
Usai menikmati kuliner legendaris di kaki Gunung Lawu, sekarang Rama Bima mengajak rombongan menuju ke Kebun Stroberi yang berada di Sekipan, Tawangmangu. Sayang rasanya kalau sudah di kaki Gunung Lawu dan hanya berwisata kuliner. Oleh karena itu, Rama Bima sekaligus mengajak ke wisata alam.
"Kita ke Bukit Sekipan yah," ajak Rama Bima.
"Wah, ini benar-benar diajak Pak Bima piknik nih," balas Ayah Pandu.
"Iya, Pak Pandu. Mumpung di sini. Ada pasar sayuran juga, nanti bisa dibawa pulang."
Terlihat bagaimana ramahnya Rama Bima dan Bu Galuh, keduanya ingin menjamu dan memperlakukan besannya dengan sangat baik. Sementara Ayah Pandu dan Bunda Ervita menjadi sungkan malahan. Namun, keduanya tetap mengikuti ke mana besannya mengajaknya.
Mengendarai mobil hanya sepuluh menit dan sekarang mereka sudah tiba di Bukit Sekipan. Langit yang biru, pepohonan cemara hijau menjulang tinggi, dengan perbukitan hijau. Ditambah dengan udara yang sejuk menjadikan tempat itu sangat pas dikunjungi untuk healing.
"Bumil healing dulu. Dekat dengan alam, biar stressnya hilang Mbak Indi," kata Bu Galuh.
Indi belum berbicara, seakan ibu mertuanya sudah tahu bahwa Bumil juga membutuhkan healing. Dekat dengan alam, menikmati keindahan alam, dan tentunya menjadi lebih banyak bersyukur.
"Sejuk banget nggih, Bu," kata Indi.
Bu Galuh kemudian menganggukkan kepalanya. "Benar Mbak Indi. Kalau mau healing main ke Solo. Nanti biar diajak Satria healing ke pegunungan," balas Bu Galuh.
"Iya, Bu. Sebelum nanti kandungannya semakin besar. Mau diajak Mas Satria main-main dulu," balas Indi.
"Kan Mbak Indi juga sehat dan enggak mabuk dan teler, jadinya enak banget bisa kemana-mana. Ibu dulu waktu hamil Satria juga sehat banget, waktu hamil Sitha itu yang teler, Mbak Indi."
"Wah, hamil Sitha itu Ibu kamu banyaknya di kasur, Mbak Indi. Mencium aroma yang aneh-aneh gitu langsung teler. Rama jadinya sering kemana-mana sendiri. Ibu di rumah," imbuh Rama Bima.
"Apa gara-gara hamilnya anak cewek yah, Bu?" tanya Indi.
"Mungkin saja. Kalau enggak memang bawaan bayinya. Ibu sih hamil Satria enak, sehat banget. Hanya saja dulu Ibu banyak menghabiskan waktu di Jogjakarta. Pas melahirkan baru pulang ke Solo," cerita Bu Galuh.
"Kalau kelahiran Jogjakarta enggak jadi kelahiran Jogjakarta nanti gak jadi Putra Solo yah, Sat," balas Ayah Pandu.
__ADS_1
"Nggih, Yah. Jadi Putra Jogja nanti," balas Satria.
Di perbukitan itu, akhirnya Satria mengajak Indi untuk berjalan-jalan berdua. Kapan lagi bisa menikmati suasana dengan latar perbukitan beratapkan langit biru yang sangat indah seperti ini. Selain itu, Bunda Ervita dan Bu Galuh juga asyik mengobrol.
"Bagus enggak? Aku dulu waktu SMA pernah kemah di sini loh, Sayang. Kan ada area perkemahan di sana," cerita Satria.
"Kemahnya sesekolahan atau cuma sama teman-teman tog, Mas? Hm, sama Karina dong?" tanya Indi.
Mengingat masa SMA, seketika Indi teringat dengan Karina. Ya, karena Karina adalah teman SMA nya suaminya itu. Indi juga sebenarnya hanya sekadar bertanya saja.
"Enggak ... sama pencinta alam di sekolah. Kamu juga ingat waktu di kampus kan aku menjadi bagian Mahasiswa Pencinta Alam juga, pernah camping ke Merapi dan tempat lainnya," kata Satria.
Mendengarkan cerita Satria, Indi kemudian menganggukkan kepalanya perlahan. Indi juga ingat dulu suaminya itu memang masuk dalam kelompak Mapala di kampusnya. Dulu, juga Satria pernah mengirimkan foto saat dia berada di Merapi.
"Aku ingat foto yang kamu kirimkan ke aku di Merapi waktu itu. Ala-ala bawa kertas HVS ditulisin," balas Indi.
"Kan pesan, aku mau tulis I Love U waktu itu. Nanti kamu kaget, kan waktu itu kamu masih sama Yudha," balas Satria.
Setelah tadi nama Karina dibahas, sekarang menjadi nama Yudha. Indi kemudian tertawa. Kadang kala mengingat masa lalu ada beberapa hal yang membuat tertawa sendiri. Namun, dari masa lalu lah manusia belajar. Merespons satu peristiwa dan mengambil keputusan untuk hal-hal yang terjadi.
"Bukan membahas, tiba-tiba saja keingat. Untung banget, Sayang. Kalau aku gak ngebuntutin kamu dulu, pasti kisahnya tidak akan jauh berbeda maaf dengan Bunda. Untung saja, Sayang," kata Satria dengan menghela napas.
Satria merasa beruntung dan memang memiliki perasaan tidak enak waktu itu. Saat itu, memang Satria dengan inisiatifnya sendiri memilih membuntuti Indi. Untunglah Indi bisa lolos dari jerat buaya. Kalau saat itu jika Yudha berhasil mengambil mahkota Indi, pastilah nasib Indi tidak jauh berbeda dengan Bunda Ervita. Untung saja, Indi berhasil lari dan memberikan perlawanan. Usai itu, Satria yang mengajak Indi dan menenangkan sahabatnya itu. Dengan begitu gentle-nya, Satria bahkan meminjam jaketnya untuk Indi.
"Makasih udah ngikutin aku waktu itu. Makasih, Mas. Dari dulu, walau kita sahabatan, kamu selalu bantuin aku," kata Indi.
"Aku menjaga calon jodohku sejak dulu yah. Aku memiliki andil besar," kata Satria sekarang.
"Oh, jadi sejak dulu sudah menjadi calon jodoh?" tanya Indi.
"Iya dong, ku sebut namamu dalam sujudku. Meminta Allah kalau memang kamu jodohku, aku ingin kita bisa semakin dekat. Alhamdulillah, doa di sepertiga malam dijawab Allah kan? Orang berkata ini adalah usaha jalur langit, Sayang."
__ADS_1
Satria mengungkapkan semua dengan wajah penuh senyuman. Walau begitu, Satria jujur bahwa dari dulu nama Indi lah yang selalu dia sebut dalam sujudnya. Kita berjodoh, dia mengharap dan memohon Allah untuk mendekatkan. Rupanya semua terjadi begitu saja, benih cinta pun muncul. Walau setelahnya ketika Satria ingin serius, ada saja halangan untuk penyatuan cinta keduanya.
Sementara Indi merasakan kehangatan melingkupi hatinya. Ya, dia senang mendengar namanya selalu disebut Satria dalam sujudnya. Itu saja sudah menjadi bukti bahwa suaminya benar-benar baik, dan banyak meminta petunjuk dari Allah.
"Lucu yah, Mas. Mengingat yang dulu-dulu. Kamu juga udah jadi sahabatku, udah tahu banget aku ini gimana," balas Indi.
"Tetap aja ada yang indah ketika menikah, Sayang. Mengetahui kebiasaan kamu dan lainnya. Menginap di pegunungan yang dingin-dingin gini enak yah," kata Satria dengan tiba-tiba.
"Iya, seger kali yah Mas. Healingnya kian mantap," balas Indi.
Setelah berbicara berdua, Satria mengajak Indi memetik Stroberi langsung dari kebunnya. Namun, Satria meminta Indi untuk tidak langsung memakannya. Sebab, bisa saja ada pupuk yang masih menempel di buah stroberi. Sisa-sisa kompos atau obat pembasmi hama. Semuanya juga untuk menjaga kehamilan Indi.
"Petik yang banyak, Mbak ... nanti tinggal ditimbang," kata Bu Galuh.
"Sedikit saja, Bu ...."
"Tidak mengincipi?" tanya Bu Galuh lagi.
Indi menggelengkan kepalanya. "Tidak Ibu, nanti kalau sudah dicuci saja. Takut ada sisa-sisa kompos yang masih menempel. Biar aman untuk bayinya Bu," balas Indi.
Bu Galuh menganggukkan kepalanya. Tidak mengira yang aneh-aneh, tapi justru suka ketika Ibu hamil bertindak hati-hati dan tidak ceroboh. Sebab, sekarang yang dijaga bukan hanya dirinya sendiri, tapi juga janin di dalam rahimnya.
"Lanjut Baby Moon, Sat," kata Rama Bima.
"Baby Moon bagaimana Rama?" tanya Satria.
"Ya, kamu dan Indi, Rama drop saja di hotel. Kalian menikmati waktu berdua. Nanti kalau sudah lahir bayinya kan sibuk mengurus bayi. Di dekat Air Terjun Grojogan Sewu ada hotel yang bagus. Besok Rama jemput. Semalam kan juga lumayan," kata Rama Bima.
Satria tersenyum, baru tadi dia menginginkan menginap di pegunungan. Rupanya sekarang sudah ada tawaran dari Ramanya. Walau memang hanya semalam, rasanya juga Satria ingin memanfaatkan waktu untuk Honeymoon juga dengan istrinya.
"Gimana mau enggak?" tanya Rama Bima.
__ADS_1
"Boleh, Rama. Lanjut healingnya," balas Satria.
Rama Bima menganggukkan kepalanya. Nanti dia akan menurunkan Satria dan Indi ke Hotel bagus yang ada di dekat Air Terjun Grojogan Sewu dan esok akan menjemput anak-anaknya. Memberi waktu berkualitas untuk Satria dan Indi berdua, supaya healing menjadi lebih puas.