Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Berbagi Cerita


__ADS_3

Jelang sore hari, keluarga besar Hadinata dan keluarga Negara sudah kembali lagi ke Jogjakarta, di rumah Satria. Nakula dan Sadewa yang kecapekan bermain sekarang bersantai melihat lagu anak-anak di chanel sebuah YouTube. Sementara orang dewasa berkumpul di ruang tamu.


Satria teringat dengan sosok Bu Karti dan kemudian menceritakan mengenai Bu Karti kepada Rama dan Ibunya. Sebab, Satria tiap kali ingin bercerita malahan lupa. Sekarang, barulah Satria bisa bercerita kepada kedua orang tuanya.


"Rama dan Ibu mengingat dengan Bu Karti tidak?" tanyanya.


Rama Bima dan Bu Galuh tampak mengingat-ingat terlebih dahulu. Hingga akhirnya keduanya sama-sama mengangguk.


"Bu Karti yang dulu mengasuh kamu dan Sitha enggak?" tanya Bu Galuh.


"Benar, Ibu. Ya, Bu Karti yang dulu mengasuh Satria dan Sitha. Beberapa bulan lalu, Satria bertemu dengan Bu Karti. Mau cerita ke Ibu dan Rama, Satria malahan lupa terus," cerita Satria kini.


"Kok bisa ketemu, Sat?" tanya Bu Galuh.


"Ketemu waktu booth festival di kampus dulu, Bu. Beliau mencari anaknya, kebetulan bertemu dengan kami," balasnya.


Bu Galuh menganggukkan kepalanya lagi. Rupanya pertemuan tak terduga. Sosok Bu Karti untuk keluarga Negara sudah dianggap keluarga atau kerabat sendiri. Meskipun sudah belasan tahun lamanya tidak bertemu.


"Bu Karti sekarang di mana, Sat?" tanya Rama Bima.


"Tinggal di desanya di Cilacap, Rama. Sedih sekali menjadi Bu Karti, anak yang dilahirkan dan dibesarkan keluarga suaminya, tapi gak mau mengakui ibunya. Di hadapan kami, justru kami mendengar bagaimana anaknya berkata yang bukan-bukan mengenai Bu Karti," cerita Satria.


Di dalam konteks ini Ayah Pandu dan Bunda Ervita tidak tahu apa pun. Sosok Bu Karti seperti apa, mereka juga tidak tahu. Yang pasti mereka turut mendengarkan.

__ADS_1


Bu Galuh menghela napas panjang. Dia kembali iba. Sebab, bagaimana kisah sedih Bu Karti, Bu Galuh sangat tahu.


"Awalnya Bu Karti kerja sebentar di rumah kita. Sebelum kamu lahir, hanya sebentar Bu Karti kembali ke kampung halamannya. Selang dua tahunan kemudian, Bu Karti kembali ke Solo dan bekerja lagi di rumah kita. Nah, saat itulah Bu Karti mengasuh kamu dan Sitha. Namun, Ibu juga tahu kisah sedihnya. Ketika kembali ke Cilacap, Bu Karti bekerja di rumah orang kaya dan di sana dia dilecehkan akhirnya Bu Karti melahirkan bayi laki-laki. Mengandung dan melahirkan sendiri, hingga akhirnya pihak keluarga pria datang bertanggung jawab, tapi hanya tipuan entah bagaimana caranya anaknya diambil hak asuhnya. Setahu Ibu, anak di bawah usia 17 tahun biasanya hak asuh di tangan ibunya. Namun, itu bisa-bisanya anak yang terbilang bayi, diambil hak asuhnya oleh pihak keluarga pria."


Panjang lebar Bu Galuh menceritakan semuanya itu. Bunda Ervita yang hanya mendengarkan saja menjadi terenyuh. Kalau hamil dan melahirkan tanpa suami, dia mengalaminya. Namun, hak asuh Indi secara penuh adalah miliknya.


"Saya yang mendengarkan jadi sedih. Kisah saya dulu sudah sedih, ternyata masih ada yang lebih sedih," kata Bunda Ervita.


"Benar, Bu. Kisahnya memang begitu menyediakan. Dulu, Bu Karti kalau mengasuh Satria katanya sambil membayangkan putranya itu. Selisih usianya tak terlalu jauh," balas Bu Galuh.


"Semua yang bekerja dengan kami itu kami akan anggap saudara Bu Ervi dan Pak Pandu. Senang juga mendengar kabarnya, walau juga kasihan," kata Rama Bima.


Beberapa saat Rama Bima terdiam. Kemudian, Rama Bima berbicara lagi kepada Satria.


"Lain waktu kita ke Cilacap mau tidak, Sat?" ajak Rama Bima.


"Ibu ikut boleh? Rindu juga sama Bu Karti. Teringat dulu, dia yang selalu belain Satria kalau Satria nakal," kata Bu Galuh.


"Nakalnya Satria seperti apa, Bu?" tanya Ayah Pandu.


"Ya nakal, Pak. Sukanya mencari siput dan keong di sawah. Sudah disuruh jangan mencari keong dan siput di sawah, malahan siang terik pergi ke sawah. Kakinya kotor semua. Nanti Bu Karti itu yang bersihin Satria, sebelum Ramanya pulang, baju yang kotor kena lumpur sudah dicuci dulu sama Bu Karti," cerita Bu Galuh.


Ayah Pandu dan Bunda Ervita tertawa mendengar cerita Bu Galuh tentang masa kecil menantunya itu. Walau begitu, untuk Ayah Pandu sebenarnya wajar saja. Namanya anak cowok dan rumahnya Satria dekat dengan sawah.

__ADS_1


"Waduh, kalau Nang-Nang di Solo bisa-bisa mencari keong dan siput di sawah tuh," kata Ayah Pandu.


"Bisa jadi, Pak Pandu. Air mengalir kan dari atas turun ke bawah. Sangat bisa seperti Satria. Kan kami gak ngebolehin main di sawah kan lumpurnya kotor, bisa saja ada tikus sawah atau ular sawah. Kotor itu baik, tapi harus memperhatikan lingkungan juga kan Pak Pandu," kata Bu Galuh.


"Yang ditakutkan memang ular sawah dan tikus sawah, Bu. Anak kecil kadang kan belum tahu. Yang berbahaya malahan didekati," balas Ayah Pandu.


Satria senyam-senyum mendengarkan cerita sewaktu dia masih kecil. Namanya juga anak-anak, tapi juga benar yang dikatakan Ayah Pandu bahwa yang berbahaya justru itulah yang didekati anak. Perlu pengawasan dari orang tuanya.


"Akhir pekan ini ke Cilacap, bagaimana? Mumpung seminggu ini Rama dan Bunda di Jogja," ajak Rama Bima.


"Boleh, Rama. Pasti Bu Karti senang ketika bisa bertemu Rama dan Ibu lagi," kata Satria.


Rama Bima dan Bu Galuh menganggukkan kepalanya. Setelah belasan tahun dan kemudian akan bertemu lagi, rasanya pastilah senang. Apalagi memang Bu Karti sudah dianggap seperti keluarga sendiri.


"Mbak Indi kalau ikut, Nang-Nang dititipkan di rumah Bunda aja. Biar Bunda yang mengasuh mereka. Jogja ke Cilacap juga cukup jauh," kata Bunda Ervita.


"Panjenengan jadi rajin banget ngasuh cucu, Bu ...." Bu Galuh mengatakan demikian kepada Bunda Ervita. Menurut Bu Galuh, malahan Bunda Ervita sangat semangat sekali mengasuh Nakula dan Sadewa. Padahal kedua cucunya itu juga sangat aktif.


"Hiburannya Eyang kayak gini, Bu. Ngasuh cucu-cucu diajak nyanyi, diajak nonton ikan, sudah senang. Apalagi sekarang kami, saya dan Ayahnya Indi hanya berdua. Mencari kesibukan lah, Bu," kata Bunda Ervita.


"Rumah jadi sepi yah, Bu?" tanya Bu Galuh lagi.


"Iya, Irene di Jakarta. Terutama anak kami cewek-cewek, katanya anak cewek akan dibawa suaminya. Yah, yang bungsu belum punya suami saja sudah jauh ke Jakarta. Namun, tidak apa-apa Irene sedang belajar," balas Bunda Ervita.

__ADS_1


"Benar, Bu. Kami harus siap-siap nanti kalau Sitha pengen ke luar kota. Lika-liku menjadi orang tua nggih, Bu."


Banyak sekali cerita sore itu. Kedua besan bisa duduk bersama dan membagikan cerita mereka tanpa menutupi beberapa hal. Selain itu, juga hubungan dua besan justru seperti sebuah keluarga besar.


__ADS_2