
Jack hanya terdiam melihat tingkahlaku Caca terhadapnya pada malam hari itu. Dia tidak ingin mempertanyakan lebih jauh, mungkin bukan waktu yang tepat. Jack juga berfikir bahwa mungkin hal ini terjadi karena sedang mengalami PMS. Menebak-nebak tanpa kepastian dalam pemikiran Jack sendiri.
Malam itu mereka tidak tidur di satu ranjang yang sama. Jack tidur di tempat tidur, sedangkan Caca tidur di sofa. Caca tidur dengan cepat dan Jack masih saja belum bisa memejamkan matanya. Kegelisahan yang di alami Jack membuatnya bangkit dari tempat tidur dan melihat keadaan Caca.
Dengan piama berwarna hitam digunakan oleh Jack, ia berdiri melihat Caca yang sudah tertidur pulas tanpa menggunakan selimut. Melihat Caca yang gelisah dengan memeluk tubuhnya, Jack segera mengambilkan selimut untuk menghangatkan tubuh Caca.
Jack menyelimutin tubuh Caca dengan selimut berwarna pink. Membelai kepala Caca dengan lembut dan mencium bibir Caca dengan cepat.
“Apa yang terjadi padamu hari ini?” tanya Jack dengan keadaan jongkok di bawah sofa memandangi wajah Caca yang tertidur pulas.
Jack terduduk di bawah lantai dan masih melamunkan apa yang sebenarnya terjadi dengan memandangi wajah Caca. Akhirnya Jack merasa sangat lelah, beranjak dari duduk menuju tempat tidur dan memejamkan matanya.
Keesokkan harinya, Jack sudah terbangun dari tidurnya dan melihat di dalam kamar sudah tidak ada sosok istrinya. Dilihat keadaan sekitar dengan pakaian kantor yang sudah di sediakan di atas sofa beserta aksesoris lainnya.
Jack menyingkirkan selimutnya dan menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang. Berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke kantor. Siap berpakaian dan melihat dirinya di hadapan kaca sudah siap, Jack turun ke bawah untuk sarapan pagi.
Bagas, Deni, Kenzo, Bella, Jimmy dan Caca sudah berada di meja makan. Jack datang langsung duduk di tanpa ada mengkatakan apapun. Caca langsung melayani Jack dengan mengambilkan makanan di piring Jack.
“Ada apa dengan kalian?” tanya Jimmy yang paham dengan situasi.
“Tidak apa-apa.” Jawab Caca dengan cepat.
Jack tidak ada menjawab apapun dan langsung menikmati makanan yang di sudah di ambilkan oleh Caca.
“Bunda hari ini akan mengantar kami?” tanya Bella.
“Sayang sepertinya beberapa hari ini dengan paman Bagas dan uncle Deni saja. Bunda belum merasa baikan.” Jawab Caca.
“Masih sakit?” tanya Jack dengan cepat dan memberhentikan kunyahan makanannya.
“Tidak. Hanya saja seperti orang yang tidak memiliki tenaga. Mungkin istirahat dengan cukup agar segera pulih.” Jawab Caca.
“Apakah kakak demam?” tanya Bagas.
“Tidak! Mungkin memang lagi tidak enakkkan saja.” Jawab Caca.
__ADS_1
“Apa perlu kita ke dokter dan memeriksanya?” tanya Jack.
“Tidak perlu Hubby. Aku benar-benar tidak apa-apa. Hanya butuh istirahat saja.” Jawab Caca.
“Iya kakak lebih baik ke dokter untuk memeriksa tubuh itu.” Jawab Bagas.
“Iya, aku bisa memanggilkan dokter pribadi Sandreas selain Jimmy.
“Iya tidak apa-apa. Kalian tidak perlu khawatir.” Jawab Caca.
Mereka yang memaksa Caca untuk memeriksa tubuhnya kedokter tidak di setujui oleh Caca. Setelah sarapan, mereka segera melanjutkan aktifitasnya. Begitu pula dengan Caca yang belum ada makan apapun dan segera meminta bantuan Selly untuk menyiapkan makanannya.
“Bibi bisa belikan saya madu asli?” tanya Caca.
“Bibi segera membelinya.” Jawab Selly.
“Terimakasih bibi Selly.” Jawab Caca yang menikmati makan bubur yang sudah di hidangkan oleh Selly.
Meja makan yang sudah tidak ada lagi orang dan hanya Caca seorang diri yang ada. Sambil menikmati buburnya, Caca melamunkan tentang dirinya.
“Sampai kapan fase mual ini akan berakhir, dan sampai kapan aku harus menjauhi Jack. Apakah Jack bisa memahami hal ini hingga beberapa hari ulang tahunnya?” tanya Caca dalam hatinya.
Selly datang dengan membawa madu yang di minta oleh Caca.
“Ini madunya, ada lagi yang anda butuhkan?” tanya Selly.
“Bawakan saja beberapa buah yang asam untukku Bi.” Jawab Caca.
“Baiklah.” Jawab Selly meninggalkan kamar Caca setelah membantunya membaringkan diri ke atas tempat tidur.
Caca meminum madunya untuk menghilangkan rasa pahit setelah muntah. Mengoleskan minyak kayu putih di kepalanya dan lehernya. Caca yang membaringkan badannya di atas tempat tidur sambil meminjat kepalanya dengan jemarinya.
“Sampai kapan harus begini, anak sholeh. Bantu bunda untuk melewati masa ini ya.” Ucap Caca sambil mengelus perutnya.
Lagi-lagi Caca tertidur karena tidak memiliki tenaga. Masih saja pukul sembilan pagi, Caca sudah tertidur saja. Selly yang datang kembali membawa buah yang di minta oleh Caca masuk ke dalam kamar. Melihat majikkannya itu sudah tertidur dengan pulas membuatnya menarik selimut untuk menyelimuti Caca.
__ADS_1
“Kasihan Caca, begitulah orang yang sedang hamil. Memiliki banyak cobaan ketika mengandung. Apalagi ini adalah yang pertama kali, seharusnya tuan Jack harus mengetahuinya dengan cepat namun harus di rahasiakan.” Jawab Selly kemudian pergi meninggalkan tempat.
Saat siang hari, Selly kembali membawa makan siang Caca ke dalam kamarnya. Caca yang sudah terbangun dengan menonton TV.
“Bibi Selly, bisa bantu aku untuk mempersiapkan kejutan untuk ulang tahun Jack?” tanya Caca.
“Apa yang bisa saya bantu?” tanya Selly.
“Cukup kita-kita saja. Jadi aku ingin membuatnya sangat sederhana saja. Bibi cukup belikan saja kue ulang tahunnya dan menghiasi meja makan dengan lilin dan bunga mawar.” Jawab Caca.
“Hanya itu saja? Apakah tidak perlu untuk perayaan yang lebih besar?” tanya Selly.
“Tidak perlu bibi, hanya itu saja. Aku mengetahui dia tidak terlalu suka dengan keramaian begitupula dengan aku. Hanya perlu menikmati moment ini pada orang-orang terdekat saja.” Jawab Caca.
“Baiklah.” Jawab Selly tersenyum.
“Mungkin jika wanita lain akan mengadakan pesta yang besar dan memperlihatkan suami dengan status. Tapi nona Caca tidak seperti itu.” Jawab Selly dalam hatinya.
“Oh ya Bibi, jelaskan semuanya kepada Jimmy dan lainnya untuk bekerja sama dengan kita.” Ucap Caca.
“Siap.” Jawab Selly.
“Katakan kepada Jimmy untuk menahan Jack hingga lembur saja. Aku ingin membuatnya lelah dan segera tidur saat pulang ke mansion. Dengan begitu, rencana kita akan berhasil membangunkannya di tengah malam.” Jawab Caca sambil tersenyum dengan membayangkannya.
“Hahaha, baiklah Caca.” Jawab Selly yang tertawa melihat Caca yang tersenyum bahagia dan tertawa.
“Mohon bantuannya.” Jawab Caca tersenyum.
“Anda benar-benar tidak apa-apa?” tanya Selly.
“Tenang saja. Aku hanya tidak memiliki tenaga saja. Tapi aku baik-baik saja.” Jawab Caca.
“Apakah tidak perlu ke rumah sakit untuk suntik tenaga?” tanya Selly.
“Tidak perlu Bibi, selain aku takut dengan jarum suntik. Aku lebih menyukai mengkonsumsi herbal di bandingkan obat barat.” Jawab Caca tersenyum.
__ADS_1
“Baiklah, jika ingin apapun tinggal panggil saja. Aku akan segera datang.” Jawab Selly.
“Iya bibi,” jawab Caca.