
Caca menyelesaikan pekerjaan mencuci piring dengan cepat. Selanjutnya ia masuk ke dalam kamar.
“Akhirnya kau kembali. Jadi bagaimana dengan malam ini?” tanya Jack dengan senyum-senyum.
“Tapia da syaratnya.” Ucap Caca.
“Apa itu?” tanya Jack.
“Kita akan mengikuti event orangtua dan anak di sekolah Kenzo dan Bella setelah ujian mereka selesai.” Jawab Caca.
“Oke.” Jawab Jack dengan cepat lalu ingin memeluk Caca.
“Tunggu dulu, jangan terburu-buru.” Jawab Caca.
“O iya lupa.” Ucap Jack kemudian menarik Caca ke kamar mandi untuk mengambil whudu.
“Au…” ucap Caca ketika berjalan di gandeng Jack.
“Kenapa?” tanya Jack.
“Perutku tiba-tiba sakit.” Jawab Caca.
Jack menggendong Caca duduk di sofa.
“Apakah masih sakit?” tanya Jack.
“Sedikit. Tapi ayoklah ke kamar mandi.” Jawab Caca.
Saat mereka masuk ke kamar mandi, Caca memeriksa dirinya.
“Jack!” panggil Caca.
“Ada apa?” tanya Jack.
“Sepertinya kita harus menunda rencana malam ini?” ucap Caca dari balik kain putih.
“Yah datang bulan. Gagal dong.” Ucap Jack.
“Maaf!” ucap Caca dengan lembut.
“Tidak apa-apa. Jadi perutmu sakit tadi karena hal itu?” tanya Jack.
Caca mengaggukkan kepalanya dengan malu.
“Jack!” panggil Caca.
“Iya mylotus.” Jawab Jack.
“Semenjak aku menikah denganmu aku belum datang bulan juga. Aku kira aku akan segera hamil, ternyata tidak. Maaf!” jawab Caca.
“Tidak apa-apa kita akan coba lagi.” Jawab Jack yang mengeluskan kepala Caca dengan tangan kanannya.
“Ya sudah kita tidur saja.” Jawab Jack.
“Tapi…” jawab Caca terputus.
“Tapi kenapa?” tanya Jack.
“Aku tidak menyimpan stok pembalut di sini.” Jawab Caca.
“Pembalut?” tanya Jack.
__ADS_1
“Iya. Jadi bisakah kau belikan ke supermarket terdekat?” tanya Caca.
“Baiklah. Kau tunggu di sini.” Jawab Jack.
“Oke.” Jawab Caca tersenyum.
Jack keluar dari kamar mandi dan mengambil kunci sepeda motornya untuk pergi ke supermarket. Jack berjalan keluar mansion dengan membawa ponsel untuk mencari informasi tentang pembalut wanita. Ini untuk pertama kalinya ia mendengarkan nama barang itu. Bahkan Jack tidak mengetahui seperti apa bentuknya.
Setelah ia mendapatkan beberapa informasi yang di butuhkan lewat ponselnya ia segera menghidupkan sepeda motornya dan melaju menuju supermarket. Tidak terlalu lama untuk mencari super market terdekat dari mansion Jack, hanya membutuhkan waktu dua puluh menit saja.
Jack mematikan sepeda motornya dan membuka helmnya. Berjalan memasuki supermarket dengan wajah yang bingung di mana tempat produk yang ia butuhkan.
“Nona bisakah anda membantu saya?” tanya Jack kepada sang kasir yang menjaga supermarket itu.
“Wah ganteng sekali laki-laki ini.” Ucap wanita itu di dalam hatinya.
“Nona! Hello!” Panggil Jack.
“Iya tuan, apa yang bisa bantu?” tanya wanita itu.
“Begini istri saya sedang datang bulan, jadi bisakah anda mencari pembalut wanita untuknya sekaligus obat peredah nyerinya?” tanya Jack kepada wanita itu.
“Wahhh ternyata sudah menjadi suami orang. Sayang sekali.” Jawab wanita itu dalam hati.
“Nona!” Panggil Jack kembali karena wanita itu terus menatap Jack dan melamun.
“Tentu. Tunggu sebentar.” Jawab wanita itu.
Jack menunggu wanita itu di depan kasir, sedangkan wanita itu pergi mengambilkan pembalut wanita dan obat peredah nyeri ketika datang bulan. Saat Jack yang membayar belanjaannya, ada beberapa wanita yang saat itu mengantri untuk membayar belanjaan mereka. Mereka memperhatikan Jack dengan seksama karena ketampanannya.
“Wah ganteng sekali laki-laki ini.” Ucapnya.
“Berapa nona?” tanya Jack.
“Ini nona.” Ucap Jack yang mengkeluarkan uang sepuluh dollar.
“Wah di sedang belanja pembalut wanita. Sangat beruntung wanita yang bisa memiliki laki-laki tampan ini.” Ucap wanita yang ada di belakang Jack yang sedang menantri.
“Bungkus saja nona tidak usah memberi kembaliannya. Ambil saja hitung-hitung telah membantu saya.” Jawab Jack yang sudah rishi dengan wanita-wanita yang ada di belakangnya.
“Ini tuan, terimakasih.” Jawab wanita yang ada di kasir itu.
Jack pergi meninggalkan supermarket itu, sementara wanita-wanita itu mulai membicarakannya.
“Sangat tampan?” tanya seseorang pembeli yang mengantri tadi.
“Husss, sudah suami orang.” Jawab wanita kasir itu.
“Benarkah? Sayang sekali, jika belum aku ingin berkenalan dengannya.” Ucap wanita itu.
“Mana belanjaannya nona?” tanya kasir itu yang tidak ingin memperdulikan ucapan mereka.
“Dasar wanita genit.” Ucap wanita kasir itu dalam hatinya.
Jack memasang helmnya dan menyalakan sepeda motornya untuk kembali ke mansion dengan membawa barang yang di butuhkan oleh Caca.
“Ini.” Jack memberikan pembalut wanita itu kepada Caca dari balik pintu.
Caca membuka pintu dan mengambilnya.
“Apakah begitu lama?” tanya Jack.
__ADS_1
“Lumayan.” Jawab Caca yang sedang memasangnya.
Jack sudah menunggu lama namun Caca tidak kunjung keluar.
“Kau masih di dalam?” tanya Jack.
“Jack!” panggil Caca.
Jack masuk kedalam karena pintu tidak di kunci. Terlihat Caca terduduk di atas toilet duduk dengan memegang perutnya.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Jack.
“Sakit Jack.” Ucap Caca.
Jack dengan cepat mengangkat tubuh Caca kemudian membaringkannya di atas tempat tidur.
“Minumlah, tadi aku membelinya di supermarket.” Ucap Jack yang memberikan botol obat pereda nyeri datang bulan kepada Caca sambil menyanggahkan tubuh Caca.
“Terimakasih Jack!” ucap Caca yang di baring kembali oleh Jack.
“Apakah masih sakit?” ucap Jack yang menarik baju piama Caca ke atas dan mengelus perutnya.
Jack melihat wajah Caca yang lemah dan mengeluarkan keringat dingin. Dengan cukup lama Jack terus mengelus perut Caca.
“Dari mana kau belajar melakukan ini Jack?” tanya Caca kembali dengan melihat Jack.
“Saat tadi kau menyuruhku membeli pembalut wanita, aku membaca informasi tentang bentuk pembalut wanita dan tidak sengaja menemukan informasi bahwa kebanyakan wanita akan mengalami desminore saat datang bulan.” Jawab Jack.
Caca tersenyum.
“Kenapa?” tanya Jack.
Caca menggelengkan kepalanya.
“Apakah ini tidak berfungsi? Apakah aku harus membeli kantong penghangat untuk di letakkan ke perutmu?” tanya Jack dengan siggap ingin turun dari tempat tidur menuju dapur membuat air panas.
Caca memegang tangan Jack untuk mencegahnya melakukan.
“Tidak perlu, ini sudah cukup. Tetaplah mengelusnya.” Jawab Caca.
“Benarkah ini bekerja?” tanya Jack.
Caca tersenyum dan mengaggukkan kepalanya.
“Apakah sesakit itu menahannya?” tanya Jack.
“Iya,” jawab Caca dengan lemas.
“Ya sudah jangan banyak bicara. Pejamkan matanya untuk tidur.” Ucap Jack.
Caca mengaggukkan kepalanya dan memejamkan matanya namun belum tidur sehingga mendengarkan sedikit apa yang di katakan oleh Jack sebelum ia benar-benar tertidur.
“Mulai sekarang aku akan selalu menjadi orang yang membantumu meredahkan sakit ini.” Ucap Jack kemudian mencium kening Caca.
“Terimakasih telah singgap merawatku Jack!” ucap Caca dalam hatinya kemudian ia tertidur.
Jack membaringkan dirinya dan terus mengelus perut Caca.
“Jadi selama ini kau setiap bulan merasakan sakit ini? Ternyata jadi wanita itu sangat menderita.” Jawab Jack dalam hatinya.
“Aku tidak akan membiarkan mu merasakannya sendirian lagi.” Ucap Jack lagi sebelum ia juga kelelahan merawat Caca hingga melewati tengah malam.
__ADS_1
Jack tertidur pukul setengah tiga pagi, sejak semalaman menjaga dan merawat Caca.