I Love You Mr.Mafia

I Love You Mr.Mafia
Ucapan Terimakasih


__ADS_3

Embun pagi memberikan kesejukan tersendiri di pagi hari. Semua orang mulai beraktivitas di kota maju itu. Kendaraan terus berlalu lalang di pasar besar itu, Max bangun dari kasurnnya langsung membersihkan diri dan menggunakan kostum olahraga.


Max keluar dari apartemennya untuk olahraga lari pagi di jalan sekitar sebelum memulai pekerjaannya di rumah sakit. Ia berlari memutari jalanan apartement itu kemudian menyebrang jalanan untuk kembali berlari pagi.


Terlihat seorang wanita tua sedang membawa karung plastik besar untuk di masukkan kedalam tong sampah. Dia berusaha untuk mengangkat kantong plastiknya untuk di masukkan ke dalam tong sampah. Saat itu Max melewati wanita tua itu dan berinisiatif untuk membantunya.


“Selesai,” ucap Max langsung mengangkat kantong plastiknya kedalam tong sampah.


Wanita tua itu terkejut dengan kedatangan Max yang tiba-tiba dan mengangkat kantong plastik miliknya.


“Saya permisi,” ucap Max lagi untuk melanjutkan lari paginya.


“Tunggu!” wanita tua itu menahan Max untuk pergi.


“Ada apa?” tanya Max.


“Kemarilah ikutin aku,” ucap wanita tua itu yang berjalan dan memerintah Max untuk mengikutinya dengan menggenggam tangan Max kemudian menariknya.


Max di tarik saja untuk masuk ke dalam sebuah restoran Iga dan Ramen. Max merasa restoran ini adalah restoran yang ia kenal. Max menelan ludahnnya sambil melihat sekeliling. Kemudian dirinya di suruh untuk duduk di sebuah meja restoran kecil itu.


“Duduklah dulu,” ucap wanita tua itu kemudian meninggalkan Max.


Max tanpa sadar mengikutinya begitu saja. Wanita itu datang membawa semangkok bubur daging sapi dan segelas susu.


“Makanlah, ini sebagai ucapan terimakasih ku.” Jawab wanita tua itu.


“Jangan di lihati saja, aku tau kau sudah sejak tadi keluar dari apartemen depan dan lari pagi. Dan ku pastikan kau belum sarapankan?” tanya wanita tua itu sambil menyuguhkan susu itu ke mulut Max.


“Biarkan aku sendiri nek,” jawab Max.


Restoran yang belum ada pengunjung seorangpun, kursi-kursi yang masih di atas meja dan suasana restoran yang masih sepi. Seorang wanita tiba-tiba keluar dari sebuah pintu sambil menguap dan menarik tangannya ke atas lalu membelokkan kepala ke kanan ke kiri menggunakan tangannya.


Wanita itu adalah Kazumi yang baru saja bangun tidur dan keluar dari pintu itu yang sudah menjadi kebiasannya.


“Nenek! Sarapan apa kita pagi ini?” tanya Kazumi setelah melakukan gerakkan senam sebentar itu.


Max yang sedang makan bubur itu melototkan matanya menyaksikan Kazumi yang baru saja keluar dari pintu itu hingga saat ini dia bertanya kepada sang nenek. Nenek Kazumi berjalan menuju ke tempat Kazumi kemudian memukul pundaknya.


“Lihat dengan jelas ada tamu,” ucap Sang nenek.


“Maaf sudah menyaksikan hal ini, ini sudah menjadi kebiasannya setiap pagi.” Jawab sang nenek kepada Max.


“Kau?” ucap Kazumi dengan terkejut.


“Iya,” jawab Max dengan singkat.


“Kenapa pagi-pagi kau sudah ada di sini?” tanya Kazumi sambil menunjuk Max kemudian berjalan mendatangi Max yang duduk di meja restoran itu.


“Nenek yang membawanya kemari, dia sudah membantu nenek membuang sampah.” Jawab Nenek.

__ADS_1


“Hmmm, nenek kenapa sembarangan membawa orang lain masuk ke dalam restoran. Jika saja tadi bukan dia, kalau saja orang jahat? Bagaimana nenek?” tanya Kazumi.


“Tapi tidak kan? Dan bagaimana kalian bisa saling kenal?” tanya sang nenek.


“Dia satu kerjaan denganku.” Jawab Kazumi.


Max dengan tenang sarapan pagi tanpa menjawab pertanya-pertanyaan nenek.


“Nenek perkenalkan dia adalah Max, dokter bedah UGD. Sekaligus orang yang tadi malam aku ceritakan.” Ucap Kazumi.


“O jadi dialah pria tampan dan baik hati itu.” Ucap Nenek.


“Ukh..ukh..” Max yang tersedak mendengar pernyataan sang nenek.


“Nenek! Apakah aku pernah mengatakan hal seperti itu? Lihat dia jadi tersedak dan besar kepala pasti.” Jawab Kazumi yang berjalan mengambil segelas air putih untuk Max.


“Minum dulu,” ucap Kazumi memberikan segelas air putih kepada Max.


Max meminumnya kemudian tersenyum dan berkata “benarkah Kazumi berkata seperti itu nek?”


 “Tentu,” jawab sang nenek tertawa.


“Nenek!” panggil Kazumi yang malu.


“Hahahah,” Max tertawa bersama dengan nenek.


Max terdiam dengan pernyataan Kazumi, dirinya tidak menyadari tertawa lepas bersama dengan orang-orang yang baru saja dia kenal.


“Semakin menarik,” ucap Max dalam hati melihat suasana.


Nenek membawa semangkuk bubur lagi untuk di berikan kepada Kazumi.


“Makanlah bersama dengan Max. Aku akan kembali ke dapur.” Ucap sang nenek.


“Kenapa tidak bergabung saja?” tanya Max.


“Nenek sudah sarapan tadi,” jawab sang nenek.


“Tapi sarapanku sudah habis. Lebih baik aku pamit.” Ucap Max.


“Tunggu dulu, nenek akan membawakanmu beberapa makanan untuk mu di apartement.” Jawab nenek.


“Nenek tidak perlu,” jawab Max.


“Tidak apa-apa anggap saja ini ucapan terimakasi seorang wanita tua karena telah membantu cucu perempuannya.” Jawab sang nenek.


“Hmm, baiklah.” Jawab Max.


“Tunggu disini saja, jarang-jarang nenekku seperti itu terhadap orang asing.” Jawab Kazumi.

__ADS_1


“Benarkah?” tanya Max.


“Iya, kau orang pertama yang bisa mengambil hatinnya.” Jawab Kazumi yang menikmati sarapan buburnya.


“Benarkah?” tanya Max lagi.


“Iyalah, emang tadi kau berbuat apa sampai nenek seperti itu?” tanya Kazumi.


“Hanya mengangkat kantong plastik ke dalam tong sampah.” Jawab Max.


“Hmm biasnya itu adalah tugasku, mungkin nenek tidak tega membangunkanku. Wajar saja si dia baik,” jawan Kazumi.


“Wajarnya?” tanya Max lagi.


“Entahlah kau fikir sendiri. Menyebalkan.” Jawab Kazumi.


“Hahaha, makananmu itu tertinggal di pipi sebelah kanan.” Ucap Max yang memberitahukan ada bubur yang bercelomotan di pipi Kazumi.


Kazumi berusaha membersihkannya namun tidak bisa kemudian Max membantunya mengelap menggunakan tisu yang ada di meja restoran itu.


“Lain kali jangan bicara saat makan,” ucap Max yang sudah selesai membersihkan bubur yang menempel di pipi Kazumi.


Mereka berdua saling menatap satu sama lain dan jantung keduannya berdetak kencang, tidak seperti biasanya.


“Sial kenapa jantungku berdebar dengan cepat saat menatapnya.” Ucap Kazumi dalam hati.


“Untuk perama kalinya aku merasakaan ini terhadap wanita.” Jawab Max dalam hatinya.


“Terimakasih,” jawab Kazumi yang tersipu malu kemudian menggerakkan jarinnya untuk menyelipkan rambut ke telinga kanannya.


Suasana menjadi sangat canggung setelah kejadian itu kemudian nenek tiba-tiba datang membawa bekal yang sudah di siapkannya. Bekal yang di lilit menggunakan kain berwarna merah yang di bawa oleh nenek kemudian di berikan oleh Max.


“Kalau sudah habis silahkan minta kembali pada nenek.” Jawab Sang nenek.


“Tidak usah nek, ini saja cukup.” Jawab Max.


“Ini bukan apa-apa dengan apa yang sudah kau lakukan untuk cucuku satu-satunya ini.” Ucap nenek.


“Jika dia terlalu kasar harap di maklumi, sebenarnya dia adalah anak yang cukup baik.” Bisik sang nenek.


“Apa yang nenek bisikkan kepadanya?” tanya Kazumi.


“Tidak ada. Hanya memberitahunnya untuk datang kembali ke restoran kita saat sudah buka.” Jawab nenek.


“Baiklah nek, aku permisi dulu.” Jawab Max yang sudah memegang bekal berkain merah itu.


“O ya untuk mu, bersiap-siaplah sekarang karena mulai hari ini kau akan menjadi bawahanku.” Ucap Max kemudian meninggalkan restoran.


Kazumi masih bingun apa yang di maksud pada pernyataannya.

__ADS_1


__ADS_2