
Baru saja Satria turun dan hendak membantu Indi untuk masuk ke dalam mobilnya, ada Ayah Pandu dan Bunda Ervita yang datang ke kediaman Satria. Terlihat Bunda Ervita yang panik melihat putrinya dengan wajah memerahnya, selain itu matanya Indi terlihat sembab. Bunda Ervita segera memeluk putrinya itu.
"Sakit sekali, Mbak Didi?" tanyanya.
"Sakitnya meningkat, Nda. Tadi enggak, lama-lama sakit."
"Biar Yayah yang bawa mobilnya, Sat. Kamu dan Indi duduk di belakang saja. Panik terus mengemudikan mobil malahan bahaya," kata Ayah Pandu.
Akhirnya, Ayah Pandu memarkirkan mobilnya di garasi terlebih dahulu. Kemudian Ayah Pandu yang mengemudikan mobil milik Satria, yang dipikirkan Ayah Pandu pastilah mobil menantunya itu sudah tersedia barang atau tas untuk bersalin. Bunda Ervita juga mengangguk setuju. Dia segera duduk di depan, sementara di belakang ada Satria dan Indi.
"Tahan yah, aku di sini. Ada Yayah dan Nda juga," kata Satria berusaha untuk menenangkan.
Indi menganggukkan kepalanya dengan menahan rasa sakit yang amat sangat. Indi menggenggam tangan Satria, setiap kali rasa sakit itu datang, Indi akan meremas tangan suaminya hingga memerah. Diremas Indi tentunya juga sakit, tapi Satria tidak masalah asalkan itu bisa sedikit mengurangi rasa sakit yang dirasakan oleh istrinya.
"Sudah memberitahu Rama dan Ibu, Sat?" tanya Bunda Ervita.
"Tadi sudah, Bunda. Satria belum mengecek handphone lagi. Minta tolong Bunda nanti mengabari Ibu bisa? Satria ingin fokus ke istri dulu," katanya.
"Ya, tentu bisa. Bunda yang akan mengirimkan pesan kepada Bu Galuh. Benar, fokus mendampingi Indi dulu."
"Masih jauh yah, Yah? Sakit banget perutnya Indi," kata Indi dengan mendesis kesakitan.
"Sebentar yah, Mbak. Sepuluhan menit lagi. Lalu lintasnya juga penuh jam segini. Sabar yah," balas Ayah Pandu.
Menemani Indi di belakang, Satria mengusapi perut istrinya. Memang bisa Satria rasakan bahwa perut istrinya kencang sekali. Pastilah itu sangat sakit. Satria juga mengusapi punggung Indi. Walau sebelumnya sudah belajar dan membaca perihal mengalihkan rasa sakit. Sekarang, tetap saja ketika rasa sakit itu datang rasanya sangat luar biasa.
"Pikirkan yang indah, sesuatu yang bisa mengalihkan rasa sakitnya. Bayangkan senyuman bayi-bayi kita nanti," kata Satria dengan lirih dan lembut.
Indi menangis dan menganggukkan kepalanya. Dia kemudian mengingat hal-hal indah yang dia lalui, mengingat bahagianya dia menjadi anak Ayah Pandu dan Bunda Ervita, bahagianya memiliki Satria dalam hidupnya, serta hal-hal lainnya. Walau begitu, ketika rasa sakit kembali datang Indi mengatupkan bibirnya, giginya seolah gemertak dan menahan sakit.
Sampai akhirnya mobil yang dikemudikan Ayah Pandu sudah tiba di rumah sakit. Indi dan Satria diturunkan terlebih dahulu, nanti Ayah Pandu dan Bunda Ervita akan menyusul. Di sana juga ada perawat yang memberikan kursi roda untuk Indi. Sehingga, Satria sigap mendorong kursi roda itu dan menuju ke poli kandungan. Namun, Dokter Arsy belum tiba. Sehingga seorang bidan yang membantu Indi dan Satria sekarang.
"Sakitnya lebih intens tidak Mom?" tanya perawat itu.
"Saya hitung memang lebih intens," jawab Indi sembari menunjukkan rasa kontraksi yang dia record melalui aplikasi digital.
"Saya akan bantu cek pembukaan dalam yah," kata Bidan tersebut.
Mulailah Indi diminta menaiki brankar. Sang bidan mengenakan sarung tangan terlebih dahulu dan mulai memasukkan tiga jari ke dalam area jalan lahir nantinya. Seolah mencoba menghitung sudah sejauh apa pembukaannya. Ketika tangan sang bidan keluar, tampak darah di sana. Melihat darah itu seketika Indi pusing, wajahnya menjadi pucat. Air mata pun berlinang begitu saja.
"Benar, susah pembukaan aktif, Mom. Pembukaan lima menuju ke enam," kata Bidannya.
Proses pembukaan ini terhitung cepat karena untuk kelahiran anak pertama dan sudah pembukaan enam. Dalam hitungan jam lagi pembukaan akan sempurna dan bayinya akan segera lahir. Setelah itu, Indi dipindahkan ke ruang rawat inap terlebih dahulu. Satria sedetik pun tak pernah meninggalkan istrinya.
"Kamu butuh apa, Sat? Biar Ayah belikan," kata Ayah Pandu.
"Air mineral saja, Yah. Minta tolong ya, Yah. Maaf merepotkan Ayah," balas Satria.
__ADS_1
"Tidak merepotkan sama sekali kok. Tenang yah, kamu handle Indi aja. Perkara yang lain serahkan ke Ayah."
Akhirnya Ayah Pandu yang membelikan air mineral dan roti untuk Satria dan Indi. Ayah Pandu masih ingat kalau melahirkan normal tidak ada pantangan makan dan minum, jadi setidaknya membeli air mineral dan lainnya. Selain itu, Bunda Ervita juga sudah membawa tumbler yang berisi Teh hangat.
Usai itu, Ayah Pandu mengantarkan air mineral dan roti. Melihat Indi berbaring miring ke kiri, hatinya sangat sedih dan cemas. Namun, Ayah Pandu percaya Satria dapat diandalkan. Setelahnya, Ayah Pandu dan Bunda Ervita menunggu di luar.
"Cepat sekali ya, Yah," kata Bunda Ervita.
"Iya, Nda. Akhirnya, Indi pasti kuat kok. Ada Satria juga. Kita sebagai orang tua menunggu, mendoakan, dan berharap biar semuanya lancar," kata Ayah Pandu.
Satria menawarkan minum kepada istrinya, tapi Indi menggelengkan kepalanya. "Enggak haus kok, Mas," kata Indi.
Sebisa mungkin, Indi menahan dan berdoa dalam hati semoga pembukaannya kian bertambah. Kemudian Dokter Arsy datang dan mulai memeriksa Indi lagi.
"Bagaimana, Mom? Dua jam lalu pembukaan enam yah. Saya cek dalam lagi yah," kata Dokter Arsy.
"Saakiitt, Dok."
Kali pertama merasakan cek dalam itu membuat Indi merasa sakit, seakan tidak ingin lagi diperiksa dalam. Dokter Arsy justru tersenyum di sana.
"Untuk melihat sudah bertambah belum memang harus cek dalam," kata Dokter Arsy.
Akhirnya mau tidak tahu, Dokter Arsy melakukan pemeriksaan cek dalam dengan membuka paha Indi. Satria sudah bersiap dan memegangi tangan istrinya. Walau begitu, Satria memalingkan muka, dia sendiri merasa takut dan kasihan sebenarnya.
"Saya akan cek sekarang, tahan napas yah, Mom. Jangan berpikir yang aneh-aneh."
"Sudah delapan, Mom. Kepala bayinya saja sudah tersentuh. Kita pindah ke ruang tindakan yah, karena persalinan bisa datang sewaktu-waktu," kata Dokter Arsy.
Akhirnya, brankar Indi dipindahkan dari kamar rawat inap ke kamar tindakan. Ayah Pandu dan Bunda Ervita turut menyertai. Kedua orang tua berusaha tenang, walau Bunda Ervita sendiri beberapa kali menangis merasa kasihan dengan putrinya.
Tiba di kamar tindakan, rupanya air ketuban Indi sudah pecah. Perutnya terasa kencang. Rasa sakit datang dengan kian menjadi-jadi rasanya.
"Sakit banget, Mas Satria," kata Indi dengan berlinang air mata.
"Sabar ya, Sayang. Semoga segera sempurna pembukaannya. Aku temenin selalu yah," balas Satria.
Ada perawat yang membersihkan air ketuban yang sudah pecah. Hantaman rasa sakit itu kian menjadi-jadi. Sekarang, sekujur tubuh Indi rasanya sangat sakit. Kepala hingga kaki, tak pernah sebelumnya Indi merasakan sakit seperti ini.
"Perutku kencang, Mas. Kayak ada yang mau keluar," kata Indi.
Dokter Arsy yang sudah siaga mengecek perut Indi yang sudah kencang dan kemudian melakukan pengecekan lagi sudah pembukaan sepuluh. Pembukaan sempurna. Mulailah Dokter Arsy, Bidan, dan beberapa perawat bersiap.
"Sudah lengkap yah, Mom. Ketika perut terasa kencang, ambil napas dalam-dalam dan dorong ya, Mom. Jangan diangkat panggulnya supaya tidak merobek jalan lahir," kata Dokter Arsy.
Mendengar kemungkinan bisa terjadi robekan jalan lahir, Satria menjadi meringis. Dia benar-benar baru tahu persalinan begitu dramatis. Indi kemudian mencengkeram erat lengan suaminya karena rasanya sangat sakit. Indi bersiap mengambil napas dalam-dalam dan mengejan.
"Hhh ..., Mas Satria."
__ADS_1
Indi menangis, tapi ejanan pertama belum berhasil untuk melahirkan bayi-bayinya. Kemudian Dokter Arsy memberikan instruksi lagi.
"Mengejannya sudah benar, Mom. Tunggu kalau kencang, mengejan lagi yah. Disemangatin dan ditemenin suami, harus lebih semangat," kata Dokter Arsy.
Beberapa kali mengejan, wajah berurai air mata dan keringat di kening membuat Indi terengah-engah dan merasa terpaan badai kesakitan yang luar biasa. Satria sampai turut menitikkan air matanya.
"Kuat dan sabar, Sayangku. Kita sambut bersama-sama yah."
"Kalau aku gak kuat, Mas? Sakit banget," aku Indi.
"Jangan berbicara begitu. Manusia boleh tidak kuat, tapi Allah yang akan memberikan kekuatan lebih. Semangat Sayangku!"
Dokter Arsy sampai tersentuh melihat dua pasangan yang saling support satu sama lain. Memang di saat begini, seorang istri sangat membutuhkan keberadaan suaminya yang memberikan support, doa, dan ketenangan tentunya.
"Perutnya udah kencang lagi, Mom. Yuk, kita mengejan lagi. Beberapa ejanan lagi pasti launching ini," kata Dokter Arsy.
Akhirnya, Indi menganggukkan kepalanya. Dia kembali bersiap untuk menarik napas dalam-dalam dan memberi dorongan ke panggul supaya bayi-bayinya segera lahir.
"Yuk, kuat, Sayang. Allah beserta kita," kata Satria.
Seluruh tenaga Indi kerahkan, sampai wanita itu menjerit dan mengejan sepenuhnya. Tangannya di lengan Satria menguat, hingga akhirnya ....
"Akh ... Ya Allah."
Oek ... Oek ...
Seorang bayi laki-laki berhasil dilahirkan. Indi dan Satria sama-sama terisak-isak. Tidak menyangka putra mereka lahir juga. Tepat satu menit menyusul putra kedua mereka. Sehingga tangis suara bayi di ruangan bersalin itu sahut menyahut.
"Kamu hebat, Sayangku. Dua putra kita sudah lahir. I Love U," kata Satria dengan mengecup kening Indi yang masih terisak-isak. Luar biasa sekali momen kala menyambut kedua buah hatinya.
"Anak-anak kita, Mas."
"Ya, Sayangku. Anak-anak kita berdua. Putra kita berdua."
Hati Satria penuh syukur rasanya. Semua ini semata-mata hanya karena Allah saja. Momen dramatis kala menyambut kedua bayi mereka. Dua putra yang melengkapi kebahagiaan rumah tangga mereka.
"Namanya siapa, Mom?" tanya Dokter Arsy dan seorang bidan mengangkat sedikit bayi laki-laki sehingga terlihat wajah mereka yang memerah lantaran menangis kencang.
Wajah yang keduanya rindukan. Sekarang bisa bertatap muka secara langsung. Dua wajah yang membuat keduanya langsung jatuh cinta.
"Putraku," kata Indi dengan berurai air mata. "Kamu beri nama siapa, Mas?" tanyanya kepada sang suami.
"Nakula dan Sadewa, Sayang."
Dalam pewayangan Nakula dan Sadewa adalah putra kembar Pandu Dewanata. Akan tetapi, sekarang Nakula dan Sadewa adalah cucu Eyang Pandu.
Dua putra yang akan mewarnai lagi kisah rumah tangga Satria dan Indi ke berbagai kisah selanjutnya. Welcome Babies Boy, Nakula dan Sadewa!
__ADS_1