
Setelah selesai makan malam bersama, mereka berpisah dan kembali ke kamarnya masing-masing.
Aisyah dan Joko yang sudah tiba di dalam kamar hotel tidak langsung istirahat melainkan beres-beres barang-barang yang akan dibawa ke mansion Jack. Beberapa baju dan oleh-oleh dari tanah Mekkah mereka susun dengan rapi di koper. Mereka saling mengobrol di saat itu.
“Dek,” panggilan sayang Joko pada Aisyah.
“Iya Mas,” jawab Aisyah yang sedang menyusun baju di koper.
“Apakah Caca akan membuka dirinya pada Jack?” tanya Joko.
“Maksudnya Mas?” tanya Aisyah.
“Tentang traumanya. Aku sebagai lelaki melihat ketulusan Jack yang sungguh mencintai putri kita, namun tidak dengan Caca. Entah apa yang membuatnya bisa menerima Jack.” Ucap Joko.
“Aku juga merasakan hal yang sama Mas, namun semua sudah menjadi pilihan putri kita. Aku yakin dia sudah memikirkan hal ini secara matang. Dan aku juga yakin dia bisa mencintai Jack suatu saat nanti.” Jawab Aisyah.
“Seberapa cintapun seorang lelaki pada wanitanya namun kebutuhan biologisnya tidak mungkin bisa terus-terusan di tahannya. Aku takut Jack tidak sabar untuk
menunggu waktunya Caca siap melayaninya.” Ucap Joko.
“Benarkah?” tanya Asiyah.
“Aku sebagai lelaki mengatakan sebenarnya. Itulah yang membuatku mengkhawatirkan hal ini, aku hanya takut traumanya yang tidak sembuh akan membuatnya semakin menderita jika Jack mencari pelampiasan dari kebutuhan bilogisnya.” Jawab Joko.
“Tapi sepertinya Jack tidak seperti itu, dia juga memiliki OCD.” Jawab Aisyah.
“Itu benar namun ada kemungkinan jika hal itu terjadikan? Kita tidak pernah mengetahui masa depan dalam pemikiran orang.” Jawab Joko.
“Jadi apa yang harus kita lakukan?” tanya Aisyah.
“Kau harus bicara dengan Caca sebagai sesama wanita dengan begitu semoga dia mau mencoba.” Ucap Joko.
“Tapi mas, dia sudah memilih keputusan ini berarti dia sudah mau membuka hatinya dan mempercayai seorang lelaki. Jadi tugas Kita hanya perlu mempercayai dia,” jawab Aisyah.
“Namun tidak ada salahnya kita sebagai orangtuanya mengkhawatirkan dirinya.” Jawab Joko.
“Apa yang dikatakan mas itu benar, semoga ini hanyalah sebuah pemikiran negatif kita namun jangan sampai terjadi.” Jawab Aisyah.
“Semoga,” jawab Joko.
Setelah mereka berdua yang mengkhawatirkan putrinya sebagai orangtua Caca, Joko dan Aisyah yang sudah selesai merapikan barang-barang di koper kemudian membaringkan diri untuk beristirahat.
__ADS_1
Bagas yang memiliki kecerdasan lebih tinggi dari Caca sangat penarasan tentang kakak iparnya. Beberapa hari ini dirinya mengumpulkan berbagai informasi dari Jimmy dan Jack dengan selalu membuntutin mereka secara diam-diam.
Beberapa hari ini perasaan Jack maupun Jimmy merasakan ada seseorang yang mengikutin mereka namun yang di jumpai tidak sengaja adalah Bagas. Jadi mereka tidak terlalu curiga terhadap Bagas karena Bagas juga memainkan peran detektifnya secara bersih.
Tidak banyak informasi yang di dapatkan oleh Bagas karena kesulitan. Namun dugaan-dugaan terhadap Jack, selalu terfikirkan oleh Bagas. Bagas menduga bahwa Kak iparnya ini buka orang sembarangan walaupun orang yang kaya dan royal terhadap uang.
Namun di dalam hati Bagas akan selalu melindungi Caca apapun yang terjadi. Saat ini Bagas diam-diam pergi keluar dari hotel untuk mencari udara segar.
Sementara di kamar pengatin baru ini tidak ada kejadian apapun melainkan kecanggungan di setiap waktu jika sedang berduaan.
“Ca!” panggil Jack sedang duduk di tempat tidur.
“Iya,” jawab Caca yang duduk di depan cermin.
“Mau sampai kapan kau diam saja seperti itu saat kita di dalam kamar? Bahkan kau akan berbaring tidur ketika aku sudah tidur dan tidur di sofa beberapa kali ini?” tanya Jack.
Caca hanya berdiam diri dan menundukkan kepalanya.
“Kau sudah menjadi istri ku Ca, walaupun terlihat cangggung tapi jangan selalu diamkan aku.” Ucap Jack.
“Tidak bisakah kita mulai untuk saling mengerti satu sama lain dengan cara berteman?” ucap Jack lagi yang menghampiri Caca di depan cermin kaca hias.
Caca tersenyum dan mengaggukkan kepalanya.
“Iya,” jawab Caca.
“Karena sekarang kita sudah berteman bolehkah aku meminta sesuatu dari mu?” tanya Jack.
“Apa itu?” tanya Caca.
“Apapun yang terjadi kedepannya percayalah padaku dan jangan pernah tingalkan aku.” Ucap Jack yang memberikan jari kelingkingnya.
“Kenapa meminta seperti itu? Bukankah kau sudah menjadi suami ku dan sudah menjadi kewajibanku untuk selalu percaya padamu dan tidak akan pernah meninggalkan mu.” Ucap Caca.
“Aku hanya takut kehilangan mu. Ku mohon untuk memberikan ku kesempatan untuk membuatmu mencintaiku dimulai saat aku mengucapkan janji suci untuk mu hingga akhri hayatku. Dan maaf untuk beberapa hari ini aku terlalu focus beribadah tanpa terlalu memperhatikanmu.” jawab Jack.
“Yang seharusnya meminta maaf adalah aku yang belum bisa memberikan kebutuhan biologis mu dan masih selalu canggung terhadapmu. Maaf atas segala sifatku ini,” ucap Caca.
“Ca aku memahami mu, jadi mulai sekarang anggap aku sebagai temanmu sekaligus suamimu. Jadi ceritakanlah masalah apapun dan berkomunikasi yang baiklah padaku. Aku akan selalu ada untuk mu dan menjadi pendengar yang baik.” Jawab Jack.
“Terimakasih,” ucap Caca sambil menggenggap tangan Jack dengan malu-malu.
__ADS_1
“Sudahlah sekarang kita istrahat karena besok harus kembali ke mansion. Dan kali ini tidur bersama denganku jangan tidur di sofa lagi.” Ucap Jack.
Mereka berdua naik ke atas ranjang kemudian berbaring, Caca menghadap sebelah kiri sedangkan Jack menghadap sebelah kiri melihat Caca.
“Au,” ucap Jack.
“Ada apa?” tanya Caca yang membalikkan tubuhnya.
“Tidak ada, hahhaha,” ucap Jack yang jahil terhadap Caca.
“Berhenti menggodaku Jack, kembali tidurlah.” Ucap Caca yang membalikkan tubuhnya lagi.
“Jangan berbalik lagi, tetap seperti itu karena aku ingin berbicara padamu.” Ucap Jack.
“Aku hanya ingin memandangi wajahmu,” ucap Jack dalam hatinya.
“Baiklah, apa yang ingin di bicarakan?” tanya Caca.
“Semuanya tentang mu,” jawab Jack.
“Apa?” tanya Caca balik.
“Pelan-pelan ceritakan bagaimana kau tumbuh selama ini sebelum kau bertemu denganku. Semuanya apapun itu ceritakan padaku setiap hari sebelum aku tidur. Anggap saja ini seperti mendongengkan seorang anak dewasa.” Ucap Jack sambil tersenyum.
“Mau di mulai dari mana?” tanya Caca ikutan menggoda.
“Mungkin dari kisah cintamu.” Jawab Jack ikutan menggoda.
“Ehmmm cinta ya? Soal itu tidak ada. Aku tidak pernah mencintai seorang lelaki namun lumayan banyak lelaki yang mengatakan mencintaiku.” Jawab Caca dengan sombong.
“Benarkah?” tanya Jack.
“Tentu, aku tidak akan berani berbohong.” Jawab Caca.
“Berapa orang yang mencintai mu?” tanya Jack.
“Hmmm…. Selama ini yang ku ketahui ada satu,dua…sebelas sepertinya.” Jawab Caca.
“Sebelas itu sudah banyak?” tanya Jack menggoda.
“Jadi maksud mu itu sedikit?” tanya Caca.
__ADS_1
“Bukan, bukan seperti itu maksudku. Jadi siapa saja mereka?” tanya Jack yang penasaran.
“Empat orang di masa SMP dan lima orang di masa SMA, dan di perkuliah di Jakarta dan baru-baru ini seorang professor muda di kampusku.” Jawab Caca dengan polosnya.