I Love You Mr.Mafia

I Love You Mr.Mafia
Sanset


__ADS_3

***Mylotus.....


Datang mengisi cerita hidup di kala sepi.


Seperti senja yang datang menghias langit


dikala senja.


Jangan pergi dalam keindahan.


Tetap bersamaku selamanya.


Aku mencintaimu tanpa sebab. Menginginkanmu selamanya.


Dan tak ingin pernah berniat meninggalkanmu.


Bahkan dalam waktu hanya sedetik.


Aku datang menjanjikan ikatan janji suci.


Bertahan dari setiap waktu memberikan yang terbaik.


Bagaikan senja yang datang memberikan keindahan.


Lalu pergi meninggalkan rindu***.


Sepeda motor yang di kemudi oleh Jack yang membonceng Caca itu berjalan dengan sangat cepat. Melewati hutan jalanan mansion Jack hingga beberapa kilo meter jauhnnya hingga berkurang kecepatannya ketika telah sampai di jalan raya kota. Mereka memasuki jalanan kota Kannada menggunakan sepeda motor itu.


Caca yang sejak awal telah duduk di belakang Jack mengendarai sepeda motor itu memeluk tubuh kekar Jack. Kedua tangan Caca yang melingkari pinggang Jack kemudian menyandarkan tubuhnya di punggung Jack dengan sangat nyaman walau Jack mengendarai sepeda motor dengan cepat.


Mereka berhenti di lampu merah sehingga Caca melepaskan pelukkannya.


“Sebenarnya kita akan ke mana?” tanya Caca.


“Aku akan menunjukan tempat yang sangat indah kepadamu.” Jawab Jack.


“Di mana itu?” tanya Caca yang penasaran.


“Tenang saja kau pasti akan menyukainya.” Jawab Jack.


“Baiklah. Aku serahkan itu semua kepadamu.” Jawab Caca.


Lampu hijau menyala, Jack dan Caca melanjutkan perjalanannya. Mereka terus menelusuri jalan kota hingga kembali menemukan jalan yang di kelilingi hutan. Beberapa tanjakan yang menuju sebuah bukit.


Caca memerintahkan Jack untuk mengurangi kecepatan sepeda motornya. Kaca helm Caca yang berwarna hitam itu di buka agar Caca lebih menikmati pemandangan yang ada di depan matanya.


“Jack pelan sedikit!” Ucap Caca dengan memukul pundak Jack.


“Ada apa?” tanya Jack yang memperlambat

__ADS_1


kecepatannya.


“Kurangi kecepatannya, aku ingin memandangi suasa di sini.” Jawab Caca.


“O, silahkan mylotus.” Jawab Jack.


“Masyaallah sungguh indah ciptaaanmu.” Jawab Caca yang melihat pemandangan pohon vinus yang berjajar mmenjulur tinggi di setiap sudut jalan dari tempat mereka berjalan hingga di bawah.


Jalanan itu seperti sebuah tebing-tebing curam berbelok namun sudah sangat modern. Di mana setiap sudut sudah ada penghalang jalan atau keamanan jalan dan beberapa lambang lalu lintas.


“Udaranya benar-benar sejuk.” Ucap Caca.


“Tentu.” Jawab Jack.


“Apa kita masih jauh?” tanya Caca.


“Tidak, sebentar lagi. Kita akan menuju ke atas bukit ini.” Jawab Jack.


“Benarkah?” tanya Caca.


“Tentu mylotus.” Jawab Jack.


“Aku sudah tidak sabar kejutan apa yang aku lihat di atas nanti.” Jawab Caca.


“Di luar dari ekspetasimu.” Jawab Jack.


Dua kali putara mengelilingi bukit itu, Jack dan Caca tiba di sebuah taman bukit. Di atas bukit itu terdapat beberapa tempat duduk orang yang ingin datang. Beberapa jenis bunga yang terbentang indah di setiap sudut. Satu buah teleskop yang di letakkan di ujung bagian barat. Namun tidak ada satu orangpun di sana.


“Inikah tempatnya?” tanya Caca.


“Tentu, ayo turunlah.” Jawab Jack yang membuka helm dan membuka kaca mata hitamnya kemudian di letakkan di atas kepalanya.


Caca turun dari sepeda motor dengan ekspresi melihat banyak jenis bunga yang sedang bermekaran da nada beberapa jenis bunga yang telah tertutup kelopaknya. Lagi-lagi Caca takjub dengan tempat yang sedang ia datangi ini.


“Tempat ini adalah milikku. Ketika aku sedang banyak masalah salah satu tempat untuk menenangkannya aku akan ke sini. Dan saat ingin melihat senja maupun malam berbintang aku ke mari.” Jawab Jack yang turun dari kereta kemudian berdiri sejajar dengan Caca.


Jack menggenggam tangan Caca sambil melihat suasana sekitar. Kemudian Jack mengajak Caca untuk berjalan mengelilingi tempat itu. Caca mulai belajar menerima setiap sentuhan keromantisan Jack kepadanya.


“Inikah yang di namakan cinta?” tanya Caca dalam hatinya sambil melirik wajah Jack yang saat itu menggenggam tangannya.


“Bagaimana kau menyukainya?” tanya Jack kepada Caca yang juga melirik wajah Caca yang melihat dirinya.


“Aku sangat suka dengan alam yang seperti ini. Bagaimana kau mengetahui aku menyukainya?” tanya Caca kepada Jack.


“Karena aku yakin kita memiliki kesukaan yang sama.” Jawab Jack sambil tersenyum melihat Caca.


“Aku serius Jack?” tanya Caca yang ingin mengetahui bagaimana Jack bisa berfikir mengajak dirinya ke tempat ini.


“Mau melihat sekitar?” tanya Jack kepada Caca.

__ADS_1


Caca menganggukkan kepalanya kemudian berjalan sambil di gandeng tanganya oleh Jack.


“Genggaman ini sangat hangat.” Jawab Caca dalam hatinya sambil melirik tangan kananya yang di genggam oleh tangan kiri Jack yang besar itu.


“Jack tunggu dulu,” ucap Caca yang melihat sebuah mawar hitam yang sedang mekar di taman itu.


“Kau menyukainya?” tanya Jack kemudian ingin memetiknya.


“Jangan. Biarkan saja di tetap seperti itu, aku suka menyentuhnya namun benar-benar sangat sayang jika harus memetiknya. Biarkan dia indah di tempatnya tanpa harus mengganggunya memancarkan kecantikkan.” Ucap Caca.


Jack terkesan dengan kalimat yang telah di ucapkan oleh Caca sehingga tidak bisa menghentikan tangan kanannya untuk mengelus kepala Caca. Caca yang di perlakukan seperti itu kemudian tersenyum indah.


“Sudah hampir tiba waktunya.” Ucap Jack,


“Apa itu?” tanya Caca.


“Sanset.” Jawab Jack


Kemudian Caca melihat jam tangan yang digunakan olehnya, namun Jack menarik tangan Caca untuk berjalan.


“Kemarilah,” ucap Jack yang mengajak Caca untuk pergi ke tempat yang ia tunjuk dengan tangan kanannya itu.


Caca hanya mengaggukkan kepalanya dan mengikuti langkah kaki Jack.


“Duduklah di sini.” Ucap Jack yang menyuruh Caca untuk duduk di sampingnya.


Caca mengikuti perintah Jack yang memerintah dirinya untuk duduk di samping Jack.


“Kita akan melihatnya di sini.” Ucap Jack kepada Caca.


Lima menit mereka duduk di rerumputan itu, matahari terbenam yang menciptakan senja telah menghiasi langit yang akan menandakan waktu malam. Jack merangkul pundak Caca yang menyandarkan kepala dan  tubuh Caca ke bahunya. Mereka menikmati senja beberapa menit hingga senja itu benar-benar hilang sambil banyak bercerita.


“Ca!” panggil Jack kepada Caca dengan sangat lembut.


“Iya,” jawabnya.


“Kau tau, kaulah orang pertama yang aku ajak ke sini.” Jawab Jack.


“Benarkah?” tanya Caca.


“Iya, ini adalah tempat di mana Daddy dan Mom sering berkencan dan menikmati senja.” Jawab Caca.


“Benarkah?” tanya Caca yang terkejut ternyata ini adalah tempat kenangan orangtua kandung Jack.


“Pantas saja dia mengajak ku untuk ke sini.” Jawab Caca dalam hatinya.


“Iya. Untuk kesekian kalinya dan tak pernah bosannya aku mengatakan hal ini lagi, aku mencintaimu.” Ucap Jack yang menatap wajah Caca dengan penuh cinta.


Caca membalas tatapan Jack yang penuh dengan cinta itu tanpa berkata apa-apa dengan cara kedua tangan Caca di letakkan di kedua pipi Jack dan menariknya turun kebawah lalu mencium kening Jack dengan sangat lembut.

__ADS_1


“Aku tidak akan pernah mengizinkan mu untuk meninggalkanku. Dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu.” Ucap Jack terkejut dengan insiatif Caca yang saat ini telah mencium keningnya.


Dan setelah mengatakan itu, Jack menarik tubuh Caca kemudian mencium bibir Caca dengan sangat lembut tanpa di tolak oleh Caca.


__ADS_2