
Suasana bahagia terus mengalir pada setiap orang yang hadir di dalam acara resepsi pernikahan Jack dan Caca. Semua orang tertawa dan tersenyum melihat semua hal yang sedang mereka lihat. Setelah acara terakhir pelemparan bunga dari pengatin dengan kejutan lamaran Jimmy keada Siska, perlahan-lahan tamu yang hadir meninggalkan acara karena hari juga mulai gelap.
“Apakah kami harus melihat kalian terus berpelukkan?” Tanya Deni kepada Jimmy dan Siska.
Jimmy dan Siska melepaskan pelukkan mereka dan memberikan tarikkan telinga kepada Deni dan Bagas yang di dekat mereka.
“Auuuuu.” Ucap Deni yang kesakitan karena Jimmy.
“Ampun kakak Siska.” Ucap Bagas yang kesakitan karena Siska.
“Pasti ini kerjaan kalian?” tanya Jimmy dan Siska.
“Kenapa harus kami berdua yang diginikan sementara semua ini adalah ide sang pengantin.” Jawab Deni.
“Benar ini adalah ide kakak Caca, jika kalian mau marah. Marah saja pada kakak Caca.” Jawab Bagas.
Jimmy dan Siska melepaskan tangannya dari teliga mereka berdua dan memandang ke arah Caca dan Jack yang berada di atas pelaminan.
“Sedang apa kalian berdua memberikan tatapan membunuh kepada istriku?” tanya Jack yang memeluk Caca dengan erat.
Caca yang bahagia memberikan senyuman sinis bahwa dia menang. Melihat pengantin itu, Jimmy dan Siska tidak berani untuk memberikan pelajaran kepada Caca. Caca di lindungi dengan baik oleh Jack. Jika saja mereka menyentuh Caca, bukan Caca yang menerima hukuman namun mereka berdua yang akan hilang dari pradaban dunia.
“Terus saja meminta perlindungannya Ca?” ucap Siska kesal.
“Iya. Terus saja kau lindungi istri kesayanganmu.” Jawab Jimmy.
“Cepatlah kalian menikah biar bisa seperti kami.” Jawab Jack.
“Jika aku tidak bertindak duluan, kalian berdua sama-sama tidak akan mengakui perasaan kalian.” Jawab Caca kemudian menjuluskan lidahnya.
Jimmy dan Siska berlari ingin mencubit Caca dalam pelukkan Jack.
“Jangan sentuh istriku.” Ucap Jack.
Semua keluarga yang menyaksikan hal tersebut tertawa melihat tingkah mereka yang kenakan.
“Sekali saja.” Ucap Jimmy.
“Iya bos, sekali saja.” Ucap Siska yang memohon kepada Jack.
“Tidak. Atau kalian harus aku kirim ke antartika.” Jawab Jack.
“Ah. Baiklah-baiklah kami kalah.” Jawab Jimmy.
“Tapi terimakasih.” Jawab Siska yang menarik tubuh Caca dari pelukkan Jack kemudian memeluk Caca.
“Tentu saja kalian harus berterimakasih kepadaku. Ingat untuk mentraktirku nanti.” Ucap Caca.
__ADS_1
“Apapun permintaanmu akan aku turutin.” Jawab Siska.
“Ingat jangan terlalu lama menunda pernikahan.” Ucap Caca.
“Kalau itu terserah Jimmy.” Ucap Siska.
“Besok kita pergi ke rumah nenek dan kakek mu untuk meminta izin mereka dan mengatur waktu yang pas untuk pernikahan kita.” Jawab Jimmy yang berani.
“Ohhhhh, kau terkejut dengan keberanian Jimmy?” tanya Caca yang menggoda Siska.
“Caca!” panggil Siska melirik Caca di sampingnya.
“Sudah jangan malu-malu, katakan saja iya.” Jawab Caca.
“Baiklah. Tapi karena mendadak apakah kau tidak akan malu jika bertemu dengan keluarga ku di kampung halaman?” tanya Siska.
“Tentu saja tidak. Buat apa aku malu, toh mereka berdua adalah keluargamu yang tersisa kan?” tanya Jimmy.
“Bagaimana kau mengetahui itu?” tanya Siska.
“Aku mengetahui semuanya tentang mu sejak pertama kali.” Jawab Jimmy.
“Dasar orang kaya yang bisa melakukan apa saja.” Ucap Siska yang kesal.
“Sudah-sudah lebih baik sekarang kita mengambil gambar lagi, selagi semua orang hadir di sini.” Ucap Caca.
Meriska memanggil semua keluarga pengantin untuk naik ke atas pelaminan dalam pengambilan gambar. Deni, Bagas, Billy, Max, Kazumi, Katie, Andrew, Joko, Aisyah dan keluarga Joko dan Aisyah naik ke atas pelaminan. Ada yang berdiri dan duduk dalam pengambilan gambar.
Dari pose formal hingga pose bebas dalam pengambilan gambar yang di lakukan mereka. Semua orang tersenyum dalam photo itu hingga berpose dalam keunikan dan kelucuan di momen itu. Sang photographer terus memberikan aba-aba dalam pengambilan photo.
Acara malam hari resepsi ini akhirnya selesai dengan akhir pengambilan gambar untuk seluruh keluarga. Baik bersama-sama maupun hanya beberapa orang saja yang bergantian untuk berphoto dengan pengantin. Hal itu membuat sang pengantin yaitu Jack dan Caca sangat lelah karena berdiri dan
bergaya sesuai dengan pose pengambilan gambar yang di butuhkan.
Karena kelelan mereka izin duluan untuk beristirahat, sementara yang lainnya masih di dalam acara pesta menikmati kembali hidangan yang belum habis di santap habis oleh tamu. Ada yang menikmati berbagai macam brownis dan kue lainnya maupun ada beberapa orang yang duduk dan hanya sekedar mengobrol.
Caca dan Jack yang berjalan menuju kamar tidur di cegah oleh Deni di depan pintu kamar penganti.
“Ada apa ini Den?” tanya Jack.
“Kakak ipar bolehkah aku berbicara kepadamu?” tanya Deni.
“Berdua?” tanya Caca.
Deni memberikan anggukan kepala kepada Caca.
“Tidak boleh, kami lelah. Jika kau ingin bicara maka aku harus ikut.” Jawab Jack.
__ADS_1
“Cemburuan sekali. Baiklah, Jack boleh ikut.” Ucap Deni yang pasrah.
“Ayo masuk,” jawab Caca yang mempersilahkan Deni ikut masuk kedalam kamar pengantin dan ia mengikutinya.
“Ada apa yang ingin kau katakan?” tanya Jack.
“Begini? Karena ada Jack maka aku bertanya kepadamu dulu. Bagaiman perasaanmu saat kau pertama kali memegang tangan kakak ipar?” tanya Deni.
“Aku bahagia.” Jawab Jack singkat.
“Aish bukan itu maksudku. Apakah jantungmu berdetak semakin cepat, mungkin seperti berdebar debar?” tanya Deni.
“Tentu saja.” Jawab Jack.
“Apakah ada hal lain atau terhadap wanita lain kau seperti itu?” tanya Deni.
“Tentu saja tidak. Tidak ada wanita yang membuatku seperti itu dan tidak ada wanita selain Caca yang aku sentuh. Bahkan ketika memikirkannya saja sudah membuatku senang dan membuatku marah ketika dia menangis.” Jawab Jack.
“Apakah itu yang di namakan cinta?” tanya Deni tiba-tiba.
“Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?” tanya Caca.
“Aku mengalami hal yang sama seperti apa yang di rasakan oleh Jack. Sebelumnya aku tidak pernah merasakan hal itu kepada wanita bahkan kepada wanita yang sudah lama aku kenal. Tapi ada seorang wanita yang pertama kali aku kenal dan membuatku merasakan hal itu.” Ucap Deni.
“Lalu kenapa kau mengakui hal ini kepadaku?” tanya Caca.
“Justru itu, aku membutuhkan bantuan kakak Caca untuk membuktikan perasaanku ini benar-benar cinta atau bukan.” Jawab Deni.
“Ucapkan dengan jelas dan jangan terbelit-belit.” Jawab Jack yang memberikan tatapan cemburu kepada Deni.
“Sepertinya aku menyukai sahabatmu kakak ipar.” Jawab Deni malu-malu.
“Hahahhaha, benarkah?” tanya Caca yang terkejut.
“Aku harus mengkorek semua perasaan yang sedang di alami Deni terhadap Meriska sebelum dia mengetahui bahwa Meriska juga tertarik kepadanya.” Ucap Caca dalam hatinya kemudian memberikan tatapan kerjasama
kepada Jack dan Jack mengetahui itu.
Deni menceritakan semua hal pertama kali ia bertemu dengan Meriska.
“Jadi seperti itu, baiklah aku akan membantumu untuk mendekati Meriska. Tapi ingat jika kau menyakitinya, aku orang pertama yang akan membunuhmu.” Jawab Caca.
“Benarkah? Terimakasih kakak ipar.” Jawab Deni yang ingin memeluk Caca namun di cegah oleh Jack.
“Keluar, dan jangan sentuh istriku.” Jawab Jack.
“Pelit sekali. Baiklah aku keluar. Terimakasih Kakak ipar, aku tunggu.” Jawab Deni.
__ADS_1