
Max keluar dari rumah sakit menuju stasiun kereta api bawah tanah menuju tempat parkir mobil perusahaan cabang Sandreas di bidang mobil sport dan teknologi. Max menekan tombol kunci otomatis mobil sport mewah Honda Civic Type-R berwarna merah. Max membuka wig berwarna hitam sebagai penyamarannya di rumah sakit J.
“Terkadang memakai wig ini terlalu gatal, begini kan jauh lebih baik dengan rambut panjangku beserta poni.” Ucap Max yang berkaca di dalam mobilnya itu.
Max menekan tombol start untuk melanjutkan perjalannya ke rumah sakit Akashi untuk mengetahui lebih mendalam informasi yang di butuhkan agar merencanakan rencana selanjutnya.
Mobil sport super mewah itu melaju dengan cepat yang di kendarai oleh Max melewati jalanan menuju rumah sakit Akashi. Hanya memerlukan beberapa menit sampai di sana karena hanya berjarak 20Km dari perusahaan cabang sandreas yang ada di negara itu.
Max turun dari mobilnya memasuki rumah sakit yang langsung menuju lantai teratas yaitu apartemen khusus milik Akashi. Akashi sudah menunggu kedatangan Max untuk mendengarkan rencana selanjutnya dalam menintrogasi pembunuh yang berada di ruang hitam Akashi. Anggota Akashi sudah mengenal Max sehingga tidak perlu di tahan atau di periksa lagi ketika ingin menaiki apartement Akashi yang berada di lantai atas rumah sakitnya.
“Akhirnya kau datang juga?” tanya Akashi yang menyambut Max.
“Di mana dia?” tanya Max kepada Akashi.
“Siapa yang kau maksud? Richard atau pembunuh itu?” tanya Akashi.
“Pembunuh itu.” Jawab Max.
“Di ruangan hitamku, ayo!” Ajak Akashi menunjukkan jalan kepada Max.
Mereka berdua berjalan melangkah menuju ruangan hitan tersebut. Di dalam ruangan itu sudah terikat kedua tangan dan kaki pembunuh di sebuah kursi kayu jati. Dan 3 orang pengawal Richard yang menjaganya. Max masuk kedalam ruangan langsung mengambil kursi lainnya yang ada di situ dan mendekat ke kursi pembunuh.
Max membuka plaster mulut yang menutupi pembunuh dan menuangkan air yang telah tersedia di dekat kursi kayu itu sejak tadi. Pembunuh itu terbangun dan tersenyum pada awalnya namun setelah melihat wajah Max dirinya sadar siapa yang sedang di depannya.
“Kau? Kenapa kau ada di negara ini?” tanya pembunuh yang terkejut.
“Seharusnya aku yang bertanya kepadamu? Atas perintah siapa kau ingin membunuh Richard?” tanya Max yang menusukkan pisau di paha pembunuh.
“Au….Aku tidak mencari gara-gara denganmu? Kenapa kau menangkapku? Bukankah kau tidak memiliki ikatan dengan Richard?” tanya pembunuh.
“Jawab pertanyaanku.” Ucap Max menarik pisau yang menancap di paha pembunuh kemudian mengeluarkan darah segar.
“Kenapa aku bisa bertemu dengan salah satu dari mereka?” tanyanya dalam hati.
Pembunuh yang tidak menjawab pertanyaan Max dengan cepat, Max menusukkan kembali pisau kecil itu paha sebelah pembunuh.
“Oke aku jawab. Aku hanya memenuhi perintah bosku untuk membunuh Richard. Dan itu atas permintaan client kami yaitu adik tiri Richard sendiri.” Jawabnya.
__ADS_1
“Baguslah kau tidak berbohong. Dan satu lagi pertanyaanku padamu, dari mana kau mendapatkan tato di lehermu.” Tanya Max.
Pembunuh itu diam dan tidak menjawab. Sehingga membuat Max menarik kembali pisau dari pahanya.
“Kau tau siapa aku? Maka jawablah dengan jujur apa yang kau ketahui.” Ucap Max.
“Baik-baik aku tau kau adalah salah satu anggota ….” Jawabnya dengan singkat yang mengetahui Max sebagai seorang yang sudah lama di dunia mafia.
“Dari mana tato itu?’tanyanya.
“Ini adalah tanda identitas kami sebagai anggota geng Kalajengking hitam, dan setiap anggotanya memiliki tato ini.” Jawabnya.
“Sejak kapan kau memilikinya?” tanya Max.
“Sejak 10 tahun yang lalu, pertama kali mengenal dunia mafia. Aku hanya mengikuti temanku ketika itu dan kami hanya mengikuti pentatoan waktu itu di jalan….” pembunuh itu menceritakan status dia yang masih di level 3 sebagai anggota dan awal mula menjadi anggota.
“Jadi kau tidak mengetahui siapa bos kalian sebenarnya?” tanya Max.
“Tidak, kami akan mendapatkan misi saat menerima email. Dan kami akan di beri kontak client sekaligus.” Jawabnya.
“Baiklah, terimkasih.” Jawab Max yang berdiri
“Bagaimana denganku apakah aku tidak akan di bebaskan?” tanya pembunuh itu.
Sedangkan Akashi dan pengawal yang lainnya hanya melihat Max mengitrogasinya. Kemudian Max menyerahkan pembunuh itu kepada pengawal Richard terserah mau di eksekusi bagaimana.
“Ku serahkan kepada kalian, aku akan bertemu dengan bos kalian.” Jawab Max kepada pengawal Richard yang saling menatap melihat kejadian yang di hadapan mereka.
“Akashi tunjukan ruangan Richard.” Ucap Max.
“Oke,” jawab Akashi.
Setelah selesai mengintrogasi pembunuh itu dan mendapatkan informasi yang di butuhkannya tiba-tiba Max menerima panggilan telepon dari Billy.
“Ada apa?” tanya Max.
“Aku akan mengirim sebuah alamat. Aku minta kau menelusurinnya setelah itu beritahu kepadaku.” Ucap Billy.
“Alamat apa itu?” tanya Max.
__ADS_1
“Kemarin malam aku bertemu dengan ………” Billy menceritakan tentang kejadian di bar dan tentang symbol kalajengking itu.
“Baiklah aku mengerti.” Jawab Max.
Panggilan telepon itupun tertutup dan Max merasakan mereka semakin dekat dengan apa yang mereka cari. Kemudian Billy mengirimkan alamatnya dan membuat Max terkejut.
“Alamat ini? Bukan kah ini alamat yang sama seperti pembunuh itu katakan?” tanya Max dan hatinya.
“Tidak salah lagi, besok aku akan menyelidikinya.” Jawab Max lagi dalam hatinnya dan melanjutkan langkah kakinya yang menuju kamar Richard di rawat.
“Siapa yang menelpon? Jack?” tanya Akashi.
“Bukan hanya Billy.” Jawab Max.
Setelah beberapa langkah lagi mereka sampai di kamar Richard di rawat. Dan saat itu Richard sudah mulai membaik.
“Bagaimana kondisimu?” tanya Max.
“Sudah hampir pulih,” jawab Richard.
“Seperti yang sudah aku katakana bahwa semua ini adalah rencana Cristo, saudar tirimu.” Jawab Max.
“Terimakasih telah menolongku. Tapi aku tidak akan tinggal diam. Selama ini aku tidak peduli dengan apa yang dia lakukan bahkan jika dia mengambil posisi pengganti papi.” Ucap Richard.
“Hahaha, walaupun kau keras kepala namun kau tidak serakah itulah yang membuatku menyukaimu sejak dulu.” Ucap Max.
“Hahah, untuk kali ini aku akan membalas perbuatanya.” Jawab Richard sambil mengepal tangan kirinya yang tidak di inplus.
“Aku akan membantumu karena aku ingin memancing seseorang.” Jawab Max.
“Siapa?” tanya Richard dan Akashi yang tidak paham dengan maksud Max.
“Kalian akan mengetahuinnya nanti. Rencana selanjutnya kau sembuhkan dulu dirimu beberapa minggu di sini. Setelah itu aku akan memberitahumu langkah selanjutnya. O ya kumpulkan semua pasukkan yang kau miliki. Dan juga temui orang-orang yang bisa kau percayai di negaramu untuk mendukungmu naik tahta.” Jawab Max.
“Aku juga memikirkan hal itu. Baiklah. Mohon dukungannya. Dan terimakasih Akashi yang sudah banyak membantuku juga.” Ucap Richard.
“Tidak apa-apa kau juga juniorku dulu.” Jawab Akashi.
Mereka bertiga mengobrol santai setelah merencanakan rencana selanjutnya yang akan mereka lakukan.
__ADS_1