
**Nama : Riki Chandra
Umur : 23 tahun
Tinggi: 175 cm
Sifat : Egois, Ramah dan Pendiam
Status : Supir pribadi Jack
Terimakasih sudah berkunjung ke story saya.
Jangan lupa dukung Author dengan like + koment + bintang 5 dan Vote ya setelah membaca**.
“…..” Caca tidak menjawab penjelasan Riki.
“Nona, maaf jika permintaan ku berlebihan. Aku melakukan semua ini bukan karena aku bawahan tuan Jack tapi aku berkata seperti itu sebagai lelaki.” Ucap Riki.
“Tidak apa-apa Riki, akan aku fikirkan.” Jawab Caca yang singkat.
Setelah obrolan itu Riki dan Caca sudah sampai di gang rumah Caca. Riki memberhentikan mobilnya di depan gang rumah Caca, kemudian keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Caca.
“Silahkan Nona?” ucap Riki setelah membukakan pintu Caca.
“Terimakasih Riki,” ucap Caca.
“Tentu Nona,” jawab Riki.
“Sampai sini saja mengantar ku,” ucap Caca.
“Tidak Nona, tugas ku harus mengantarkan nona sampai depan rumah. Itu perintah tuan Jack.” Ucap Riki.
“Hmmm, baiklah.” Jawab Caca.
“Nona duluan saja jalan, saya akan membawa koper anda.” Ucap Riki.
“Mohon bantuannya,” jawab Caca.
“Sudah tugas saya,” ucap Riki.
Caca berjalan terlebih dahulu menuju rumah kostnya sedangkan Riki sedang mengeluarkan koper Caca dalam bagasi mobil. Beberapa menit kemudian Caca sampai di depan rumah kostnya dan di susul oleh Riki yang membawa koper Caca.
“Terimakasih Riki,” ucap Caca.
“Sudah tugas saya nona jadi berhentilah mengucapkan terimakasih.” Ucap Riki.
“Hahahahah, kau mengingatkanku pada adikku. Berapa umur mu?” Tanya Caca.
“ 23 Tahun,” jawab Riki.
“Mulai sekarang panggil saja aku Kak atau bisa nama.” Ucap Caca.
“Tapi saya tidak berani,” jawab Riki.
“Kau bilang sudah tidak memiliki keluarga lagi kan di dunia ini? Jadi anggap saja aku adalah kak perempua mu.” Ucap Caca.
“Sudah jangan tapi-tapi, panggil aku kakak Caca.” Ucap Caca.
“Kakak Caca,” panggil Riki.
“Bagus, tapi aku tidak bisa menyuruhmu untuk masuk ke rumah untuk menyuguhkan segelas kopi karena bagaimanapun kau adalah lelaki dan aku perempuan yang tidak memiliki ikatan darah.” Ucap Caca.
“Tidak apa-apa Kak saya mengerti. Baiklah saya pamit.” Ucap Riki.
__ADS_1
“Hahha begitulah cara menyebutkannya dengan baik,” jawab Caca.
“Heheh, saya masih butuh waktu untuk
menyesuaikannya.” Jawab Riki yang kemudian kembali berpamitan dan pergi.
Caca kemudian membuka pintu rumah kost dan masuk kedalam. Sementara Riki berjalan menuju mobilnya sambil tersenyum.
“Pantasan saja tuan Jack bisa jatuh hati pada Kak Caca,” ucap Riki yang berjalan menuju mobilnya.
“Mungkin jika aku yang terlebih dahulu bertemu akan jatuh hati juga. Entah apa yang ada pada dirinya semua orang bisa merasa bahagia jika di dekatnya. Seperti terkena sihir.” Ucap Riki dalam hatinya yang akan menginjak gas mobil dan pergi.
Riki merasa bahagia dengan pengakuan Caca pada dirinya. Selama ini setelah ibunya meninggal Riki menjadi seorang yang pendiam dan menutup diri dari kegiatan social. Riki lebih fokus untuk bekerja pada Jack dari pada melakukan hal yang biasa dilakukan oleh para pemuda.
Sudah lama Riki tidak tersenyum, namun setelah Caca mengakui dirinya sebagai adiknya. Riki tersenyum bahagia. Seperti memiliki tujuan hidup yang baru pada dirinya.
Caca yang baru masuk kedalam rumanhya bergegas untuk membereskan barang-barangnya di dalam koper.
“Akhirnya aku kembali ke dalam istana Kanada ku, hehehhe.” Ucap Caca pada dirinya.
Caca membuka jilbabnya kemudian membuka kopernya. Satu persatu barang-barang yang ada dalam kopernya ia tata ke dalam lemari. Dengan sangat rapi dan perlahan Caca menyusun barang-barangnya ke dalam lemari hingga selesai.
Setelah selesai menyusun barang-barang yang ada di koper Caca kemudian membersihakan rumahnya. Kemudian memasak untuk makan siang.
Setelah semuanya selesai di kerjakan Caca
membersihkan diri.
“Akhirnya selesai juga, “ Caca yang sudah selesai mandi.
Caca membaringkan dirinya ke atas kasur. Kemudian dia mengambil handpone ya untuk melihat tanggal.
“Aku harus mentargetkan diri untuk segera
menyelesaikan pendidikan ini.” Ucapnya ketika melihat kalender di handpone.
***Mansion***
Jimmy, Deni, Billy dan Max berjalan mengikuti Jack yang menuju ruang kerjanya. Mereka semua berfikir hal yang sama.
“Rapat yang tertunda,” ucap mereka semua dalam hati.
Mereka yang berjalan bersama-sama sambil melirik satu sama lain. Mengisyaratkan bahwa mereka satu pemikiran dan kemudian berjalan saja menuju ruang kerja. Setelah beberapa menit mereka tiba.
“Kalian pasti sudah mengetahui mengapa aku
mengumpulkan kalian di sini?” Tanya Jack ketika duduk di meja kerjanya.
“Iya,” jawab mereka semua yang ikut duduk di sofa menghadap meja kerja Jack.
“Maaf jika rapat kita tunda karena urusan
pribadiku,” ucap Jack.
Max, Billy, Jimmy dan Deni sangat terkejut dengan kalimat yang di ucapkan oleh Jack. Mereka saling tatap lalu berakhir menatap wajah Jack.
“Kau?” ucap Billy.
“Ini serius Jack?” Tanya Deni.
“Kau kesambet apa?” Tanya Max.
“Kau tidak sedang sakitkan Jack?” tanya Jimmy.
__ADS_1
“Kalian kenapa?” Jack tanya balik.
“Kau yang kenapa?” ucap mereka berempat dengan
kompak.
“Aku tidak apa-apa,” jawab Jack.
“Hahahhaa,” mereka semua yang slaing tatap melihat Jack tertawa dengan kompak.
“Kenapa kalian tertawa? Apakah ada yang lucu?” tanya Jack.
“Kau yang lucu,” ucap Deni.
“Kenapa?” tanya Jack.
“Apa kau sadar kau mengatakan maaf pada kami?” tanya Billy.
“Apa salahnya?” tanya Jack.
“Seorang Jack Sandreas meminta maaf?” tanya Jimmy.
“Ini pertama kalinya kau mengucapkan kata itu selama aku mengenal mu Jack,” jawab Max.
“Aku juga,” ucap Deni.
“Aku lagi,” ucap Jimmy.
“Apa lagi aku, ini pertama kalinya kau meminta maaf.” Jawab Billy.
“….” Jack berfikir kenapa dia bisa berubah.
“Mungkin karena aku keseringan mengatakan maaf pada Caca jadi tanpa sadar sekarang juga mengucapkan hal seperti itu,” ucap Jack dalam hatinya.
“Sudahlah jangan bahas itu, sekarang bagaimana Billy?” Tanya Jack mulai serius.
“Baiklah akan aku jelaskan. Kalian semua sudah membaca file yang telah aku kirimkan ke masing-masing email kalian?” Tanya Billy.
“….” Jack, Jimmy, Deni dan Max menganggukkan kepalanya yang mengartikan sudah membaca file tersebut.
“Aku mendapatkan file itu di dalam laptop Leon ketika aku sedang mengumpulkan semua informasi yang di miliki Leon. Dan tanpa aku sengaja aku menemukan semua kotak masuk email Leon yang sama seperti yang ku temukan oleh pembunuh yang akan membunuh Jack pada malam itu.” Jawab Billy.
“Kau yakin?” Tanya Jack.
“Tentu, kau lihat ada lambang yang sama dalam perintah informasi itu.” Ucap Billy.
“Maksudmu lambang apa?” Tanya Max.
“Kalajengking,” jawab Billy.
“Terus?” Tanya Jack.
“Aku sudah melacak IP itu namun tidak dapat ku temukan. Namun ada bukti lain yang mungkin jadi petunjuk saat itu.” Jawab
Billy.
“Apa?” Tanya Jimmy.
“Aku membuka brankas Leon dan menemukan sebuah sertifikat pulau di Italia, cek dan surat dengan lambang kalajengking itu.” Jawab Billy.
“Jadi menurutmu itu adalah bayaran untuk Leon jika berhasil membunuh ku?” tanya Jack.
“Iya, dan isi surat itu adalah ini bayaran setengah dari pekerjaan mu untuk membunuhnya, selebihnya akan ku transfer di rekening mu. Photo dan informasi tentang orang itu akan aku kirim lewat email mu.”Jawab Billy.
__ADS_1
“Jadi itu hanyalah setengah harga saja dan
setengahnya akan menyusul jika telah membunuh Jack?” Tanya Max.