
Saat Caca tadi memasuki toilet dari kejauhan David mengikutinya. Namun David berpura-pura masuk ke toilet laki-laki yang bersebelahan dengan toilet wanita. Saat David ingin memeriksa keadaan Caca, Shinta dan Charles ada di depan toilet wanita. David mendengar apa yang sedang mereka bicarakan sehingga hanya memperhatikan saja.
Shinta berjalan memasuki toilet dan mencari keberadaannya. Setiap pintu di periksa oleh Shinta, dan saat itu memang tidak ada orang lain selain Caca dan Shinta yang berada di toilet. Hingga toilet paling ujung yang belum di periksa oleh Shinta. Shinta mengetuk pintunya.
“Ca apakah kau di dalam?” tanya Shinta.
“Aku Shinta tetangga lama mu,” jawab Shinta lagi untuk memastikan Caca mau membuka pintunya.
Caca membuka pintu toilet dengan wajah yang sedih dan langsung memeluk Shinta. Keadaan Caca yang masih gemetaran di sekujur tubuh dan keringat dingin bercucuran dari wajahnya. Shinta menerima pelukkan itu dan berusaha menenangkan Caca.
“Tenanglah aku di sini, lebih baik sekarang kitake mobilku.” Ucap Shinta.
Caca mengaggukkan kepalanya dan mereka pun keluar dari toilet menuju parkiran mobil.
“Ambil mobi sekarang Charles,” ucap Shinta yang keluar dari toilet.
Charles yang menerima perintah sang istri dengan jalan segera menuju parkiran mobil dan menyetir mobil.
“Siapa mereka sebenarnya? Dan apa yang terjadi sebenarnya dengan Caca?” tanya David yang masih tidak mengetahui apa yang terjadi.
David mengikuti mereka dari belakang. Dan ketika Caca masuk ke dalam mobil, David mencegahnya.
“Tunggu!” teriak David ketika Caca mau masuk kedalam mobil.
“Aku tidak ingin bertemu dengannya Shinta,” ucap Caca.
“Masuklah biar aku yang menghadangnya.” Jawab Shinta yang masih memegang gagang pintu mobil yang tadinya membukakkan pintu mobil untuk Caca.
Shinta mencegah David bertemu dengan Caca dan Charles turun dari mobil untuk bersama Shinta menghadang David.
“Aku ingin bertemu dengan Caca,” ucap David.
“Dia ingin sendiri.” Jawab Shinta kepada David.
__ADS_1
“Kalian siapa yang berani menghalangiku.” Jawab David.
“Kau menyebalkan, brukk.” Satu tonjokkan dari Charles pada David yang ingin membuka pintu mobil.
“Brengsek!” ucap David yang terkena pukulan kemudian ingin membalas.
Charles berhasil menghindar tonjokkan David yang melayang ke arahnya.
“Apa yang sebenarnya terjadi pada Caca? Dan kalian siapanya dia?” tanyanya David yang kesakitan akibat di beri tonjokkan kedua dari Charles.
“Kau tanya saja pada kakak tirimu itu. Apa yang sudah dia lakukan pada nyoya Caca.” Jawab Charles dengan membentak David sehingga David berdiam diri menghayati maksud perkataan Charles.
“Sayang masuklah!” ucap Charles memerintah Shinta.
Shinta mengikuti perintah Charles yang masuk ke dalam mobil dan kemudian Charles masuk ke dalam mobil. Mereka meninggalkan David yang berdiam diri memikirkan perkataan Charles.
“Kevin!” panggil David sambil mengepalkan kedua tangannya.
David tidak memperdulikan sakit di wajahnya akibat tonjokkan Charles. David melangkahkan kakinya berjalan menuju ruangan Kevin untuk memastika apa yang sebenarnya terjadi. Dengan sangat emosi David berjalan menuju ruangan Kevin dan ingin segera menonjok wajah Kevin yang telah membuat Caca seperti itu.
“Sedang apa kau di sini?” tanya Kevin kepada David.
“Brengsek! Brakkk.” Satu tonjokkan melayang di wajah Kevin lagi dari kepalan tangan David yang sedang emosi.
“Apa-apaan kau datang ke sini langsung menonjokku?” tanya Kevin yang tidak mengetahui kenapa David menonjok dirinya.
“Katakan padaku apa yang kau lakukan kepada Caca?” tanya Kevin kepada David dengan menarik kera baju Kevin dengan kedua tangannya dalam posisi badan David di atas Kevin.
“Hahahha, ternyata tentang wanita sok suci itu.” Jawab Kevin dengan entengnya.
Satu pukulan kembali melayang ke wajah Kevin dari David.
“Brengsek kau!” ucap Kevin kemudian menyerang kembali.
__ADS_1
Kevin membalas tonjokkan David dengan tonjokkannya. Mereka berdua berantam di dalam ruangan itu hingga keduannya kelelahan dan memulai berbicara.
“Awalnya aku hanya ingin mengambil wanita yang kau sukai namun akhirnya aku jatuh Cinta sendiri dengan kebaikan dan kepintarannya.” Ucap Kevin dengan napas yang terengah-engah.
“Kenapa kau melakukan semua ini? Mengapa kau selalu saja mengambil apa yang aku punya?” tanya David.
“Karena aku tidak ingin menang dari mu, kau selalu saja di perhatikan oleh Ibumu dan ayahku. Sedangkan aku hanya menjadi pion bagi kalian. Aku tidak bebas seperti mu, aku selalu di tekan.” Jawab Kevin.
Memang benar bahwa Kevin dan David di perlakukan dengan perlakuan yang berbeda. Ayah Kevin membawanya sebagai seorang duda ketika menikahi Ibu David. Sedangkan Ibu David juga membawa David sebagai janda. Saat itu mereka masih sama-sama berumur di bawah 10 tahun, Kevin yang berumur 10 tahun sedangkan David 5 tahun.
Kevin selalu di tekan untuk menjadi penerus perusahaan keluarganya di bagian property. Dia di didik sebagai anak yang tidak kenal dengan bermain-main seusiannya dan di wajibkan untuk terus belajar dan belajar. Sedangkan David selalu di manja oleh Ayahnya dan Ibu David sendiri.
Kevin di tuntut untuk selalu jadi panutan David di dalam hidupnya. Dan di perintahkan untuk selalu mengalah dalam hal apapun kepada adiknya. Hal itu lah yang membuatnya membenci keluarganya sendiri dan pergi dari rumah sejak usia 17tahun. Dia berkelana di dunia bawah dan membentuk sebuah geng karena kemampuannya terhadap computer.
Namun orang mengenalnya sebagai progaming yang handal sekaligus seorang professor terkenal di suatu kampus, yaitu kampus Caca. Dia sengaja keluar dari jalur keinginan ayahnya. Berbeda dengan David yang kuliah S2 di jurusan bisnis marketing untuk melanjutkan usaha ayahnya. Dan mereka berdua bertemu dengan Caca ketika masuk matakuliah computer, dan David semakin dekat dengan Caca karena satu club membaca di perpustakaan.
“Mengapa kau berbicara seperti itu? Apa yang belum Ibu dan ayah berikan kepadamu?” tanya David.
“Tidak ada, mereka hanya menjadikan ku pion untuk kekayaan mereka dan kau.” Jawab Kevin.
“Kau salah, itu tidak mungkin. Ayah dan Ibu sangat mencintai dan menyayangi mu, bahkan saat ini mereka selalu ingin bertemu denganmu.” Jawab David.
“Benarkah seperti itu? Tapi kenyataannya kaulah anak emas itu bukan aku.” Jawab Kevin.
“Kenapa kau seperti ini? Jadi inilah alasanmu meninggalkan rumah?” tanya David.
“Hahaha,” Kevin tertawa kemudian berdiri dari lantai menuju tempat duduknya.
“Kenapa kau tertawa?” tanya David yang menghampiri Kevin.
“Sudahlah masalah itu aku tidak ingin membahasnya. Kau ingin mengetahui kejadian Caca di sinikan?” tanya Kevin.
“Iya, jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa Caca menangis seperti itu dan tidak ingin bertemu denganku lagi?” tanya David.
__ADS_1
“Hahahha, mungkin karena dia sudah mengetahui bahwa kau adalah adik tiriku.” Jawab Kevin.
“Jangan membuatku penasaran. Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?” tanya David.