
Thank you readers 🙏🙏🙏💖💖💖🌸
Caca terbangun dari tidurnya di waktu zuhur. Caca menghapus-hapus matanya kemudian keluar dari kamar menuju kamar mandi untuk berwhudu menunaikan ibadah zuhur. Setelah selesai bersuci, Caca langsung menunaikan ibadah zuhur.
Setelah selesai sholat wajib Caca mengerjakan sholat istikharah untuk meminta petunjuk dari Allah atas pilihan apa yang harus dia ambil.
Caca membuka mukenahnya dan melipatnya bersama dengan sajadah. Meletakkan mukenah dan ajadah di lemari lalu pergi ke dapur. Caca membuka lemari dapur untuk mengambil makan siangnya.
Caca makan siang sambil memikirkan hal tentang tawaran Jack.
“Kenapa aku tidak marah ketika dia menciumku saat itu?” tanya Caca dalam hatinya sambil memasukkan makanan dari sedok ke mulutnya.
Perasaan Caca saat Jacob mencium Caca saat itu tidak ada penolakan. Bahkan Caca merasakan bahwa hal yang di lakukan Jack saat itu seperti perasaan rindu yang telah tersampaikan (maksudnya ciuman Jacob seperti pelepas rindu). Dan pelukkan saat itu sangat terasa nyaman dalam perasaan Caca.
Caca yang terus berkata-kata dalam hatinya.
“Dialah orang kedua yang memelukku dan orang pertama yang mencuri ciumanku.”
“Benarkah Jack mencintaiku?”
“Aku tidak yakin itu adalah ciuman pertama dia juga, dilihat dari latar belakang dia yang hebat seperti itu? Bahkan dia bisa menyewa wanita di setiap harinya?”
“Bisa saja teman-temannya bekerjasama dengannya untuk menipu ku. Mengatakan bahwa dirinya memiliki penyakit OCD akut pada perempuan. Semua itu bisa saja, atau aku yang terlalu banyak berfikir dan berfikir negative pada dirinya?”
“Tapi di lihat dari sisi lain, dia telah membuktikan keseriusannya. Sebelum dia mengatakan perasaannya bahkan dia telah meminta restu keluargaku. Lebih baik aku telepon Ibu untuk memastikannya.”
Setelah banyak berfikir saat makan siang Caca baru ingat bahwa dirinya belum memberikan kabar pada Ibu dan Ayahnya beberapa hari ini. Caca juga ingin mempertanyakan kebenaran tentang Jack yang datang ke kampung halamannya itu. Setelah selesai makan siang Caca menelpon Ibunya.
“Tutt…Tutt…Tutt,” suara dering telepon yang
menyambungkan.
“Asalamualaikum, “ ucap Aisyah.
“Waalaikumusaam Bun, bagaimana kabar yang di sana bun?” tanya Caca.
“Alhamdulilah sehat. Bagaimana dengan mu dan calon keluarga mu?” ucap Aisyah.
“Bundaaaaaa, jadi memang benar bahwa Jack sudah bertemu dengan kalian?” tanya Caca.
“Iya, dia sepertinya pria baik-baik.” Jawab Aisyah.
“Sebenarnya Caca yang menceritakan ini pada Bunda. Jack melamarku tadi malam Bun, dan Caca belum menjawabnya. Caca masih bingung untuk menjawabnya.” Jawab Caca.
__ADS_1
“Ayah, Bunda dan Bagas akan selalu mendukung semua keputusanmu. Dan kami juga sudah bertemu dengan Jack, kami menilai bahwa dia itu baik, bertanggung jawab dan sangat mencintaimu.” Jawab Aisyah.
“Apa yang membuat kalian dapat menilai dirinya seperti itu?” tanya Caca.
“Tatapan dia begitu tulus saat berbicara pada kami, dan punya sesuatu yang mungkin akan mengobati trauma masa lalumu Ca. Saat itu kami sudah mengetesnya dari pertanyaan demi pertanyaan dan dia menjawabnya dengan baik membuat kami semua takjub dengan jawabannya.” Jawab Aisyah.
“Benarkah Bun?” tanya Caca yang tidak percaya.
“Iya sayang. Bahkan kami menceritakan tentang masa lalu mu, dan dia menerima hal itu. Dia siap menerima semua konsekuensinya.” Jawab Aisyah.
“Bunda yakin?” tanya Caca.
“Iya, dia akan menunggumu siap untuk melakukannya jika kalian sudah menikah.” Jawab Asiyah.
“Benarkah? Dia itu seorang laki-laki dan hidup di Negara yang memiliki budaya yang seperti itu, apa mungkin dia akan sabar menunggu?” tanya Caca.
“Bunda tidak memaksa dirimu untuk menerimanya, namun menurut Bunda dia adalah pria yang baik dan cocok untuk mu. Dia menerima semua konsekuensinya setelah mendengar masalalu Ca, dan Bunda lihat dia sangat mencintaimu.” Jawab Aisyah.
“Baiklah Bun, aku akan memikirkannya matang-matang dalam mengambil keputusan ini.” Ucap Caca.
“Kami akan selalu mendukung semua keputusan mu, jadi cobalah pertanyakan semuanya pada Allah.” Ucap Bunda Asiyah.
“Iya Bun. O ya Bun bagaimana dengan keputusan Bagas tentang studi S1 dirinya?” Tanya Caca.
Aisyah yang memberikan teleponnya pada Bagas.
“Hy Kakak aku yang paling menyebalkan,” ucap Bagas.
“Dasar bocil (bocah cilik), bagaiman dengan studi mu?” tanya Caca.
“Kak tenang saja, semuanya beres.” Jawab Bagas.
“Beres maksudmu?” tanya Caca.
“Ada seseorang yang memberikan aku beasiswa penuh untuk kuliah di UI dengan syarat bekerja di perusahaannya.” Jawab Bagas.
“Siapa?” tanya Caca yang penasaran.
“Kau mengenalnya kok. O ya bagaimana hubungan mu dengan Jack?” tanya Bagas yang mengahlikan pembicaraan.
“Bocil jawab pertanyaanku dengan jelas bukan mengahlikan pembicaraan.” Jawab Caca.
“Aku jadi ingin bertemu dengan Kenzo dan Bella, Ayahnya saja seganteng itu apalagi anak-anaknya. Pasti sangat lucu dan menggemaskan. Pantas saja kau sayang pada mereka.” Ucap Bagas.
__ADS_1
“Kemarilah,” ucap Caca yang spontan.
“Hahahaha, nanti setelah aku mengumpulkan uang gaji ku mulai bulan depan.” Ucap Bagas.
“Jadi kau bekerja juga mendapatkan gaji? Bukan hanya beasiswa saja?” tanya Caca.
“Tentu, mungkin karena adik mu ini jenius.” Jawab Bagas.
“Dasar bocillllll!!” ucap Caca.
“Hahahha, kau tidak bisa menjambak rambutku saat ini. Tapi Kak aku serius bertanya bagaimana hubunganmu dengan Jack?” tanya Bagas.
“Ceritakan semuanya padaku saat Jack ke sana,” ucap Caca.
“Baiklah…….” Bagas menceritakan semuanya sangat detail kecuali tentang beasiswa dirinya.
“Benar begitu kah?” tanya Caca yang terharu dengan cerita sang adiknya.
Saat Bagas menceritakannya Caca hanya diam saja sambil tersenyum malu-malu.
“Tentu, jadi kami memutuskan dia adalah kandidat suami mu yang paling cocok.” Jawab Bagas.
“Kau!” Ucap Caca.
“Kak percaya dengan penilaian laki-laki. Aku yakin dia orang yang cocok untuk mu, tidak ada kebohongan yang dia ucapkan walaupun sepertinya ada beberapa hal yang tidak bisa ku sebutkan. Matanya itu menyembunyikan banyak luka, kesedihan dan sangat misterius.” Jawab Bagas dengan serius.
“Itulah yang ku rasakan selama ini, entah apa yang ada di dalam dirinya dan entah kesedihan apa yang dia sembunyikan. Namun sikapnya padaku selalu baik dan tulus, yang jadi pertimbangan ku adalah apakah mungkin aku akan menjadi istri yang baik untuknya?” tanya Caca pada Bagas.
“Berusahalah Kak. Kita tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi kedepannya, kita hanya bisa melakukannya dengan sebaik mungkin. Tapi aku akan selalu mendukung apapun keputusan kak.” Ucap Bagas.
“Kau harus tau Bagas, Jack itu bukanlah orang sembarangan. Latarbelakang dia sangat misterius dan sangat hebat. Seperti langit dan bumi antara aku dan dirinya.” Jawab Caca.
“Tapi dengan dia yang meminangmu terlebih dahulu untuk meminta restu kami sudah menunjukan keseriusannya. Dan seperti yang aku ketahui bahwa dia tidak pernah dekat dengan perempuan lain, sama seperti dirimu. Mungkin kalian akan cocok jika bersama, sama-sama memiliki trauma masing-masing.” Jawab Bagas dengan baik.
“Baiklah, aku akan menguatkan niatku untuk
memberikannya kesempatan. Namun semua ini harus aku fikirkan lagi.” Jawab Caca.
“Apapun yang akan putuskan kami akan selalu dukung itu, jadi tenangkan dirimu dan jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan.” Jawab Bagas.
“Baiklah. Kak tutup telepon ini, titip salam Ayah dan Bunda. Asalamualaikum.” Ucap Caca.
“Oke, waalaikumusalam.” Jawab Bagas.
__ADS_1
Setelah selesai bercerita di telepon Caca kembali memikirkan keputusan apa yang harus dia ambil.