I Love You Mr.Mafia

I Love You Mr.Mafia
Kerinduan Caca Kepada Brian


__ADS_3

Bulan purnama yang semakin memancarkan cahaya terangnya pada malam itu di temani dengan bintang-bintang indah. Semua orang terlalu lelah dengan kegiatan hari ini telelap dalam mimpi-mimpi indahnya dalam peristirahatan malam.


Villa di pinggir pantai itu sudah tidak ada lagi penghuni yang membuka matanya, semua penghuninya sudah terlelap tidur. Sedangkan di rumah Caca masih ada tiga orang yang membuka matanya dan beberapa penjaga yang ada di luar rumah masih siap siaga menjaga dekorasi pesta. Tak lama kemudian tiga orang yang masih membuka matanya itupun terlelap tidur setalah selesai banyak berbicara. Tiga orang itu adalah Joko, Budi dan Aisyah.


Seperti biasanya Caca dan Jack melaksanakan sholat subuh berjamaah, namun karena Jack masih merasa sangat mengantuk dirinya kembali membaringkan diri untuk tertidur. Sedangkan Caca bergegas keluar dari kamar menuju dapur untuk membantu sang bunda menyiapkan masakkan.


Potong memotong sudah menjadi bagian tugas Caca untuk membantunya. Aisyah yang bertugas memasak semua bahan yang sudah di siapkan oleh Caca. Dalam kegiatan memasak itu mereka mengobrol beberapa hal hingga Aisyah baru mengingat bahwa Brian sangat ingin bertemu dengan Caca.


“Bunda baru mengingatnya.” Jawab Aisyah.


“Ada apa bun? Apakah masakkannya gosong?” tanya Caca yang saat itu Aisyah sedang menggoreng ayam.


“Tidak.” Jawab Asiyah tersenyum.


“Lalu?” tanya Caca yang heran dengan perkataan Bunda Aisyah.


“Masuklah ke kamar Bagas, lihat ada siapa yang tidur dengannya.” Jawab Aisyah memberikan sebuah teka-teki kepada Caca.


“Emangnya siapa Bun?” tanya Caca yang masih sibuk memotong kentang.


“Cuci tanganmu dan lihatlah segera.” Jawab Aisyah.


“Nanti saja deh Bun, pekerjaan ini belum selesai.” Jawab Caca yang masih tenang tanpa penasaran.


“Kau yakin tidak ingin segera berlari kesana?” tanya Aisyah yang mengambil pisau yang di pegang oleh Caca sehingga memberhentikan aktivitas Caca memotong.


Aisyah yang tersenyum dan memberikan sebuah pancaran kebahagia tentang siapa sosok itu sebenarnya. Begitu Caca melihat ekspresi sang bunda, dirinya langsung menebak isi fikiran sang bunda.


“Abang Brian?” tanya Caca.


Aisyah mengaggukkan kepalanya sambil tersenyum dan memberikan intruksi untuk segera ke kamar Bagas. Caca langsung berdiri dari meja makan dan meletakkan kentang yang sedang di pegangnya.


“Bunda serius?” tanya Caca yang tidak percaya.


Aisyah lagi-lagi memberikan senyuman dan anggukan saja kepada Caca untuk menjawab pertanyaanya.


“Kenapa baru bilang sekarang, pakai teka-teki segala.” Jawab Caca yang ingin segera berlari ke sana namun di cegah oleh Aisyah.


“Mau ke mana? Cuci tanganmu dulu, bagaimana mungkin kau akan membangunkannya dengan kondisi tangan bau bawang, cabai dan semuannya.” Jawab Aisyah yang menarik tangan Caca ke arah westapel.


“Makasih bunda.” Cium Caca kemudian berlari pergi setelah mencuci tangannya.

__ADS_1


Caca mengketuk pintu kamar Bagas karena masih terkunci.


“Awas saja jika anak ini belum bangun sementara ini sudah pukul enam pagi.” Jawab Caca yang masih mengketuk pintu kamar Bagas.


“Siapa si pagi-pagi begini.” Ucap Bagas yang membuka pintunya.


Caca langsung masuk ke dalam kamar Bagas dan mencari keberadaan sosok yang sangat ingin di lihatnya itu. Namun tidak ada tanda-tanda bahwa orang yang di carinya itu ada di atas kasur.


“Di mana dia?” tanya Caca kepada Bagas yang berjalan di depan kasur.


“Maksudnya abang Brian.” Jawab Bagas.


Caca memberikan anggukan kepala. Bagas menunjuk ke arah belakang badan Caca. Saat itu Brian masuk ke kamar mandi karena ikat rambutnya ketinggalan di dalam kamar mandi. Dan posisi Caca saat itu membelakangi kamar mandi.


Brian yang mengikat rambut gondrongnya itu dengan ikat rambut berwarna hitam keluar dari kamar mandi langsung mendapatkan pelukkan hangat dari Caca.


“Abang!” panggil Caca yang memeluk Brian dari depan dengan manja.


“Wah. Putri kecilku tiba-tiba memeluk.” Jawab Brian menerima pelukkan Caca.


“Kenapa baru sekarang datang. Aku sangat sangat sangat merindukanmu.” Jawab Caca.


“Maaf jika abang terlambat datang untuk bertemu denganmu.” Jawab Brian yang mengelus kepala Caca dalam pelukkannya.


“Seperti bertemu dengan kekasih saja sampai segitu lebaynya.” Jawab Bagas yang melihat Kakak dan abangnya ini berpelukkan.


“Diamlah. Kau tau aku merindukannya.” Jawab Caca yang melepaskan pelukkannya.


“Kenapa di lepas. Padahal baru saja abang merasakan pelukan putri kecilku yang cantik.” Jawab Brian yang menggoda Caca.


“Ah kalian sama saja.” Jawab Caca yang melipatkan tangannya.


“Sifat mudah marah mu itu tidak pernah hilang.” Jawab Brian kemudian memeluk Caca kembali kemudian memberikan ciuman kening.


“Apakah abang tidak merindukanku?” tanya Caca.


“Tentu saja aku merindukan putri kecilku ini.” Jawab Brian yang mencubit kedua pipi Caca dengan kedua tangannya.


“Ah aku sungguh rindu.” Jawab Caca yang memeluk lagi.


“Baiklah aku pergi.” Jawab Bagas yang keluar dari kamar.

__ADS_1


“Apakah belum puas memeluk tubuh kekar ku ini? Apakah tunggu sampai kurus baru melepaskannya.” Jawab Brian yang menggoda Caca lagi.


“Issss, siapa bilang.” Jawab Caca yang melepaskannya.


“Mulai lagi.” Jawab Brian kemudian meniupkan napas di telinga Caca dan berlari keluar.


“Iblis!” panggil Caca yang sejak dulu selalu memanggil sebutan itu ketika Brian begitu kemudian ikut berlari mengejar Brian keluar


dari kamar.


Brian pergi berlari hingga keluar dari rumah menuju tepi pantai yang di ikuti dengan Caca di belakangnya. Aisyah, Budi, Joko dan Bagas yang menyaksikan itu hanya tertawa melihat anak-anaknya.


“Sudah lama tidak melihat mereka kejar-kejaran seperti Tom and Jerry.” Ucap Aisyah.


“Iya. Wajar saja sudah hampir delapan belas tahun tidak bertemu.” Jawab Budi.


“Biarkan mereka seperti itu.” Jawab Joko.


“Sejak tadi sudah seperti itu.” Jawab Bagas yang mengambil risol dari dapur.


“Kau kebiasaan.” Jawab Aisyah yang marah melihat Bagas selalu saja mengambil makanannya setelah matang.


“Enak bunda.” Jawab Bagas yang memakan risolnya.


“Dasar anak ini.” Jawab Aisyah.


“Aku akan mandi dulu.” Jawab Budi yang kembali ke kamarnya setelah di dapur.


“Cepatlah kembali kita akan sarapan bersama.” Jawab Joko.


“Oke.” Jawab Budi.


Mereka semua sibuk dengan kegiatannya masing-masing di saat pagi. Aisyah saat itu di bantu masak juga oleh cheff yang sudah di perintahkan oleh Bagas untuk membantu mereka. Mereka mempersiapkan sarapan pagi untuk semua orang. Aisyah mempersiapakn semua makanan yang akan di hidangkan.


“Bagas!” panggil Aisyah.


“Ada apa bun?” tanyanya.


“Mereka mau di antarkan saja makanannya atau makan bersama dengan kita?” tanya Aisyah.


“Sepertinya antarkan saja bun. Mungkin saat ini mereka belum bangun.” Jawab Bagas.

__ADS_1


“Baiklah akan bunda siapkan.” Jawab Aisyah.


Jimmy dan lainnya yang berada di villa masih saja tertidur dalam mimpi indahnya. Mungkin karena masih terlalu lelah setelah perjalanan harus segera menghadiri acara resepsi Caca dan Jack.


__ADS_2