I Love You Mr.Mafia

I Love You Mr.Mafia
Pukulan Balok Kayu untuk Jacob


__ADS_3

“Jangan tapi-tapi, ikutin rencanaku seperti biasanya. Kau masuk ke kamarku nanti dan lihat di komputerku gprs pada diriku untuk menemukan aku. Paswordnya tanggal lahir ibu. Kau mengerti?” tanya Jacob.


“Baik.” Ucap John.


Mereka berpisah. Tidak lama John keluar dari mobil penculik itu datang.


“Apakah kau tidak bisa menunggu lebih lama lagi? Kenapa harus menjemputku, jika anak itu kabur kau yang akan ku salahkan.”


“Tidak akan, anak itu sudah kita ikat jadi tidak mungkin untuk kabur,” jawabnya,


“Kau lihat, dia masih ada di mobil jadi jangan marah-marah dan memukul ku lagi.” Ucapnya lagi setelah sampai.


“Syukurlah kau dia tidak kabur!”


Saat itu John sudah di gantikan oleh Jacob di dalam mobil itu. Kemudian mereka membawanya ke vila yang sudah di tentukan oleh Jessi.


Vila itu di jaga oleh 4 orang pengawal di luar vila dan 4 orang pengawal di dalam vila beserta 2 pengawal Jessi. Jacob di gendong di bahu penculik masuk ke dalam vila kemudian di ikat di kursi kayu dengan mulut yang sudah di tutup dengan kain agar tidak bisa berbicara.


“Kita bertemu kembali!” ucap Jessi.


“Buka ikatan mulutnya!” perintah Jessi pada pengawalnya yang berada di samping kanan Jacob dan dua orang lagi di belakangnnya.


“Kau tidak rindu sayang?” tanya Jessi kemudian membelai pipi Jacob.


“Cuih!” Jacob yang memberikan air liurnya pada Jessi.


“Kau! Plak!!!” Sebuah tamparan melayang di pipi Jacob.


“Penyihir brengsek!” ucap Jacob setelah mendapatkan tamparan itu.


“Berani-beraninya kau padaku!” ucap Jessi.


“Kenapa aku tidak berani padamu,” jawab Jacob.

__ADS_1


“Oh jadi sekarang kau masih bisa sombong padaku dengan keadaan mu seperti ini?” tanya Jessi.


“Aku ingin memberitahumu sesuatu, akulah yang membunuh ibumu saat kau ada di dalam rahimnya.”


“Jadi kau yang memisahkanku pada ibuku?” tanya Jacob dengan emosi.


“Hahaha, aku mendekatinya sebagai teman lalu perlahan-lahan memberikan dia obat penggugur janin namun kau beruntung masih bisa hidup dan ibumu yang meninggalnya. Seharusnya kalian berdua saat itu meninggal dan menghilang dari dunia ini!” ucap Jessi dengan emosi yang sudah kehilangan akal sehat.


“Kenapa kau melakukan itu semua?” tanya Jacob.


“Kau sekarang penasaran? Baiklah akan aku jawab pertanyaanmu itu. Karena aku mencintai ayah kalian tapi cintaku tidak pernah diliriknya hingga akhirnya aku bisa mengubah wajahku dan mendekatinya.”


“Tapi saat aku sudah mendapatkanya aku tetap tidak bisa mendapatkan cintanya dan aku berfikir jika tidak dapat mendapatkan cintanya aku harus bisa mendapatkan hartanya. Tapi semua rencanaku terhalangi olehmu! Seharusnya kau juga mati saat itu bersama ibumu.” Jawab Jessi.


“Kau benar-benar wanita penyihir. Kau gilak, gak ada perasaan psikopat, brengsek. Cuih!Jacob menjatuhkan air liurnya lagi pada Jessi dan mengenai wajahnya yang saat itu berhadapan dengan Jacob.


“Anak brengsek! Ambilkan aku balok kayu itu!” perintah Jessi pada pengawalnya.


“Kau ingat kali ini aku akan membunuhmu setelah aku mendapatkan harta ayahmu dan aku ingin bertemu sekali lagi dengan ayahmu untuk terakhir kalinya.” Jawab Jessi.


“Maksudmu?” tanya Jessi.


“Apa otakmu tidak bisa berfikir, aku bilang kau bisa bertemu dengannya ketika kau mati.” Jawab Jacob.


“Dia sudah meninggal? Kapan? Kenapa? Katakan!” Ucap Jessi.


“Hahhaha.” Jacob terus tertawa dan memberikan senyum sadisnya.


“Katakan brengsek, jika kau tidak ingin mengatakannya kau akan ku paksa, brukkkk!” kayu balok yang sudah di tangan Jessi melayang pada Jacob.


Kayu balok itu mengenai kepala Jacob dan membuat Jacob tidak sadarkan diri. Jessi memerintah pengawalnya untuk memasukkan Jacob kedalam kamar dan membiarkan dia tanpa mengobati.


Jessi sangat terpukul atas kematian James yang tidak diketahuinya. Rencana dia untuk meminta tebusan dan bertemu dengan James menjadi sia-sia. Baginya Jacob sudah tidak memiliki nilai keuntungan bagi dirinya. Dan Jessi memerintahkan pengawalnya terserah mau apakan Jacob. Mau menjual organ-organ dalamnya kepenjual orga tidak masalah.

__ADS_1


Jessi langsung meninggalkan tempat tersebut dengan salah satu supir pribadi sekaligus pengawal pribadinya. Dan saat Jacob di letakkan kedalam salah satu kamar vila tersebut tenyata di dalam kamar itu ada Caca. Caca yang bersembunyi di dalam lemari karena ketakutan melihat apa yang sudah ia saksikan oleh kedua mata kepalanya.


“Dia adalah anak laki-laki yang telah membantu kami saat kami tersesat.” Ucap Caca dalam hati.


Caca yang sudah melihat semua itu hanya bisa membungkamkan dan menutupi segala ketakutannya agar tidak di ketahui. Saat pengawal itu meninggalkan Jacob di dalam kamar, Caca keluar dari lemari kemudian berusaha membangunkan Jacob.


“Hey bangunlah!” ucap Caca sambil membalut luka dikepala Jacob.


Caca mengkoyakkan pakaiannya untuk membalut luka yang telah mengeluarkan darah itu.


“Ca, kau harus kuat melihat ini.” Ucap Caca dalam hati yang takut dengan darah mencoba menguatkan dirinya.


“Bangunlah, kumohon.” Ucap dengan meneteskan air matanya.


Air mata yang menetes jatuh di pipi Jacob membuat dirinya terbangun. Yang terbangun saat itu adalah Jack untuk beberapa menit saja.


“Kau siapa? Dan aku dimana?” tanya Jack sambil memegang kepalanya.


“Aku Caca, keluarga yang pernah kau tolong untuk mencari alamat rumah pamanku. Aku juga tidak tahu ini ada di mana yang aku tahu ini hanya seperti vila kosong. Aku juga tidak sengaja tersesat di rumah ini.” Jawab Caca.


“Lalu apa yang terjadi, kenapa kepalaku sakit sekali.” Jawab Jack.


“Aku tidak mengetahui apa penyebabnya kau di pukul oleh wanita itu. Saat itu kalian berbicara sangat samar-samar terdengar olehku.” Jawab Caca yang saat itu sudah menguasai bahasa inggris. Oleh karena itu ia bisa berkomunikasi sedikit-sedikit.


“Auuuuuu, sakit sekali.” Ucap Jack kemudian pingsan kembali.


“Kau kenapa? Hey! Bangunlah jangan pingsan kembali.” Ucap Caca.


Caca yang bingung dengan keadaan Jack yang tidak sadarkan diri lagi membuat dirinya untuk memberanian diri keluar secara diam-diam mencari air mineral namun tidak di dapatinya. Saat itu dirinya hampir diketahui oleh seorang pengawal yang menjadi penjahat penculik Jack.


Di kamar sebelah seorang lelaki sedang bercumbu dengan seorang wanita. Wanita itu seperti sedang di siksa olehnya. Lagi-lagi Caca menyaksikan hal tersebut dan menjatuhkan vas bunga. Untung saja Caca langsung lari masuk kedalam kamar Jack dan bersembunyi di bawah tempat tidur.


“Siapa disana? Ah sudahlah mungkin mereka yang sedang mengintip aku. Lebih baik lanjutkan saja agar mereka iri denganku. Hahahha, ” ucap lelaki yang di dalam kamar itu.

__ADS_1


Caca yang bersembunyi di bawah tempat tidur merasakan dirinya sedang bergetar karena ketakutan. Dirinya merasa sangat kasihan terhadap wanita itu dengan perlakukan laki-laki itu. Caca melipatkan kedua kakinya dan memeluknya dengan tangan dengan erat sambil menangis.


__ADS_2