I Love You Mr.Mafia

I Love You Mr.Mafia
Kedatangan Richard di Tiongkok.


__ADS_3

5 orang yang baru saja keluar dari bandara dengan pakai serba hitam dan sangat mencolok. Untung saja wajah mereka bukan wajah yang terlalu seram namun tampan. Orang-orang yang melihatnya beranggapan perkumpulan pria tampan dengan penampilan yang badboy. Mereka yang ingin menyapa tidak berani untuk mendekat jadi hanya melihat dengan kekaguman mereka masing-masing.


Richard dan anak buahnya langsung masuk kedalam dua mobil taksi menuju rumah Andrew dan Katie. Dia sudah memberi kabar kepada Billy, dan Billy mengatakan untuk langsung ke rumah Andrew karena dirinya sedang memiliki urusan. Oleh karena itu, Richard langsung naik taksi menuju alamat yang sudah di berikan oleh Billy.


“Bos kita akan kemana?” tanya salah satu anak buahnya.


“Ke alamat ini.” Jawab Richard menunjukkan pesan yang diberikan oleh Billy.


Mereka langsung pergi menuju ke tempat tersebut dengan kedua mobil taksi itu.


Billy yang masih berada di pesta pameran perhiasan bersama dengan Lauren.


“Sudah selesai dengan mereka?” tanya Billy kepada Lauren yang menghampiri dirinya dengan mengarahkan gelas yang dipegang dirinya ke arah orang-orang yang sejak tadi berbicara dengan Lauren.


“Sebagai pemohonan maaf, bagaimana jika berdansa denganku?” tanya Lauren yang mengulurkan tangannya kepada Billy.


“Tentu saja.” Jawab Billy.


Diiringi oleh music saat berdansa dan mereka mulai mengobrol satu sama lain dalam gerak-gerakan dansa.


“Kau cukup pandai.” Jawab Billy.


“Tentu saja.” Jawab Lauren.


“Selamat ata pameran perhiasanmu. Itu cukup menakjubkan.” Jawab Billy.


“Terimakasih.” Jawab Lauren melihat Billy dengan posisi yang merangkul Billy saat berdansa.


“Kapan kembali?” tanya Billy.


“Kemungkinan dua hari lagi. Ada apa?” Jawab Lauren.


“Ingin bertemu besok tapi sepertinya tidak bisa.” Jawab Billy.


“Masih ada lain waktu, mungkin saja saat di Italia.” Jawab Lauren.


“Baiklah.” Jawab Billy..


Lauren menganggukan kepalanya dan memandangi wajah Billy dengan serius saat berdansa.


“Apakah aku terlalu tampan sehingga melihatku seperti itu?” tanya Billy.

__ADS_1


“Mungkin saja. Apa yang akan kau lakukan besok?” tanya Lauren.


“Begitulah.” Jawab Billy yang tidak ingin memberitahukan apapun.


“Baiklah jika kau tidak ingin membahasnya.” Jawab Lauren memalingkan wajahnya ke bawah.


“Ingin melihatku bermain piano?” tanya Billy.


“Apa kau kau bisa?” tanya Lauren.


“Tentu saja. Ayo!” jawab Billy yang melepaskan posisi dansa dan meraih tangan Lauren berjalan menuju sebuah piano yang berada di pesta tersebut.


Suasana dansa yang sudah berakhir dan para tamu menikmati hidangan yang ada di pesta. Untuk mencairkan suasana Billy duduk bersama Lauren di kursi piano. Billy melihat wajah Lauren yang penuh penasaran itu. Jemari Billy di letakkan di atas not-not piano dan mulai menggerakan jemarinya untuk menekan setelah mendapatkan jawaban lagu apa yang ingin di dengar oleh Lauren.


Semua orang yang berada di dalam ruangan pesta pameran itu menikmati suara piano yang di mainkan oleh Billy. Lauren juga termasuk orang yang sangat menikmati suara ini dengan melihat jelas darimana asal suaranya. Pria tampan akan semakin tampan dengan memaikan salah satu alat music dan salah satunya adalah piano.


Lauren menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan kiri dengan perlahan mendengar suara piano sambil melihat wajah Billy. Saat Billy berhenti menyelesaikan lagu yang sedang dia mainkan, Lauren menyandarkan kepalanya ke bahu Billy.


“Kau benar-benar hebat.” Jawab Lauren.


“Jadi kau terkesan?” tanya Billy.


“Bagaimana jika kita meninggalkan tempat ini?” tanya Lauren.


“Terserah anda nona. Saya akan mengikutinya.” Jawab Billy yang tersenyum.


Mereka berdua berjalan melewati semua tamu undangan. Orang-orang yang mengenal Lauren sangat terkejut dengan apa yang sedang mereka saksikan. Mereka ingin sekali bertanya siapakah laki-laki itu sebenarnya namun mereka tidak memiliki kesempatan untuk bertanya.


Terdengar suara-suara mereka yang membicaraan pesona Billy. Billy hany tersenyum mendengarkannya dan lebih fokus melihat Lauren yang sedang menarik tangannya untuk berjalan keluar dari ruangan. Lauren yang benar-benar malu ingin segera meninggalkan tempat tersebut. Manajer perusahan yang bekerjasama dengan Lauren tidak ingin mencegah tamu kehormatannya itu dan membiarkan Lauren meninggalkan pesta sebelum berakhir.


“Kau ingin membawaku kemana?” tanya Billy saat mereka berdua sudah keluar dari gedung dan berada di tepi jalan.


Lauren yang meliat dirinya sedang menggandeng tangan kiri Billy segera melepaskannya.


“Maaf. Aku tidak menyadarinya.” Jawab Lauren.


“Tidak apa-apa.” Jawab Billy.


“Lebih baik antarkan au kembali saja. Aku sudah lelah.” Jawab Lauren yang wajahnya memerah.


“Kau demam?” tanya Billy yang memeriksa kening kepala Lauren dengan telapak tangan kanannya.

__ADS_1


“Tidak.” Jawab Lauren yang menggelengkan kepalanya.


“Tapi wajahmu memerah.” Jawab Billy.


“Tidak apa-apa. Ambilah mobilnya.” Jawab Lauren.


“Baiklah. Tunggu disini sebentar.” Jawab Billy.


Lauren menganggukkan kepalanya. Billy pergi ke parkiran mengambil mobil dan mengantarkan Lauren kembali ke hotelnya. Lauren yang memiliki taktik kecerdasan untuk menghindari hal memalukan ini berpura-pura memejamkan matannya seperti orang yang sedang tidur. Lauren menghindari hal-hal yang canggung di dalam mobil.


Billy yang melihat Lauren tidur setelah beberapa saat mengemudi memberhentikan mobilnya ke tepi. Billy membuka jas yang digunakan olehnya untuk menutup Lauren. Lauren yang mengetahui hal itu maish berpura-pura memejamkan matanya saja.


“Kau benar-benar lelah setelah apa yang sudah kamu lakukan untuk karirmu.” Jawab Billy.


Billy memandangi wajah Lauren dengan cukup lama dan berakhir setelah menerima panggilan dari ponselnya. Panggilan dari Katie.


“Ada apa bu?” tanya Billy yang menganggkat teleponnya.


“Kau dimana? Richard dan beberapa temannya juga sudah datang.” Jawab Katie.


“Baiklah. Aku segera kembali ke rumah. Katakan kepadanya untuk menungguku di kamar. Dan untuk teman-temannya tempatkan di samping kamarku saja.” Jawab Billy kemudian mematikan teleponnya.


Billy menyalakn kembali mesin mobil dan segera melaju menuju hotel Lauren untuk mengantarkannya. Dengan lembut Billy membangunkan Lauren saat tiba di depan hotel.


“Kita sudah sampai.” Jawab Billy yang mengelus kepala Lauren.


“Oh iya.” Jawab Lauren yang saat itu berpura-pura malah tertidur beneran setelah mendengar panggilan dari Katie.


“Masuklah kedalam dan istirahat. Aku tidak bisa mengantarkanmu untuk masuk karena di rumah sudah ada tamu.” Jawab Billy.


“Oh, baiklah. Hati-hati.” Jawab Lauren yang memberikan jas Billy dan membuka pintu mobil.


“Lauren!” panggil Billy saat Lauren sudah berada di luar mobil.


“Ada apa?” tanya Lauren.


“Besok aku akan menjemputmu di pagi hari. Jadi bersiaplah.” Jawab Billy.


“Baiklah.” Jawab Lauren yang tersenyum dan melambaikan tangan.


“Dia pasti akan bosan jika sendirian. Bagaimana jika dia pergi dengan Katie. Mungkin Katie bisa terhibur karena ada teman mengobrol.” Jawab Billy dalam hatinya untuk membawa Lauren untuk bertemu dengan Katie.

__ADS_1


__ADS_2