Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Sumber Kebahagiaan adalah Allah


__ADS_3

Usai berbicara dengan Rama Bima, Indi segera keluar dari Oemah Jamu. Dia merasa sedih sebenarnya ketika seorang ayah mengatakan bahwa tanpa restu darinya, kehidupan rumah tangga tidak akan bahagia. Jujur, semua anak, semua orang menginginkan restu dari kedua orang tuanya. Bukan hanya salah satu saja. Akan tetapi, yang terjadi sekarang justru sebaliknya, hanya Bu Galuh dan Eyang Dirja yang memberikan restu. Sementara, ayah kandung Satria sendiri belum memberikan restunya.


Begitu sudah keluar, rupanya Satria sudah menunggu istrinya. Pria itu segera keluar dari mobilnya, begitu melihat Indi. Sudah pasti Satria merasa kangen. Ketika, dia masih cuti dan santai, istrinya justru sudah harus kembali bekerja padahal mereka adalah pasangan pengantin baru.


Dari dalam Oemah Jamu, Rama Bima melihat putranya itu yang menjemput Indi. Ini pun pertemuan tak bertatap muka, sejak Satria memutuskan keluar dari rumah. Dari sudut pandangannya, juga terlihat Indi yang mencium punggung tangan suaminya ketika mereka bertemu.


Jika mau berbicara jujur, tidak pernah ada kehangatan seperti itu dalam rumah tangganya. Paling-paling Bu Galuh hanya mengantar suaminya itu hingga ke depan pintu rumah. Sementara di sana Indi tampak memberi salam takzim kepada sang suami. Pun dengan Satria yang terlihat sangat bahagia.


"Aku yakin, Satria ..., kebahagiaan kalian berdua hanya semu. Tidak akan berlangsung lama. Satu dari kedua orang tuamu tak memberikan restu, jadi tidak mungkin rumah tangga akan bahagia," gumam Rama Bima seorang diri.


Sementara di luar sana, Satria melihat wajah Indi yang lelah. Pria itu membukakan pintu mobil untuk Indi dan mempersilakan istrinya itu untuk masuk ke dalam mobi. Usai itu, barulah Satria mengitari mobil dan kemudian mulai melajukan mobilnya perlahan-lahan.


"Bagaimana kerjanya, Sayang? Karina gangguin kamu enggak?" tanya Satria.


Tujuan Satria bertanya demikian karena memang dia tahu seperti apa sifat dan karakter Karina. Sehingga, Satria merasa cemas jika Karina mengganggu Indi.


"Aman, Mas. Aku bisa melawannya kok. Yah, walau dia merasa bahwa aku merebut jodohnya. Namun, sekarang posisinya lebih kuat aku bukan? Aku yang menjadi istrimu, aku yang memilikimu. Jadi, aku tidak salah. Yang penting aku tidak merebut suami orang lain," cerita Indi.


Satria menganggukkan kepalanya. Dia setuju dengan apa yang Indi sampaikan. Bahwa memang posisinya menang Indi, lebih kuat Indi karena Indi adalah istrinya. Memang tujuan Satria segera menikahi Indi, untuk menguatkan posisi mereka berdua. Jika memang sudah menikah secara resmi, tidak mungkin pihak yang keberatan akan memisahkan keduanya.


Sama seperti Ramanya yang pasti akan berpikir berkali-kali untuk memisahkan keduanya, karena hubungan mereka jauh lebih kuat. Bukan sekadar pacaran, atau tunangan, melainkan adalah pernikahan yang sah di mata agama dan negara.


"Kamu seharian ngapain aja, Mas?" tanya Indi.


"Nemenin Bunda ke kafe batik tadi. Kebetulan Eyang juga menurunkan batik banyak, jadi aku sekalian bantuin," balas Satria.

__ADS_1


"Wah, usaha maksimal untuk menjadi menantu kesayangan nih," balas Indi.


Hingga akhirnya, keduanya sama-sama tertawa. Indi saja membayangkan bagaimana seorang Satria membantu untuk bongkar muat batik. Sebab, Eyangnya kalau bongkar muat bisa berjam-jam dan sangat banyak.


"Capek berarti dong, Mas?" tanya Indi.


"Enggak juga, kalau capek kan bahagia. Bisa lebih dekat dengan keluargamu," balas Satria.


Ya, itulah Satria, dia menginginkan untuk bisa lebih dekat dengan keluarga Hadinata. Dia ingin benar-benar ngeblend dengan keluarga istrinya, menjadi bagian dari keluarga Hadinata. Sebab, Satria ingin bahwa dengan menikahi Indi, dia bukan orang asing, tapi keluarga. Begitu juga nanti kalau ada restu Ramanya, Satria juga ingin mendekatkan Indi dengan keluarga Ramanya, keluarga Negara.


Malam harinya, usai makan malam Indi dan Satria sudah berada di kamarnya. Tampak Indi bersandar di lengan suaminya. Menikmati waktu tenang dan santai dengan suaminya.


"Kenapa diem aja?" tanya Satria.


"Gak apa-apa, Mas. Kan aku sebenarnya memang pendiam," balas Indi.


"Mas, kamu percaya tidak kalau pernikahan tidak mendapatkan restu kedua orang tua itu akan membuat rumah tangga menjadi tidak bahagia?" tanya Indi.


Sebenarnya ini adalah cara Indi untuk berbagi kegundahan di dalam hatinya. Dia ingin mendengar bagaimana pandangan seorang Satria akan hal ini.


"Kenapa, Sayang? Kamu takut kehidupan rumah tangga kita tidak bahagia karena tanpa restu Rama?" tanya Satria.


"Tidak, aku hanya bertanya saja bagaimana pendapatmu," balas Indi.


Satria beringsut, sekarang dia duduk dan menatap Indi. Untuk membahas semua ini, Satria ingin serius dengan Indi.

__ADS_1


"Sumber kebahagiaan dalam hidup, sumber kebahagiaan dalam rumah tangga adalah Allah, Sayang. Cari Allah, dekat ke Allah. Semakin dekat kita dengan sumber kebahagiaan yang sejati, insyaallah kita akan bahagia," balas Satria.


"Iman dan amal saleh ya, Mas?" tanya Indi.


"Benar sekali. Pangkal kebahagiaan adalah iman kepada Allah, yang diwujudkan dalam amal shaleh. Pasangan suami istri yang sepakat untuk mewujudkan keimanan dan amal saleh dalam rumah tangga akan dilimpahkan kebahagiaan oleh Allah SWT."


Apa yang Satria ucapkan ini sejalan dengan QS. An-Nahl: 97, Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.


"Kita akan bahagia, Sayang. Selama pangkal rumah tangga kita adalah Allah. Jangan membebani diri dengan hal demikian," kata Satria lagi.


"Iya, Mas ... aku hanya sekadar bertanya kok," balas Indi.


"Tidak apa-apa, Sayang. Kehidupan rumah tangga memang seperti ini, kita bisa bertukar pikiran bersama. Kamu masih ragu?" tanya Satria.


"Tidak, aku hanya bertanya saja. Sebab, ada orang mengatakan bahwa ketika pernikahan tidak mendapatkan restu dari kedua orang tua akan dijauhkan dari kebahagiaan," jawab Indi.


"Ku kira tidak, kita dekat dengan Allah saja. Selain itu menjalankan prinsip lain seperti mengasihi dan menyayangi, mendahulukan kewajiban daripada hak, supaya keseimbangan dalam rumah tangga terus terjalin," balas Satria.


"Aaminn ... kita berdua punya PR banyak dan harus banyak belajar ya, Mas. Bimbing aku ya, Mas," pinta Indi.


Satria mendekat. Pria itu memangkas jarak yang wajahnya yang tidak seberapa dengan Indi, lantas Satria melabuhkan bibirnya di kening Indi.


Cup.


Bibir itu bertengger di sana untuk beberapa saat lamanya, Satria saja sampai memejamkan matanya.

__ADS_1


"Insyaallah, aku akan membimbing kamu. Kita belajar sama dalam pernikahan kita. Memang tidak sempurna, tapi jatuh bangun dalam dalam proses belajar, kita akan menjalaninya bersama-sama."


Tidak ada yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah semata. Akan tetapi, dalam proses belajar yang berlangsung sepanjang hayat, keduanya akan menjalani bersama-sama. Memohon tuntutan Allah dan menikmati semua proses yang ada.


__ADS_2