
Billy mengemudi mobil dengan kecepatan penuh di jalan yang kosong dan sunyi. Lauren hanya tertawa melihat keahlian Billy mengendarai mobil ini. Tiba-tiba Billy mengerem hingga berhenti. Lauren terkejut dan bertanya kepada Billy mengapa dirinya mengerem mendadak.
“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Lauren.
“Tidak ada, hanya ingin mendangimu lebih lama.” Jawab Billy membuka sabuk pengaman dan menatap wajah Lauren dengan begitu dekat.
“Kau terlalu dekat Billy.” Ucap Lauren.
“Kenapa sejak tadi kau malah tertawa saat aku mengemudi dengan kencang?” tanya Billy dihadapan Lauren.
Wajah mereka begitu dekat bahkan hembusan napas Billy dan Lauren saling terasa. Billy sudah tidak bisa lagi mencegah dirinya untuk tidak mencium bibir Lauren. Dan mereka menikmati hal itu beberapa saat. Billy melepaskannya dan Lauren langsung menutup bibirnya dengan tangan kanan.
“Maaf aku tidak bisa mengendalikannya.” Jawab Billy.
Lauren tidak menjawab apa-apa karena sangat malu. Billy yang tidak menerima jawaban langsung menghidupkan mobilnya kembali dan memulai perjalanan lagi. Mereka tetap saling berdiam diri dalam perjalanan hingga hotel. Lauren membereskan semua barang-barangnya yang berada di kamar hotel kedalam kopernnya.
Billy membantu Lauren untuk membawakan kopernya tanpa ada mengucapkan kalimat apapun. Lauren juga seperti itu, mereka tetap berdiam diri tanpa mengkatakan apapun hingga Billy mulai percakapan.
“Mau sampai kapan kau tidak mengucapkan apapun. Bersikaplah seperti biasanya.” Jawab Billy yang menarik koper Lauren dan Lauren berada di depannya untuk masuk kedalam lift.
“Tentu saja aku malu. Itu untuk pertama kalinya bagiku.” Jawab Lauren menekan tombol angka lift untuk turun ke lantai bawah.
“Pertama kalinya?” tanya Billy yang terkejut dan tidak menyangka itu adalah pertama kalinya bagi Lauren.
Dilihat dari pekerjaan Lauren dan lingkungan Lauren itu adalah hal yang mustahil untuk di percayai. Lauren adalah seorang pemilik bar yang ada di Italia dan juga seorang gadis yang cantik sebagai designer perhiasan. Tentu saja banyak laki-laki yang ingin berkencan dengan dirinya.
“Kau yakin itu adalah pertama kalinnya?” tanya Billy yang berada di belakang Lauren.
Sedangkan posisi Lauren di depan Billy. Lauren di dekat tombol Lift dan pintu lift, sedangkan Billy berada di ujung sudut kanan lift menyandarkan dirinya berdiri.
“Apakah aku harus berbohong? Apakah kau tidak melihat bagaimana ekspresi aku saat itu?” tanya Lauren yang sedikit kesal dan keluar dari pintu lift karena mereka sudah sampai di lantai bawah.
__ADS_1
“Hahahha. Kita sudah melakukannya dua kali.” Jawab Billy yang mengejar Lauren dari belakang dan berada di sisi yang sama saat berjalan.
“Maksudnya?” tanya Lauren berhentikan melangkah.
“Tentu saja aku pernah menciummu dengan puas ketika aku menyelamtkanmu di tengah laut.” Jawab Billy membalikkan badannya kehadapan Lauren.
“Kau!” ucap Lauren yang memukul pundak Billy hingga di depan mobil.
“Pukul saja terus itu tidak sakit.” Jawab Billy yang sedang memasukkan koper Lauren kedalam bagasi mobil.
Billy memberhentikan kedua tangan Lauren yang terus memukulnya karena kesal. Dan Billy langsung berkata dengan sangat lembut lalu membelai kepala Lauren dengan sangat lembut.
“Jangan terlalu malu. Bukannya itu adalah hal yang biasa di lingkungan kita? Jangan terlalu banyak berfikir.” Jawab Billy.
Lauren menjadi tenang walaupun masih sedikit kesal di dalam hatinya, namun tetap saja dirinya menjadi luluh dan mnejadi diam seperti seorang binatang buas yang sedang di jinakkan.
“Masuklah ke dalam mobil.” Jawab Billy kepada Lauren yang membukakan pintu mobil.
Lauren awalnya ingin berpura-pura tertidur namun ternyata dirinya benar-benar tertidur. Billy yang mengetahui hal itu memberhentikan mobilnya dan memperbaiki kursi mobil ke mode tertidur agar Lauren lebih nyeyak dalam tidurnya. Billy membuka jaketnya dan menyelimuti Lauren. Lagi-lagi hal seperti itu terjadi pada mereka berdua.
Kali ini Billy tidak ingin membangunkan Lauren pada tidurnya sehingga dia menggendong Lauren dar dalam mobil hingga masuk kedalam kamar yang sudah di sedikan oleh Katie. Billy membaringkan tubuh Lauren ke atas kasur lalu membuka sepatu yang digunakan oleh Lauren. Menyelimuti seluruh tubuh Lauren dengan selimut dan memantikan lampu kamar saat di depan pintu. Billy keluar dan menutup pintu dengan perlahan.
Padahal saat itu masih belum terlalu malam, mungkin Lauren benar-benar lelah setelah melakukan shopping bersama dengan Katie. Billy yang keluar dari kamar Lauren sudah ditunggu oleh Katie.
“Kau menggendongnya?” tanya Katie.
Billi hanya menganggukkan kepalanya saja.
“Kenapa tidak membangunkannya saja?” tanya Katie.
“Tidak ingin membangunkannya, mungkin dia sudah terlalu lelah.” Jawab Billy.
__ADS_1
“Baiklah, kalian ditunggu oleh daddy di dalam ruang kerjannya.” Jawab Katie.
Billy bergegas berjalan menuju ruang kerja Andrew. Saat dirinya masuk kedalam ternyata sudah ada Richard dan juga Max duduk di kursi bersama dengan Andrew.
“Ada apa daddy memanggil kami semua?” tanya Andrew.
“Duduklah.” Jawab Andrew.
“Aku mengingat sesuatu tentang symbol yang saat ini kalian telusuri.” Jawab Andrew.
“Maksudnya?” tanya Billy.
“Kau ingat bahwa aku pernah mengkatakan bahwa aku seperti tidak asing dengan symbol itu?” tanya Andrew.
“Iya.” Jawab Billy yang mengetahui hal itu.
“Aku ingat itu adalah symbol tato yang Jessi. Ibu tiri Jack.” Jawab Andrew.
“Apa?” tanya Max dan Billy yang terkejut.
“Saat aku mengingat hal itu, aku langsung mencari informasi tentang latarbelakang Jessi. Dan aku menemukan hal yang menjanggal. Dia ternyata adalah Val, istri dari sahabat aku dan juga James. Seorang wanita yang dibenci oleh Katie. Dan seorang yang telah membunuh ibu Jack.” Jawab Andrew yang membuat Max dan Billy mengepalkan kedua tangannya.
“Orang yang hampir saja membunuh Jack dan John tapi membunuh Jacob?” tanya Max dengan wajah yag serius dan penuh emosi.
“Apakah itu benar daddy?” tanya Billy.
“Iya. Aku beberapa hari ini tidak di rumah karena menelusuri jejak dirinya. Val yang meninggal karena kebakaran bersama dengan sahabat kami ternyata dia selamat. Dia mengoperasi wajahnnya dan menjadi Jessi. Aku menemukan rumah sakit yang mengubah wajahnya itu. Dia mengambil wajah seorang yang bernama Jessi di Korea.” Jawab Andrew.
“Aku juga sama dengan kalian. Sama-sama emosi, selama ini aku tidak pernah mempercayai Katie terhadap perasaannya mengenai Jessi. Tapi ternyata perasaan wanita itu lebih peka dibandingkan dengan kita seorang pria.” Jawab Andrew lagi untuk menenangkan emosi kedua putra yang sudah di anggapnya itu.
Richard yang sudah mengerti tentang masalah ini, saat itu Richard mengetahui semu cerita hal itu dari Billy.
__ADS_1