
Ada sedikit adegan dewasa, harap pembaca bijak dalam menyikapi. Author juga sebenarnya kurang paham yang beginian tapi di coba untuk membuatnya yah wkwkwkwkkw, di harapkan koreksinya dalam penulisan.
Jack pergi hanya sejam meninggalkan Caca di dalam kamar hotel sendirian. Setelah mendapatkan sepeda motor yang di inginkan Jack langsung kembali ke kamar hotel. Suara bel pintu hotel terdengar, Caca yang masih di dalam kamar mandi keluar dari bak mandi. Mengambil handuk baju dan berjalan membuka pintu kamar hotel. Setelah memastika itu Jack, Caca membuka pintunya.
“Sudah selesai?” tanya Caca yang melihat suaminya baru saja tiba.
“Tentu. Oh kau mandi?” tanya Jack yang melihat Caca yang masih terlihat basah.
Percikan air yang belum kering sepenuhnya di sekujur tubuh Caca karena terburu-buru membuka pintu. Jack yang benar-benar tergoda dengan tubuh mungil Caca yang menurutnya saat itu sangat cantik. Jack langsung ******* bibir Caca dan Caca membalas prilaku Jack dengan menikmatinya.
Cukup lama melakukan ciuman itu akhirnya terlepas. Jack menciumi wajah Caca kembali hingga leher. Kembali mendarat di bibir mungil Caca dan tangan Jack terus meraba ke bagian sensitive namun di hentikan oleh Caca.
“Jangan dulu.” Caca yang melepaskan Jack dan memasang wajah memberi kode.
“Baiklah. Aku mengerti.” Jawab Jack menghentikan pergerakkannya.
Caca mengelus rambut kepala Jack menggunakan tangannya. Kemudian, Jack masuk ke kamar mandi bersama dengan Caca. Mereka mandi bersama dan melaksanakan hal-hal yang di perlukan sebelum berhubungan intim. Setelah selesai mereka melanjutkan adegan dewasa lagi di atas ranjang.
“Terimakasih sudah mengizinkanku memilikimu sepenuhnya.” Ucap Jack.
Caca memberikan senyuman, mereka berdua lelah dan tertidur setelah melakukannya. Tidak lama mereka tertidur suara bel berbunyi. Makanan tiba di dalam kamar mereka.
“Hubby!” panggil Caca.
“Hm!” Jawab Jack dan memeluk Caca dalam tidurnya.
“Malah tambah memeluk. Bangunlah dan bukakan pintu itu.” Ucap Caca.
“Siapa sih yang menggangu tidur kita?” tanya Jack.
“Mungkin saja hidangan makanan yang datang, sudah 3 jam kita di sini.” Ucap Caca.
“Hmm. Baiklah.” Jawab Jack yang membuka mata, mengambil handuk menutupi setengah badannya dan bergerak menuju pintu.
Memastikan dari layar monitor bahwa pelayan servis makanan datang ke kamar mereka Jack membuka sedikit pintunya. Karena keadaan Caca dan kamar yang sudah berantakan, Jack hanya membuka sedikit pintu dan menyuruh pelayan meninggalkan saja roller dorongan hidangan makanan di depan pintu.
“Pergilah dan tinggalkan itu. Sejam lagi ambil kembali.” Jawab Jack di balik pintu.
“Baik tuan, selamat menikmati.” Jawab pelayan.
__ADS_1
Setelah pelayan itu meninggalkan makanannya, Jack mendorongnya dan memasukkan kedalam kamar.
“Jadi itu wajah pengantin baru yang menyewa kamar hotel VVIP selama dua hari dan akan pindah ke cabang hotel pulau Jeju.” Ucap pelayan itu dalam hati.
Pelayan yang mengantarkan itu adalah pria, maka dari itu Jack tidak memperbolehkan pelayan itu masuk ke dalam kamarnya.
“Bangunlah, kita makan dulu.” Jawab Jack.
“Au, sakit.” Jawab Caca yang merasa sedikit nyeri di….
“Sudahlah di situ dulu, biar aku suapi.” Jawab Jack.
“Semua ini gegara kau. Seharusnya kita menikmati dulu tempat-tempat wisata terdekat di Seoul. Saat di pulau Jeju baru melaksanakan yang tadi.” Jawab Jack.
“Jadi gak iklas?” tanya Jack.
“Iya hubby iklas, sangat iklas sekali.” Jawab Caca tersenyum.
“Iya-iya maaf kalau terlalu terburu-buru. Habisnya, seperti melihat daging segar yang harus cepat-cepat di santap.” Jawab Jack yang duduk di samping Caca.
“Emangya aku sapi.” Jawab Caca kesal.
Caca membuka mulutnya dan Jack dengan sangat lembut menyuapi sesendok demi sesendok makanan ke dalam mulut Caca. Jack juga makan di piring dan sedok yang sama dengan Caca. Setelah menyuapi Caca, Jack memasukkan makanan ke mulutnya juga.
“Wah jadi inikah rasa kimchi dan iga sapi panggang ala korea.” Jawab Caca.
“Segitu enaknya?” tanya Jack yang benar-benar heran dengan istrinya ini.
Hanya dengan hal-hal kecil saja sudah membuatnya bahagia, padahal di luar sana tidak banyak wanita yang seperti ini.
“Tentu saja, setiap makanan itu memiliki ciri khasnya untuk menjadi rasa di lidah sang penikmatnya.” Jawab Caca.
“Besok-besok akan ku suruh Shinta memasakkan untuk mu apapun yang kau mau.” Jawab Jack.
“Shinta?” tanya Caca.
“Iya. Oh ya aku belum banyak cerita tentang dia dan Charless ya?” tanya Jack yang masih menyuapi Caca pada makanan terakhir.
“Apa itu?” tanya Caca yang masih menguyah makanannya.
__ADS_1
“Shinta adalah anak bibi Selly dan Son yang sudah aku anggap seperti adik sendiri. Dia tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik, cerdas dan mandiri. Dan dia adalah kesayangan Jimmy, karena sejak dulu bibi Selly selalu membuatkan makanan buat kami.”
“Karena sering membuatkan makanan untuk kami semua ketika selesai bertugas, Shinta ingin seperti ibunya. Menjadi chef terkenal yang bisa memasakkan makanan-makanan enak untuk kami.”
“Saat itu kalian masih berumur berapa?” tanya Caca.
“Sekitar sepuluh tahun dan Shinta berumur lima tahun. Yah seperti yang aku katakana padamu bahwa aku tumbuh bukan seperti anak-anak lainnya. Sejak kecil aku sudah belajar ilmu perang.” Jawab Jack yang tersenyum.
“Jadi itu mengapa banyak bekas luka di punggung dan satu luka besar di tangan kiri ini.” Ucap Caca yang menunjuk luka goresan yang panjang di bahu hingga lengan tangan Jack.
“Begitulah. Banyak luka dari setiap bela diri yang sudah aku pelajarin. Dan untuk luka ini adalah luka saat aku menyelamatkan mereka dari sebuah pertingkaian. Hmm… begitulah intinya.” Jawab Jack.
“Jadi itu luka karena senjata apa hingga sepanjang itu?” tanya Caca.
“Samurai. O ya hari ini kita akan ke mana saja?” tanya Jack yang mengahlikan pembicaraan.
“Tower, memasang gembong cinta, makan gulali di atas tower dan juga makan es cream.” Jawab Caca.
“Siap ratu. Bagaimana masih sakit?”tanya Jack.
“Nyerinya sudah hilang tapi masih sedikit pegal pada bagian pinggang.” Jawab Caca.
“Sini aku pijat.” Jawab Jack.
“Wah baik sekali suamiku.” Jawab Caca yang tersenyum.
“Putarkan badannya.” Jawab Jack.
Pelan-pelan Jack memijatnya hingga Caca merasa baikkan.
“Jack!” panggil Caca.
“Kalau nanti aku sudah keriput dan tidak berdaya lagi. Apakah kau akan tetap bersamaku?” tanya Caca tiba-tiba.
“Tentu saja. Kenapa harus mempertanyakan masa depan yang belum kita ketahui dan pastinya aku Akan tetap bersamamu. Dan jika Allah mengambil nyawa antara kita berdua aku lebih memilih aku yang di ambil terlebih dulu. Karena pasti aku tidak akan pernah bisa kehilanganmu sama sekali.” Jawab Jack kemudian memeluk Caca dari belakang.
“Tapi aku lebih memilih untuk berdoa jika Allah ingin mengambil nyawaku atau kau. Aku ingin kita berdua.” Jawab Caca.
“Kenapa begitu?” tanya Jack.
__ADS_1
“Tentu saja untuk bersama denganmu di surga. Aku tidak ingin terpisahakan denganmu.” Jawab Caca kemudian mereka saling berciuman kembali.