I Love You Mr.Mafia

I Love You Mr.Mafia
Kejahilan Brian


__ADS_3

“Aku akan selalu melindungi mu putri keci ku.” Ucap Brian.


“Wajib dong. Itu sudah janji abang sejak kecil. Dan ingat, abang sudah lama menghilang jadi tebuslah semua waktu itu untuk selalu melindungiku.” Jawab Caca.


“Tapi sekarang kau sudah memiliki seseorang yang bisa menjagamu. Jadi sudah bukan kewajiban abang lagi.” Jawab Brian.


“Siapa dia?” tanya Caca yang benar-benar polos.


“Tentu saja suami mu.” Jawab Brian yang mencubit pipi Caca.


“Lepaskan.” Ucap Jack yang melepaskan tangan Brian dari wajah Caca dengan sangat kuat.


“Jack!” panggil Caca.


“Kenapa kau bisa di sini?” tanya Jack kepada Brian.


“Hy Jack Sandreas.” Panggil Brian dengan santai.


“Aku bertanya sedang apa kau di sini?” bentak Jack kepada Brian.


“Bagaimana kau bisa tau aku di sini Jack?” tanya Caca.


“Diam! Aku sedang bertanya padanya bukan untuk menjawab pertanyaanmu.” Ucap Jack yang membentak Caca karena sudah terlalu emosi.


“Kau membentakku Jack?” tanya Caca dengan lirih bernada pelan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


“Kalau kau tidak mau menjawabku Brian. Maka aku akan bertanya kepadamu. Sedang apa kau bersama dengan Brian? Mencium pipinya segala.” Tanya Jack yang marah kepada Caca.


“Seharusnya kau bertanya dengan baik-baik bukan membentakku dengan seperti itu. Tiba-tiba datang dengan emosi.” Bentak Caca kembali kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.


“Kau belum menjawab pertanyaanku. Jangan pergi.” Ucap Jack yang memegang tangan Caca untuk mencegahnya berjalan.


“Lepaskan!” ucap Caca.


“Lepaskan dia, kau menyakitinya.” Ucap Brian yang memisahkan tangan Jack dan Caca.


“Brengsek! Siapa kau ikut campur denganku.” Ucap Jack yang tidak bisa menahan emosinya lagi satu pukulan melayang ke wajah Brian.


Brian langsung terjatuh ke tanah dengan wajah yang memar dan ujung bibir kanan mengeluarkan darah.

__ADS_1


“Abang!” panggil Caca kemudian menolong Brian.


“Apa yang kau lakukan Jack? Apa kau gila?” tanya Caca.


“Kau malah menolong ya dan tidak memberikan jawaban dari pertanyaanku.” Ucap Jack.


“Abang tidak apa-apa?” tanya Caca yang melihat darah segar keluar dari sudut mulut Brian.


“Tidak apa-apa ini hanya hal kecil.” Jawab Brian sambil tersenyum.


“Hahah, ternyata benar bahwa itu kau Jack. Apakah hanya segini saja ekspresi dan pukulan atas kecemburuanmu. Lihat aku akan membuatmu lebih emosi di bandingkan dengan ini.” ucap Brian dalam hatinya.


“Kau tidak menghiraukanku.” Ucap Jack yang tidak mendapatkan jawaban dari Caca.


“Iya aku gila. Sangking gilanya karena kau membuatku cemburu aku tidak bisa berfikir jernih.” Bentak Jack pada mereka berdua.


Caca berdiri menolong Brian untuk berdiri kemudian menghadapi Jack.


“Plak.” Satu tamparan di wajah Jack melayang dari tangan Caca.


“Apa kau gilak cemburu dengan abang sepupuku, seorang abang yang sudah sedarah denganku.” Jawab Caca yang ikut emosi.


“Ayo abang! Kita kembali ke rumah untuk mengobati wajahmu yang terluka.” Jawab Caca.


Brian memberikan senyuman dengan penuh kemenangan ke arah Jack. Dan hal itu membuat Jack mengerti maksud senyuman yang di berikan oleh Brian kepadanya. Jack langsung menyusul mereka.


Dalam perjalanan itu mereka bertiga hanya berdiam diri. Caca yang merangkul Brian dalam perjalanan dan Brian semakin membuat Jack panas. Jack tidak berani untuk memisahkan mereka karena akan membuat situasi akan semakin buruk.


“Brengsek. Walaupun kau adalah abangnya tapi bukan berarti kau bisa enaknya begitu terhadap istriku. Aku benar-benar ingin


menghancurkanmu.” Ucap Jack dalam hatinya yang terus mengepalkan kedua tangannya dalam perjalanan jalan kaki menuju rumah.


“Ada apa?” tanya Bagas yang melihat mereka bertiga masuk ke dalam rumah.


Saat itu Aisyah, Joko dan Budi sedang berada di dapur jadi mereka tidak mengetahui hal ini.


“Abang iparmu menggila.” Jawab Caca singkat kemudian menyuruh Brian duduk.


Jack ikut duduk di depan mereka dan Caca pergi mengambil obat p3k dan es batu untuk mengkompresnya.

__ADS_1


“Abang ipar memukul abang Brian?” tanya Bagas yang ikut duduk di samping Brian.


Brian mengaggukkan kepalanya. Jack hanya diam saja sambil memberikan tatapan membunuh kepada Brian.


“Pasti ini kejahilan abangkan?” bisik Bagas kepada Brian.


Brian tersenyum menjawab pertanyaan Brian dan memberikan tatapan senyum itu kembali kepada Jack.


“Kau bertanya mengapa aku di sini? Tentu saja untuk menjumpai wanita kesayanganku.” Jawab Brian semakin membuat Jack panas.


“Yang di maksud abang Brian itu. Kakak Caca, kakak Caca itu sudah menjadi putri kecil kesayanganya sejak kecil.” Jawab Bagas meluruskan.


Caca datang membawa kotak p3k dan semangkok air dingin dengan es. Caca mengkompres wajah Brian dengan perlahan dan tidak menghiraukan Jack yang saat itu ada di situ. Bahkan Jack juga sudah di tampar oleh Caca, walaupun tidak berdarah dan berbekas parah namun tetap saja merah sedikit.


“Suamimu hanya cemburu kepadaku. Jangan membuatnya seperti itu.” Ucap Brian.


“Tapi bukan berarti dia seenaknya saja memukul orang lain.” Jawab Caca.


“Kau tidak boleh seperti itu putri kecilku. Jika kau juga melihat dia dengan wanita lain bagaimana perasaanmu?” tanya Brian yang ingin menghentikan kejahilannya atas uji coba perasaan Jack terhadap adiknya itu.


“Aku akan bertanya lebih dulu dengan baik-baik, setelah itu baru bertindak. Bukan langsung memukul dan membawa emosi.” Jawab Caca.


“Kau yakin bisa menahan emosi amarahmu putri kecilku?” tanya Brian.


Caca terdiam dan memikirkan pertanyaan Brian sambil memberikan salep kepada Brian. Caca berfikir mungkin saja dia akan melakukan hal yang sama jika itu terjadi pada dirinya. Caca tidak berani menjawab apa-apa.


“Kenapa diam? Tidak bisa kan? Minta maaflah kepada suamimu putri kecil, tadi kau baru saja menamparnya.” Jawab Brian.


“Dia yang harus meminta maaf terlebih dulu kepadamu baru aku akan memaafkannya dan meminta maaf atas tamparanku.” Jawab Caca.


“Aku minta maaf atas kesalah pahamanku kepada kalian. Jadi kalian bisa melanjutkannya lagi.” Jawab Jack kemudian berdiri dan meninggalkan mereka masuk kedalam kamar.


“Kau lihat, singa peliharaanmu sudah marah.” Jawab Brian.


“Abang! Aku membelamu dan kau malah menyalahkanku.” Tanya Caca.


“Tentu saja kakak salah. Kakak lihat bagaimana abang ipar cemburu terhadap Kenzo dan Bella apalagi dengan kedekatan kakak dengan abang Brian.” Jawab Bagas kemudian ikut meninggalkan mereka untuk pergi ke kamar Aisyah membangunkan Kenzo dan Bella yang tidur di sana.


“Pergilah ke kamar dan selesaikan masalahmu. Abang sudah tidak apa-apa. Maaf sudah membuatmu dan suamimu bertengkar.” Jawab Brian.

__ADS_1


Caca terdiam dengan pernyataan sang abang. Kemudian pergi meninggalkan tempat dan masuk kedalam kamar.


“Semoga apa yang aku lihat saat ini tidak akan pernah berubah, dan jika aku menyaksikan kau menyakiti adikku maka akulah orang pertama yang akan membunuhmu.” Ucap Brian yang tersenyum dengan keberhasilan kejahilannya membuat Jack benar-benar cemburu.


__ADS_2