
Hallo Readers, duh author sebenarnya bingung mau berkata seperti apa. Sampai bingungnya tidak up siang hari ini dan berakhir di malam hari in. hehehe.
Intinya author cuman bisa bilang TERIMAKASIH untuk kalian yang selalu mendukung author dari like, koment dan votenya dalam karya ini. Terimakasih yang sudah selalu menikmati karya author, nungguin up, doakan author sehat terus. TERIMAKASIH……..
THANK YOU READERS ……………….
Tanpa kalian sebagai pembaca setia, author gak akan pernah bisa sampai sejauh ini. Tidak pernah sampai ke bab yang sudah jauh ini. Tidak pernah ada penghasilan dan hadia tanpa para pembaca.
~Setiap Penulis Selalu Ada Pembaca Setianya. Dan Setiap Pembaca Selalu ada Penulis Favoritenya.~
Kalian pembaca setia yang paling terbaik yang author punya. Terimakasih selalu menikmati khyalan pemikiran author, terimakasih atas segala-galanya. Author sayang kalian ………….
Sebelum keberangkatan Brian yang di antarkan oleh Caca dan lainnya. Brian sempat berbicara kepada Caca saat setelah Caca membujuk Jack. Saat itu Brian berada di luar dan bermain ayunan di tepi pantai.
***FlashBacak***
“Ada apa abang memanggilku kemari?” tanya Caca.
“Aku hanya ingin mendengar curhatanmu tentang bagaimana kau bertemu dengan suamimu?” tanya Brian.
“Mengapa abang bertanya seperti itu?” tanya Caca.
“Apakah aku tidak boleh mengetahui dan mengkhawatirkan putri kecilku.” Jawab Brian.
Brian bangkit dari ayunan itu dan menyuruh Caca untuk duduk di atasnya kemudian dia yang mendorong Caca pelan-pelan dari ayunan.
“Aku pertama kali bertemu dengannya saat kejadian penculikan di Jepang. Abang masih ingat dengan kejadian kita bermain petak umpet di hutan dekat rumah kalian dulu?” tanya Caca.
“Iya. “ Jawab Brian.
“Saat itulah pertama kali aku mengenalnya……… Dan tidak mengetahui apakah ini sudah takdir atau hanya kebetulan aku menolong dia saat dia berlumuran darah……. Dan pertemuan berikutnya aku bertemu dengannya saat aku menolong Kenzo dari penculikan….” Caca menjelaskan panjang lebar dari pertemuan ke pertemuan berikutnya yang berhubungan dengan mereka.
“Jadi kalian sama-sama melupakan kejadian itu dan mengingatnya kembali?” tanya Brian.
“Iya.” Jawab Caca.
“Caca!” panggil Brian.
“Aku ingin mengakui sesuatu padamu.” Jawab Brian.
“Apa itu?” tanya Caca.
“Tentang menghilangnya kami dari keluarga dan aku yang tidak bisa bersatu dengan ayah.” Jawab Brian.
“Ada apa?” tanya Caca.
“Kematian mama dan Cinta bukan karena sebuah kecelakaan. Tapi mereka di bunuh oleh pamanku sendiri.” Jawab Brian.
__ADS_1
“Apa?” Caca yang berdiri melihat wajah Brian.
“Tenanglah duduk kembali. Aku yakin pada perasaanku dan mengetahui hal itu baru saja dua tahun ini. Setelah aku memperkuat diriku.” Ucap Brian.
“Maksudnya kau ikut dengan siapa, menjadi kuat seperti apa?” tanya Caca.
“Ommah masih hidup setelah paman membunuh kakek. Ommah menyembuyikanku dari paman dan menyuruh Ayah itu berpisah denganku. Ommah yang sudah melatihku menjadi kuat di Mexico. Dan aku saat ini adalah mafia nomor satu di jepang.” Ucap Brian
“Apa? Abang menjadi orang yang jahat?” tanya Caca.
“Tentu saja tidak. Aku membunuh orang yang memang bersalah tanpa sepengetahuan pihak hukum maupun masyarakat.” Jawab Brian.
“Aku jadi pening.” Jawab Caca.
“Jangan terlalu banyak memikirkannya dan menjadi bebanmu. Abang hanya ingin kau mengetahui siapa yang ada di hadapanmu. Aku bukanlah seorang anak laki-laki kecil yang dulu kau kenal Ca, aku adalah pria yang menguasai dunia gelap di negara Jepang.” Jawab Brian.
“Aku mengetahui kau tidak akan terkejut dan menghargai setiap pemikiranku. Terimakasih untuk kepercayaannya dan karena itulah aku memberikan informasi ini kepadamu. Tolong jadikan ini rahasia kita berdua.” Jawab Brian lagi yang tersenyum.
“Abang sudah dewasa dan sudah bisa memilih bagaimana menentukan hidup. Aku tidak ingin mencampurinya. Tapi terpenting bagiku aku tidak ingin kehilangan orang-orang yang aku cintai. Kalian harus bisa menjaga diri sendiri dan selalu bahagia.” Jawab Caca yang memberikan motivasinya.
“Kenapa kau menjadi seorang iblis berwajah malaikat abang?” tanya Caca dalam hatinya masih memikirkan pernyataan Brian.
“Terimkasih putri kecil abang. Dan abang berharap kau juga akan bersikap seperti ini dengan siapapun walaupun dengan orang yang paling kau cintai di dunia ini.” Jawab Brian yang mendorong kembali tali ayunan yang di naiki Caca.
“Maksudnya?” tanya Caca.
“Apakah tonjokkan Jack itu benar-benar tidak sakit?” tanya Caca.
“Tidak apa-apa. Kau sudh mengetahui siapa abang mu ini sekarang bukan?” tanya Brian.
“Baiklah kau adalah seorang yang memiliki tahta dunia gelap.” Jawab Caca.
“Pinter. Sudah ayo kembali,” jawab Brian.
Mereka berdua berjalan kembali menuju pintu rumah.
***Off Flashaback***
Suara-suara yang terdengar di gedung bandara itu menghiasi suasana. Tangisan,
tawa dan suara petugas bahkan suara pesawat. Mereka semua telah sampai dengan menarik kopernya masing-masing.
Caca dan Jack yang bertujuan ke lorong tujuan Korea Selatan. Deni, Bagas, Kenzo dan Bella bertujuan ke lorong tujuan Kanada.
“Apakah kami benar-benar tidak bisa ikut?” tanya Bella yang tidak rela berpisah dengan Caca dan Jack.
“Paman ingin bersama kalian di sana, kenapa kalian harus ikut mereka berdua?” tanya Bagas yang menggoda.
__ADS_1
“Beri waktu bunda dan daddy untuk berlibur berdua. Setelah mereka selesai dengan liburannya kita akan menuntut untuk liburan selanjutnya.” Jawab Kenzo.
“Anak daddy paling cerdas.” Jawab Jack yang mengelus kepala. Kenzo dengan lembut untuk memberikan apresiasi atas pengertiannya.
“Sudahlah daddy jangan mengelus rambutku terus.” Jawab Kenzo.
“Hahaha, anak bunda sangat gengsi ya.” Jawab Caca tertawa.
Kenzo dengan sifat dinginnya melipatkan tangannya dengan wajah yang cemberut.
“Bella ingin ikut tapi baiklah untuk kali ini tidak ikut.” Jawab Bella.
“Ingat pesan bunda sayang?” tanya Caca.
“Sholat jangan tinggal, belajar jangan di lupakan, bermain jangan sampai lupa waktu, tidak jangan terlalu malam dan….” Jawab Bella yang terus berfikir pesa Caca.
“Jangan nakal.” Jawab Kenzo.
“Bagus. Anak bunda benar-benar ingat apa yang di katakana oleh bunda saat di mobil tadi.” Jawab Caca.
“Tentu saja.” Jawab Kenzo.
“Heheh. Siap bunda.” Jawab Bella yang tertawa.
“Kalian rencana mau kemana?” tanya Caca kepada Deni dan Bagas.
“Mungkin menjemput Meriska.” Jawab Deni sambil tertawa.
“Hahaha, jadi ceritanya sudah mendapat kontaknya?” tanya Caca.
“Tentu saja.” Jawab Deni.
“Tolong jaga sahabatku itu dengan baik.” Jawab Caca.
“Tenang saja kakak ipar, tanpa di minta pasti akan aku lakukan.” Jawab Deni.
“Baiklah.” Jawab Caca tersenyum.
“Deni pergilah ke taman hiburan milik kita bersama dengan anak-anak dan Bagas. Dan pergilah berlibur ke villa kita yang di ujung danau itu. Kalian akan mendapatkan ketenangan di sana.” Ucap Jack.
“Siap bos.” Jawab Deni.
“Oh ya Riki, jangan lupa sampaikan kepada paman Son untuk memberikan makan peliharaanku dengan teratur.” Ucap Jack kepada Riki.
“Baik tuan.” Jawab Riki.
“Baiklah sudah waktunya kita berpisah.” Jawab Jack.
__ADS_1
Mereka saling berpelukkan untuk berpisah.