Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Pagi di Rumah Mertua


__ADS_3

Semalam, Indi dan Satria tidak lagi tidur sendiri. Melainkan keduanya tidur dengan saling memeluk satu sama lain. Tidur menjadi lebih nyenyak rasanya.


Seperti yang dikatakan Satria, pagi itu Satria terbangun kala subuh. Pria itu hendak melaksanakan sholat subuh terlebih dahulu. Namun, sebelum mengambil wudhu, Satria menatap paras istrinya yang tertidur dengan begitu lelapnya. Tidur saja Indi begitu ayu. Hati Satria menghangat melihat Indi. Di dalam hatinya, Satria berjanji tidak akan menyakiti Indi, dia akan selalu membahagiakan Indi.


Satria akhirnya membangunkan Indi, mengajak istrinya itu untuk menjalankan ibadah sholat subuh bersama. Memulai hari dengan bersujud kepada Sang Khalik terlebih dahulu. Dengan pelan, Satria membangun Indi.


"Sayang ... Sayang ..., bangun dulu yuk? Kita sholat bersama mau tidak?"


Merasa dibangunkan dengan merasakan usapan tangan Satria di sisi wajahnya, bahkan ada kecupan yang Satria jatuhkan di kening istrinya. Perlahan-lahan, Indi mengerjap. Kelopak matanya membuka, dan menata Satria yang masih berada di sisinya.


"Mas," sapa Indi dengan begitu lirih.


"Sholat bersama yuk?"


Indi menganggukkan kepalanya. Tentu dia akan menerima dan mengikuti suaminya untuk menjalankan sholat subuh bersama. Indi lebih senang karena ada suami yang kini akan menjadi imamnya.


"Bisa jalan ke kamar mandi untuk wudhu?" tanya Satria.


"Bisa, Mas ... pelan-pelan."


Sebenarnya masih terasa sakit dan tidak nyaman di pangkal pahanya. Akan tetapi, Indi berusaha turun dari ranjangnya dan kemudian menuju ke dalam kamar mandi. Namun, saat hendak membuang urin terlebih dahulu, ada darah di sana. Rupanya, Indi justru haid sekarang. Gadis itu kembali keluar dari kamar mandi.


"Mas, maaf ... aku absen tidak sholat yah. Aku berhalangan, ada tamu bulanan tiba-tiba," kata Indi.


"Masak baru sekali bercinta, sekarang udah halangan, Sayang?"


Indi mengecek kalender digital di handphonenya karena dia selalu mencatat hari pertama menstruasi di kalendernya. Kemudian Indi menganggukkan kepalanya.


"Iya, aku memiliki siklus rutin, Mas. Memang tanggal ini," balas Indi.


Akhirnya, Satria menganggukkan kepalanya. Pria itu mengambil wudhu terlebih dahulu, kemudian barulah dia menjalankan sholat subuh seorang diri. Sementara, Indi menunggu sampai suaminya selesai, barulah dia mandi keramas, membersihkan dirinya dan mengganti semua pakaiannya.


Hampir jam 05.00, Indi sudah selesai mandi dengan rambutnya yang setengah basah terurai panjang. Satria kemudian bertanya kepada istrinya lagi untuk memastikan.

__ADS_1


"Itu yakin haid kan? Aku takut kalau terjadi pendarahan usai bercinta. Sebab, ada kasus bisa pendarahan serviks usai begitu. Kalau memang terjadi sesuatu, kita ke Rumah Sakit," ajaknya.


"Haid kok, Mas. Kan aku tidak mengalami gejala lemas bahkan sampai pingsan. Itu namanya Sinkop Vasovagal, di mana wanita mengalami pendarahan dan pingsan usai berhubungan intim," jawab Indi.


Sinkop vasovagal adalah kondisi yang membuat seseorang pingsan akibat tubuh bereaksi berlebihan terhadap sesuatu. Traumatik tertentu bisa menjadi pemicu kondisi ini. Sementara Indi memang tidak merasakan apa pun, jika ada yang kurang nyaman itu hanyalah pangkal pahanya saja.


"Yakin? Kalau merasakan sesuatu, beritahu, Sayang."


Wajah Satria sudah begitu khawatir, sementara Indi justru tersenyum di hadapan suaminya itu. "Iya, sekaligus maaf yah, Mas. Harus menahan sampai bersih dulu," kata Indi.


"Iya, Sayangku ... tidak apa-apa kok. Aku akan bersabar. Kamu mau turun bantuin Bunda yah?" tanya Satria.


"Iya, ada request khusus untuk sarapan tidak?" tanya Indi.


"Tidak ada, semuanya aku mau kok. Ya sudah, kamu turun dulu. Nanti aku susul yah, aku juga mandi dulu," balasnya.


Akhirnya Indi berpamitan untuk turun ke bawah terlebih dahulu. Dia membantu Bundanya untuk menyiapkan sarapan. Baru saja turun, Bunda Ervita sudah senyum-senyum melihat putrinya yang sudah keramas dan begitu wangi di pagi hari.


"Pagi, Nda," sapa Indi.


Indi tersenyum malu-malu. Kalau melepas kegadisan itu benar adanya. Namun, tujuannya keramas di pagi hari karena ada hal lain.


"Indi haid kok, Nda," kata Indi.


"Waduh, kasihan Satria gagal dong. Harus nunggu minggu depan," balas Bunda Ervita.


Indi tak memberikan jawaban. Terlalu malu untuk membicarakan begituan dengan Bundanya sendiri. Oleh karena itu, Indi bergegas saja untuk membantu Bundanya.


"Satria mau dimasakin apa?" tanya Bunda Ervita.


"Apa saja mau kok, Nda. Mas Satria makannya mudah," jawab Indi.


"Syukur, Bunda kira karena berdarah biru dan kalangan ningrat ada jenis makanan tertentu yang disukai," balas Bunda Ervita.

__ADS_1


Indi segera menggelengkan kepalanya. "Waktu kuliah dulu, Mas Satria justru suka Angkringan dan makan Nasi Kucing atau Oseng Soun kok, Nda."


Bunda Ervita merasa lega karena menantunya tidak pilih-pilih soal makanan. Kalau memang mau makan apa pun, itu seperti Ayah Pandu. Semua yang dimasak Bunda Ervita, pasti akan dimakan dan dihabiskan oleh Ayah Pandu.


Hingga akhirnya, hampir jam 06.00 Satria sudah turun dari kamar. Pria itu menyapa Bundanya yang sedang berada di dekat meja makan.


"Pagi Bunda," sapanya.


"Pagi, kalian ini ... pengantin baru bangunnya pagi banget. Padahal nanti gak apa-apa," kata Bunda Ervita.


Sebagai orang yang pernah muda, Bunda Ervita bisa memahami bahwa Indi dan Satria masih menjadi pengantin baru. Tidak perlu bangun terlalu pagi, toh pasangan pengantin baru masih ingin menikmati momen indah berdua.


"Loh, sudah pada bangun?" tanya Ayah Pandu.


"Pada bangun pagi kok, Yah," balas Bunda Ervita.


"Gak harus bangun pagi, Satria ... kan masih pengantin baru. Ayah sudah bilang juga, anggap seperti rumah sendiri," kata Ayah Pandu.


"Mas Satria sudah bangun sejak subuh kok, Yah," kata Indi sekarang.


Ayah Pandu tersenyum dan menganggukkan kepala. Walau tak menjelaskan, dia yakin bahwa menantunya itu menunaikan ibadah sholat subuh.


"Besok subuh sama Ayah ke Masjid mau?" ajak Ayah Pandu.


"Boleh, Ayah," balas Satria.


Satria justru merasa sangat senang ketika Ayah mertuanya mengajaknya untuk subuhan bersama. Sebab, kala di Solo, Satria juga lebih sering menjalankan sholat subuh di Mushola yang ada di dekat rumahnya bersama dengan pegawai di rumah Ramanya dan ada beberapa karyawan Pabrik Jamu yang sengaja mengambil kost di sekitaran rumahnya Solo.


"Mbak Indi ikut?" tanya Ayah Pandu.


"Maaf, Indi izin seminggu, Yayah. Baru berhalangan," jawab Indi.


Mendengar jawaban anaknya, Ayah Pandu justru tertawa. "Wah, harus sabar, Sat."

__ADS_1


Satria menganggukkan kepala. Dia pikir suasana di rumah mertuanya akan terasa kikuk dan canggung. Akan tetapi, justru rasa kekeluargaan dan penerimaan kepadanya sangat begitu terasa. Ayah Pandu dan Bunda Ervita di mata Satria adalah sosok orang tua yang baik. Bisa menyesuaikan diri dengannya yang notabene adalah orang baru, pendatang baru di dalam keluarga Hadinata. Pagi yang indah dan penuh rasa kekeluargaan yang kental.


__ADS_2