I Love You Mr.Mafia

I Love You Mr.Mafia
Kepergian Max dari Jepang


__ADS_3

Sepeda motor berhenti di parkiran rumah sakit yang di kendarai oleh Max. Setelah mengantarkan Kazumi, Max langsung kembali ke rumah sakit Akashi. Lebih tepatnya kembali ke rumah Akashi yang berada di lantai atas rumah sakit.


“Kau dari mana?” tanya Akashi yang penasaran ketika melihat Max kembali dan duduk di sofa di sampingnya dengan merebahkan dirinya dalam posisi duduk.


“Bagaimana dengan informasi orang-orang itu?” tanya Max.


“Baru saja aku mendapatkannya, itu masih aku print. Aku juga belum melihatnya.” Jawab Akashi.


Max langsung berdiri dan berjalan menuju tempat print untuk melihat berkas yang sudah di print. Max menunggu semua berkas terprint di depan mesin print itu. Akashi masih duduk di atas sofa dengan kepala yang di gelengkan.


“Tidak pernah bisa santai.” Jawab Akashi melihat ke arah Max.


Max mengambil semua kertas-kertas yang sudah berisi tentang informasi semua orang yang ingin di ketahui olehnya. Dia juga sudah membawa pulpen untuk segera mencoret-coret kertas itu. Max membawa semua itu di depan Akashi dan kembali duduk untuk berdiskusi dengan Akashi.


Dengan wajah yang serius membaca dan melihat satu persatu kertas. Mencoret beberapa hal yang mungkin menurutnya penting dengan tintah merah di kertas tersebut. Siap membaca dan mengamati kertas-kertas tersebut ia meletakkannya di atas meja.


“Sudah selesai?” tanya Akashi kemudian melihat semua kertas yang sudah di baca oleh Max.


“Wah dengan waktu singkat kau melingkari hal-hal yang penting?” tanya Akashi.


“Seperti dugaan mereka hanyalah pengusaha kotor. Dan mereka tidak pernah mengetahui siapa yang sudah beriventasi dengan mereka. Dan yang lebih membuatku tertarik adalah sang ketua itu.” Jawab Max.


“Kenapa?” tanya Akashi mencari kertas yang di maksud dengan Max.


“Dia sudah masuk kedalam sel dengan kasus yang sama yaitu pembunuhan. Namun, sebulan dia masuk dalam penjara kemudian keluar.” Jawab Max.


“Jadi maksudmu dia di lindungi oleh orang yang kuat di dalam?” tanya Akashi.


“Sepertinya. Apakah kau bisa mencari informasinya? Atau kita perlu bantuan Brian?” tanya Max.


“Aku bisa. Tapi lebih baik beritahu Brian, karena kita membutuhkan hal yang cepat. Bisa saja dia akan cepat mendapatkan informasi yang kita butuhkan.” Jawab Akashi.


“Kau benar.” Jawab Max.


“Aku akan segera mengirimkan informasi ini kepadanya, setelah itu kita serahkan kepadanya. Apakah dia akan membantu kita atau tidak?” Jawab Akashi.

__ADS_1


Semua berkas informasi yang berupa file itu di kirimkan oleh Akashi ke email pribadi Brian. Max dan Akashi sudah memutuskan untuk segera mengirimkannya. Mereka masih duduk bersama dan membahas rencana selanjutnya.


“Bagaimana dengan rencana selanjutnya?” tanya Akashi.


“Malam ini pesankan tiket untukku.” Jawab Max.


“Kau akan segera meninggalkan Jepang?” tanya Akashi.


“Kita sudah tidak memiliki waktu lagi. Aku sudah merasa ingin mengetahui semua dalang di balik semua ini.” Jawab Max.


“Aku juga begitu. Sudah terlalu banyak waktu aku habiskan untuk semua ini. Bahkan sekarang sudah jarang datang mengecek kantor.” Jawab Akashi.


“Jadi kau merasa dirugikan?” tanya Max.


“Tentu saja tidak.” Jawab Akashi menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


“Karena kau sudah lama tidak melakukan ala detective sambil melihatku membunuh.” Jawab Max.


“Hahahha, kau tau saja.” Jawab Akashi.


“Baguslah jika seperti itu. Aku harus pergi ke suatu tempat dulu setelah mandi. Siapkan semua persiapan aku meninggalkan Jepang dan menyusul Billy di sana.” Jawab Max.


“Oke.” Jawab Max berdiri dan melangkahkan kaki menuju kamar untuk segera membersihkan diri.


Sebelum masuk kedalam kamar mandi, Max membuka ponselnya dan mengirim sebuah pesan. Setelah itu langsung membersihkan dirinya.


Beberapa saat kemudian, Max sudah berada di sebuah restoran Jepang dan menunggu seseorang. Max duduk di meja dekat jendela yang bisa melihat sebuah kota Jepang di siang hari. Bunga mawar berwarna merah beberapa tangkai di dalam sebuah vas bunga menjadi hiasan di atas meja makan itu.


Jari jemari Max yang terus bergerak mengketuk meja di waktu itu. Menunggu seseorang yang sedang di tunggu. Membuat janji untuk seseorang yang sedang di tunggunya. Yah, menunggu seseorang yang akan tiba sebentar lagi tiba di restoran itu.


Kazumi memasuki pintu restoran setelah membuka pintu restoran. Kazumi bertanya kepada pelayan tentang meja nomor berapa atas nama Max. Pelayan itu mengantarkan Kazumi menuju meja yang sudah di pesan oleh Max. Seseorang yang ditunggu oleh Max adalah Kazumi.


Max tersenyum saat melihat Kazumi sudah tiba. Ia mempersilahkan Kazumi untuk duduk dan tersenyum tipis sebagai ucapan terimakasih kepada pelayan yang mengantarkan Kazumi kepadanya.


“Ada apa?” tanya Kazumi yang sudah duduk di depan kursi Max.

__ADS_1


Posisi saling berhadapan di meja makan untuk mudah berbicara dan saling menatap satu sama lainnya. Kazumi yang tidak sabar atas rasa penasaran. Max yang tidak menjawab pertanyaan pertama Kazumi saat dirinya baru saja tiba dan duduk di kursinya.


“Pergi?” tanya Kazumi.


Max mengaggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan suara.


“Kapan?” tanya Kazumi.


“Malam ini.” Jawab Max dengan sangat singkat.


“Kapan akan kembali lagi?” tanya Kazumi.


Max hanya menggelengkan kepalanya tanpa bersuara. Kazumi menghela napasnya dan menundukkan kepala merasa sedih.


“Setelah semuanya selesai aku akan segera menemui mu.” Jawab Max.


“Janji?” tanya Kazumi.


“Aku bukanlah seperti laki-laki lainnya yang memberi janji kepada wanita yang di cintainya. Kau paham itu? Kau mencintai seseorang yang sangat membosankan.” Jawab Max dengan muka datarnya.


“Aku sudah membiasakan diri untuk hal itu. Aku sudah memikirkan semuanya sebelum memutuskan untuk mencintaimu.” Jawab Kazumi tersenyum.


“Wanita bodoh.” Jawab Max.


“Memberikan aku kesempatan saja sudah menjadi sebuah kebahagia bagi diriku sendiri.” Jawab Kazumi dengan menundukkan kepalanya.


Max berdiri untuk mendekatkan dirinya ke kursi yang diduduki oleh Kazumi. Merendahkan tubuhnya dan menghadap di depan wajah Kazumi. Mengusap air mata yang jatuh di pipi Kazumi dengan tangan kanan Max. Menyandarkan kepala Kazumi ke perut Max untuk memeluk Kazumi dengan lembut setelah berdiri tegak.


“Aku bukanlah laki-laki yang romantis, kau tau itu. Tapi jangan menangis didepanku hati ini tiba-tiba sakit. Apalagi air mata yang jatuh di pipimu itu karena diriku.” Jawab Max.


Kazumi memeluk kembali badan Max dan menangis kembali.


“Jangan terlalu lama pergi dan teruslah memberi kabar kepadaku walaupun sedang sibuk.” Jawab Kazumi.


“Baiklah. Sekarang hentikan tangisan itu. Anggap saja ini sebuah pertemuan romantis sebelum aku meninggalkan Jepang.” Jawab Max.

__ADS_1


Kazumi mengaggukkan kepalanya. Mereka menghabiskan makan romantis di restoran itu. Kazumi di antarkan oleh Max kembali ke rumahnya lalu pergi menuju bandara. Akashi sudah menunggu Max datang di bandara dan sudah mempersiapkan semua keperluan keberangkatan Max meninggalkan Jepang.


Mohon maaf telat UP, admin ada kesibukan keluarga sehingga lupa bahwa episode yang sudah di atur sudah habis. Hehehhee, maaf ya readers.


__ADS_2