mengenai angka, tapi komitmen panjang yang berhasil dilakukan kedua pasangan untuk bisa mengisi satu sama lain. Waktu yang dihabiskan bersama dengan segala pasang dan surutnya ternyata benar-benar menjalin ikatan secara hati. Itu yang Indi lihat dari sosok kedua orang tuanya.


"Setuju sekali, Nda. Bersyukur Indi benar-benar mendapatkan pasangan seperti itu dari Allah. Mas Satria sama baiknya dengan pria idolanya Indi yaitu Yayah. Dulu sewaktu kecil, Indi pernah mengagumi Yayah dan ingin suami seperti Yayah. Ketika sekarang Indi sudah dewasa, suami yang Allah berikan juga sebaik Yayah. Alhamdulillah."

__ADS_1


Indi mengatakan semuanya itu dengan jujur. Dia merasakan sendiri bahwa Satria adalah sosok yang sama baiknya seperti Yayahnya. Ayah Pandu mungkin memang bukan Ayah kandungnya, tapi di mata Indi sendiri figur idola tetaplah Yayah Pandu.


"Alhamdulillah. Kamu sudah mendapatkan jodoh yang tepat dan sepadan. Semoga nanti Adekmu juga mendapatkan pasangan yang baik," kata Bunda Ervita.


"Aamiin, Bunda. Semoga Irene nanti juga mendapatkan pasangan yang sepadan. Pasangan bukan hanya pilihan diri sendiri, tapi pilihan dari Allah," balas Indi.


Di dalam hatinya Indi juga berharap bahwa adiknya nanti juga akan mendapatkan jodoh seorang pria yang baik. Setidaknya memiliki akhlak yang baik. Jikalau bisa juga sebaik dan sesabar Ayah Pandu, idolanya.


"Doakan Mbak Didi ... apalagi sebentar lagi Irene sudah mau lulus kuliahnya. Semoga aja nanti ke depannya bertemu dengan jodoh yang baik. Ya, walau Bunda kadang kepikiran siapa yang Irene pertanyakan dulu perihal pria yang pernah gagal di masa lalu?"


Dulu, Irene memang sempat bertanya kepada Ayah dan Bundanya bagaimana kalau dia menjalin hubungan dengan pria yang dulunya pernah gagal. Kala itu Ayah Pandu dan Bunda Ervita tidak masalah. Asalkan satu iman, memiliki pekerjaan, dan memiliki karakter yang baik. Ayah Pandu juga tidak mempermasalahkan asal-usul atau pun bibit, bobot, dan bebetnya. Kalau itu pilihan Irene, tidak masalah.


Bunda Ervita kemudian menganggukkan kepalanya."Tepat sekali, sama seperti Bunda. Siapa sangka Bunda akan tinggal di Jogjakarta. Dulu saja Bunda tidak pernah keluar Solo, akhirnya ke Jogja, diterima dengan baik oleh keluarga Eyang Hadinata dan juga mendapatkan Ayah kamu yang baiknya luar biasa. Ayahmu seolah adalah anugerah dan kebahagian dari Allah untuk setiap air mata yang dulu pernah Bunda titikkan."


Bunda Ervita berkaca-kaca menceritakan kisahnya dulu. Kisah yang tak sepenuhnya baik. Justru banyak duka kala terusir dari rumah, hamil tanpa suami yang membawa cela, melahirkan pun seorang diri. Setiap hari seolah Bunda Ervita berjalan di lembah air mata. Namun, di balik hari-hari berselimut duka itu adalah kebahagiaan yang Allah sisipkan di sana.


"Pun, Bunda bahagia melihat kamu dan Satria yang terbilang masih sama-sama muda, tapi bisa mengisi satu sama lain. Biasanya, pasangan muda masih memiliki ego yang tinggi. Tak jarang mereka sering adu mulut. Namun, kamu dan Satria terlihat adem ayem. Bisa bekerja sama, kompak juga saat mengasuh anak," kata Bunda Ervita.

__ADS_1


"Sebenarnya pernah berdebat juga sih, Nda. Wajar namanya dua orang yang berbeda karakter dan latar belakang. Cuma enggak ribut aja. Maklum, ada sedikit bumbunya. Kadang Indi juga ngambek-ngambek sedikit. Gak banyak kok," balas Indi dengan terkekeh.


Bunda Ervita kemudian tertawa. Yang dikatakan Indi juga ada benarnya. Pernikahan yang benar-benar mulus rasanya tidak ada. Entah itu sedikit adu mulut atau ngambek, sudah menjadi bumbu dalam berumahtangga. Yang penting apa pun bumbunya tidak sampai membuat masakan itu hancur.


"Menyapih ini bagaimana, di dada kamu dikasih kunyit? Kan Nang-Nang jijik nanti lihat warnanya oranye," tanya Bunda Ervita.


Tradisi lama di Jawa, orang-orang kala menyapih anak akan memberikan kunyit di puncak dadanya. Biasanya anak-anak tidak suka warna oranye dan juga ketika dihisap rasanya aneh di mulut. Anak-anak akan menangis dan akhirnya tidak mau lagi meminum ASI.


"Enggak dikasih apa-apa kok, Nda. Cuma dialihkan perhatiannya Nang-Nang aja. Kalau nangis minta ASI ya kita yang tenang dan sabar. Mas Satria bilang kuncinya sabar. Jangan emosi saat anak-anak nangis," kata Indi.


Bunda Ervita menganggukkan kepalanya. "Bener banget. Biasanya mendengar anak nangis, orang tuanya yang menjadi tidak sabar dan juga darah langsung naik. Hebat dong, Nda kira kamu memakai kunyit."


Indi tertawa. Sungguh, dia tidak menggunakan apa-apa, entah itu Kunyit atau semacam obat untuk gondong yang berwarna ungu juga tidak. Semuanya alamiah. Kuncinya hanya memperpanjang sabar dan terus bekerja sama berdua. Selain itu peran dan support dari Satria juga sungguh luar biasa.


"Sudah berhasil menyapih Nang-Nang. Istirahat sebentar, habis ini hamil lagi. Bunda doakan cewek," kata Bunda Ervita.


"Doakan saja, Nda. Dulu sih pengennya setidaknya Nakula dan Sadewa sudah lulus ASI S2, sampai mereka dua tahun. Sekarang sudah terlampaui. Senang banget. Nanti kalau Allah berikan lagi kepercayaan juga tidak apa-apa. Dijalani dan dinikmati saja, Nda."

__ADS_1


Layaknya kehidupan yang mengalir, begitu juga Indi lebih ingin menikmati aliran sungai itu. Sudah selesai dan berhasil menyapih ASI untuk kedua putra kembarnya. Andai kata nanti Allah percaya buah hati lagi Indi dan Satria juga sudah siap.


__ADS_2