
Hanya berselang beberapa saat, Satria terbangun. Pria itu seperti biasa, berlari ke dalam kamar mandi terlebih dahulu, ada rasa menyeruak di tenggorokan hingga ke perut. Di dalam kamar mandi, Satria sampai memegangi wastafel, rasanya sungguh tidak enak. Hingga ada Indi yang mengetuk pintu kamar mandi.
"Bentar, Sayang. Aku baru muntah," kata Satria.
Lantaran pintu kamar mandi dikunci, Indi hanya bisa menunggu di luar. Sementara, Satria membersihkan mulutnya dan juga mencuci wajahnya terlebih dahulu. Sembari pria itu menetralkan dirinya terlebih dahulu.
"Aku ini kenapa ya Allah ..., hampir seminggu pastilah setiap pagi seperti ini. Kalau sakit, sakit apa ini?"
Satria termenung, dia bertanya-tanya sendiri sebenarnya tengah mengidap sakit apa. Kenapa rasa tidak nyaman ini hanya terjadi di pagi hari. Selebihnya di atas jam sepuluh pagi, tubuhnya sudah jauh lebih baik.
"Mas, sudah belum?" tanya Indi lagi dengan mengetuk pintu.
Akhirnya, Satria pun keluar dari kamar mandi. Indi sungguh kasihan melihat suaminya itu. Satria segera memeluk Indi, rasanya dengan memeluk istrinya, Satria beroleh kekuatan kembali. Wajah Satria yang basah mengenai sedikit kaos yang Indi kenakan.
"Sakit banget yah?" tanya Indi dengan mengusapi punggung suaminya.
"Hanya di pagi hari kok, tidak apa-apa. Nanti juga akan membaik," balas Satria.
"Ini sudah hampir satu minggu. Kita ke Dokter yuk? Janjinya Mas kalau tidak segera membaik, mau ke Dokter," kata Indi.
Satria justru menggelengkan kepalanya. "Enggak, gak apa-apa. Tidak nyamannya cuma di pagi hari saja kok. Di atas jam sepuluh pagi gitu, badanku udah sehat. Aku takut sebenarnya. Aku takut, kalau aku sakit gak bisa membahagiakan kamu dan anak-anak," balas Satria.
Ya, yang Satria pikirkan justru ketika dia sakit, Satria tidak bisa memiliki waktu banyak dengan Indi, Nakula dan Sadewa. Padahal, Satria tahu ada istri dan kedua putra kembarnya yang bersandar padanya. Butuh waktu untuk bonding dengannya.
"Kami juga inginnya Mas segera sembuh. Masak ya sembuh cuma dengan digosokin Minyak Angin? Ke Dokter yuk?" ajak Indi.
Sekali lagi Satria justru menggelengkan kepalanya. "Aku akan sembuh, Sayang. Janji."
__ADS_1
Sebenarnya sudah ada sesuatu yang ingin Indi katakan kepada Satria. Akan tetapi, Indi masih berusaha menahan. Menunggu waktu yang tepat.
"Mas sekalian mandi yah, aku siapkan sarapan dan Jahe Lemon untuk Mas Satria. Nanti aku gosokin Minyak Kayu Putih," kata Indi.
Satria menganggukkan kepalanya. Kalau bukan Indi yang sabar, mungkin Satria tidak akan dirawat seperti ini. Satria pun kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Dia memilih menghidupkan shower dengan air hangat. Sudah seminggu berlalu dan Satria tidak berani mandi dengan air dingin. Takut kalau semakin menambah masuk angin yang dia derita. Sehingga, Satria memilih untuk mandi air hangat.
Selang lima belas menit, Indi kembali naik ke dalam kamar. Dia membawa Air Jahe Lemon yang uapnya masih mengepul, tandanya air itu masih panas. Indi kemudian mengoleskan minyak kayu putih di dada dan punggung suaminya. Aroma dari kayu putih dan sensasi rasa hangatnya bisa mengurangi mual yang dialami oleh Satria.
"Aku jadi kayak Nakula dan Sadewa yah, Yang?" tanyanya.
"Tidak apa-apa. Mamanya Nakula dan Sadewa juga pasti akan merawat Papa Satria kok," balas Indi.
Satria mengamati wajah istrinya yang tak pernah lelah mengurusnya dan kedua putranya. Walau Satria juga tahu, Indi pasti juga merasa capek juga. Akan tetapi, Indi jarang sekali mengeluh. Sebisa mungkin justru dia akan melakukan yang terbaik untuk suami dan anak-anaknya.
"Apa perasaanku saja yah, Yang? Aku amati, kamu semakin cantik deh," kata Satria dengan tiba-tiba.
"Apaan sih, Mas? Pagi-pagi udah begitu," balas Indi.
Satria kemudian menelisipkan juntai rambut Indi ke belakang telinga. Dia tatap lagi istrinya yang tengah fokus mengusapkan minyak kayu putih ke dadanya itu. Satria memandangnya tak jemu-jemu, dia sangat yakin istrinya itu lebih cantik daripada biasanya.
"Serius, kamu lebih cantik kok. Aku enggak boong," kata Satria lagi.
"Wah, kayaknya musim kemarau panjang ini akan segera berakhir, soalnya kamu muji-muji aku," balas Indi dengan terkekeh geli.
"Serius. Aku itu berkata apa adanya. Kamu lebih cantik deh. Auranya beda aja," balas Satria.
"Udah Mas. Pagi-pagi bikin aku tersipu malu. Dipakai lagi kaosnya. Terus Jahe Lemonnya diminum dulu," kata Indi.
__ADS_1
Satria kemudian tersenyum. Dia mengenakan kaosnya lagi. Kemudian menyeruput Jahe dan Lemon yang masih panas itu. Ketika menikmatinya, Satria bisa sendawa. Rasanya perutnya menjadi semakin baik. Untuk urusan mengurus suami, Indi selalu bisa melakukan yang terbaik.
"Perutnya biar enakan, Mas," kata Indi.
"Hm, iya Sayang. Aku serius, aura kamu berbeda. Kamu enggak pengen ngasih tahu atau cerita apa gitu ke aku, Sayang?" tanya Satria sekarang.
"Kan setiap hari, aku sudah cerita sama kamu, Mas. Apalagi sih?"
"Entahlah, aku yakin dengan perasaanku kalau ada sesuatu sih, tapi kamu belum memberitahu aku. Ya sudah, intinya kamu semakin cantik di mataku. I Love U!"
Bukan sekadar berbicara, tapi Satria juga mendaratkan sebuah kecupan di kening istrinya. Satria merasa perasaan yang dia rasakan sekarang tidak salah. Aura istrinya itu tampak berbeda. Bahkan di matanya Indi menjadi semakin cantik dan mempesona saja. Andai tidak sakit dan waktunya masih panjang, pasti Satria ingin membawa istrinya itu menapaki tangga menuju Swargaloka.
"Yang, kalau aku sembuh. Minta pemenuhan ladang batin yah?" pinta Satria sekarang.
"Ujungnya modus ... seperti bisa. Mas mah begitu, selalu lagu lama," balas Indi.
Satria tersenyum. "Sudah semingguan, Sayang. Kan biar harmonis juga. Cintanya semakin bersemi dan tidak pudar," balas Satria.
"Ya sudah, tapi pelan-pelan yah. Sama Mas harus janji, bakalan sembuh dulu. Kalau sakit dipaksakan kan berisiko," balas Indi.
Satria tersenyum artinya Indi memperbolehkan. Walau tidak sekarang. Mendapatkan lampu hijau, walau harus menunggu dulu.
"Yes, nanti malam deh kalau gitu," sahut Satria cepat.
"Lah, gak bahaya ta? Kan masih sakit?" tanya Indi dengan mengernyitkan keningnya.
"Kalau malam aku kan sehat, Sayang. Sakitnya, mual dan muntahnya cuma di pagi hari aja. Kok, rasanya aku kayak wanita hamil yah? Yang morning sickness di pagi hari," kata Satria tiba-tiba.
__ADS_1
Seketika Indi terdiam, mungkinkah suaminya merasakan sesuatu yang berbeda atau sedikit janggal? Akan tetapi, Indi masih diam. Dia masih akan menunggu waktu yang tepat. Biarlah suaminya itu bertanya-tanya terlebih dahulu.